
Hendrik sungguh kaget. Pergerakan Marvin tidak terduga dan tanpa kompromi terlebih dahulu.
"Dasar gen mafia, upps," rutuk Hendrik pelan.
Sementara pria yang dirutuknya, saat ini tengah mendekat ke area toilet wanita. Marvin pura-pura sibuk menelepon seseorang. Padahal, matanya sedang memantau ke sana. Ke tiga orang pengawal wanita yang berada di depan toilet. Keberadaan mereka sedikit mengundang perhatian pengunjung lain. Pengawal itu hanya tersenyum dan mengangguk saat ada pengunjung lain yang memerhatikan mereka.
"Kami sedang menjaga Nona kami," jelas salah satu dari mereka.
"Gila kamu, Bill! Bisa-bisanya kamu membuat pengamanan seketat ini!" oceh Marvin dalam batinnya. Sepertinya, untuk sekedar bertemu dengan Serena pun sangat sulit. Selain tiga orang pengawal wanita itu, di sisi Bill masih ada enam orang pengawal lagi.
Marvin menghela napas. Tidak ada celah sedikitpun. Ia harus menemukan cara lain. Lanjut mendekat, lalu duduk di kursi yang berjejer di samping toilet dan berbaur dengan dua orang pria lainnya.
"Sedang menunggu siapa, Pak?" Marvin kaget dengan pertanyaan tak terduga dari pria di sampingnya.
"Oh, emm, istri saya Pak," jawabnya.
"Sama. Aku juga lagi menunggu istri," sahut bapak tersebut.
"Nah, itu dia istriku," lanjutnya. Ia dan istrinya bergandengan tangan dan pergi.
Deg, jantung Marvin bedegup. Serena keluar dari kamar mandi, otomatis tiga orang pengawal itu berdiri dan langsung mengapit Serena di sisi kiri, kanan, dan belakang. Ruang gerak Serena bahkan sangat terbatas akibat pengawalan itu.
"Aku mau pakai sepatu dulu, tolong beri jarak," pinta Serena.
"Nona silahkan duduk di sana, biar kami yang pakaikan sandalnya."
Serena tampak kesal, namun ia tak bisa mengelak. Ia berjinjit saat dua orang pengawal mengapit tanganya dan mendudukannya di kursi yang berada tepat di samping Marvin. Lalu satu pengawal berjongkok untuk memakaikan sandal pada Serena.
"Serena, saya di sini." Batin Marvin berkecamuk.
"Tunggu, 'kok aku merasa ada wangi parfumnya Pak Bos ya?" Batin Serena. Faktanya, mereka memang duduk berdampingan.
"Aduh, aku mau ke kamar mandi lagi. Kayaknya aku salah makan," keluh Serena saat pengawal itu selesai memakaikan sepatu pada Serena.
"Anda sakit perut atau bagaimana, Nona? Kalau sakit perut, mari kita lapor ke Tuan Bill supaya Anda bisa segera dibawa ke rumah sakit."
"Kalian berlebihan. Ini mulas biasa. Tidak perlu ke rumah sakit." Entah Serena sakit perut sungguhan atau memang hanya beralasan.
Marvin melirik pelan. Serena semakin cantik. Ingin rasanya memeluk Serena detik ini juga. Tapi hal itu tak mungkin dilakukannya.
"Sudah ah. Aku mau ke kamar mandi lagi."
"Baik Nona."
"Hah! Apa itu?!"
Serena tiba-tiba menunjuk ke suatu tempat. Spontan para pengawal itu melirik ke arah yang ditunjuk oleh Serena. Pun dengan Marvin. Ia juga menoleh.
"Nonaaa!" teriak salah satu pengawal, dan semuanya terkejut saat mereka menyadari Serena telah berlari meninggalkan mereka. Mereka segera mengejar. Marvin juga tak kalah kagetnya. Ia tidak menyangka Serena akan berlari. Sungguh di luar dugaan. Lagi-lagi, Marvin harus mencari strategi lain.
"Nonaaa!"
"Nona Serena!" Mereka tidak tahu kalau Serena adalah pelari yang handal.
"Satu orang cepat lapor pada Tuan Bill! Jangan mengejar semua!"
