
"Siapa yang datang?!"
Marvin segera berdiri. Serena diam di tempat. Edrick lantas menarik tangan bosnya agar menjauh dari Serena dan teman-temannya.
"Yang datang Nona Clara, Pak Bos," bisik Edrick.
"Apa?!"
Marvin terkejut. 'Kok bisa Clara ke sini tanpa mengabarinya? Gawat! Otaknya langsung berputar mencari ide.
"Siapa tamunya? Biar aku sambut," Serena berdiri.
"Kamu tetap duduk!" sela Marvin, dan saat ini ia belum menemukan ide.
"Kenapa?"
Serena heran. Ia tentu saja sangat penasaran. Namun, Serena tahunya Clara sudah kembali ke luar negeri. Jadi, gadis itu tidak berpikir jika yang datang adalah Clara.
"Indriii!" teriak Marvin.
"Ya, Pak Bos." Indri tiba.
"Bawa Serena dan temannya ke aula vila, dan pastikan mereka tetap di aula sampai dengan saya sendiri yang mengizinkan mereka keluar."
"Apa?!" Indri bingung. Pun dengan Serena, Ksatria, dan temannya.
"Kamu temani Serena, dan pastikan kalau dia tidak dekat-dekat atau duduk dekat dengan temannya. Edrick, kamu temani saya menemui tamu baru kita," titahnya.
Lalu Marvin berjalan cepat menuju area pintu masuk vila di saat Serena serta yang lainnya masih bengong, kebingungan, dan merasa heran dengan sikap Marvin.
"Baik," sahut Edrick dan Indri serempak.
"Cepat ikut aku ke aula!" seru Indri pada Serena dan temannya.
"Baik," Serena patuh.
"Tidak mau! Untuk apa kami ke aula?! Kami ke sini untuk bertamu, bukan untuk rapat!" Ksatria jelas menolak.
"Tuan Ksatria, kita patuh saja. Berbaik sangkalah jika pemdangan di aula akan lebih daripada di ruang tamu." Temannya memang layak jadi juru bicara. Namanya siapa ya? Dia juga tampan 'kok.
"Ya, jangan menolak! Cepat!" Indri mulai tegas. Ia menatap tajam pada Ksatria.
"Maksud kamu apa menatapku seperti itu?! Aku bukan maling! Aku mau bertamu untuk mengetahui kondisi Serena! 'Kok jadi repot begini?!" protes Ksatria, dan ia masih belum mau beranjak dari tempat duduknya. Indri yang tentu saja mengusai ilmu bela diri, nyaris menyerangnya, untungnya Serena sigap. Ia menahan tangan Indri.
"Tuan Ksatria, please ... mau ya pindah ke aula?" Serena menatapnya. Yang pasti bukan dengan tatapan biasa. Ia menggunakan tatapan pemikatnya.
"Ba-baiklah."
Ksatria akhirnya patuh jua. Siapa 'sih yang bisa berpaling dari senyuman Serena? Jadilah mereka pergi ke aula. Aula ini biasa digunakan Marvin untuk melakukan rapat rahasia dengan pegawai kepercayaannya.
...***...
Ternyata, suasana di aulia memang lebih bagus daripada ruang tamu. Area ini malah lebih mirip dengan home theater. Ya, Marvin sengaja mendesainnya seperti ini agar seusai rapat yang bisa jadi menegangkan, para pegawainya bisa menonton film atau drama terbaru.
"Wah, 'tuh 'kan Tuan, apa kubilang, di sini lebih asyik." Teman Ksatria terpukau. Langsung duduk di kursi dan merasa betah.
"Silahkan duduk Tuan Ksatria. Di sampingku juga tidak masalah 'kok. Jangan terlalu mendengarkan ucapan kakakku." Serena menarik tangan Ksatria setelah mengedipkan mata pada Indri dan berharap Indri bisa diajak kerja sama.
"Emm, silahkan pilih film yang kalian sukai." Syukurlah, Indri ternyata bisa diajak kerja sama.
Ksatriapun akhirnya tersenyum. Ia tidak menyangka jika momen menjenguk Serena akan berubah menjadi momen nonton bersama.
"Aku mau film horor, kalian setuju?" Teman Ksatria antusias.
"Setuju," sahut Serena.
"Kalau Serena setuju, aku juga setuju," timpal Ksatria sambil terus menatap pada Serena.
