
"Apa?! 'Kok bisa?!"
Clara kecewa saat mengetahui jika Marvin tidak berada di kantornya. Padahal, tadi ia sudah mengatakan kalau ia akan datang ke kantor pada jam makan siang.
"Maaf Nona, Pak Bos sudah meninggalkan kantor sejak pukul 11 siang," terang sekretarisnya.
"Apa dia menjelaskan akan pergi ke mana?!" teriak Clara.
Kali ini, kesabarannya nyaris habis. Akhir-akhir ini, ia berpikir jika Marvin tidak lagi memedulikannya. Ditambah dengan rencana pertemuannya dengan pak Wandira yang gagal lantaran pak Wandira sudah berada di penjara, menjadi faktor lain yang menyebabkan Clara semakin emosi.
"Tidak, Nona. Pak Bos tidak menjelaskan apapun."
"Dasar tidak berguna!"
Ia menyikut sekretaris tersebut saat berlalu meninggalkan kantor. Marvin benar-benar telah mempermainkannya. Padahal, ia sudah memperpanjang libur kuliahnya demi Marvin. Entah berapa banyak pelajaran dan agenda kampus yang ia lewatkan begitu saja demi bisa bersama dengan Marvin.
"Aku harus bertemu Papa Jacob!"
Clara memasuki mobilnya dan berencana akan menemui pak Jacob, papanya Marvin. Sepanjang jalan, Clara merenung.
Sebelum pergi ke kantor Marvin, ia telah menyempatkan diri pergi ke perpustakaan milik keluarga Marvin untuk mengecek keberadaan Serena dan membuktikan laporan mata-matanya yang mengatakan jika Serena tidak berada di perpustakaan.
"Jangan-jangan, dia sedang main gila dengan bocah itu!" geramnya.
Terlalu mencurigakan memang. Ya, Marvin sering pergi dari apartemen, saat ia tidak melihat Serena di apartemen Marvin. Lalu saat Serena berada di apartemen, Clara ingat benar jika Marvinpun selalu berada di apartemen dan hanya pergi saat bekerja.
"Kurang ajar!"
Ia mempercepat laju kemudi. Sebenarnya, ia ingin menanyakan keberadaan kekasihnya itu pada Hugo, Edrick, Boy atau Rian, namun entah kenapa, empat sekawan itu seolah ditelan bumi. Mereka seperti sengaja menghindari Clara.
"Aku yakin mereka mengetahui sesuatu dan merahasiakannya dariku!" duga Clara.
"Kalau perlu, aku akan mempercepat rencana pernikahan!" rutuknya. Marvin dan Clara sudah berpacaran selama lima tahun. Wajar memang jika Clara merasa kalau Marvin adalah miliknya.
...***...
_______
Serena. Gadis itu tidak berkutik. Ia membiarkan tangan Marvin merambah dan menjamahnya. Kali ini tidak ada lagi bahasa penolakan, cacian, ataupun rontaan yang berarti. Jikapun menolak, Serena berpikir percuma saja. Hanya perbuatan sia-sia yang membuang energinya. Tubuhnya benar-benar milik pria ini. Ia menggigit bibir kuat-kuat agar suara aneh yang spontan keluar bibirnya bisa dicegah.
Sebagai remaja yang tengah berada di fase mencari jati diri. Gadis itu menganggap jika kegiatan ini adalah sebuah aktivitas baru yang rasanya unik, namun juga sedikit memalukan.
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya. Apa kamu pernah menunjukkannya pada orang lain? Saya khawatir kamu masuk ke circle remaja-remaja nakal," tanyanya sembari mengekang kedua tangan Serena di atas kepala gadis tersebut.
Serena menggelengkan kepalanya. Ia tidak berani bicara karena merasa malu. Malu pada dirinya sendiri karena telah terpedaya oleh Marvin.
"Bicara Serena," titahnya seraya mengecupi bibir Serena dengan kecupan-kecupan kecil.
"Katakan ya atau tidak," bisiknya.
Sekarang sambil menciumi telinga Serena. Gadis itu bergidik, bulu romanya merinding, dan ia baru menyadari kalau pria dewasa ternyata suka melakukan hal-hal yang kekanak-kakan, bahkan kebayi-bayian.
"Jawab!" Marvin mulai tegas.
"Ti-tidak," jawabnya singkat.
"Bagus. Jadi hanya saya pria yang melihatnya?" Marvin memastikan lagi.
"Ya."
"Kamu tidak berbohong 'kan?"
"Ya." Kepalanya mengangguk.
"Bagus. Saya harap kamu tidak membohongi saya, dan jangan kira saya akan diam saja. Dengar, saya akan menyelidikinya dan membuktikan sendiri jika ucapan kamu bukan bualan." Ia melepaskan cekalannya dari tangan Serena. Lalu kembali melalukan kegiatan yang dimaknai Serena sebagai perilaku kebayi-bayian.
