
"Serena," panggil Marvin pelan.
Lalu menusuk pipi Serena dengan ujung telunjuknya. Gadis ini tentu saja tidak boleh tidur di kamarnya. Apa jadinya kalau Clara dan seluruh pekerja di rumah ini mengetahuinya.
"Serena, bangun. Cepat pergi ke kamarmu." Sekarang mengguncang bahu Serena.
"Hmm." Gadis itu malah membalikkan badan dan merangkul bahu Marvin.
"Se-Serena! Hei, lepaskan! Pergi dari kamar saya! Cepat bangun!" Tidak ada cara lain kecuali dengan ketegasan. Sama seperti adiknya yang telah tiada, Serena juga ternyata harus ditegasi.
"P-Pak Bos?" Benar saja. Mata Serena langsung terbuka. Ia kaget sendiri pada posisinya yang sedang memeluk Marvin. Segera melepaskan diri.
"Kenapa aku jadi memeluk Pak Bos?! Jangan macam-macam ya Pak Bos! Pak Bos sengaja ya meletakkan tanganku di bahunya Pak Bo?!" Serena menyalahkan Marvin.
"Apa?! Dasar Kucing! Bukan saya yang melakukannya! Kamu yang peluk-peluk saya, Serena! Cepat pergi!" usir Marvin.
Ia menarik tangan Serena menuju pintu keluar.
"Ingat, jangan katakan pada siapapun kalau kamu sering masuk kamar saya, atau kamu tahu akibatnya," bisik Marvin saat Serena berlalu.
"Semoga aku tidak lupa ya Pak Bos. Kalau aku tiba-tiba lupa dan cerita sama seseorang, 'kan bukan salahku juga."
"Jangan sampai lupa."
Marvin segera menutup pintu. Lalu cepat-cepat menyalakan laptop dan membuka aplikasi yang digunakan untuk menghapus data CCTV.
Setelahnya, ia merebahkan diri dan menggunakan tangannya sebagai bantalan. Marvin melamun menatap langit-langit, sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu.
"Papa menghormati keputusan kamu. Tapi jika suatu saat kamu menyesalinya, jangan berharap papa membantu kamu. Ingat salah satu prinsip bisnis seorang mafia yang papa ajarkan sama kamu. 'Hati-hati pada lawan dan kawan. Lawan jangan diberi ampun, kawan jangan diberi hati.' Kamu camkan itu, Marvin."
"Sudah berapa kali saya katakan sama Papa kalau saya tidak ingin menjadi mafia seperti Papa! Saya ingin menjadi pembisnis, Pa! Bukan penjahat!"
Ternyata, Marvin sedang mengingat kembali percakapannya dengan sang papa beberapa hari yang lalu sebelum ia membawa Serena ke apartemen ini. Memaafkan Wandira si raja judi memang pilihannya, papanya sudah tahu dan menyerahkan keputusan itu pada Marvin. Namun Marvin masih merahasiakan prihal Serena.
"Bagaimana kalau papa tahu saya sudah menikah di bawah tangan?" gumamnya.
Marvin menghela napas dan memejamkan matanya. Faktanya, ia kembali insomnia. Ia membalikkan badan berulang-ulang, memeluk guling, menendang selimut, tertelungkup, dan terlentang.
"Sial! Kenapa tidak bisa tidur, 'sih?!" Mau minum obat tidurpun tidak bisa karena dokter Fathir sudah memberinya jadwal.
"Arrrhhh," keluhnya.
Lalu ponselnya menyala. Marvin segera mengambilnya. Ternyata itu pesan dari kontak yang ia beri nama, 'Kucing.' Tidak diketahui sejak kapan nama itu tertulis di HP-nya.
"Terima kasih Pak Bos. Hehehe. Kalau kukunya panjang lagi, aku boleh 'kan meminta tolong pada Pak Bos untuk memotong kukuku?"
Marvin mengulum senyum saat membaca pesan tersebut.
"Itu untuk yang terakhir kalinya! Saya melakukannya karena ingat sama adik saya," balasnya.
"Sudah kuduga, Anda tidak tulus," balasan dari Serena.
"Kenapa belum tidur?" tanya Marvin.
"Aku kangen sama mama dan adik-adik."
"Kenapa hanya sama mama dan adik-adik kamu? Kamu tidak kangen sama papa kamu?"
"Tidak!"
__ADS_1
Jadilah mereka berbalas pesan.
...***...
Serena terkejut karena Marvin tiba-tiba meneleponnya. Padahal ia baru saja membalas pesannya.
"Kenapa Pak Bos? Aku mau tidur."
"Tolong ceritakan sesuatu, saya tidak bisa tidur."
"Apa? Apa urusannya Pak Bos tidak bisa tidur dengan ceritaku?"
"Saya insomnia."
"Mau Anda insomnia atau tidak bukan urusanku. Jangan mengganggu tidurku. Aku besok mau sekolah. Kenapa Anda tidak meminta pada Nona Clara saja?" tolak Serena.
"Hmm, saya tidak mau mengganggunya. Cepat cerita lagi. Kalau tidak ---."