"Ya sudah, silahkan nikmati filmnya. Aku akan menyiapkan camilan untuk menemani kalian nonton film. Tapi ingat, jangan ada yang berani macam-macam pada Nona Serena. Ruangan ini dilengkapi dengan kamera CCTV canggih yang bahkan bisa merekam di balik kegelapan. Mengerti?" Indri bertindak bak guru BK.
"Baik, Kak," sahut temannya Ksatria seraya memberi hormat pada Indri.
"Anak baik." Indri mengusap bahunya.
...***...
"Honey."
Clara merangkul Marvin. Walaupun kesal, ia tetap merindukan kekasihnya. Ternyata, ide Papa Jacob yang menyuruh Clara datang ke vila adalah ide yang tepat. Kata Papa Jacob, Marvin biasa ke vila kalau ia sedang ada masalah.
"Perjalananmu menyenangkan? Kenapa datang sendiri? Kenapa tidak mengabari? Kenapa tidak bawa sopir?"
Marvin memberikan pertanyaan beruntun sambil mengusap-usap rambut Clara. Pria itu akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sebelum menemui Clara, ia telah menyuruh Jacob untuk mengunci kamar yang ditempati Serena.
"Harusnya aku yang bertanya, honey. Kamu tidak memberitahuku mau ke sini. Kamu bahkan lupa kalau aku mau ke kantor kamu saat makan siang."
"Oiya, maaf baby. Saya benar-benar lupa."
Mereka kemudian duduk di ruang keluarga. Clara langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Marvin. Lalu mengerucutkan bibirnya. Maksudnya, ia ingin Marvin mencium bibirnya.
"Ada Edrick. Kurang baik kalau kita bermesraan di sini," tolak Marvin seraya menutup bibir Clara dengan dua jemarinya.
"Baiklah, 'kok kamu rapi sekali honey? Mau pergi ke mana?"
"Tidak ke mana-mana, emm tadi ada tamu. Jadi saya sengaja berpenampilan sedikit rapi."
"Oh." Clara memainkan jemari Marvin. Tadinya ingin marah, tapi karena Marvin bersikap baik, amarahnya mereda.
"Dari mana kamu tahu alamat vila ini, hmm?"
"Dari Papa Jacob."
"Kamu menemui papa saya?"
"Ya, wajar 'kan mengunjungi calon mertua? Sayangnya aku tidak bertemu Mama. Kata Papa, Mama sedang ke salon."
"Mamaku memang hobi ke salon. Dia selalu ingin tampil cantik dan katanya mau berusaha menolak tua."
"Aku juga mau begitu, honey. Aku ingin tetap cantik dan seksi agar kamu tidak berpaling ke lain hati." Sekarang sambil mengusap dada Marvin.
"Kamu sudah cantik 'kok," puji Marvin.
"Apa kamu mau tahu apa yang dikatakan Papa Jacob padaku?"
"Boleh, Papa bicara apa?"
"Kata Papa, rencana pernikahan kita akan dipercepat menjadi bulan depan, tanggal satu."
"Apa?!" Marvin terkejut.
"Aku juga sudah memutuskan akan pindah kuliah. Jadi aku kuliahnya di sini, honey. Kamu senang, 'kan?"
"Emm ...."
__ADS_1
Marvin semakin kaget. Namun ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia tidak ingin Clara curiga.
"Kenapa Papa ingin mempercepatnya? Papa sebelumnya sudah sepakat kalau pernikahan kita akan dilakukan tiga bulan lagi. Apa Papa menjelaskan alasannya?"
"Kata Papa Jacob, sebelum resesi ekonomi, kita harus sudah menikah. Tujuannya tentu saja untuk meminimalisir kerugian perusahan akibat resesi ekonomi global. Saat kita menikah, ada beberapa perjanjian kerja sama yang akan menguntungkan. Jadi, mempercepat pernikahan adalah upaya paling tepat," jelas Clara.
Marvin terdiam. Ia merenung, lalu menghela napasnya.
"Kenapa? Kamu tidak setuju?"
"Emm, se-setuju, baby. Saya setuju."
"Yes. Kita akan segera jadi suami-istri." Clara bahagia. Ia bangun dan memeluk Marvin.
"Tunggu, itu sepatu siapa?!" Segera melepas rangkulannya.
Sial! Rutuk Marvin dalam batinnya.
Ia lupa memberi tahu Edrick untuk menyembunyikan sepatu Serena. Lagi pula, gadis itu sangat ceroboh. Serena tidak menyimpan sepatunya di rak sepatu yang berada di depan kamarnya. Ia malah meletakan sepatunya di rak sepatu depan kamar lain yang letaknya bersebelahan dengan ruang keluarga.
