
Bill Ethan Pranadipa, hari ini dia tampak bahagia. Berita yang ia dapatkan dari anak buahnya, benar-benar membuatnya berbunga-bunga. Kebahagiannya bertambah saat mendengar cerita dari adiknya.
"Apa Kakak tampan?" tanyanya. Ia sedang becermin dan meminta penilaian dari adiknya.
"Lumayan," jawab seorang gadis yang duduk santai di sampingnya sambil memainkan ponsel.
"Kok lumayan 'sih? Kenapa tidak bilang ya?" protesnya. Di hadapan adiknya, ia berubah menjadi pria yang lembut.
"Ya," sahut gadis itu.
"Nah begitu dong. Kalau kamu jadi penurut, apapun yang kamu mau, akan Kakak kabulkan." Lalu mengecup kening adiknya dan kembali becermin sambil merapikan pakaiannya.
"Oiya Bel, kamu tahu kalau yang kamu tolong itu akan menjadi istri Kakak?"
"Tahu, 'kan tadi Kakak sudah bercerita."
"Bagaimana menurutmu? Apa dia cantik?"
"Ya, dia memang cantik, seksi dan lucu. Tapi haruskah Kakak menikahinya? Kak, wanita itu sudah bersuami, dia bahkan baru saja keguguran. Memangnya tidak ada wanita lain, apa?" protesnya.
"Bel, pernikahan Kakak dan dia adalah pernikahan bisnis. Kamu cukup setuju dan mendukung saja, oke?"
"Tapi wanita bernama Serena itu sudah punya suami, Kak. Aku juga yakin kalau ia dan suaminya saling mencintai. Kalau Kakak mau bisnis dengan pak Wandira, ya bisnis saja. Tidak perlu melibatkan Serena. Kasihan tahu Kak, dia masih muda. Baru juga lulus sekolah tahun ini."
"Bel, Serena dan suaminya sudah bercerai, kalau kamu tidak percaya, Kakak akan memberikan bukti salinan perceraian mereka. Lagi pula, Kakak suka dengan yang muda-muda. Kakak juga sudah mengincar dia dari dulu. Tapi baru ada kesempatan untuk memilikinya." Pria itu tersenyum sambil membayangkan wajah Serena.
"Kakak sudah pernah melihatnya?"
"Sudah, tapi Kakak melihatnya secara sembunyi-sembunyi. Ya sudah, Kakak pergi dulu ya. Kakak akan menemui Serena dan keluarganya."
"Kak, tunggu. Apa Kakak sudah mendapat restu dari Dad dan Mom?"
"Sudah dong. Mereka akan ke sini saat Kakak dan Serena menikah."
"Oh, ya sudah." Gadis itu mengangguk, namun di mimik wajahnya, jelas sekali menyiratkan jika ia kurang setuju dengan keputusan kakaknya.
"Kalau Kakak sudah memustuskan, lalu Mom dan Dad setuju, kamu juga harus setuju. Mengerti?" bisiknya pada sang adik sebelum ia benar-benar pergi.
"Ya," gadis itu menjawab singkat.
Setelah kakaknya pergi, ia merenung. Mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu, membuatnya terus mengingat bagaimana pria yang ternyata adalah Marvin Mahesa Jacob, terlihat begitu terpuruk dan sedih saat melihat keadaan Serena.
"Kapan mereka bercerai? Kenapa kak Bill harus menikah dengan Serena?" Ia menautkan alisnya.
"Benar, aku harus menghubungi pria itu. Haish, malas sekali."
"Nona Belvina, makanannya sudah siap." Seorang pelayan tiba.
"Terima kasih. Tapi aku tidak mau makan. Ada acara di kampus. Aku mau pergi."
"Apa Nona sudah meminta izin pada tuan Bill?"
"Apa semuanya yang kulalukan harus izin pada kakakku?! Aku sudah besar!" ketusnya. Kemudian berlalu dan membanting pintu kuat-kuat.
__ADS_1
...***...
"Nona Serena tidak mau makan Pak," lapor seorang suster pada pak Wandira.
"Tak masalah. Ada cairan infus, 'kan? Jadi dia masih dapat nutrisi dari cairan infusnya."
