ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
TERKUAK


__ADS_3

Marvin berlari ke arah kamar bu Putri. Segera membuka pintunya namun terkunci dari dalam.


"Bu Putri! Bu!" teriaknya.


"Mama! Mama!" teriak Serena.


Serena bahkan membenturkan tubuhnya ke pintu dan berniat mendobraknya.


"Serena! Kenapa kamu tidak diam di kamar saja?!" Marvin menahannya. Bahu Serena sampai memerah akibat benturan tersebut.


"Mamaku! Pak Bos!" Tolong mamaku! Mamaaa!" Serena meronta.


"Tunggu di sini!"


Marvin tidak mendobrak pintu karena ia yakin pintu tersebut tidak akan mudah didobrak begitu saja. Marvin berlari ke luar rumah. Ia ingat jika kamar bu Putri terhubung dengan jendela yang bersambung ke halaman depan.


"Mamaaa! Huuu."


Serena bersimpuh di depan pintu sambil memukul-mukul pintu tersebut. Dari dalam kamar tidak ada lagi teriakan minta tolong dan itu membuat Serena kian ketakutan.


"Apa yang terjadi Ma?! Huuu."


"Kakak?"


Rio rupanya mendengar keributan tersebut dan terbangun.


"Rio." Ia memeluk adiknya dan menangis.


"Sabar," ujar bocah tersebut.


Ia berusaha tidak menangis seperti yang dilakukan kakaknya. Namun matanya tampak berkaca-kaca. Rio sepertinya mengetahui perihal masalah dan kerumitan yang terjadi pada keluarganya. Ya, anak usia sepuluh tahun jelas sudah bisa membaca, menulis, dan menerima informasi. Karena tertarik dengan kehidupan orang dewasa, Rio tentu saja pernah melihat berita televisi dan di beberapa kesempatan ia pernah melihat pemberitaan tentang papanya.


Sementara itu Marvin, ia telah sampai di jendela ventilasi kamar bu Putri. Alangkah terkejutnya pria itu saat melihat kondisi kaca kamar telah pecah berkeping-keping dan tralisnya sudah dirusak sedemikian rupa hingga menimbulkan celah yang sangat besar dan bisa dimasuki manusia termasuk Marvin.


"Bu Putri!" teriak Marvin.


Ia segera masuk melalui celah tersebut untuk mengecek ke dalam. Apa yang didapatkan Marvin sesuai dengan prediksinya. Karena bu Putri tidak lagi beteriak, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Bu Putri dibekap dan pingsan, atau memang telah diculik.


"Bu!"


Marvin mencarinya ke kamar mandi. Namun bu Putri tetap tidak ditemukan. Kondisi kamar tidak berantakan sama-sekali. Hanya terlihat ada sedikit jejak-jejak perlawanan berupa sprei yang tersingkap dan bantal yang terlempar ke lantai.


"Kenapa jadi menculik mamanya?"


Marvin mengepalkan tangannya. Ia berpikir papanya telah mengubah skenario. Tangisan Serena dari luar kamar terdengar jelas. Marvin lantas membuka pintu kamar yang terkunci dari dalam.


"Mamaaa!"


Serena segera berhambur ke dalam kamar dan mencari bu Putri. Sedangkan Rio, ia hanya mematung dan menatap pada Serena.


"Serena," Marvin mendekat dan berencana untuk menenangkannya.


"Di mana mamaku?! Mamaaa! Mamaaa!" teriaknya sambil menolak Marvin yang hendak merangkulnya.


"Mama kamu diculik. Penculiknya membawa mamamu melalui jendela itu."


Marvin menunjukkan jendela ventilasi yang rusak parah. Rio memerhatikan dengan seksama bak detektif.


"Ini pasti bukan perampokan, tidak ada barang-barang yang hilang. Lemari pakaian rapi, dan mereka pasti sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari. Mereka perlu alat bangunan untuk merusak tralis, dan perlu mengetahui alamat rumah ini," oceh Rio sambil bertolak pinggang dan menatap tajam pada tralis yang patah.


"Mamaaa!" Serena belum tenang.


"Kak Eren, jangan!" larangnya saat tangan Serena nyaris menyentuh bingkai pintu.


"Kenapa?! Kamu tidak sedih mama kita hilang?!" sentak Serena.


"Rio sedih. Tapi jika Kakak menyentuh jendela itu, Kakak bisa mempersulit proses penyelidikan. 'Kan, di situ ada sidik jari pelaku, Kak!" terangnya.


