
"Apapun yang terjadi, saya akan bersama kamu," gumam Marvin sambil menatap Serena yang tertidur pulas dan tampak kelelahan. Lalu ia mengecup bahu polos Serena dan merapikan selimutnya. Kemudian ia memandangi kembali noktah merah yang menodai sprei sambil mengulum senyum.
Marvin beranjak dari tempat tidur dan menuju ke balkon. Lanjut menikmati keindahan langit malam sambil senyum-senyum.
Apa yang dipikirkan Marvin?
Ternyata, pria itu sedang mengingat kembali momen itu. Momen di mana ia dan Serena berbagi tubuh, berbagi rasa, melampiaskan hasrat dan cinta. Ia sebenarnya ingin mengulanginya, tapi Serena menolaknya dengan santun namun tanpa alasan.
"Tunggu, kenapa lapar sekali? Oh ya ampun," baru sadar kalau ia telah menggunakan banyak energi. Marvinpun beranjak ke luar kamar.
Serena terbangun saat mendengar pintu kamar menutup. Untuk sesaat, ia hanya terpaku sambil merabai tubuhnya yang terasa lemas, dan ada bagian tubuhnya yang hingga saat ini masih terasa sakit.
"Dasar bodoh! Kenapa aku mau 'sih?! Kalau aku keguguran bagaimana?" Serena marah pada dirinya sendiri.
"Kenapa tadi aku tidak bisa mengendalikan diri? Ya Tuhan, aku malu sekali. Apa dia akan menganggapku wanita gampangan?" duganya.
Ia berusaha bangun untuk duduk bersadar, dan Serena terkejut kala menyadari ada noktah merah di sprai dan tubuhnya.
"A-apa mungkin aku keguguran?" Matanya membulat sempurna. Ia menduga itu berasal dari calon janinnya.
"Aku harus periksa ke dokter. Tapi kalau dokternya membocorkan rahasiaku bagaimana? Aku masih pelajar." Ia sampai menggigit-gigit ujung jemarinya lantaran panik.
"Apa aku harus jujur pada Pak Bos?" Ya, hanya Marvin yang bisa ia percaya.
"Aku bisa saja mengatakannya pada Mama, tapi tidak menjamin Mama bisa menjaga rahasia ini dari Papa." Serena kebingungan.
Pintu kamar terbuka.
"Halo Putri Eren, sudah bangun?"
Marvin kembali dengan mambawa baki berisi buah-buahan, yoghurt, dan camilan. Ia kemudian mengupas apel dan mangga. Serena menjadi penonton hingga Marvin menyelesaikan kupasannya.
"Apa kamu mau memakan sesuatu selain makanan ini?" tawar Marvin sambil mendekatkan buah dan makanan yang dibawanya ke meja kecil yang berada di dekat Serena.
"Ti-tidak perlu Pak Bos, ini saja." Serena hendak mengambil sepotong kupasan mangga.
"Pakai sendok ya, biar saya yang suapi." Marvin mengambil alih. Ia menyuapi Serena sambil terus memandangi wajahnya.
"Anda baik sekali. Nada bicara Anda juga jadi lebih lembut dari biasanya. Apa itu karena Pak Bos sudah berhasil menodaiku lagi?" Pertanyaan Serena membuat Marvin tersenyum.
"Ya bukan karena alasan itu juga 'sih. Saya hanya ingin membuat kamu lebih nyaman berada di sisi saya."
"Pak Bos, apa Anda yakin menginginkan anak dari rahimku?"
"Kenapa harus bertanya lagi? Saya serius, Serena."
"Kalau yang kita lakukan tadi membuatku hamil, apa Anda tidak akan menyesalinya?"
"Hei, kamu aneh sekali. Untuk apa saya menyesal? Kamu istri saya."
"Pak Bos," Serena menundukkan kepalanya dan berusaha menahan tangis.
__ADS_1
"Serena? Kenapa?" Marvin terkejut. Ia segera mendekat dan memeluk Serena.
"Pak Bos," matanya berkaca-kaca.
"Shhh, kenapa? Apa karena tubuhmu masih sakit? Tenang saja, nanti juga akan sembuh dengan sendirinya. Kita harus sering-sering melakukannya supaya tubuhmu terbiasa," jelasnya.
"Bukan itu masalahnya Pak Bos! Dasar Marsupilami!" Serena geram.
"Terus masalahnya apa? Apa kamu menangis karena mau mencobanya lagi? Percobaan pertama kita gagal, percobaan kedua berhasil dengan kerja keras dan susah payah, yang ketiganya pasti tidak akan ada lagi aral-lintang," goda Marvin diakhiri tawa riang.
"Pak Bos! Anda bisa serius tidak 'sih?! Jangan membicarakan yang tadi lagi!" Serena kesal, namun pipinya merona.
"Baiklah, apa yang ingin kamu katakan?" Ia menyandarkan kepalanya di bahu Serena dan bersiap mendengarkan.
"Lihat noda di sana, Anda tahu 'kan kalau aku tidak pandai mencuci?"
"Oh, saya sebenarnya ingin menyimpan sprei ini sebagai kenang-kenangan. Karena tidak mungkin disimpan, saya sudah memfotonya. Ada foto-foto lain juga, hehehe."
"Apa?! Foto?! Foto-foto apa? Bukan foto aku 'kan?"
