ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
BICARA TENTANG CINTA


__ADS_3

"Kamu membela dia, Vin?! Kamu sudah gila ya?!" Clara naik pitam. Di depan matanya, Marvin tega melukai perasaannya.


"Aku minta Nona Clara," malah Serena yang meminta maaf.


"Aku tidak bicara sama kamu, bocah!" sentak Clara. Mata Clara sudah berkaca-kaca.


"Kita sudah putus. Jadi tidak masalah 'kan kalaupun saya dekat dengan wanita manapun." Marvin seolah tidak ingin berdebat dengan Clara. Ia memilih menuntun tangan Serena dan segera membawanya ke dalam vila.


"Marvin! Apa kamu memang serius dengan ucapan kamu?!" Clara mengejar dan memegang baju Marvin.


"Ya," jawab Marvin singkat.


"Aku mau mengadukan ini sama papa Jacob!" teriaknya sambil terisak-isak.


"Silahkan," sahut Marvin dan sama sekali tidak mau melepas genggaman tangannya dari memegang Serena. Padahal, Serena sudah mencoba menepisnya.


"Kamu akan menyesal, Vin!" ancam Clara.


Ia tidak menyangka jika Serena adalah dalang utama di balik kehancuran jalinan cintanya. Jika wanita itu bukan Serena, ia mungkin tidak akan semarah ini. Bayangkan, dari sekian banyaknya wanita terhormat di luaran sana, Marvin malah memilih seorang bocah yang jelas-jelas berasal dari keturunan yang tidak baik. Papanya Serena hingga saat ini bahkan masih menjadi DPO.


Marvin diam saja. Ia membawa Serena ke kamar yang sempat ia kunci.


"Pak Bos? Apa Anda yakin dengan keputusan ini?" Indri tampak cemas dan khawatir.


"Saya juga belum yakin. Tapi saya tidak suka dengan sikap Clara yang selalu menyalahkan saya," jawabnya dan dalam keadaan masih memegang tangan Serena.


"Pak Bos, aku tidak mau seperti ini, aku lebih tenang kalau status kita tetap dirahasiakan, a-aku takut," lirih Serena. Serius, ucapan Marvin membuatnya jadi tidak tenang.


"Kamu istirahat saja. Hari ini ada pelajaran, 'kan?" Marvin tidak memedulikan keluhan Serena. Malah mendorong tubuh Serena ke dalam kamar dan menguncinya dari luar.


"Pak Bos! Pak Bos! Kenapa dikunci?!" teriak Serena dari dalam kamar.


"Maaf."


Hanya itu yang diucapkan Marvin untuk Serena. Ia kemudian memasukkan kunci kamar Serena ke dalam saku kemejanya. Indri hanya bisa menjadi saksi bisu. Lalu menguntit Marvin yang dipastikan akan menemui Clara.


...***...


"Honey."


Clara berhambur ke pelukan Marvin. Walaupun sedang emosi, ia akan berusaha untuk menyelesaikan masalah ini dengan harapan bisa membuat Marvin kembali ke sisinya.


"Sudah cerita sama papa saya?" tanya Marvin dan ia membiarkan Clara memeluknya.


"Sudah honey. Tapi honey, kalau memang aku salah, oke, aku minta maaf. Tapi tolong jangan seperti ini, aku tidak mau putus," pintanya.


"Saya tidak bisa," jawab Marvin seraya mengurai tangan Clara yang melingkar di lehernya.


"Kenapa?! Apa karena Serena?!" Jadi emosi lagi.


"Bukan, ini tidak ada hubungannya dengan Serena. Hanya saja, saya merasa tidak yakin dengan pernikahan kita. Daripada menyesal di kemudian hari, saya berpikir jika hubungan ini diakhiri saja."


"Vin! Kita sudah lima tahun menjalin hubungan ini, lalu dengan seenaknya saja kamu ingin mengakhirinya?! Ini tidak masuk akal! Aku tidak bisa menerima ini, Vin! Aku akan mengadukan ini lagi sama papa Jacob! Kemarin aku sudah mengatakannya, tapi papa Jacob berpikir kalau kamu tidak serius!"


Clara berlalu sambil membanting pintu yang dilaluinya. Bagi Clara, ini adalah sebuah penghinaan.


"Indri," panggil Marvin.


"Ya Pak Bos."


"Tolong antar Clara pulang dan jangan biarkan dia membawa mobil sendiri."