"Kamu ya. Huuu." Ia kembali memeluk Rio. Si adik cerdas yang sok dewasa.


"Rio benar. Kamu pandai." Marvin mengusap rambut Rio.


"Tapi Rio yakin pelakunya memakai sarung tangan. Rio juga yakin yang mereka gunakan alat bangunan yang canggih. Buktinya, saat mereka merusak tralis, mereka tidak menciptakan kebisingan. Mereka pasti sangat profesional dan berpengalaman. Ck ck, ini kasus sulit." Bocah itu kembali memaparkan analisanya.


"Adik kamu banyak benarnya. Kamu tenang ya. Saya mau mengecek gerbang dan garasi,"


Marvin berlalu setelah mengusap air mata Serena. Rio mengikuti langkah Marvin. Lalu Serena pergi ke kamar Via dan terus menangis.


...***...


Di garasi dan gerbang, Marvin tidak menemukan kerusakan.


"Hmm, mereka membawa mama kamu lewat mana ya?" Ia melirik pada Rio.


"Lewat sana." Rio langsung menebak dan menunjukkannya pada Marvin.


"Wah, kamu hebat," puji Marvin.


"Ya, mereka pasti menaiki tembok dengan cara memanjat pohon. Pastinya tidak sendiri, dan karena mamaku kurus, itu memudahkan para penculik. Siapa 'sih mereka?! Kapan coba Rio bisa hidup tenang kayak dulu?" gerutunya.


"Ya sudah, saya akan membantu kamu menemukan dan menghukum pelakunya. Rio harus tetap kuat dan ikhlas. Emm, satu lagi, harus bisa mendukung dan menguatkan kakak kamu." Lalu menuntun tangan Rio dan mereka kembali ke dalam rumah.


"Kenapa harus Rio yang mendukung dan menguatkan Kak Eren? Bukankah Kakak adalah suaminya? Harusnya Kakak 'kan yang menguatkan dan mendukung Kak Eren?"


"A-apa?" ocehan Rio membuat Marvin membelalakan mata.


"Da-dari mana Rio tahu kalau saya suaminya Kak Eren? Rio, apa kamu pernah memberitahu hal ini pada yang lain? Pada teman-teman sekolah kamu misalnya?" Marvin jadi panik.


"Rio bisa jaga rahasia, 'kok, dan dari mana Rio tahu, itu tidak penting," jelasnya sambil mendahului Marvin dan kembali ke kamarnya.


...***...


Di kamarnya, Rio mendapati Serena masih terisak sambil memeluk Via. Jika mamanya tidak ada, siapa yang akan mengurus Via dan menyiapkan keperluan sekolah untuk Rio? Serena kebingungan.


"Kak Eren masih nangis?! Payah!" ledek Rio sambil naik kembali ke tempat tidurnya.


"Huks. Rio, Kakak bingung. Mama kita diculik. Mana bisa Kakak tenang. Kakak lemah Rio! Kakak tidak bisa apa-apa dan tak punya apa-apa untuk melaporkan kasus ini pada polisi. Belum lagi, siapa nanti yang jaga Rio dan Via kalau Mama tidak ada," keluhnya.

__ADS_1


"Kak Eren, kata Kak Marvin dia mau membantu kita. Masalah yang mengurus Via, biar Rio saja. Rio tidak apa-apa deh tidak sekolah untuk sementara waktu," jelasnya.


"Apa? Tidak bisa Rio. Kamu harus tetap sekolah. Justru Kakak yang seharusnya tidak perlu sekolah. K-kamu jaga Via dulu ya, Kakak mau bicara sama Pak Bos." Serena berlalu.


Rio menanggapi komentar kakaknya dengan mengangkat bahu. Lalu bocah itu berpindah ke tempat tidur milik Via dan langsung membelai rambut adiknya.


"Kita sedang diuji. Tidak ada kehidupan dan ujian," gumam Rio.


"Via harus jadi anak yang kuat ya. Jangan kayak kak Serena. Dia sedikit merepotkan," bisiknya di telinga Via.


"Ini alasan kenapa aku mau tetap jadi anak kecil saja. Karena menurutku, jadi orang dewasa itu tidak mudah. Mereka bahkan sering mengorbankan perasaan anak kecil sepertiku," lanjutnya."


...***...