"Ya, Pak. Infusnya masih terpasang."
"Kapan dia pulih?"
"Nona Serena sudah pulih Pak. Kalau saja Nona Serena mau makan, dokter sudah memperbolehkannya pulang. Kadar Hb-nya juga sudah normal, Pak."
"Maksudku luka operasinya."
"Oh, untuk operasi estetikanya, biasanya akan pulih dalam 30 hari," jelasnya.
"Baiklah. Terima kasih infonya, Sus."
"Sama-sama, Pak." Suster itupun berlalu.
Sementara di kamar pasien, Serena terlihat sedang meringkuk. Seperti biasa, ia menjadikan tangannya sebagai bantalan. Tiga hari yang lalu, saat ia dipisahkan dari Marvin, ia berontak dan melawan. Setelah itu, Serena tidak mengingat apapun. Saat sadar, ia mendapatkan kabar dari dokter bahwa dirinya telah melewati proses operasi estetik untuk memulihkan organ intimnya.
Kabar itu membuat Serena kian putus asa. Kemarin, ia bahkan sempat berusaha merusak wajahnya sendiri agar papanya menyesal dan tidak menggunakan tubuhnya sebagai komoditas lagi. Namun hal tersebut belum sempat dilakukan karena berbarengan dengan kedatangan mama, Rio, dan Via.
Lalu nasihat Rio, hingga saat ini selalu diingatnya. Saat mama dan Via pergi, Serena menangis di hadapan Rio. Ia tidak mengatakan apapun kecuali menangis. Namun ajaibnya, Rio seolah mengerti akan semua permasalahan yang tengah dihadapi kakaknya.
"Jangan pernah takut meskipun mereka berusaha memisahkan Kakak dan Pak Bos, ingat saja bahwa mereka bukan Tuhan yang punya kekuasaan untuk menentukan segalanya."
"Mereka boleh saja tidak setuju, mereka boleh saja mencegah Kakak dan Pak Bos bersatu. Tapi jika Tuhan punya kehendak untuk menyatukan Kakak dan Pak Bos, mereka bisa apa?"
"Kak Eren, kemenangan itu tidak harus dicapai hingga akhir perjuangan, karena ketika salah satu memutuskan menyerah, maka semuanya bisa berakhir dengan segera. Kakak tinggal pilih saja, mau mereka atau Kakak yang pada akhirnya akan menyerah duluan. Jadi, kalau Kakak benar-benar mencintai Pak Bos, ayo semangat! Berjuang!"
"Oiya Kak, menolak itu bukan berarti tidak setuju lho. Bisa saja penolakan itu sengaja dilakukan oleh Papa untuk membuktikan seberapa serius Pak Bos memperjuangkan dan melanjutkan hubungannya dengan Kakak. Saat Kakak menyerah Papa bisa menyadari jika perasaan Kakak pada Pak Bos hanyalah keinginan sesaat. Jadi, Kakak harus berjuang hingga mereka yakin bahwa Kakak dan Kak Marvin ditakdirkan untuk bersama."
"Kerugian terbesar adalah ketika Kakak menyerah begitu saja, putus asa, dan malas menjalani hidup. Padahal, bisa jadi tinggal satu langkah lagi keberhasilan itu akan didapatkan. Jadi tugas Kakak adalah mencari dan menentukan langkah yang tepat untuk mendapatkan restu mereka."
"Kakak hanya perlu membuat semuanya menjadi jelas agar mereka bisa memahami apa yang dirasakan Kakak. Menyerah bukan solusi karena solusi terbaik adalah berusaha dan berdoa."
"Nona Serena, makan ya."
Seorang suster tiba membawa baki berisi makanan dan membuyarkan lamunan Serena. Serena duduk perlahan. Perasaan tidak nyaman di bagian inti tubuhnya masih terasa. Tapi, karena sebelumnya ia pernah melakukan operasi ini, tubuhnya jadi terbiasa. Hanya saja, Serena tidak menyangka jika dirinya akan mengalami operasi di bagian itu untuk kedua kalinya.
"Terima kasih, Sus."