"Baik Pak Bos." Indri bergegas.


...***...


"Serena," Marvin memanggil Serena dan mengetuk pintu kamarnya.


Namun gadis itu tidak menyahut.


"Buka pintunya, Serena," serunya.


"Ya ampun."


Marvin baru ingat kalau kunci kamar Serena ada padanya. Ia segera meraih kunci tersebut dan membuka pintu.


"Serena," gadis itu tidak berada di dalam kamar. Namun pintu kamar mandinya sedikit terbuka.


"Serena." Marvin yakin jika Serena berada di kamar mandi.


"Jangan masuk Pak Bos! Aku sedang mandi!" teriak Serena.


Malah dijelaskan kalau ia sedang mandi, pikiran Marvin yang tadinya sebening embun pagipun jadi berubah kotor, sekotor sisa-sisa banjir bandang.


Ya ampun Serena, gadis itu memang pandai membuat kepala Marvin pusing. Jadi timbul keinginan di hati Marvin untuk menghilangkan rasa pusing ini dengan cara bermain-main dengan Serena.


"Saya ikut mandi ya," goda Marvin seraya mendekat ke arah kamar mandi.


Lagi pula, ini salah Serena. Kenapa coba pintu kamar mandinya tidak ditutup? Serena lupa? Atau gadis itu memang sengaja ingin menggoda Marvin? Entahlah.


"Apa?! Jangan macam-macam ya Pak Bos! Anda mandi saja di kamar mandi Anda sendiri!" sahut Serena.


"Dalam berbagai literatur kesehatan, manfaat mandi pagi sebelum matahari terbit itu dapat meningkatkan energi baik lho, Serena. Saya ke situ ya." Marvin lantas mengambil handuk dari dalam almari.


"Apa?! Aku tidak peduli dengan teori itu! Pokoknya Anda jangan ke sini!" teriak Serena.


Terlambat. Karena faktanya, Marvin telah masuk ke kamar mandi.


"Pak Bos?!"


Serena terkejut maksimal. Ia segera menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam bathup.

__ADS_1


"Ini vila saya. Ini juga kamar mandi saya." Marvin mendekat.


"Ya a-aku tah! Tapi to-tolong jangan ke sini!" Serena kian gugup.


"Mandi pagi itu dapat meningkatkan kreativitas, menjaga kesehatan kulit wajah, meningkatkan kesuburan untuk pria, dan sangat baik untuk memperkuat daya tahan tubuh. Saya memang terbiasa mandi pagi," jelasnya dan mulai membuka kancing bajunya.


"Aaaa! Pak Bos! Bisa 'kan tidak mandi di sini?! Atau Anda di sana saja mandinya!" Serena menunjuk ke arah shower.


"Tidak mau, saya juga mau berendam di bathup," ujarnya.


"A-apa?! A-aku tidak mau! Ya sudah, Anda saja yang mandi! Aku sudah selesai!"


Serena hendak beranjak. Namun tidak jadi karena baru sadar kalau dirinya tidak membawa handuk. Ya, lupa membawa handuk adalah kebiasaan Serena. Marvin mengulum senyum, ia tahu kalau Serena lupa membawa handuk.


"Bi-bisa pinjam handuk Anda dulu?" pintanya.


"Tidak bisa," dan Marvin sengaja meletakkan handuknya di gantungan bagian atas agar tidak bisa dijangkau oleh Serena.


"Bathupnya kecil. Kalau Anda ke sini pasti tidak muat," oceh Serena seraya menunduk. Pipinya mulai merona lantaran malu dan tidak berani menoleh pada Marvin.


"Cukup 'kok. Saya yakin cukup."


Marvin membungkukkan tubuhnya untuk mengecek suhu air. Serena menutup matanya. Gadis itu benar-benar tidak mau melihat Marvin.


"Kamu pakai air hangat? Serena, mandi pagi itu baiknya pakai air dingin," jelas Marvin. Lantas ia memutar keran air yang mengaliri bathup dan mengubahnya ke air dingin.


"Pak Bos! Jangan! A-aku biasa mandi dengan air hangat!" Serena terlonjak kaget saat merasakan air di ujung kakinya berubah dingin.


"Mandi pagi memang direkomendasikan menggunakan air dingin daripada air hangat. Menurut penelitian, ini akan mengubah tingkat kimia di otak dan dapat menciptakan hormon noradrenalin yang bisa membantu membakar kalori dan meningkatkan kewaspadaan," lanjut Marvin.