Saat Serena tiba di kamarnya, ia melihat Marvin sedang menelepon. Namun pria itu beberapa kali mendengus kesal karena panggilannya tidak diterima.


"Angkat dong, Papa!" Marvin terlihat kesal.


"Papa Anda pasti sudah tidur," Serena mendekat. Marvin mengakhiri panggilan.


"Kenapa ke sini? Kenapa tidak menemani adik-adik kamu?" tanyanya.


"Ada yang ingin aku katakan," Serena duduk di sisi tempat tidur. Lalu Marvin menghampirinya.


"Kamu sudah merasa baikan? Jangan khawatir, saya akan menyelesaikannya." Sambil merangkul bahu Serena.


"Aku mau berhenti sekolah," lirihnya.


"Lho kenapa?" Marvin terkejut.


"Mamaku tidak ada. Aku harus mengasuh Via dan mengurus keperluan Rio. Kalau aku sekolah, mereka bagaimana?" Masih dengan suara lirih.


"Hei, kenapa jadi dibuat rumit? Serena, saya akan bertanggung jawab. Via akan diasuh sama Indri. Untuk mengurus rumah ini saya akan membawa pekerja lagi. Kamu tetap sekolah. Oke?" pintanya.


"Jika seperti itu, Anda akan semakin kerepotan. Biaya yang harus Anda keluarkan makin banyak, dan hutang-hutangku pada Anda semakin bertambah. Dengan aku berhenti sekolah, Anda bisa menghemat uang."


"Serena. Kamu bisa mengandalkan saya." Marvin memegang kedua tangan Serena.


"Tidak bisa, Pak Bos. Aku tidak bisa terus menambah hutangku. Tolong jangan terlalu baik. Hutang papaku bahkan tidak akan bisa terbayar hanya dengan tubuhku, aku tidak bisa menerimanya lagi."


"Serena."


Marvin memeluknya. Lalu pria itu terdiam sejenak bak tidak memiliki ide lagi. Rasa yang tercipta semenjak ia mengenal Serena, memang terasa membingungkan.


"Begini saja, kamu tidak perlu datang ke sekolah, dan saya akan mengatur agar guru kamu yang datang ke rumah ini. Jadi, kamu bisa mengurus Via. Lagi pula, pelajaran kamu hanya sekitar persiapan ujian kelulusan, 'kan? Tolong hargai perjuangan kamu sebelum papa kamu bermasalah. Masa kamu mau menyerah begitu saja?" bujuk Marvin.


"Emm," Serena mencermati ucapan Marvin.


"Setuju? Setelah lulus, kamu bisa magang di perusahaan sambil kuliah. Itu cita-cita kamu, 'kan?" Sambil menciumi pipi Serena. Perlakukan Marvin yang seperti inilah yang membuat Serena kian dilema.


"Setuju?" Marvin bertanya lagi.


"Ya," Serena akhirnya mengangguk.


"Dengan sekolah di rumah, kamu juga bisa terbebas dari teman-teman yang tidak menyukai kamu."


"Sama-sama." Mereka akhirnya berpelukan.


"Aku mau lapor polisi. Aku takut terjadi apa-apa pada mamaku."


"Baik, tapi saya akan mengkonfirmasi masalah ini pada papa saya."


"Apa Anda berpikir pelakunya orang-orang papa Anda?"


"Saya belum bisa menyimpulkan."


"Apa mungkin pelakunya adalah papaku?" duga Serena.


"Apa?!" Marvin terkejut dengan dugaan Serena.


"Kok kamu bisa terpikirkan pelakunya adalah papa kamu?"


"Aku juga hanya menduga," jawabnya.


"Saya jadi bingung dan pusing. Jadinya mau cium kamu. Apa boleh?"


"A-apa? Anda jangan aneh-aneh ya!" sentak Serena.


"Dengar, berciuman itu dapat mengurangi stres, merelaksasi tubuh, meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi respons alergi, serta dapat membantu mencegah gigi berlubang karena dapat meningkatkan produksi saliva," bisik Marvin.


"Hahh? Da-dalam situasi seperti ini Anda masih memikirkan itu?!" Serena tidak habis pikir.


Marvin mengekang Serena dan mendekatkan wajahnya.


"Berciuman dengan pasangan itu dapat memicu otak untuk melepaskan campuran bahan kimia yang membuat mood lebih baik. Mood baik itu sangat diperlukan untuk keadaan kita saat ini, 'kan? Jadi, ayo kita lakukan," ajaknya.


