
"Fungsi utama dunia perbankan adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi, stabilitas nasional, dan pembangunan berkesinambungan yang berfokus ke arah peningkatan taraf hidup rakyat banyak." Dalam sebuah rapat, Marvin sedang memberikan sebuah pemaparan.
Dari pagi hingga menjelang sore ini, Marvin bersikap lebih hangat dari biasanya. Sebelum masuk ke ruang rapat, ia bahkan sempat menebar senyuman. Hal yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Sebagai sekretarisnya, Siha beranggapan jika perubahan perangai Marvin disebabkan oleh kekasihnya Clara Judith yang mulai hari ini sudah sah berkuliah di dalam negeri.
"Saya berharap agar surplus bank kita dapat dialokasikan untuk menambah program beasiswa. Dari yang awalnya hanya untuk kalangan anak-anak karyawan yang berprestasi, ditambah lagi dengan beasiswa bagi anak-anak berprestasi namun dari sisi ekonomi tergolong sebagai anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu," lanjutnya. Sambil sesekali merapikan dan menarik kerah kemejanya ke arah atas. Marvin juga sering melihat jam tangannya.
"Bagaimana? Silahkan lakukan voting. Bu Siha, pimpin votingnya ya. Mohon maaf karena saya tidak bisa melanjutkan rapat ini sampai selesai. Saya sudah ada janji. Terima kasih atas perhatiannya."
Marvin berdiri dan berpamitan. Bawahannya hanya bisa mengangguk dan mempersilahkan. Siap 'sih yang bisa membantah keputusan CEO? Ya, hanya Dewan Penasihat yang bisa memprotes atau menolak keputusan Marvin.
...***...
Ternyata, Marvin akan menjemput Rio. Kata Indri, sekolah Rio full day, dan akan pulang pukul empat sore. Jika perjalanan ke sekolah Rio adalah satu jam, maka saat ini adalah waktu yang tepat. Marvin mengemasi laptop dan tasnya. Walaupun asistennya banyak, namun ia tidak pernah jengah untuk merapikan sendiri barang-barang pribadinya.
'Tok tok tok.'
Seseorang mengetuk pintu kantornya.
"Masuk," sahut Marvin. Ternyata Hugo.
"Pak Bos," Hugo terlihat panik.
"Kenapa?" tanya Marvin.
"Aku baru saja menjelaskan pada Nona Clara kalau Anda sedang ada rapat sampai jam empat sore. Ternyata Nona Claranya sudah ada di depan kantor, Pak Bos. Dan aku baru tahu dari bu Siha kalau Anda sudah keluar dari ruang rapat. Waduh, bagaimana ini Pak Bos?"
"Oh, saya kira ada apa? Tidak perlu panik. Biar saya yang menghadapi Clara, kamu pergi saja dan untuk sementara waktu jangan menampakkan diri di hadapan Clara," usul Marvin yang tetap tenang walaupun ia tahu kekasihnya akan segera datang.
"Ba-baik Pak Bos. Terima kasih Pak Bos." Hugo bergegas.
Benar saja, tidak lama setelah Hugo pergi, Clara tiba.
"Honey? Rapatnya sudah selesai?" Clara memeluk Marvin sembari keheranan.
"Belum, saya ada perlu. Jadi tidak rapat sampai selesai."
"Bertemu klien?"
"Bukan, hanya teman," jawabnya sembari membuka jasnya.
"Honey, tunggu." Clara terkejut.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Apa ini?"
Clara berjinjit dan menarik kerah kemeja Marvin. Marvin mengerjapkan mata. Ia sudah susah-payah menyembunyikan tanda merah itu sedari pagi, namun pada akhirnya malah ketahuan juga. Sama Clara pula. Ya ampun, pria itu mematung sejenak. Sedang memikirkan alasannya.
"Honey! Jawab! Apa ini?! Kenapa seperti kecupan?! Kamu ada main sama pe-la-cur?!" Clara langsung mendakwa Marvin bermain dengan pe-la-cur. Tentu saja Marvin geram.
"Clara! Beraninya kamu menuduh saya seperti itu! Memangnya kamu pikir saya pria murahan apa?!" Marvin menepis tangan Clara.
"Apa?!" Bukannya menjelaskan, Marvin malah sewot. Clara jadi tambah emosi.
"Aku hanya mengira, Vin! Kalau kamu tidak merasa ya tinggal jelas saja, 'kan? Apa susahnya?!" teriak Clara sambil berusaha membuka baju Marvin. Ia ingin membuktikan jika di tubuh Marvin tidak ada tanda lainnya.
"Clara! Hentikan! Kamu mau apa?!" Menahan tangan Clara.
"Aku mau melihat tubuh kamu, Vin! Jangan-jangan di tubuh kamu masih ada tanda yang lainnya!" duganya.
"Clara! Cukup Clara! Kamu berlebihan! Kita belum menikah! Kamu tidak berhak membuka baju saya!" tolak Marvin. Pada akhirnya, Marvin dan Clara benar-benar bertengkar.