"Sudah kubilang aku tidak peduli dengan teori-teori semacam itu! Yang penting mandi dan bersih! Pak Bos, aku tidak mau pakai air dingin. Di-dingin tahu!" sentak Serena seraya beringsut karena air di bathup mulai terasa mendinginkan tubuhnya.


"Dingin? Itu masalah kecil. Maka dari itu kita harus mandi bersama supaya airnya jadi hangat."


"A-apa?! Apa mungkin bisa jadi hangat?" tanya Serena dengan polosnya. Tapi ia masih belum berani menatap Marvin.


"Mari saya buktikan. Bisa geser sedikit?" pinta Marvin.


"Emm, ba-baik."


Serena begeser, dan irama jantungnya mulai tidak beraturan. Apa lagi saat ia sadar jika pria itu telah berada di belakang tubuhnya.


"Bisa begeser lagi?" pinta Marvin.


"Begeser lagi? Ba-baik."


Serena semakin gugup, hal ini diperparah dengan air bathup yang mulai menusuk kulitnya. Gadis itu memeluk tubuhnya kian erat. Biarpun kedinginan, Serena tidak berani memunculkan tubuhnya ke permukaan karena kondisinya tidak memungkinkan.


"Bukan begeser ke depan, maksud saya begeser ke belakang," bujuk Marvin sembari merematkan tangannya ke sisi bathup sambil menatap nanar pada punggung Serena.


"Ke belakang?" Serena berada dalam situasi lagging.


"Ayolah Serena. Saya juga kedinginan," keluh Marvin. Jika saja tidak menahan diri, ia pasti sudah menarik tubuh Serena.


"Serena! Kalau saya suruh kamu mundur, ya mundur!"


Marvin jadi tidak bisa bersabar lagi. Sepertinya, yang kedinginan itu hanya Serena. Maksudnya, Serena kedinginan, Marvin kepanasan. Pria itu menarik bahu Serena hingga tubuh mereka bersentuhan.


Serena terkejut, matanya langsung membulat sempurna karena merasakan sesuatu yang tidak bisa didefinisikan dengan akal sehatnya. Gadis itu menelan salivanya dengan susah-payah, rasanya ingin beteriak dan berlari saat ini juga.


"Bagaimana? Apa airnya sudah mulai hangat?" bisik Marvin di telinga Serena.


Serius, Serena belum bisa mengatakan apapun. Bahkan saat tangan Marvin perlahan mendekap tubuhnya, bibir Serena masih bungkam. Serena sepertinya sedang mengalami sindrom terkesima. Ia hanya bisa mengatur napasnya dan berusaha menenangkan diri.


"Serena," bisik Marvin.


Bibir pria itu menelusuri telinga dan bagian lehernya dengan gerakan nan lembut. Serena membatu. Gadis itu mati kutu. Bulu romanya merinding, dan benar saja, ia bisa merasakan jika desiran darah di dalam tubuhnya mulai memanas.


Apa ini yang dimaksud Marvin 'airnya berubah jadi hangat?' Serena mulai memahami maknanya.


"Ya, a-airnya mulai hangat," jawabnya. Spontan memejamkan mata, dan perlahan merebahkan kepalanya pada dada Marvin.


"Ya, 'kan? Apa kamu mau agar airnya lebih hangat lagi?" bisik Marvin.


Kali ini ia berbisik di telinga Serena yang satunya lagi seraya menyentuh sesuatu. Serena seolah terhipnotis, ia mengangguk pelan sambil mencengkram tangan Marvin yang sebentar lagi dipastikan akan mengusai tubuhnya.


"Baiklah."


Marvin mengulum senyum. Lalu dengan perlahan dan hati-hati, ia menolehkan kepala Serena agar menghadap sedikit ke arahnya.


"Pak Bos ...."


Serena tidak mampu lagi memalingkan wajahnya dari pesona Marvin. Dari jarak sedekat ini, Marvin benar-benar tampan. Hingga tanpa sadar, tangan Serena menyentuh wajah Marvin. Tangan gadis itu bahkan menyentuh bibir Marvin yang berwarna merah alami.


Mereka saling menatap dalam diam, dan entah kenapa, mata keduanya seperti berkaca-kaca.


Lalu ... 'tes.' Ada yang menetes dari pelupuk mata Serena. Marvin cepat-cepat mengusapnya dan berkata, "Mengenalmu, adalah ujian terberat dalam hidup saya."