"Baik!"
"Tolooong! Tolooong! Nona Serena kabur!" teriak pengawal tersebut.
"Kamu?! Awas! Jangan menghalangi jalan!" lanjutnya. Ia kesal karena Marvin berdiri dan seolah-olah menghalangi jalannya.
"Maaf," sahut Marvin. Ia memberi jalan namun disengajakan menabrak perempuan tersebut untuk memperlambat waktu.
"Ya Tuhan! Minggir!"
Pengawal itu mendorong Marvin dan lanjut berlari untuk melaporkan kejadian tersebut pada Bill.
...***...
"Tuan Bill!" Ia terengah-engah.
"Kenapa?!"
Bill berdiri dan perasaannya langsung tidak enak saat melihat pengawal itu datang sendiri dan dalam kondisi panik.
"Nona Serena kabur Tuan!"
"Apa?! Kurang ajar! Kenapa dia bisa sampai kabur?! Pengawaaal!" teriaknya.
"Ya Tuan!"
"Cepat sisir seluruh area Danau Privilege! Tutup akses keluar! Jangan biarkan ada pengunjung masuk atau keluar dulu! Lacak CCTV! Cepat!"
"Melacak CCTV?!" Salah satu di antara mereka ada yang kebingungan.
"Dasar bodoh! Ya kamu lapor pada pihak keamanan Danau Privilege dulu! Cepat! Aku tidak punya waktu!" titahnya.
"Baik Tuan."
...***...
Seluruh pengawal menyebar setelah membagi tugas. Bill berniat menemukan Serena melalui GPS pada HP milik Serena. Sayangnya, HP Serena ternyata tidak dibawa. Serena meninggalkan tasnya saat ia pergi ke kamar mandi.
"Gadis yang sangat merepotkan!"
BRAKK!
Bill menendang meja. Namun sikap Serena justru membuatnya semakin penasaran.
"Awas saja kalau kamu tertangkap! Aku akan memakan kamu Serena!" ancamnya sambil berjalan cepat menuju pos keamanan Danau Privilege.
"Jangan ada yang keluar dulu! Siapapun itu, tidak boleh ada yang keluar! Tidak boleh ada yang masuk juga!" teriak petugas keamanan melalui pengeras suara.
"Ada apa ini?!"
"Ya ada apa 'sih?"
"Apa mungkin ada *******?"
Para pengunjung merasa bingung dan berasumsi dengan asumsi masing-masing.
"Mungkin ada buronan yang bersembunyi di sini. Ih, ngeri ya?" Sekelompok remaja turut berasumsi.
...***...
"Cepat buka akses CCTV-nya!" Di ruang pemantau CCTV, emosi Bill meluap-luap.
"Ya Tuan, mohon bersabar," kata penjaga.
"Aku tidak bisa sabar!" sentaknya.
...***...
Sementara Hendrik, hanya bisa melongo melihat kejadian itu. Dari mulai pengawal perempuan yang melapor pada Bill, ia bisa mengetahuinya karena tempat duduk Hendrik dan Bill cukup dekat. Hendrik pun berlalu dari tempat duduknya. Misinya, menemukan Marvin.
"Nona Serena kabur? Apa Nona dan Pak Bos sudah bertemu?" Batin Hendrik menduga-duga.
"Hendrik!"
Seseorang menepuk pundak Hendrik.
__ADS_1
"Pak Bos?!"
"Ssst." Marvin menarik Hendrik ke pojok ruangan.
"Kenapa Nona Serena tidak bersama Anda?"
"Saya kehilangan jejak, Ndrik. Pokoknya kita harus menemukan Serena sebelum si Bill."
"Anda serius tidak menemukan Nona?"
"Saya serius, Ndrik. Cepat!"
...***...
Apa kabar Serena?
Ia ternyata sedang bersembunyi di pantri. Berdiri di balik pintu sambil memegang jantungnya yang kian berdegup. Serena sadar jika di sini ada CCTV.
"Gaun ini membuatku sulit berlari," batinnya. Ia memikirkan cara agar gaun yang dipakai tidak mengganggunya.