"Maaf, saat kamu tidur karna kelelahan, saya foto-foto kamu."
"Pak Bos! Hapus!" Serena mengambil ponsel Marvin dan mencari foto-foto yang dimaksud Marvin di galeri.
"Saya menyimpannya di tempat khusus, tidak ada yang bisa melihatnya kecuali saya. Oiya, untuk masalah sprei, jangan dipikirkan. Saya sudah dapat orang yang mulai besok akan bekerja di sini dan menemani kamu."
"Oh," sahut Serena singkat.
Ia sebenarnya ingin belajar mandiri, namum karena tespeknya garis dua, ia berpikir akan lebih baik jika ia tidak kecapekan.
Lagipula, jika ia keguguran, perutnya pasti akan terasa mulas dan sakit. Namun ia tidak merasakan sakit sama sekali. Ya, memang ada yang sakit, tapi bukan di bagian perut.
"Kenapa melamun?" Marvin menarik tubuh Serena agar besandar di dadanya.
"Ti-tidak 'kok, aku tidak melamun," elaknya.
"Terima kasih untuk yang tadi ya," ucap Marvin sembari memainkan anak rambut milik Serena.
"Sama-sama, Pak Bos. Ta-tapi maaf kalau aku terlalu berisik dan malah menyakiti Anda."
"Tak masalah. Lagi pula, rasa sakit saya tidak sebanding dengan kenikmatan yang saya dapatkan," bisiknya. Pipi Marvin sampai memerah saat mengatakan kalimat itu.
"Ishh! Pak Bos!" Serena menampar gemas pipi Marvin.
"Tadi saat saya mandi, di punggung dan dada saya sampai terasa perih. Apa kukumu sudah panjang?" Marvin mengecek kuku Serena.
"Tidak panjang 'kok. Aku sudah bisa memotong kuku sendiri. Aku memang mencakar anda pakai tenaga, sekali lagi maaf ya Pak Bos."
"Tidak apa-apa, kalau dipikir-pikir unik ya? Hehehe, dua kali saya mengambil kesucian kamu. Apa perlu kamu dioperasi lagi agar ---."
"Tidak mau!" sela Serena.
__ADS_1
"Hahaha. Saya bercanda," dengan gerakan cepat, Marvin menangkup wajah Serena dan merenggut bibirnya. Serena hanya bisa pasrah.
"Bagaimana kalau kita lakukan lagi, mau?" tanya Marvin setelah berhasil membuat Serena sesak napas.
"Melakukan apa?" Serena pura-pura tidak mengerti.
"Making love, baby," bisik Marvin.
"Baby?! Anda memanggilku baby?! Aku tidak suka!"
"Kenapa tidak suka? Cemburu ya? Hubungan saya dan Rara sudah berakhir. Apa salahnya kalau sekarang saya memanggil kamu baby?"
"Pokoknya tidak mau!" Serena menepis tangan Marvin yang mulai beraksi di balik selimut.
"Maaf, apa hari ini kamu mau ikut saya ke kantor?" Mulai merayu.
"Boleh? Tapi kalau aku ikut, orang-orang akan curiga dengan hubungan kita."
"Saya tidak peduli. Saya malah berencana akan memperkenalkan kamu ke hadapan publik."
"Apa?! Jangan Pak Bos, apa jadinya kalau orang-orang tahu Anda dekat dengan putri bandar judi yang bangkrut dan sedang diburu interpol? Aku tidak mau mencoreng nama baik Anda. Biarkan hubungan kita seperti ini saja. Aku sudah lelah menjadi bahan bullyan dan konsumsi media. Anda tidak tahu betapa aku ketakutan dan menderitanya saat nama papaku menjadi topik utama di berita kriminal," jelasnya.
"Serena," Marvin mendekapnya.
"Aku ingin hidup tenang Pak Bos, aku juga tidak mau dikurung terus seperti ini. Aku mau mengembangkan diri dengan bekerja. Anda sudah menikmati tubuhku, bisakah Anda juga mengabulkan permintaanku?"
"Ba-baiklah." Marvin terpaksa menyepakati.
"Terima kasih Pak Bos. Mama Syakilla menawariku pekerjaan, apa boleh aku bekerja?"
"Mamaku?"
"Ya."
"Pekerjaan apa?"
"Aku juga belum tahu pasti, yang jelas sesuai dengan bakat dan minatku. Kalau tidak di butik ya menjadi asisten makeup artis."
"Kalau memang itu membuat kamu senang, saya mendukung. Tapi saya akan tetap mengawasi kamu. Pokoknya, kemanapun kamu pergi, mata-mata saya akan selalu memantau kamu." Tangannya berulah lagi.
"Pak Bos!"
"Suara kamu terdengar seksi, bareface kamu cantik dan terlihat alami sekali. Kamu juga wangi, jadi ... ada yang sudah menunggu kamu dari tadi. Hahaha, kasihan sekali, dia sudah siaga sedari tadi."
"A-apa?! Maksudnya?" Mata Serena membulat.
"Sejak saya rebahan di bahu kamu, dia sudah siap siaga," godanya. Lagi-lagi, pipi Marvin memerah.
"Dia? Dia siapa?!"
Lalu Marvin membisikkan sesuatu pada Serena. Mata Serena mengerjap dan pipinya kian merona.
__ADS_1
_______
...~Next~...