ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
SERENA LULUS


__ADS_3

...~Sebulan kemudian~...


Bagi Serena, ini adalah hari kelulusan yang sangat berbeda. Biasanya, di hari ini ia akan mendapatkan apapun yang diinginkannya. Hadiah dari papa-mama, kerabat, ataupun sahabat-sahabatnya.


Padahal, Serena berada di urutan tiga besar nilai kelulusan tertinggi. Namun hal tersebut tak sedikitpun membuatnya bahagia. Tapi ia bersyukur karena bisa menyelesaikan studinya walaupun dengan susah-payah dan banyak sekali rintangannya.


Setelah mengambil surat kelulusan, Serena memilih memisahkan diri dari yang lain. Ia bahkan menolak ajakan dari Tika untuk menghadiri pesta kelulusan bersama teman-teman sekelasnya. Serena lebih memilih pergi ke kelas kosong dan merenung seorang diri. Perutnya yang mulai berisi, membuatnya khawatir jika kehamilannya akan diketahui. Ia menutupi seragam sekolahnya dengan auter longgar.


Lalu ia menangis tanpa suara sambil mengusap perutnya. Sejak dua minggu yang lalu, Marvin pamit pergi ke kantor dan belum memberinya kabar hingga saat ini. Serena bahkan tidak bisa menghubungi Hugo, Rian, Edrick ataupun Boy untuk menanyakan kabar suaminya. Nomor mereka tidak bisa dihubungi, pun dengan nomor bu Ermi yang entah apa sebabnya tidak lagi mengajar di sekolah ini.


Ia juga tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari Nita dan Ami yang bekerja di apartemen. Mereka selalu menjawab 'Tidak tahu' saat Serena bertanya tentang Marvin.


"Apa aku pergi ke kantornya saja?" gumamnya sambil menatap nomor Marvin yang sejak dua minggu yang lalu tidak bisa dihubungi.


"Setidaknya, kamu mengabariku Marsupilami! Kenapa kamu membuatku jadi tersiksa seperti ini? Apa Anda ingin membuangku? Apa dengan cara ini Anda membuangku?" gumamnya lagi dengan deraian air mata yang kian deras. Segera diusap air mata tersebut saat ia menyadari kedatangan seseorang.


"Pak Wahyu?" Dia adalah penjaga sekolah.


"Ya ampun Eren, kamu ada di sini? Kenapa tidak kumpul dengan yang lain?" tanya pak Wahyu.


"Aku tidak enak badan Pak," kilah Serena.


"Oh, Bapak kira kenapa. Bapak ke sini mencari kamu, ini ada titipan untuk kamu." Pak Wahyu menyerahkan sebuah kotak kecil pada Serena.


"Apa ini? Dari siapa, Pak?"


"Bapak juga tidak tahu. Ini ada di meja Bapak, dan ada perintah di atasnya agar kotak ini diberikan pada siswi atas nama Serena."


"Begitu ya. Ya sudah, terima kasih Pak."


"Sama-sama, Bapak pergi ya, Eren." Pak Wahyu berlalu.


"Ya Pak, silahkan."


Setelah pak Wahyu pergi, Serena memandangi kotak tersebut dengan tatapan heran. Segera dibukanya dengan terburu-buru karena sangat penasaran. Lalu entah kenapa, jantungnya tiba-tiba berdegup kuat.


"Surat?"


Ya, kotak tersebut berisi sebuah surat. Ditulis di atas kertas yang berasal dari sobekan kardus. Ditulis dengan tinta hitam yang sepertinya hampir habis karena warna dari goresannya tidak merata.


..."Selamat atas kelulusannya, Putri Eren."...


Itu kalimat pertama yang tertulis di sana, dan tangan Serena gemetar seketika karena menyadari jika ini adalah tulisan Marvin.


"Ma-Marvin," lirihnya.


..."Maaf. Maaf. Maaf. Saya pasti membuat kamu marah dan kecewa. Maafkan saya, Serena."...


Lanjut membacanya, dan dadanya terasa sesak.


..."Saya tidak bisa berbuat banyak untuk kamu. Hanya bisa melakukan ini untuk membuatmu aman."...


"Kenapa? Apa yang terjadi? Tuhan, dia kenapa?" Serena memejamkan matanya sejenak seraya memegang dadanya.

__ADS_1


..."Saya merindukan kamu. Saya tahu kamu pasti sedih. Tapi lagi-lagi, saya tidak bisa berbuat banyak untuk menguraikan masalah ini. Apa kamu tahu? Saya mempertaruhkan nyawa saya demi membuat surat ini dan memastikan surat ini sampai ke tangan kamu."...