"Cepat cari ke pantri!" Dugaan Serena itu pasti suara dari salah satu pengawal.
"A-ada apa ya?" Mungkin itu suara juru masak.
"Kami sedang mencari seorang gadis dan sudah dapat izin dari supervisor untuk menyisir bagian pantri," terangnya.
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" Serena gundah.
Saat ini, ia hanya bisa tetap berdiri dan berharap tidak ditemukan. Hanya itu yang bisa dilakukannya.
"Dia ada di pantri ini. Aku tahu posisi dia ada di mana."
Suara itu membuat bulu kuduk Serena merinding. Rupanya, Bill telah menemukan persembunyiannya.
"Tuan Bill? Silahkan masuk Tuan."
"Serena, aku tahu kamu berada di balik pintu! Beraninya kamu bermain-main denganku!"
Walau sosok Bill belum terlihat. Namun Serena tahu jika jarak dia dan pria itu hanya terhalang oleh pintu pantri.
"Tu-Tuan Bil."
Dengan menyesal, Serena akhirnya menyerahkan diri.
"Cepat ikut aku, Serena!" Pria itu menarik tangan Serena dengan kasar.
"Awh, pelan-pelan Bill!" sentak Serena.
"Kamu berani membentakku?!"
"Berani!" timpal Serena. Ia meringis sambil berusaha menepis tangan Bill.
"Duduk!" Bill mendudukkan Serena di sebuah kursi yang berada di area tersebut.
"Tuan Bill ternyata kasar ya! Papaku pasti menyesal sudah memilih Anda!"
"Aku kasar karena kamu pembangkang! Kenapa kamu ingin kabur?! Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi dengan keluargamu kalau kamu sampai kabur?!" Bill menghela napas. Ia merapikan dasinya dan duduk di samping Serena.
"Aku tidak mau kabur. Hanya ingin tahu bagaimana respon Anda terhadap sikapku! Sekarang aku tahu kalau Anda itu kasar!"
"Ya sudah, aku minta maaf."
"Aku mau pulang," Serena mengabaikan Bill. Ia berdiri dan pergi begitu saja.
"Serena! Tunggu." Bill dan pengawal mengejar.
"Aku mau pulang sendiri!" Serena langsung menuju ke pintu keluar.
...***...
"Aku butuh kunci mobil!"
Di pintu keluar, Serena merebut kunci mobil milik pengawal papanya.
"Hei! Jangan diberikan!" Marvin dan anak buahnya tiba.
Terlambat, kunci itu telah berada di tangan Serena yang saat ini sedang berlari menuju parkiran.
"Ya ampun Nona! Nona Serenaaa!" Pengawal pak Wandira baru tersadar dan segera mengejar Serena.
"Aarrggh! Dia benar-benar merepotkan." Bill memijat kepalanya. Rasanya, para pengawalnya itu tidak berguna.
"Nona Serenaaa!"
Teriakan anak buah pak Wandira membuat Bill terbengong-bengong. Dengan mata kepala sendiri, ia melihat Serena membawa mobil dari area parkiran dengan kecepatan tinggi sambil menyalakan klakson dan nyaris menabrak pengawal yang berusaha menghalanginya.
"Nonaaa!"
"Berhenti Nonaaa!"
"Cepat kejar! Kalian tidak berguna!" Bill nyaris putus asa.
"Kami tidak ada mobil lagi," keluh anak buah pak Wandira.
"Serahkan pada kami Tuan Bill." Pengawal Bill sudah menaiki mobil dan siap mengejar.
BRUUUM!
Ada mobil lain yang melaju cepat melewati mobil pengawal Bill. Mereka tertegun. Siapa pemilik mobil itu? Petugas parkir Danau Privilege pun hanya bisa termangu saat mobil tersebut menabrak palang parkir dan melemparkan uang parkir yang jumlahnya sangat banyak.
Mata Bill langsung tertuju pada plat mobil tersebut. Sayangnya, kecepatan mobil itu membuatnya tidak bisa melihat dengan baik.
"Kalian dan aku lanjut mengejar! Kamu cepat cek CCTV lagi! Aku curiga dengan mobil yang tadi lewat! Cepat lacak nomornya dan laporkan padaku siapa pemiliknya!"