Serena mengambil baki sambil tersenyum. Sikapnya telah berubah. Serena bahkan langsung memosisikan diri untuk menyantap hidangan tersebut. Suster yang membawa makanan sangat bahagia. Setelah melihat Serena memakan makanan tersebut, ia segera berlalu dan tentu saja akan melaporkan perkembangan Serena pada pak Wandira.
"Tapi Rio, bagaimana kalau Pak Bos tidak mau berjuang? Bagaimana kalau dia menyerah dan melepaskan Kakak?"
Sambil menikmati makanan, Serena mengingat kembali percakapannya dengan Rio.
"Sekarang Kakak tanya pada hati Kakak. Apa menurut Kakak, Kak Marvin akan berjuang?" Saat itu, Rio malah balik bertanya.
"Kakak merasa kalau Pak Bos tidak akan menyerah."
__ADS_1
"Nah, itu jawabannya, Kak. Saat ini, yang terbaik bagi Kakak adalah mengikuti dulu alur ceritanya. Kakak ikuti dulu saja maunya Papa seperti apa. Saat Papa lengah, Kakak bisa bertindak. Apapun caranya boleh. Asalkan, tidak melukai dan membahayakan siapapun."
"Tapi Kakak tidak mau menikah dengan tuan Bill, Rio. Apa kamu tahu, Kakak itu masih istrinya Pak Bos."
"Pokoknya ikuti saja duku alur ceritanya, Kak. Yang Rio dengar, pernikahan Kakak dan tuan Bill akan digelar mewah dan besar-besaran. Rio yakin Kak Marvin tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan melakukan sesuatu untuk merebut Kakak dari tangan tuan Bill. Oiya Kak, tuan Bill juga ganteng dan gagah 'kok. Apa Kakak tidak ada niatan untuk belajar mencintainya?"
"Rio! Kakak hanya mencintai si Marsupilami. Kalaupun tuan Bill tampan dan kaya-raya, Kakak tetap tidak menyukainya!"
"Eren," kali ini, pak Wandira yang membuyarkan lamunan Serena.
"Papa."
"Kamu sudah makan ya? Papa bahagia sekali. Mau Papa suapin?"
"Ti-tidak perlu, Pa. Eren bisa sendiri."
"Tak apa-apa sayang. Papa merindukan momen ini. Sini sendoknya," pak Wandira merebut sendok dari tangan Serena. Akhirnya, Serenapun menerima suapan dari papanya.
"Papa sudah terbebas dari semua tuduhan penipuan. Jadi, kamu tidak perlu malu lagi memiliki papa yang seperti Papa." Sambil membersihkan sisa makanan di bibir Serena dengan punggung tangannya.
"Ya, Pa," Serena memalingkan wajah dari menatap papanya. Sebab, batinnya masih bergejolak dan belum bisa memaafkan keputusan papanya.
"Besok kita pulang. Pulang ke rumah lama kita. Rumah impian kamu. Kamu senang?"
"Ya, Pa. Aku senang."
"Oiya, ada hadiah dari tuan Bill. Sudah Papa simpan di garasi pribadi kamu. Itu adalah mobil impian kamu. Kamu pasti suka."
"Ya, Pa."
...***...
"Awas kamu Bill! Sebentar lagi, kamu akan hancur!"
Dengan tatapan tajamnya, Marvin melihat berita serba-serbi di televisi yang mengabarkan tentang rencana pernikan Bill dengan seorang gadis cantik berinisial AS.
"Kamu kira saya akan menyerah?! Tidak akan!" teriak Marvin.
...***...
Sementara Biil, pria itu tengah berbahagia karena sebentar lagi, ia akan menikahi gadis pujaannya. Menjelang pernikahan, ia rajin merawat tubuhnya. Kebahagiaan Bill bertambah saat ia mendapatkan informasi dari pak Wandira jika tubuh Serena telah dipulihkan dan ia akan mendapati Serena dalam keadaan masih tersegel.
"Hmm, Dewi Fortuna sedang berada di pihakku," gumamnya.
"Jangan senang dulu, Kak. Bagaimana kalau besok-besok Dewi Fortunanya pindah haluan menjadi pendukung Pak Bos Marvin," celetuk Belvina.
"Apa?! Bel! Awas kamu ya!"
...~Next~...
__ADS_1
Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.