"Ti-tidak mau."


Ya, bibir Serena memang mengatakan tidak mau. Tapi ia spontan terdiam dan memejamkam matanya saat wajah Marvin mulai mendekat. Kemudian terjadilah adegan manis itu. Ya ampun, mereka sedang berusaha memproduksi hormon dopamine yang konon katanya dapat menimbulkan perasaan senang. Dasar anak muda! Ada-ada saja ulahnya.


...***...


_______


"Lepas!" teriak bu Putri yang saat ini telah berada di dalam sebuah mobil dalam keadaan mata tertutup, kaki dan tangan terikat.


Mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Lalu berhenti di sebuah gedung yang letaknya di pinggiran pusat kota. Mobil tersebut kemudian memasuki area parkir yang bertuliskan staff only.


Setelah mobil tersebut terparkir, seorang pria keluar dari gedung, lalu pria itu membuka pintu mobil dan langsung membopong bu Putri. Bu Putri yang tadinya meronta terdiam tiba-tiba saat tubuhnya dipeluk oleh pria yang membopongnya.


"Pap?!" tanyanya. Ia jelas mengenali aroma tubuh suaminya.


"Diam!" sentaknya.


Ternyata, dugaan Serena benar. Yang menculik adalah papanya.


...***...

__ADS_1


"Pap! Kamu jadi buronan?! Apa kamu sudah gila?! Kenapa kamu kabur dari sel?!" teriak bu Putri saat bekapan dan ikatan di tubuhnya dilepas.


"Sudahlah, kamu jangan ikut campur!" Pak Wandira membawa istrinya ke sebuah kamar.


"Terus kenapa kamu membawaku ke sini?! Suami macam apa yang tega menculik istrinya sendiri! Pap! Aku harus menjaga anak-anak! Tega-teganya kamu memisahkan aku dari mereka!"


"Sudahlah Putri, kamu jangan bawel! Aku menculik kamu karena membutuhkan tubuh kamu!" Pria itu mendekati bu Putri dan tanpa basi-basi segera merangkul dan mengekanganya.


"Aaaa! Wandira! Urusi dulu masalah kamu dan hutang-hutang kamu! Baru boleh menemuiku!" teriak bu Putri. Ia benar-benar kecewa dengan kelakuan suaminya.


"Jangan membantah! Setelah aku puas, kamu boleh pergi!" Ia menindih tubuh bu Putri.


"Huuu." Bu Putri menangis. Ia memikirkan jika Serena, Rio dan Via pasti khawatir. Tapi ia tidak bisa melawan kekuatan suaminya.


"Aku bukan pria jahat yang bisa mengkhianati kamu dan tidur dengan wanita mana saja. Secantik apapun mereka, aku tidak sudi karena mereka bukan istriku. Kuharap kamu memahami prinsip hidup dan kesetianku!" ujar pak Wandira setelah ia berhasil menguasi bu Putri.


Bu Putri mengangguk lemah. Ya, ia tahu jika suaminya memang setia. Pak Wandira adalah tipe pria yang tidak bisa jauh-jauh dari istri. Di masa kejayaannya, pria itu selalu membawa bu Putri ke setiap kegiatannya sebagai pengusaha sukses.


Pak Wandira seolah ingin menunjukkan pada semua orang jika ia sangat mencintai bu Putri dan tidak ada wanita lain yang bisa menggoyahkannya kecuali bu Putri. Bu Putri tidak bisa mengelak dengan fakta itu. Fakta lainnya, suaminya itu memang sangat menyukai kegiatan suami-istri. Bahkan pernah sekali waktu dikonsultasikan pada dokter, namum dokter mengatakan jika suaminya ini tidak termasuk kategori hyper. Hanya sedikit berlebihan saja.


"Aku akan menculik kamu setiap kali aku menginginkannya. Itu menjadi alasan kenapa aku kabur dari penjara," jelasnya. Bu Putri diam saja. Pada akhirnya, sebagai seorang istri, ia hanya bisa pasrah.


...***...


_______


Serena terbangun dan membuka matanya. Langsung duduk dan kembali memikirkan mamanya. Matanya melirik ke samping, dan Marvin sudah tidak ada di sisinya. Tapi Serena melihat ponsel dan tas milik Marvin masih berada di atas nakas. Artinya, pria itu masih berada di rumah ini.


"Aaaa!" teriaknya, tapi dengan suara pelan.


