ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
RIO & VIA


__ADS_3

Marvin. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap bisa segera ke rumah kontrakan yang ditempati pak Wandira dan anak istrinya. Setelah memutuskan menyetujui menikahi Serena sebagai istri sitaan, ia pernah memantau langsung ke mana pak Wandira pergi membawa keluarganya.


Ini ia lakukan untuk memastikan kabar yang mengatakan jika Wandira si raja judi sedang melakukan taruhan dengan pura-pura miskin.


"Haish," dengusnya kesal saat ada mobil yang menghalanginya.


Ia tidak meminta bantuan orang-orang kepercayaannya karena mereka sedang diperintah untuk mengawasi anak buah papanya yang membawa pak Wandira dan bu Putri.


...***...


Akhirnya, setelah memasuki jalan tikus yang panjang dan sempit, Marvin tiba jua di rumah kontrakan yang ia tuju. Tidak ada yang mencurigakan. Semuanya terlihat baik-baik saja.


Pria itu segera turun dan mengamati situasi. Membuka pagar bambu rumah tersebut dan memasukinya. Walaupun teramat sederhana, rumah ini terlihat bersih dan rapi. Ini membuktikan jika bu Putri merawatnya.


"Mamanya bisa seresik ini, kenapa dia tidak bisa melakukan apa-apa?" gumamnya. Maksudnya 'dia' pasti tertuju pada Serena.


Marvin mengintip ke pintu yang ditutupi dengan tirai lusuh, ia sampai menggunakan tissue saat hendak membukanya.


"Hatcim."


Marvin bersin-bersin. Rupanya, ia alergi debu. Lalu terkejut karena pintu rumah ini tidak terkunci. Marvin masuk dan terus mengamati.


Tiba di ruang tamu, ia menemukan jejak-jejak penculikan. Ada beberapa baju anak-anak yang belum selesai dilipat. Sepertinya, saat penculik tiba, bu Putri sedang melipat baju. Lalu ada sebatang rokok yang belum habis.


"Wandiraaa," geramnya. Kesal karena si raja judi masih bisa merokok di tengah kehidupannya yang katanya bangkrut.


"Kamu juga punya anak kecil, 'kan Wandira? Masih merokok di dalam rumah?" Marvin kesal sendiri. Ia menginjak puntung rokok tersebut sampai hancur.


"Permisi," akhirnya mengatakan permisi sambil melanjutkan perjalanan menuju tengah rumah.


"Ya ampun."


Ia menghela napas setelah melihat keadaan rumah. Benar-benar berbanding 360 derajat jika dibandingkan dengan rumah pak Wandira yang dahulu. Pikirnya, pantas saja Serena sulit beradaptasi.


Langkah Marvin terhenti pada kamar yang tirainya terbuka. Ia mematung, menghela napas dan merasa lega. Kenapa demikian? Sebab, ia melihat dua orang anak sedang tertidur di sana. Yang berusia sekitar sepuluh tahun masih memakai seragam sekolah. Sedangkan yang kecil, masih memegang dot yang sepertinya berisi teh manis. Marvin mendekat, ia tidak mengetahui nama mereka.


Namun melihat raut wajah dan cara tidur mereka, Marvin yakin kalau anak-anak itu adalah adiknya Serena. Ada perasan kasihan di hati Marvin, sebab beberapa bulan yang lalu, saat melihat anak-anak ini di sebuah acara, mereka tampak gemuk. Namun sekarang, mereka terlihat sedikit kurus.


Apa mungkin dia setega ini menggunakan anak-anaknya sebagai taruhan?


Marvin menautkan alisnya. Ia berpikir positif jika pak Wandira tidak mungkin mengorbankan anak-anaknya hanya demi sebuah taruhan.


"Hei, bangun."


Marvin menepuk bahu anak yang lebih besar. Ya, itu bahu Rio. Tidak disangka, Rio langsung bangun. Marvin terkejut karena Serena berbeda dengan adiknya. Gadis itu sulit dibangunkan.


"K-kamu siapa?!"


Rio terperanjat. Ia waspada. Segera menghalangi adik perempuannya dengan tubuhnya. Tangannya direntangkan.


"Ssst, saya bukan orang jahat," jelas Marvin pelan. Ia berjongkok di sisi tempat tidur dan mengambil sesuatu.


"Mana ada penculik yang mengatakan kalau dirinya adalah penculik! Cepat pergi! Ambil apa saja yang kamu mau! Tapi jangan mengambil nyawa kami! Jikapun kamu ingin mengambil nyawa kami, tolong ambil nyawaku saja! Jangan nyawa adikku!" tegas Rio sambil menatap Marvin dan menyembunyikan tangan kecilnya yang gemetar.


Sifat pemberani anak ini, tentu saja mirip dengan Serena. Padahal, Marvin bisa melihat dengan jelas jika tangan Rio gemetar dan matanya berkaca-kaca.


"Saya bukan orang jahat," Marvin mengusap rambut Rio.


"Jangan sentuh aku!" teriak Rio dan menyebabkan Via terbangun.


"Huwaa," Via langsung menangis, namun matanya masih tertutup.


"Ssshh, tidur lagi ya."


Rio segera memeluk adiknya, menepuk pelan bahu adiknya, dan menempelkan jari telunjuk di bibirnya yang berarti meminta Marvin agar tidak berisik. Marvin terpaku. Melihat pemandangan itu, ia jadi teringat masa-masa itu. Masa di mana ia berusaha menidurkan dan menenangkan adiknya saat mama dan papanya belum pulang.


"Saya tidak akan membuat keributan, akan saya tunjukkan kalau saya bukan orang jahat. Lihat ini."