"Baik Tuan."
...***...
"Putrimu berani cara masalah denganku! Dia kabur membawa mobil pengawal! Karena kejadian ini, aku akan mempercepat tanggal pernikahan menjadi lusa!" tegas Bill saat ia sudah berada di dalam mobil.
Ia baru saja bicara dengan pak Wandira melalui telepon. Wajah Bill memerah. Baru kali ini ia merasa dipermainkan oleh seorang wanita. Lalu timbulah niat buruk di hati Bill. Ia berniat akan menodai Serena saat gadis itu ditemukan.
...***...
"Sudah lama aku tidak menyetir, lumayan juga mobil ini."
Serena menyalakan musik, lalu merobek bagian bawah gaunnya agar mempermudah gerak kakinya. Untuk sejenak, Serena merasa hidupnya bebas.
"Ish! Siapa sih?!" umpatnya saat ada mobil yang memepetnya.
"Aku yakin itu bukan mobil Tuan Bill." Serena menambah kecepatan, dan mobil tersebut terus berusaha memepetnya.
TIIID!
Mobil yang merasa terganggu dengan pergerakan dua mobil tersebut menyalakan klakson. Serena mengambil risiko. Ia melaju cepat di bahu jalan. Saat Serena sedikit berbelok, mobil yang tadi memepet mendahuluinya. Lalu seseorang dari mobil tersebut keluar dan melongokan kepalanya. Tak hanya melongokan kepala, dia juga melambaikan tangannya.
"Kakek-kakek? Siapa dia? Aku tidak kenal!" Serena menautkan alisnya.
"Hendrik! Cepat buka atribut kamu! Serena tidak akan mengenali kamu!"
Itu adalah percakapan yang terjadi di dalam mobil yang memepet Serena. Betul sekali. Mereka adalah Marvin dan Hendrik.
__ADS_1
"Oiya Pak Bos, maaf aku lupa." Kali ini, Marvin bertindak sebagai pengemudi.
"Cepat! Sebelum mereka menyusul Serena!"
"Ya Pak Bos!" Hendrik membuka wig, kumis dan yang lainnya.
"Nona Serenaaa!" teriaknya lagi. Karena kondisinya sedang di jalur tol, Marvin dan Serena tidak bisa berhenti sembarangan.
"Hendrik?!" Serena terkejut.
"Kamu cepat bawa mobilnya! Saya mau turun!" kata Marvin.
"Turun? Turun bagaimana Pak Bos?!"
"Pak Bos?!"
Sebelum Hendrik melakukan apa-apa, Marvin benar-benar turun dari mobil tanpa menghentikan terlebih dahulu mobil tersebut.
"Pak Bos! Anda gila!"
Hendrik mengambil alih kemudi. Lalu melihat ke kaca spion. Terlihat Marvin tergeletak di sisi jalan dalam keadaan tertelungkup.
"Ya Tuhan! Apa yang Anda lakukan?!"
Tapi Hendrik tiba melakukan apa-apa. Sebelumnya, Marvin memamg telah berpesan pada Hendrik agar ia membawa mobil ini dan tidak keluar dari mobil apapun yang terjadi. Setelan Marvin loncat dari mobil, Hendrik baru memahami ucapan Marvin.
"Pak Bos?!"
Serena terkesiap. Ia otomatis menginjak pedal rem dan banting setir ke kiri saat mobilnya melewati Marvin.
CKIIIT.
Mobil lainpun turut mengerem mendadak. Untungnya, jalan di area ini berbelok-belok. Jadi, apa yang dilakukan Serena tidak menyebabkan kecelakaan beruntun karena kebanyakan pengemudi sedang mengurangi kecepatan laju kendaraan mereka.
"Pak Bos?!"
Serena turun dari mobilnya dengan langkah cepat. Segera membalikan tubuh Marvin yang masih tertelungkup.
"Se-Serena."
"Pak Bos."
Saat Marvin membuka mata, wanita yang dicintainya ada di hadapan mata. Mereka saling menatap dalam diam. Tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir keduanya. Hanya saja, mata keduanya tampak berkaca-kaca.