"Huuu." Tangis Serena kini terdengar jelas.


..."Tolong jaga buah cinta kita. Saya akan berjuang hingga napas terakhir demi kamu dan demi dia yang saat ini masih berada di rahimmu."...


Kalimat itu membuat Serena terkejut luar biasa hingga surat tersebut jatuh ke lantai. Apa Marvin mengetahui kalau ia hamil? Sejak kapan dia mengetahuinya?


"Ti-tidak mungkin," elak Serena. Lalu mengambil surat yang terjatuh dengan tangan gemetaran.


..."Nita tidak sengaja menemukan hasil tespek yang kamu buang ke tempat sampah dan melaporkannya pada saya. Jadi, saya sudah mengetahuinya sejak lama. Saya sangat bahagia. Ada banyak hal yang ingin saya jelaskan sama kamu, tapi saya tidak memiliki banyak waktu. Tolong jaga dirimu, jaga kandunganmu, dan bersabarlah."...


"Huuu, Pak Bos ...."


Serena mengecek kertas tersebut berulang-ulang dan berharap ada tulisan lain untuknya. Serena yakin jika saat ini, suaminya tersebut sedang melewati masa-masa sulit. Ia yakin jika Marvin mengalami hal tersebut karena dirinya. Setelah perasaannya mulai tenang, Serena meninggalkan kelas kosong tersebut dengan langkah lunglai. Ia akan pulang ke apartemen.


...***...


Tiba di apartemen, Serena segera membersihkan dirinya. Ia hanya seorang diri. Nita dan Ami sudah tiga hari tidak datang. Iapun mulai terbiasa hidup sendiri dan mandiri. Sekarang sudah mahir dalam hal menggoreng. Menu andalannya adalah ceplok telur, membuat dan mie instan. Bumbu andalannya hanya seputar kecap, saus sambel, saus tomat, saus tiram, kecap asin, dan mayonnaise.


Namun belum berani menggoreng ikan karena takut terciprat minyak.


...***...


"Sampai kapan aku akan bertahan? Tuhan, maafkan aku yang mulai lelah," keluhnya.


Tapi jika ia pergi, ia khawatir kehidupannya di luar sana tidak akan lebih baik daripada kehidupannya saat ini.


"Aku harus aman dan bisa memakan makanan yang bergizi untuk pertumbuhan dan perkembangan janinku. Kalau aku pergi dari apartemen ini, aku takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anakku," ucapnya sembari memeluk dan menciumi bantal yang biasa digunakan oleh Marvin. Ia bahkan menggunakan jas Marvin untuk menyelimuti tubuhnya.


Ya, walaupun kesepian, di sini Serena bisa mendapatkan makanan apapun yang diinginkannya. Ada seseorang yang tiap hari selalu datang untuk menanyakan kabar dan kebutuhan Serena. Serena yakin orang tersebut adalah suruhan Marvin.


"Sejak kapan ya dia tahu kalau aku hamil?" Serena tidak tahu kapan Nita memeriksa dan membuang sampah yang ada di kamar mandinya.


Pada akhirnya, gadis itu bersyukur karena kehamilannya telah diketahui oleh Marvin yang merupakan ayah biologis dari janin yang dikandungnya.


Besok, tidak ada lagi jadwal les dan sekolah. Serena berencana akan pergi ke salon milik mama Syakilla dan mulai bekerja. Dengan ke sana, ia juga berharap bisa menemukan informasi tentang Marvin.


...***...


~ Di sebuah rumah mewah, Pusat Kota~


"Bos Besar, kami minta maaf karena sudah lancang. Ma-maaf, mau sampai kapan Anda menghukum Pak Bos?" kata Hugo sambil menunduk.


Ia bersama Edrick, Boy dan Rian memberanikan diri menemui pak Jacob untuk melakukan protes atas tindakannya pada Marvin. Ya, sejak dua minggu yang lalu, Marvin dipaksa keluar dari perusahaan. Ia diberhentikan secara tidak hormat dan sebagian asetnya disita secara paksa.


"Dia anak saya. Saya bertanggung jawab atas dia. Apa kalian juga mau dipecat?" jawab pak Jacob dengan santainya sambil meyuruput kopi panas yang masih mengepul.


Hugopun terdiam. Pun dengan yang lainnya. Mereka dilema. Karena jika menentang dan berontak, mereka akan celaka dan harus berani berhadapan dengan anak buah Bos Besar yang terkenal dengan kekejamannya.