"A!" pekik Serena.
"Ma-maaf, saya gemas," kata Marvin. Pria itu benar-benar akan membuat Serena menjadi lebih dewasa. Lalu ia memeluk Serena saat gadis itu mengatakan, "Cu-cukup."
"Terima kasih," bisiknya.
Namun tangan Marvin tiba-tiba merayap ke bagian lain. Serena terkejut. Haruskah ia mengatakan sama-sama? Jika ia mengatakan sama-sama, apa pria itu akan mengira kalau ia menggemari aktivitas mesum ini? Tidak, Serena tidak ingin Marvin menduga demikian. Akhirnya, gadis itu memilih diam.
"Boleh saya melihatnya?"
"Melihat? Me-melihat apa?" Matanya membulat karena Marvin memosisikan dirinya di sana.
"Melihat hasil operasi," jelas Marvin tanpa basa-basi.
"A-apa?! Ti-tidak boleh! Aku tidak mau!"
Serena segera bangun dan memeluk tubuhnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi ketakutan. Rupanya, gadis itu masih menyimpan trauma pada kejadian itu.
"Maaf, saya hanya bercanda."
Marvin menyadari ketakutan Serena. Ia memeluk Serena dan berusaha menenangkan dengan mengusap-usap rambutnya.
"A-aku takut, ja-jangan lakukan lagi."
"Ssst, untuk saat ini, saya memang tidak akan melakukannya. Saya akan menunggu sampai kamu pulih. Tapi kamu harus melakukan sesuatu untuk saya. Akan saya ajari caranya," pinta Marvin.
"Hahh? A-Anda ma-mau apa?" Serena kebingungan. Lalu Marvin berbisik di telinga Serena dan menjelaskan maksudnya.
"A-apa?! Aku tidak mau! Memangnya ada kegiatan yang seperti itu?!" tolaknya. Pipinya sampai memerah karena hanya dengan membayangkannya saja ia jadi malu.
__ADS_1
"Ya ampun Serena." Marvin memasygul rambutnya. Lalu menarik tangan Serena dan bermaksud ingin memulainya.
"Pak Bos! A-aku tidak mau! Kenapa Anda tidak menyuruh Nona Clara saja yang melakukannya!" Sambil mamakai kembali bajunya yang tadi ditanggalkan oleh Marvin.
"Apa katamu?!" Seketika itu juga, wajah Marvin langsung memerah.
"Aku tidak perlu mengulangnya," timpal Serena. Duganya, Marvin adalah pria flamboyan yang menggunakan kekayaan untuk memikat dan menyandera gadis-gadis seperti dirinya.
"Serena!" Marvin mencengkram tangan Serena dan menekan tubuh gadis itu ke dinding.
"Lepas!"
"Apa maksud dari ucapan kamu yang tadi, hahh?!"
"Harusnya, tidak perlu aku jelaskanpun Anda sudah mengerti!"
"Apa kamu berpikir kalau saya pria kotor?!" Cengkramannya semakin kuat. Ia tidak terima Serena menuduhnya.
"Kalau Anda tidak merasa! Ya tidak perlu marah!" teriak Serena. Ia kesal karena Marvin pura-pura tidak mengerti. Padahal, Clara sendiri pernah menjelaskan jika ia dan Marvin sering bermain ranjang.
"Apa?! Lancang kamu ya! Dengar ya Serena! Saya tidak pernah berbuat di luar batas dengan siapapun! Termasuk dengan Clara! Saya hanya melakukannya pada kamu! Cam kan itu, Serena!" sentaknya.
Marvin kesal. Saat Serena hendak bicara lagi, ia menyambar bibir Serena dengan gerakan kasar. Serena memukuli bahu Marvin, namun pria ini malah semakin tidak terkendali.
'Ning nong.' Suara bel. Ia melepas Serena dan mengusap bibirnya.
"Siapaaa?!" teriak Marvin.
"Aku, Pak Bos. Indri. Ada yang mau bertemu dengan Nona Serena."
"Apa?!" Marvin terkejut. Pun dengan Serena.
"Apa kamu memberi tahu alamat vila ini pada teman kamu?! Hei, di hari pertama sekolah, kamu sudah banyak ulah!" Marvin memakai bajunya tergesa-gesa sambil mengomel.
"Aku tidak pernah memberi tahu siapapun," sangkal Serena.
Ia tentu saja sadar diri jika vila ini adalah vila pribadi milik Marvin, dan bukan vila miliknya. Ia bahkan tidak memberi tahu Tika saat anak itu menanyakan tempat tinggalnya.
"Jangan membohongi saya Kucing Nakal!"
"Aku tidak bohong!" ketus Serena.