"Anda mau mengancamku, 'kan?"
"Ya."
"Ish, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Aku mau HP yang bisa VC. Aku rindu mama dan adik-adik. Aku mau melihat wajah mereka. Yang paling murah saja, Pak Bos."
"Hmm, akan saya pertimbangkan."
"Dealnya."
"Baiklah. Oiya, ada syarat lain."
"Apa lagi?"
"Besok pagi, Anda harus menyuruh seseorang untuk membangunkanku. Takut kesiangan, Pak Bos."
"Kenapa tida pasang alarm saja? Di HP itu ada alarmnya."
"Tidak bisa Pak Bos. Aku harus ada yang membangunkan dan mengguncang badanku. Alarm tidak akan berhasil."
"Hmm, baiklah. Cepat cerita."
"Emm, pada zaman dahulu, di negara Antah Berantah, ada seorang gadis cantik bernama Eren."
"Kenapa namanya selalu Eren, yang kemarin juga Putri Eren, 'kan?"
"Ish, Anda mau aku ceritakan tidak 'sih?! Pak Bos cukup dengarkan saja bisa, 'kan?"
"Oh, o-oke baiklah, lanjutkan."
Serena kemudian becerita, cerita asal-asalan sesuka hatinya. Namun di tengah cerita, gadis itu bicara tidak jelas. Marvin yang masih menyimak otomatis kebingungan.
"Halo, Serena? Kamu bicara apa? Saya tidak mengerti."
"Pokoknya buah mangga, emm ..., bulat, di kolong meja ada batu ... emm ... ada kasur ...." Serena bicara dalam keadaan mata sudah terpejam.
"Serena? Kamu meracau. Kamu ngantuk? Hei, kenapa jadi kamu yang ngantuk?"
__ADS_1
"Negara api menyerang lubang semut."
"Apa?"
"Hzzshh ..., hzzhh...." Bunyi napas Serena.
"Hmm, dasar Kucing. Hoamm, saya juga mulai mengantuk. Terima kasih ceritanya, emm ... Putri Eren."
...***...
Sesuai kesepakatan semalam, Marvin menepati janjinya. Ia menyuruh seorang pelayan untuk membangunkan Serena. Syukurlah, setelah lima kali tubuhnya diguncang oleh pelayan tersebut, Serena akhirnya bangun juga.
Setelah pelayan yang membangunkan pergi, Serena bergegas ke kamar mandi. Ia mengguyur kepalanya agar tidak mengantuk. Lanjut mandi, bersiap, melaksakan kegiatan rutin, dan mempersiapkan kebutuhan sekolahnya.
"Kalau kamu belum bisa beradaptasi makan dengan pelayan, kamu boleh sarapan di kantin sekolah. Staf saya sudah mengurusnya."
Wajah Serena sumringah saat membaca pesan itu.
"Terima kasih, Pak Bos," balasnya.
"Jangan jalan kaki, naik bus sekolah saja."
"Siap Bos."
Karena tidak ingin didebat oleh pelayan, pada pukul 06.00 waktu setempat, Serena meninggalkan apartemen.
...***...
Di lobi apartemen, ia bertemu dengan mantan penculiknya, Hugo.
"Selamat pagi, Nona," sapa Hugo.
"Kamu nanya aku?"
Serena mengalihkan pandangan. Sebab, ia baru saja sadar kalau pria di hadapannya adalah orang yang melihat ia dicium oleh Marvin sekaligus orang yang berada di dalam vidio saat Marvin dan papanya melakukan janji pernikahan. Satu orang pria lagi hanya terekam bagian samping tubuhnya. Jadi, Serena tidak bisa mengingatnya.
"Tidak sarapan dulu, Nona?" Hugo menguntit hingga Serena keluar dari area apartemen.
"Mau sarapan di kantin sekolah," jawab Serena. Langkahnya semakin cepat.
"Aku harus memastikan kalau Anda benar-benar naik bus sekolah," jelas Hugo.
"Oh, aku kira mau menculikku lagi," sindir Serena.
"Hahaha." Hugo malah tertawa.
"Tidak lucu!" ketus Serena.
"Itu bus sekolahnya, Nona." Hugo menunjuk ke seberang jalan.
"Aku tahu." Serena berlalu ke sana. Hugo tetap memerhatikan sampai Serena mendapatkan kursi.
...***...
Suasana di dalam bus begitu caggung. Sebab, sebagian dari siswa/siswi, ada yang sekelas dengan Serena. Mereka yang tahu kalau papa Serena bangkrut, terlihat memandang Serena dengan tatapan sinis dan semu alias tidak mudah didefinisikan. Yang belum tahu, hanya bisa menatap keheranan, sebab si Nona tiba-tiba naik bus sekolah.
"Bapak baru lihat kamu," kata Pak Sopir. Ya, Serena memang sengaja duduk dekat dengan Pak Sopir agar dirinya tidak mudah diintimidasi oleh siswa/siswi yang mengenalnya.
"Aku juga baru lihat, Bapak," jawab Serena santai. Pak Sopir dibuat tersenyum oleh Serena.
__ADS_1
...~Next~...