"Sepatu siapa ini, Vin?! Ini jelas-jelas sepatu wanita!" teriak Clara sambil memegang sepatu tersebut.
"Clara tenang dulu." Serius, ide Marvin buntu.
"Apa kabar Nona Clara? Maaf, ini sepatuku, Nona." Indri muncul di waktu yang tepat. Marvin menghela napas dan merasa lega.
"Sepatu kamu?! Serius?!" Clara tidak percaya begitu saja.
"Ya, Nona. Kenapa memangnya Nona? Gaji bulananku cukup besar. Jadi tidak ada salahnya 'kan kalau sesekali beli sepatu mahal?" jelas Indri. Segera mengambil sepatu tersebut dan membawanya ke dapur.
"Ada apa dengan sepatu itu, baby? Kamu berlebihan." Marvin memeluk Clara dari belakang.
"Lepas! Ya wajar aku curiga, Vin! Apa kamu tidak merasa kalau akhir-akhir ini sikap kamu terhadapku berubah?!" Clara menepis tangan Marvin.
"Berubah? Apanya yang berubah? Saya bahagia kamu ada di sini, dan setelah saya tahu kamu akan pindah kuliah ke sini, saya jadi semakin bahagia," kilah Marvin. Ia berusaha tenang dan menenangkan Clara.
"Halah! Jangan berbohong Vin!"
Rupanya, Clara sudah tidak bisa bersabar lagi. Serena yang tidak berada di perpustakaan menjadi salah satu pemicunya.
"Baby, jangan marah-marah terus. Nanti kamu bisa cepat tua lho. Jangan marah ya cantik," ia kembali memeluk Clara.
"Baik, aku tidak akan marah lagi! Tapi tolong jujur sama aku, Vin! Di mana kamu menyimpan gadis itu?!" Wajah Clara memerah. Ya, ia memang marah pada Marvin.
"Gadis itu? Maksud kamu?" Marvin sebenarnya memahami maksud Clara.
"Serena, Vin! Serena! Di mana kamu menyembunyikan dia?!" Sekarang sambil berjalan dan mencari-cari.
"Baby, tunggu." Marvin mengejar.
"Aman, kamar Nona Serena sudah dikunci," bisik Edrick saat Marvin melintas di hadapannya.
Dari arah dapur, Indripun mengangkat jempolnya. Indri mengisyaratkan jika Serena dan temannya telah berada di aula, itu berarti keberadaan Serena masih aman terkendali.
"Ini kamar kamu?!"
"Ya baby."
"Ini kamar yang ada di samping kamu 'kok dikunci 'sih?"
"Ka-kamar ini isinya berkas, baby. Sengaja saya kunci biar aman."
Ya, di sana memang ada berkas. Tapi bukan berkas perusahaan. Melainkan berkas perjanjian pernikahannya bersama Serena.
"Baby, saya mohon jangan seperti ini. Saya punya privasi yang harus saya jaga. Tidak semua hal yang saya punya harus kamu ketahui. Begitupun sebaliknya. Saya harap kamu mengerti dan mau memahaminya."
"Apa?! Kamu pintar mengelak ya sekarang!"
"Baby, apa selama kita pacaran saya pernah meminta melihat-lihat HP kamu? Tidak 'kan? Saat saya menginap di rumah kamu, apa saya pernah ingin membuka kamar lain di rumah kamu? Tidak juga 'kan?"
Ucapan Marvin membuat Clara terdiam sesaat. Namun pikir Clara, kondisinya berbeda. Ia tidak pernah menyimpan pria di rumah ataupun di apartemennya. Marvin adalah pria satu-satunya yang sangat ia cintai.
"Baik! Oke kalau memang kamu tidak mengizinkanku membuka kamar itu! Tapi cepat jawab pertanyaanku yang tadi! Di mana Serena?!"
"Serena? Untuk apa kamu menanyakan dia? Dia tidak penting juga untuk kamu, 'kan?"
"Tinggal jawab saja, Vin! Apa susahnya?!"
Mata Clara berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian, airmatanya jatuh. Ia menangis sambil membelakangi Marvin. Marvin segera bertindak, sambil mengusap punggung Clara, tangan yang lainnya mengirim pesan pada Indri dan Edrick.