Mengingat lagi kejadian semalam, ia jadi malu pada diri sendiri. Semalam, secara alamiah dan naluriah, mereka jadi kebablasan hingga mengulang kembali kegiatan yang sebelumnya sempat dilakukan saat mereka menginap di hotel.


"Bisa-bisanya aku seperti itu di saat mamaku diculik dan belum ditemukan. Kamu bodoh Serena!" rutuknya pada diri sendiri.


"Kalau kamu sudah pulih, apa kamu bersedia?"


"Kalau kamu sudah pulih, mari kita lakukan hal-hal yang lebih menyenangkan dari ini. Kamu juga mau 'kan?"


Serena mengingat kembali ucapan Marvin pada saat itu, dan hal tersebut membuat wajahnya terasa panas. Ia buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menenangkan pikirannya. Selesai mandi dan melakukan kegiatan lain, ia baru menyadari dan mencium aroma masakan.


Serena segera keluar dari kamar dan menuju dapur. Lalu tertegun saat melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya.


Ia melihat Marvin sedang memasak. Lucunya, pria itu memakai celemek milik ibunya. Lalu ia juga melihat Rio sudah siap dengan seragam sekolahnya dan saat ini sedang menyuapi Via. Untuk sesaat, Serena merasa jika ia dan Marvin seperti keluarga sungguhan.


"Kamu sudah bangun?" Marvin membuyarkan lamunannya.


"Su-sudah." Entah kenapa jadi gugup. Mungkin, lagi-lagi akibat kegiatan semalam.


"Kok Mama ke pasarnya lama 'cih?" tanya Via.


"Mama lagi cari boneka cantik untuk Via, makanya lama," sahut Marvin sambil menghidangkan menu hasil memasaknya.


"A-Anda dari mana dapat bahan-bahan ini?" tanya Serena.


"Edrick," jawabnya.


"Oh, terima kasih," ucap Serena.


"Hmm, Kak Eren kapan bisa memasak?" Mata Rio mendelik pada Serena.


"Kakak bisa masak 'kok. Masak air," canda Serena. Marvin jadi tersenyum mendengar jawaban Serena.


"Saya akan berangkat kerja sambil mengantar Rio ke sekolah. Kamu jaga Via ya. Jam sepuluhan, Indri baru bisa ke sini," terang Marvin.


"Ya," sahut Serena.


...***...


"Saya sudah menelepon papa dan menanyakannya. Tapi kata Papa, bukan Papa yang melakukannya. Papa tidak pernah menyuruh anak buahnya menculik mama kamu," jelas Marvin saat Rio dan Via tidak berada di dapur.


"Berarti pelakunya papaku."


"Kalau pelakunya papa kamu? Motifnya apa?" Marvin menautkan alisnya.


"Aku juga tidak tahu," sahut Serena.


"Ya sudah, makannya lanjut ya. Saya mau siap-siap."


"Pak Bos," panggil Serena.


"Ya."


"Te-terima kasih."


"Terima kasih untuk apa?" tanya Marvin.


"Untuk masakannya. Ini enak sekali. Terima kasih juga karena telah memfasilitasiku agar bisa sekolah di rumah."


"Sama-sama. Apa tidak ada ucapan terima kasih untuk yang semalam?" goda Marvin.


"Yang semalam apa?" Serena pura-pura tidak tahu, namun pipinya langsung merona.


"Hahaha. Ya sudah, saya saja yang mengatakannya. Terima kasih banyak Alsava Serena. Terima kasih untuk sajian dan pelayanannya, saya sangat puas," bisik Marvin seraya mengecup kening Serena. Pipi Serena kian merona. Untuk mengurangi kegugupan, untuk pertama kalinya, ia inisiatif meraih tangan Marvin dan menciumnya. Setelahnya, Marvinpun mengecup punggung tangan Serena.


"Nah begitu dong, 'kan jadi enak melihatnya," seru Rio yang kembali lagi ke dapur karena Via meminta dibuatkan susu. Marvin mengulum senyum.


"Biar Kakak saja yang buat susu untuk Via," Serena melepas tangan Marvin.


"Jangan, nanti Via bisa sakit perut kalau susunya Kakak yang buat. Kakak harus belajar dulu cara membuat susu," tolak Rio.


"Rio, kamu ya!" Serena kesal. Marvin jadi senyum-senyum melihat pertengkaran kecil itu.


_______


Makin betah ya Pak Bos tinggal bersama Serena? Hmm ....


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2