"Marvin! Sejak kapan kamu jadi kasar seperti ini?! Aku hanya ingin memastikan karena sangat peduli dan mencintai kamu!"
"Tapi bukan seperti ini caranya, Clara! Saya juga punya privasi!"
"Privasi?! Kamu selalu berlindung di bawah kata PRIVASI! Baik, begini saja! Tolong jelaskan itu leher kamu kenapa?!" teriak Clara.
"Ini hanya tanda biasa. Bekas garukan," jelas Marvin.
Nada bicaranya mulai memelan saat melihat mata kekasihnya berkaca-kaca. Faktanya, tanda itu adalah sisa-sisa cumbuan dari bibir Serena. Lebih tepatnya, Marvin meminta Serena agar mengecupnya di bagian itu. Selain di leher, sebenarnya ada di bagian lain juga. Tapi entah di mana. Sebaiknya dirahasiakan, dan biarlah hanya Marvin dan Serena saja yang mengetahuinya.
"Benarkah? Aku tidak yakin." Clara tidak percaya.
"Yang penting, saya sudah menjelaskannya. Kalaupun kamu tidak percaya, saya tidak akan memaksa agar kamu percaya."
"Apa?! Jadi kamu sama sekali tidak ada usaha untuk membuat aku percaya?! Kamu benar-benar sudah berubah ya!" Clara kembali emosi.
"Terus, kamu maunya saya bagaimana? Mau kamu saya menjelaskannya 'kan? Sudahlah, saya mau pergi. Mari kita pulang, biar saya sekalian mengantar kamu," ajaknya.
"Aku tidak mau pulang! Aku mau ikut kamu bertemu sama teman kamu!"
"A-apa? Tidak bisa Ra. Tidak semua teman saya bisa kamu temui," tolak Marvin.
"Vin! Kamu sadar tidak 'sih?! Ucapan kamu itu membuat aku semakin curiga! Akhir-akhir ini, sikap kamu memang banyak berubah! Huks." Clara akhirnya tak kuasa lagi menahan tangis. Sikap Marvin akhir-akhir ini, memang sangat menyebalkan dan mencurigakan.
__ADS_1
"Kamu sudah tidak percaya lagi sama saya?" tanya Marvin seraya mendekati Clara.
"Ya! Kalau sikap kamu terus seperti ini, mana bisa aku percaya sama kamu, Vin! Semenjak kamu bekerja sama dengan si Wandira raja judi, kamu memang telah berubah! Aku curiga kalau kamu ada apa-apa sama anaknya si penjudi itu!"
Marvin menghela napas. Kecurigaan Clara pada Serena, sebenarnya telah ia ketahui sejak lama.
"Kalau kamu sudah tidak percaya lagi sama saya, lebih baik kita putus."
"A-APA?!"
Clara terkejut luar biasa. Karena sekarang sudah sore, ia merasa jika ucapan Marvin bak petir di sore hari.
"Saya serius," lanjutnya.
Clara mematung. Dadanya sampai naik-turun akibat ucapan Marvin. Ia tidak percaya Marvin akan mengatakan kalimat tersebut di saat mereka sedang mempersiapkan acara pernikahan.
"Ti-tidak mungkin. K-kamu pasti hanya menggertakku, 'kan?" Clara mendekat pelan. Dengan tangan gemetar, ia meraih tangan Marvin.
"Jika kamu masih mencurigai saya, pernikahan kita akan sia-sia." Marvin menepis pelan tangan Clara. Lalu ia meraih tasnya dan berlalu.
"Marvin! Honey! Tunggu! Jangan pergi!" teriaknya sambil mengejar. Namun Marvin tidak memedulikannya. Malah menelepon Hugo dan menyuruhnya mengamankan Clara.
"Saya sedang ada masalah dengan Clara. Kamu antar dia pulang ya," titahnya pada Hugo.
"Baik."
Hugo muncul dari persembunyiannya dan segera menahan Clara.
"Nona, sabar Nona. Pak Bos hanya sedang emosi. Jangan diambil hati," bujuknya.
"Lepas! Kamu jangan ikut campur!" Clara meronta-ronta.
"Mungkin, Pak Bos sedang ingin menenangkan diri, Nona. Tolong beri kesempatan."
"Diam kamu Hugo! Kamu dan dia berkomplot, 'kan?! Sekarang aku mau tanya sama kamu! Apa hubungan Marvin dengan Serena?! Apa kamu tahu?!" Sambil mengusap airmatanya.
"A-apa? Aku tidak tahu, Nona."
"Baik, begini saja! Aku akan memberimu banyak uang, asal kamu mau bekerja sama denganku! Bagaimana?" Clara berharap Hugo bersedia.
"Emm," Huga berpikir sejenak.
_______
__ADS_1
Apa Hugo mau bekerja sama dengan Clara? Lalu, apa Marvin benar-benar akan mengakhiri hubungannya dengan Clara?
...~Next~...