"Kalian ada tugas! Indri, kamu bawa Serena keluar dari vila ini! Bawa ke tempat yang tidak mudah ditemukan. Saya percayakan sama kamu. Edrick, kamu atasi dua bocah itu. Pastikan mereka tidak curiga dan tetap mengira kalau saya adalah kakaknya Serena. Kabari saya jika Serena sudah kalian amankan!"
Pesan terkirim. Marvin mengusap dadanya dan berharap agar Indri dan Edrick bisa diandalkan.
"Saya mengembalikan dia ke rumah orang tuanya. Papanya sudah dipenjara, jadi saya berpikir kalau dia tidak berbahaya lagi. Mereka jatuh miskin. Mereka tidak memiliki kekuasaan lagi," terang Marvin. Sesekali melirik pada ponselnya. Ia sudah tidak sabar mendapat kabar baik dari Indri dan Edrick.
"Be-benarkah? Huuu, maaf karena aku terlalu cemburu."
Clara membalikan badan dan segera merangkul Marvin. Ia sangat mencintai Marvin dan tentu saja tidak mau kehilangan pria itu.
"Cemburu itu bumbunya cinta. Saya suka kamu cemburu."
"Tapi benar 'kan Serena tidak ada bersama kamu? Vin, dia seksi dan cantik. Dia berbeda dari anak asuh kamu yang lainnya. Wajar 'kan kalau aku cemburu? Huks, ta-tadi aku malah sempat berpikiran kalau kamu dan Serena sering mesum. Atau seperti di novel-novel, kamu sengaja membawa Serena untuk memuaskan hasrat kamu."
"A-apa?! Uhhuk, uhhuk." Dugaan Clara membuat Marvin terkejut hingga terbatuk-batuk.
"Honey, kenapa?" Clara khawatir.
"Tak apa-apa, baby. Tenggorokan saya tiba-tiba gatal," kilahnya.
"Oh, kupikir kamu merasa tersinggung. Maaf ya, honey. Aku tidak akan menanyakan Serena lagi."
Mereka akhirnya berdamai. Marvin membawa Clara ke area kolam renang. Sengaja ke kolam renang karena lokasinya berada jauh dari aula.
...***...
Sementara di aula, ketiga remaja itu tengah asyik menonton film horor. Serena sering beteriak saat melihat adegan horornya. Pun dengan temannya Ksatria, remaja itu bahkan memanggil mama dan papanya karena ketakutan.
"Mama tolooong! Aku takut," teriaknya. Namun matanya tidak berpaling dari layar.
Sedangkan Ksatria, ia tidak menonton film. Melainkan menonton Serena.
"Takut? Biar aku memegang tangan kamu," rayu Ksatria.
"Tidak perlu," tolak Serena.
Lalu Indri dan Edrick tiba. Edrick memosisikan diri sebagai penonton. Sedangkan Indri, ia segera berbisik di telinga Serena.
"Nona Serena, kita harus pergi dari sini. Ini perintah Pak Bos," bisiknya.
"Ada apa? Kenapa harus pergi?" Serenapun berbisik-bisik.
"Di vila ini ada Nona Clara."
__ADS_1
"Apa?!" Serena segera menutup bibirnya.
"Ya Nona, maka dari itu Nona harus pergi. Aku yang akan membawa Nona."
"Terus, bagaimana dengan teman-temanku?"
Serena melirik pada Ksatria dan temannya. Ia terlihat gugup. Apa lagi saat kepalanya secara spontan mengingat kembali kegiatan tidak senonoh yang dilakukan Marvin pada tubuhnya. Gadis itu merasa berdosa dan berpikir jika ia adalah orang ketiga yang mengganggu jalinan kasih antara Marvin dan Clara. Untuk sesaat, Serena lupa kalau Marvin adalah suaminya.
"Teman-teman Anda akan diurus oleh Edrick. Yuk Nona! Kita harus segera pergi. Pura-pura akan ke kamar mandi saja," bisik Indri.
"Baik."
Serena lantas memberitahu Ksatria jika ia akan ke kamar mandi. Ksatria mengangguk sambil tersenyum.
...***...
"Menunduk Nona, kita akan melewati pintu belakang," terang Indri. Setelah berhasil keluar dari aula, mereka mengendap-endap.
"Pak Bos dan Nona Clara ada di mana?"
"Ssstt, mereka ada di kolam renang." Indri menuntun tangan Clara.
"Apa aku tidak perlu membawa baju, buku, atau seragam sekolahku?"
"Tidak perlu Nona. Tidak perlu memikirkan masalah itu. Gampang, nanti bisa diatur. Yang penting, Nona harus pergi dulu dari vila ini."