"Tunggu! Dia laki-laki atau perempuan?!" teriak Marvin. Ia sudah memakai bajunya.
"Laki-laki Pak Bos. Ada dua orang," terang Indri.
"Apa?!" Marvin mematung dan tentu saja semakin kesal.
"Laki-laki?" Serenapun kian terkejut.
"Kurang ajar!"
"Pak Bos, tunggu."
Serena segera memeluk punggung Marvin saat tangan pria itu memegang handle pintu. Marvin terperanjat. Pelukan Serena membuat punggungnya hangat dan menyebabkan dirinya mematung seketika.
"To-tolong jangan marah. Bisakah Anda tidak bertindak gegabah? Aku sangat ingin sekolah dan tidak ingin mencari masalah dengan teman-teman baruku. Lagi pula, sekolahku hanya setengah tahu lagi. Bisakah Anda mengabulkan permintaanku?" mohonnya. Masih dalam keadaan mendekap punggung Marvin.
"Tidak bisa! Ini vila pribadi saya! Saya jadi tidak memiliki privasi lagi kalau membiarkan mereka berada di sini!"
"Pak Bos, mereka tamu. Mereka mungkin saja tidak ada niatan jahat. Bisakah Anda berpura-pura jadi kakakku. Kumohooon, please ...."
Sekarang berganti posisi memeluk dada Marvin dan menatap mata pria itu dengan tatapan mengiba. Tak hanya itu, Serena juga menatap Marvin sambil mengusap bagian tubuh pria itu. Mata Marvin langsung membulat.
"Kamu!" sentaknya. Matanya mengerjap.
"Aku akan patuh dan menuruti keinginan Anda. Janji. Please ...."
Gadis itu kembali memohon. Ia sebenarnya muak dengan adegan ini. Namun pikirnya, hanya dengan cara ini ia bisa membujuk dan merayu Marvin. Marvin tersenyum sinis.
"Kamu menantang saya?!"
"Tidak Pak Bos. Mana berani aku menantang kuasa Anda. Aku 'kan budak Anda. Sungguh, aku mau melakukan apapun keinginan Anda."
"Apa termasuk keinginan yang tadi?" tanya Marvin seraya membalas dekapan Serena. Yey, berhasil. Di balik dada Marvin, Serena tersenyum sinis.
"Ya," terlanjur menantang Marvin, Serena terpaksa menyetujuinya.
"Termasuk melihatnya?"
"Me-melihat apa?" Serena pura-pura tidak mengerti.
"Melihat ---." Marvin berbisik.
"Emm, ba-baiklah. Tapi tolong Anda juga mau bekerja sama." Pipi Serena merona. Mereka akhirnya membuat kesepakatan.
"Bagus." Marvin tersenyum. Ia lantas melepaskan dekapannya dan bergegas ke nakas.
"Anda mau apa? Mari temui mereka bersama-sama."
"Saya ceritanya jadi kakak kamu 'kan? Ya saya harus rapi dong. Masa adiknya can ---." Marvin rupanya belum berani mengakui kecantikan Serena secara terang-terangan.
"Oh," Serena paham. Ia tersenyum dan mengambilkan sisir untuk Marvin. Tadi, saat Marvin bersikap kebayi-bayian, Serena memang sempat menjambak rambut Marvin hingga berantakan.
"Hmm, saya jadi bingung. Harus pakai baju apa ya?"
__ADS_1
"Hahaha. Anda berlebihan. Ya pakai baju santai saja."
"Saya belum pernah menerima tamu bocah-bocah." Sambil becermin dan mengecek penampilannya. Ia bahkan memakai parfum.
"Anda sudah rapi 'kok. Emm," Serenapun enggan menyanjung Marvin.
"Kamu jangan memakai baju ini. Cepat ganti. Pakai celana panjang, baju panjang, dan bajunya harus yang longgar."
"Baiklah." Serena keluar dari kamar Marvin.
...***...
"Wah, dia ternyata tinggal di vila megah."
Temannya Ksatria berdecak kagum. Ksatria diam saja. Ternyata yang bertamu adalah Ksatria dan temannya. Sebagai anak pemilik sekolah, menemukan alamat Serena tentu saja bukan hal yang sulit bagi seorang Ksatria.
"Kenapa lama sekali? Aku tidak biasa menunggu," keluh Ksatria.
"Sabar Tuan, Serena mungkin sedang bersiap."
"Silahkan dinikmati makanan dan minumannya." Indri tiba membawa baki berisi minuman dan makanan ringan.
"Terima kasih," ucap teman Ksatria.
Ksatria diam saja. Ia sedang memerhatikan hiasan di dinding. Maksudnya ingin melihat-lihat foto Serena. Namun ia tidak menemukannya. Dinding vila ini hanya dihiasi oleh lukisan abstrak dan tidak ada satupun foto manusia.
"Pak Bos."