Bibir Serena gemetar saat mendengar kalimat itu, dan tetesan bening dari pelupuk matanya malah bertambah deras.


"Apa kamu tahu? Kehadiran kamu telah berhasil membuat saya dilema, terluka, sekaligus bersemangat dalam waktu yang bersamaan."


Entah apa maksudnya, Serena tidak memahami perkataan Marvin.


"Katakan sesuatu Serena," bisiknya. Sembari menuntun tubuh Serena agar posisi mereka menjadi berhadapan.


"Pak Bos, cinta itu hanya satu kata dan tersusun dari lima huruf yang berbeda. Sangat sederhana bukan?" lirih Serena. Marvin terkejut. Ia tidak menyangka jika gadis itu akan bicara tentang cinta.


"Ya, cinta memang kata yang sama sekali bukan kata sulit untuk dituliskan, pun untuk diucapkan. Namun kata itu memiliki jutaan makna," sahut Marvin seraya membenamkan kepalanya pada tubuh Serena.


"P-Pak Bos, hmph ...."

__ADS_1


Serena mulai gelisah. Tubuhnya perlahan menggelinjang dan tidak bisa diam. Aktivitas Marvin saat ini, sungguh membuatnya heran sekaligus malu.


"Panggil Marvin saja. Bisa?" pintanya di sela aktivitas itu. Rasanya Serena ingin menjerit dan memaki pria itu, namun ia tahan-tahan.


"Ti-tidak bisa, a-aku kedinginan," keluhnya.


"Ya sudah, kita ganti pakai air hangat ya."


Marvin memutar keran ke setingan awal. Dasar Marsupilami! Selalu memiliki akal bulus untuk menjerat mangsanya. Namun, karena melihat Serena tidak nyaman, Marvin lantas menyuruh Serena untuk memejamkan matanya. Saat Serena sudah terpejam. Ia meraih handuk, lalu dengan entengnya membawa tubuh Serena keluar dari dalam bathup.


"Ki-kita belum mandi, 'kan?" kata Serena saat merasakan tubuhnya melayang di udara.


"Ya, kita harus keringatan dulu, baru mandi. Kamu mengerti maksud saya?"


"Tidak."


"Nanti juga paham," bisik Marvin seraya merebahkan tubuh Serena di tempat tidur.


Sementara Serena, hingga saat ini, gadis itu masih memejamkan matanya. Pikirnya, ia akan terus terpejam selama Marvin belum menyuruhnya membuka mata.


"Ayo lanjutkan lagi, kamu tadi membahas tentang cinta, 'kan?" Sambil mengurung Serena dan bersiap untuk memuja dan menikmati kembali tubuh moleknya.


"Emh, Tuhan tidak pernah mengharamkan cinta. Se-sebab, cinta adalah sebuah rasa yang sudah menjadi fitrah bagi seluruh umat manusia. Ta-tapi ..., manusia diperintahkan untuk menjaga agar cinta itu tidak lantas menjerumuskannya pada tindakan yang diharamkan-Nya," jelas Serena sambil sesekali menggigit bibirnya agar tidak sampai mengeluarkan suara yang akan membuatnya malu.


"Apa kamu tahu, cinta yang seperti apakah yang sekiranya mampu mendekatkan kita kepada Sang pemberi Cinta?" tanya Marvin sambil menghidui aroma tubuh Serena yang candu itu. Serena kembali menggelinjang, tangannya mengerat kuat pada sprei.


"Se-sebut saja sebagai cinta da-dalam diam," jawab Serena dengan nada terengah-engah. Marvin terdiam sesaat. Ucapan Serena membuanya berpikir keras.


"Maksud kamu?"


Marvin bertanya sambil terus melakukan aktivitas yang membuat tubuh Serena nyaris tidak berdaya. Jika terus diperlakukan seperti ini, bagaimana mungkin Serena bisa menjawabnya.


Gadis itu malah menjawab pertanyaan Marvin dengan lenguhan nyaring yang secara spontan keluar dari bibirnya. Serena menyadarinya dan merasa sangat malu. Ia kemudian cepat-cepat meraih bantal dan membekap wajahnya. Lagi, Marvin mengulum senyum karena ulah Serena.


"Menurut saya, cinta dalam diam adalah cara mencintai yang paling tepat ketika diri belum mampu terikat dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Jika belum mampu mencintai dan dicintai dalam ikatan pernikahan, maka cinta dalam diam ini merupakan jawaban atas segala kegalauan hati. Kamu sepakat?"