...***...
Di Area Kolam Renang
"Honey, apa kamu mendengar suara mobil?"
"Ya, saya dengar. Kenapa?"
"Bukan penjahat yang mau mencuri mobil 'kan?"
"Hahaha, bukan baby. Itu pasti mobilnya Edrick atau Indri. Mereka mungkin sengaja keluar untuk belanja bahan makanan."
Marvin benar-benar lega karena baru saja mendapat pesan dari Indri dan Edrick yang menyampaikan jika mereka berhasil mengamankan situasi.
"Honey."
"Ya baby."
"Sebentar lagi 'kan kita menikah, boleh tidak kalau malam ini kita tidur bersama?'
"Tidur bersama? Boleh." Marvin setuju.
"Serius kamu mau? Kamu mau pakai pengaman apa tidak?" tanyanya.
"Apa?! Apa kamu berpikir saya mau meniduri kamu?!" Nada suara Marvin terdengar tegas.
"Honey, hei. Tidak perlu marah. Aku hanya menawarkan diri. Lagi pula, di zaman sekarang 'kan wajar. Kalau kamu tidak mau, ya jangan. Aku tidak memaksa 'kok," sambil merangkul lengan Marvin.
"Saya mau. Jujur, saya memang mau. Tapi tidak sekarang. Saya harus menunggunya sampai pulih."
"Apa? Pulih? Maksud kamu apa 'sih?" Clara tidak mengerti.
Marvin terhenyak. Ia baru saja berpikiran akan menunggu kepulihan Serena pasca operasi selaput dara.
"Hahaha. Maksud saya, saya harus menunggu sampai kita dinyatakan sah sebagai suami-istri."
"Oh." Clara mengangguk. Walau faktanya ia merasa sedikit bingung.
...***...
_______
"Kalau boleh tahu, kamu akan membawaku ke mana Indri? Apa Pak Bos punya vila lagi?"
"Pokoknya ke tempat yang sulit ditemukan."
Indri mengemudikan mobil dengan perasaan tidak tenang. Walau ia tidak mau tahu, tapi ia tak menyangka jika bosnya tega memperalat Serena hanya karena ayah Serena memiliki hutang. Jujur, ia merasa kasihan pada Serena. Ya, Indri belum tahu kalau Marvin dan Serena sudah menikah.
"Ke mana Indri? Aku penasaran."
"Pokoknya ke tempat yang ingin Nona kunjungi."
"Apa mungkin ke tempat Mama dan adik-adikku?" Serena menebak-nebak.
"Ya, Nona. Anda benar."
"Apa?! Kamu serius Indri. Aaaa! Aku senang Indri! Yuhuy!" serunya. Ia mengangkat kedua tangannya karena teramat bahagia. Mata Serena bahkan berkaca-kaca.
"Tunggu Indri, ini kita bukan mau kabur, 'kan? Pak Bos tidak akan marah 'kan? Ya, aku memang mau bertemu Mama, tapi ---."
"Ini justru perintah Pak Bos, Nona," sela Indri.
"A-apa?! Serius?!" Serena terkesima.
"Ya, Nona. Pak Bos bahkan baru saja menyuruhku membelikan HP canggih untuk Nona."
"What's?!" Serena kembali ternganga.
"Ya, Nona. Jadi kita berhenti di gerai HP dulu ya. Nona juga boleh memilih tipe HP yang Nona inginkan."
"Apa?! Kenapa dia jadi baik sekali?" Serena mengernyitkan alisnya.
"Mungkin ada maunya, Nona," sahut Indri spontanitas.
"Apa?!"
"Ya, hehehe. Bagaimana rasanya jadi simpanan Pak Bos, Nona?" Ups, Indri menutup bibirnya. Ia menyadari telah salah bicara.
"Ma-maaf Nona," lanjutnya.
"Tidak apa-apa Indri. Jika aku berada di posisi kamu, aku juga akan berpikir demikian. Aku tidak marah."
"Aku benar-benar minta maaf. Aku janji tidak akan bicara sembarangan lagi."
Indri menepikan mobil dan kembali minta maaf pada Serena.
"Maaf Nona. Tolong maafkan aku." Ia bahkan merangkul Serena.
"Tidak apa-apa. Aku memaafkan kamu."
"Terima kasih, Nona Serena."
"Oiya, untuk masalah HP, aku mau yang murah saja."
"Baik, Nona."
...~Next~...
__ADS_1