Indri segera membungkuk dan pergi dari ruang tamu saat Marvin tiba. Pria itu datang lebih dulu sebelum Serena. Penampilannya sangat rapi. Memakai pakaian termahal yang ia punya dan disimpan di vila ini.
Marvin segera duduk di hadapan Ksatria dan temannya. Tanpa menyapa, tanpa tersenyum. Sangat dingin bak Kutub Utara. Melipat tangan di dada, menopang kaki, dan menatap tajam pada mereka.
"Halo, perkenalkan, kami temannya Serena."
Temannya Ksatria segera menyapa Marvin dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Marvin menerimanya namun tetap diam tanpa ekspresi. Ksatriapun terpaksa meraih tangan Marvin sambil mengerutkan dahinya. Remaja tampan itu merasa familiar dengan wajah Marvin.
"Ada apa? Kenapa datang ke sini?" tanya Marvin.
"Kami mau bertemu Serena. Kalau boleh tahu, Anda siapanya Serena?" tanya teman Ksatria. Ia sepertinya berperan sebagai juru bicara Ksatria.
"Hai, perkenalkan dia kakakku."
Baru juga Marvin hendak menjawab, Serena tiba. Ia merangkul lengan Marvin dan duduk di sampingnya. Marvin segera merubah ekspresi. Wajahnya yang tadi dingin, perlahan jadi hangat. Ksatria bernapas lega. Sebab awalnya, ia berpikir jika pria itu adalah kekasih Serena.
"Ya, saya kakaknya Serena." Karena sudah sepakat, Marvin mulai berakting.
"Serena, syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Tangan kamu tidak apa-apa, 'kab? Rambut kamu jadi pendek, apa gara-gara permen karet?" Ksatria langsung bertanya dan menunjukkan ekspresi kekhawatiran.
"Oh, jadi kamu tahu kalau adik saya dibully?!" teriak Marvin. Langsung berdiri dan menarik kerah baju Ksatria. Teman Ksatria dan Serena terkejut. Mereka berusaha melerai.
"Kak, Kakak tenang dulu." Serena menahan tangan Marvin.
"Ya, aku memang tahu, dan aku kesini karena merasa bertanggung jawab!" teriak Ksatria. Ia tidak terima kerah bajunya ditarik Marvin.
"Sabar Tuan, sabar." Temannya menyuruh Ksatria duduk. Serena garuk-garuk kepala. Jadi bingung harus berbuat apa.
"Kalau adik saya disakiti lagi, saya pastikan izin operasi sekolah itu akan dicabut!" Marvin duduk sambil mengatur napasnya.
"Hei, siapa Anda?! Kenapa bisa mudah sekali mengatakan izin sekolahku bisa dicabut?!" Ksatria semakin geram.
"Diaaam!" teriak Serena. Ketiga pria itu langsung mematung.
"Kakak, aku baik-baik saja. Jadi Kakak tidak perlu khawatir. Lalu kamu juga Tuan Ksatria, bukankah Anda adalah tamu, jadi tolong bersikap baiklah pada tuan rumah!" sentak Serena.
"Tapi ---," protes Marvin.
"Kalau Kakak mau ribut, lebih baik jangan duduk di sini. Dan kalian juga! Kalu ingin membuat onar, lebih baik cepat pergi dan jangan pernah bertamu ke sini lagi!" tandasnya.
"Baik, maafkan sikap kami." Si juru bicara rupanya lebih memahami situasi.
"Baik, mari bicara baik-baik," ajak Marvin sambil menarik tangan Serena hingga gadis itu terduduk di pangkuannya.
"Kakak!" Serena tersentak kaget. Ksatria dan temannya terbengong-bengong.
"Adik saya memang biasa dipangku seperti ini. Jangan merasa aneh," ucap Marvin seraya mengecup bahu Serena. Mata Serena membulat. Pria ini ternyata tidak bisa diajak kerja sama. Marvin mengingkari janjinya.
"Hahaha. Kalian sungguh akur." Teman Ksatria tidak menyimpan curiga. Ksatria sendiri masih berada pada mode bingung.
"Aku bisa duduk sendiri Kak!" Serena melepaskan diri dari pangkuan Marvin.
"Hahaha. Adik saya lucu ya?" Ia mencubit pipi Serena.
"Kakak!"
"Kalian adik-kakak atau apa 'sih?" Ksatria merasa janggal.
"Tuan Ksatria, tolong jangan berpikir aneh-aneh." Teman Ksatria kembali menenangkan.
"Pak Bos, ada tamu lagi." Edrick muncul ke ruang tamu dan terlihat panik.
"Tamu? Siapa lagi?" tanya Marvin.
"Emm, a-anu Pak Bos," Edrick gugup.
_______
__ADS_1
Kira-kira, yang bertamu siapa ya?
...~Next~...