Marvin menjawab sendiri pertanyaannya sambil menarik bantal yang menutupi wajah Serena.


"Pak Bos ...," pipi Serena memerah, dan dadanya naik-turun.


"Panggil Marvin saja," pinta Marvin untuk yang kedua kalinya sembari menyematkan tanda cinta di leher Serena.


"Mmm ... Ma-Marvin ...."


Untuk pertama kalinya bibir indah itu memanggil nama Marvin dengan nada yang enak didengar hingga Marvin tak bisa menahan diri lagi. Ia lantas memagut lembut bibir yang baru saja memanggil namanya itu sambil memejamkan matanya.


Serena terkesiap, dan ia merasa jika pagutan Marvin kali ini terasa berbeda. Serenapun menyambutnya dengan senang hati. Tangannya perlahan merengkuh leher Marvin hingga jalinan itu kian mendalam dan melenakan saja.


Lalu saat Marvin memberi jeda dan mengatur napasnya, Serena berkata, "Yang aku tahu, cinta dalam diam itu bisa dilihat dari perjuangannya. Karena cinta dalam diam tidak semestinya memaksa diri untuk mengabaikan, tetapi cinta juga tidak boleh memaksakan diri untuk memiliki. Dan bagiku, memantaskan diri merupakan cara untuk mencintai dalam diam," jelasnya.


"Kamu benar Serena. Karena bukanlah cinta yang pada akhirnya membuat manusia berjodoh dengan seseorang, tetapi Tuhan-lah yang menjodohkannya. Jadi, janganlah kita mencintai seseorang melebihi cinta kita kepada Tuhan. Cukuplah mencintai dalam diam, dan serahkan sepenuhnya kepada Tuhan." Lalu kembali mengulum bibir Serena saat gadis itu hendak menimpali ucapannya.


Setelah usaha cinta dalam diam itu tidak berhasil, yang bisa dilakukan hanyalah mengikhlaskannya, batin Serena.


"Serena, saya ingin melakukannya sekarang. Apa boleh?" bisiknya.


"A-apa? Melakukan apa?"


"Sepertinya, saya tidak bisa menunggu sampai tiga minggu," ucapnya.


"A-apa?!" Serena baru paham.


"Mau ya baby," rayunya.


"Apa?! Baby! Aku tidak mau dipanggil baby!"


Serena marah seketika karena ia tahu jika panggilan itu adalah panggilan cinta dari Marvin untuk Clara. Marvin menutup bibirnya. Sungguh, ia juga tidak sadar telah memanggil Serena dengan sebutan itu.


"Saya tidak sengaja," ralatnya.


"Lepas!" tolak Serena. Ia merajuk. Segera menarik selimut dan mengurung tubuhnya.


"Serena, serius, saya spontanitas dan sama sekali tidak terpikirkan pada Clara."


"Lepas!"


Serena masih menolak. Marvin menghela napas. Sebagai pihak yang lebih dewasa, ia memang harus mengalah.


"Maaf," sambil masuk ke dalam selimut.


"Marvin! Lepaskan! Jangan peluk-peluk aku!"


Panggilan 'Marvin' kali ini jelas berbeda dengan yang tadi. Yang tadi terdengar menyenangkan, sementara yang sekarang, sangat tidak mengenakan.


"Baiklah, saya tidak akan ganggu kamu lagi. Ini adalah hari terakhir kita melakukan kontak fisik," canda Marvin. Ia tentu saja tidak serius. Namun Serena menanggapi sebaliknya.


"Baik, deal ya! Anda tidak boleh main bayi-bayian lagi, dan tidak boleh memintaku melakukan hal yang aneh-aneh lagi!" sahut Serena.


"A-apa katamu?!" Marvin mengerjapkan matanya dan mencoba mencerna ucapan Serena.


"Anda tidak paham maksudku?! Intinya, aku tidak mau lagi jadi ibu-ibuan, dan Anda juga bukan bayiku lagi!" tegasnya.


"Hahh? A-apa?!"


Seketika itu juga, wajah dan telinga Marvin langsung merona. Pria itu sampai menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lalu merapikan handuknya dan turun dari tempat tidur sambil menunduk. Perasaannya campur jadi aduk, antara mau tertawa dan juga malu.


_______


Ya ampun Serena.


Apakah di antara Marvin dan Serena telah tumbuh benih-benih cinta?

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2