"I-izinkan kami bertemu dengan Pak Bos," pinta Edrick dengan tatapan memohon.


Entah ini permintaan keberapa kalinya, dan mereka berharap agar kali ini permintaan tersebut dikabulkan.

__ADS_1


"Silahkan," tegas Bos Besar sembari melemparkan kunci pada Edrick.


Edrick bahagia, pun dengan yang lain. Mereka bersimpuh dan berterimakasih.


"Semoga dengan kedatangan kalian dia tidak keras kepala lagi. Tolong beritahu dia agar jangan bermain-main dengan keputusan seorang ayah," tambah pak Jacob.


...***...


~Bunker~


"Pak Bos?!"


Mereka akhirnya tiba di ruangan yang digunakan oleh pak Jacob untuk memberi pelajaran pada putranya. Ini adalah sebuah bunker pribadi yang tampak mewah, namun kondisi ruangan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi Marvin yang terlihat memprihatikan.


"Ka-kalian?" Marvin terkejut dengan kedatangan orang-orang kepercayaannya.


"Pak Bos."


Keempat orang tersebut berhamburan dan memeluk Marvin. Marvin yang tampan dan gagah, kini tampak lusuh dengan beberapa luka lebam di sekitar wajahnya. Rambutnya yang selalu rapi dan wangi, kini tampak memanjang dan berantakan. Bahkan, bibir indahnya kini dihiasi kumis tipis dan sedikit janggut. Sebenarnya, ia jadi terlihat semakin gagah dan dewasa.


Marvin juga terlihat lebih kurus. Ya, ketampanannya memang tidak hilang, namun keadaan ini benar-benar membuat mereka shock.


"Ayah macam apa dia! Tega sekali membuat darah dagingnya seperti ini!" teriak Boy kesal.


"Bagaimana kabar Serena? Dia baik-baik saja 'kan? Dia tetap tinggal di aparteman 'kan?" tanya Marvin. Dia seolah tidak memedulikan kondisinya dan hanya peduli pada Serena.


"Nona Serena baik-baik saja. Pak Bos, sampai kapan Anda akan dihukum seperti ini?! Apa perlu kami melapor pada polisi?!" tanya Edrick dengan wajah yang dipenuhi emosi.


"Saya sebenarnya sudah ada rencana, tapi sebelum melaksankan rencana itu, kalian harus menjalankan misi penting dulu," jelas Marvin dengan suara pelan agar pembicaraan tersebut tidak didengar oleh anak buah papanya yang saat ini tengah berjaga di bagian depan bunker tersebut.


"Misi? Misi apa? Nah, begitu dong Pak Bos. Kami sudah gatal ingin segera bertindak. Selama ini kami tidak bertindak karena belum ada intruksi apapun dari Anda," sahut Hugo.


"Cepat katakan Pak Bos? Misi apa?" desak Edrick.


"Tolong bawa Serena ke sini," bisik Marvin.


"Apa?!" Mereka tersentak bersamaan.


"Ssst, pelankan suara kalian. Bagaimanapun caranya, pokoknya kalian harus berhasil membawa Serena ke ruangan ini. Akan lebih aman Serena yang ke sini daripada saya yang kabur," tambah Marvin.


Mereka saling berpandangan. Misi dari Marvin benar-benar sulit dan sangat beresiko.


"Kenapa Pak Bos? Kenapa kami harus membawa Nona Serena ke sini? Apa tidak ada cara lain? Kami khawatir membahayakan Nona Serena," protes Boy.


"Saya rindu, saya ingin memeluknya, ingin menciumya, dan ingin yang lain-lain. Alasan utama membawa Serena ke sini adalah itu," jelas Marvin.


"Ya ampun. Alasan macam apa itu?" Hugo geleng-geleng kepala. Edrick dan Boy menepuk kening mereka. Rian yang sudah menikah hanya bisa tersenyum dan ia paham dengan maksud Marvin.


"Kalian tidak berani?" Marvin terlihat kecewa.


"Kami berani Pak Bos. Tapi bagaimana caranya? Apa Anda ada ide? Selebihnya serahkan pada kami," ungkap Edrick.


"Baiklah, begini." Marvin kemudian berbisik, dan mereka menyimak dengan seksama.

__ADS_1


Seperti apa rencana Marvin? Apakah Edrick, Hugo, Rian dan Boy bisa menjalankan misi tersebut?


...~Next~...


__ADS_2