...***...
"Itu mobilnya!"
Tidak jauh dari tempat Marvin dan Serena, Bill tiba. Bill menunjuk pada mobil Serena yang terparkir di bahu jalan.
"Cepaaat!" teriak Bill tidak sabaran. Ia ingin segera bertemu Serena dan menghukumnya.
Bill dan anak buahnya turun dari mobil dan segera memeriksa mobil Serena.
"Nona Serena tidak ada di dalam mobil Tuan!"
"Apa katamu?!"
Bill murka. Ia pun ikut mengeceknya, dan benar saja, yang ia temukan hanya potongan gaun milik Serena.
"Sial! Kurang ajar! Kemana perginya?!"
Mata Bill beredar begitupun dengan anak buahnya. Namun, mereka tidak menemukan Serena.
"Tuan! Aku menemukan ini!"
Seorang pengawal menemukan sepatu Serena yang tergeletak di sisi jalan atau berjarak sekitar lima meter dari mobil yang dikemudikan Serena.
"Dia pasti belum jauh! Cepat cari! Aaarrggh!" teriak Bill. Ia memegang kuat sisi pembatas jalan dan meluapkan kemarahannya melalui giginya yang gemeretak. Lalu ponselnya berdering.
"Halo!" sapanya dengan suara keras.
"Tuan, kata polisi, mobil yang Anda curigai itu pemiliknya adalah Mark Jacob." Suara di balik telepon.
"Apa katamu?!" Mata Bill membelalak.
"Kurang ajar!!"
Ia langsung menduga jika kaburnya Serena ada hubungannya dengan Marvin. Bill tahu jika Mark Jacob adalah papanya Marvin.
"Aaarrgh!" Bill kembali beteriak.
...***...
Lalu, di manakah Marvin dan Serena?
Saat Marvin melihat kedatangan mobil Bill dari kejauhan, Marvin yang tertatih karena lututnya terluka, memaksakan diri untuk bangun dan menarik tangan Serena untuk pergi dengannya.
Di saat mendesak seperti itu, Tuhan rupanya memberi jalan pada Serena dan Marvin. Karena dari arah yang sama, sebuah bus melaju dan bus itu berhenti saat Marvin melambaikan tangan. Jadi, Marvin dan Serena kabur melalui bus tersebut.
...***...
Saat ini, mereka sudah berada di dalam bus dan duduk di kursi paling belakang. Tampak Serena sedang terisak pelan di dada Marvin. Marvin memeluk Serena dan menciumi puncak kepalanya.
"Uhhuk-uhhuk."
Serena batuk-batuk karena area tempat duduk ia dan Marvin adalah area boleh merokok. Ada dua orang penumpang pria yang sedang asyik merokok dan mengobrol.
"Sabar ya, kalau di depan kosong, kita pindah ke depan," bisik Marvin.
Serena tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan airmatanya terus berderai.
"Sudah dong nangisnya, 'kan kita sudah bersama." Marvin mengusap air mata Serena.
"Huks, Anda jahat! Kenapa membiarkan aku terus menunggu?"
"Saya tidak punya kesempatan untuk menemui kamu."
"Ternyata seperti ini rasanya naik bus di bagian yang tidak ber-AC. Ini pertama kalinya aku naik bus seperti ini."
"Saya juga baru pertama," sahut Marvin sambil terus menatap wajah Serena.
"Kita mau ke mana Pak Bos?"
"Saya juga belum tahu. Pokoknya, kita akan turun di pemberhentian terakhir bus ini."
"Baiklah."
Serena mulai tenang. Ia terus merangkul bahu Marvin dan seolah tidak ingin terpisah sedetikpun dari pria itu.
"Sebentar, kamu pakai sepatu saya ya. Terus pakai ini juga."
Marvin melepas kemejanya dan menggunakannya untuk menutup kaki Serena. Lalu ia melepas sepatunya dan memakaiannya pada Serena.
"Kebesaran Pak Bos," protes Serena.
"Tak masalah, yang penting kaki cantik kamu tidak kotor." Serena tersenyum, dan Marvinpun membalas senyuman Serena.
...~Next~...
Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih
__ADS_1