Dengan suara pelan, Marvin lantas menunjukkan foto-foto Serena saat gadis itu sedang tidur. Ternyata, ia telah memotret Serena secara diam-diam.


"K-Kakak?"


Rio mengambil ponsel Marvin dan menciumi foto Serena berulang-ulang. Lagi, Marvin terpaku, anak ini ternyata sangat merindukan Serena.


"Kakak ...." Sambil berusaha menahan tangisan.


"Kakak kamu ada bersama saya. Saya ke sini untuk menjemput kamu dan adik kamu."


"Apa?! Jangan bohong!" Rio mengembalikan ponsel Marvin.


"Saya tidak bohong."


"Kak Eren sedang mengikuti acara sekolah. Aku tidak mau tertipu! Jangan kira aku bisa tertipu hanya karena kamu bisa menunjukkan foto-foto kak Eren!" sentak Rio.


Anak pintar. Batin Marvin. Lanjut berpikir keras untuk mendapatkan ide agar bisa membujuk Rio supaya mau ikut dengannya.


"Saya gurunya kak Eren."

__ADS_1


"Gurunya kak Eren? Benarkah? Coba tunjukkan kartu nama kamu yang membuktikan jika kamu adalah gurunya kak Eren."


"Hmm," jelaslah Marvin tidak bisa menunjukkannya. Berpikir lagi.


Ternyata, adik Serena tidak mudah diprovokasi. Ya, Serena juga begitu. Tuh, 'kan? Ia jadi teringat pada Serena. Marvin menggelengkan kepala, sedang berusaha menyingkirkan pikiran tidak bersihnya tentang gadis itu. De-sa-han dan rintihan Serena, kembali memenuhi kepalanya.


"Arrghh," Marvin kesal pada dirinya sendiri. Namun Rio mengira kalau Marvin kesal terhadapnya.


"Cepat pergi dari rumahku!" usir Rio.


Matanya sesekali mengitari. Pasti sedang mencari keberadaan papa dan mamanya. Anak seusianya pasti akan beteriak minta tolong saat dihadapkan pada kondisi ini. Tapi, Rio berbeda. Ia tetap berusaha tenang.


"Lihat ini dan bacalah."


Marvin memberikan kartu nama dan identitasnya. Rio segera mengecek dan membandingkan. Alis bocah itu menaut.


"Coba perhatikan wajah saya baik-baik." Marvin mendekatkan wajahnya pada Rio. Rio menyelidiki dengan seksama.


"Kartu nama dan identitasnya asli. Tapi maaf, aku tidak bisa ikut dengan siapapun tanpa seizin mama dan papa."


"Memangnya papa dan mamamu kemana?" Marvin jadi penasaran dengan jawaban Rio.


"Emm, mereka pergi, ke ---, ke pasar." Matanya mengerling. Jelas sekali kalau bocah tersebut sedang berbohong.


Tidak ada cara lain untuk membawa mereka kecuali dengan bukti yang sangat valid. Ini sebenarnya tidak ingin ia lakukan, namun tidak ada cara lain.


"Tunggu sebentar ya." Marvin beranjak.


Setelah berada di depan kamar, ia menelepon suster yang menjaga Serena. Lalu meminta VC dengan Serena. Jika hanya dengan suara Serena, bisa saja bocah pintar itu tetap tidak akan menurutinya.


Respon suster yang di-VC Marvin tentu saja gelagapan.


"Saya mau VC dengan adik saya." Itu yang dikatakan Marvin.


"Ba-baik."


Suster gugup, plus terheran-heran. Hari gini, masa ya pasien yang menempati ruang perawatan kelas eksekutif itu tidak punya HP canggih? Ia jadi berpikir baik, jangan-jangan, si tampan itu menyukainya. Sang suster berandai-andai.


...***...


Rumah Sakit Internasional


"Nona Serena, kakak Anda mau VC." Serena yang sedang melakukan peregangan di tempat tidur terkejut.


"Kakakku?" Serena lupa kalau ia memiliki kakak jadi-jadian.


Tampaklah Marvin yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Bibir Serena menganga. Ia mengenali latar vidio itu.


"Suster boleh pergi. Pinjam dulu HP-nya ya, Sus."


"Baik, Nona." Suster berlalu.


"Ke-kenapa Anda ada di sana?!" teriak Serena.


"Nanti saya jelaskan. Saya tidak punya waktu lama, cepat bujuk adik kamu agar mau ikut dengan saya," jelas Marvin sambil kembali lagi ke kamar.


"A-apa?!" Serena kebingungan, lanjut histeris saat melihat Rio dan adiknya.


"Rio?! Via?! Huuu." Langsung menangis. Ia megang ponsel dengan tangan gemetar.


"Kak Eren?"


Pun dengan Rio, bocah tersebut terkejut tiada terkira. Namun ia menahan tangis dengan cara menggigit bibirnya. Padahal, Rio masih kecil. Tapi ia paham benar kalau pria itu tidak boleh cengeng.


"Kakak sakit?" Rio menyadari keberadaan cairan infus di tangan Serena.


"Ya, Kakak sakit. Mama dan papa mana?"


"Mama dan papa ---," Rio terlihat kebingungan. Marvin segera bertindak.


"Cepat bujuk adik kamu, saya bisa menjelaskannya setelah kita bertemu," desak Marvin.


"Emm, Kakak sakit. Kakak libur sekolah karena harus dirawat. Kakak sangat rindu sama Rio dan adik Via. Bi-bisakah Rio dan Via menjenguk K-Kakak?"


Suara Serena mulai tercekat. Gadis itu sedang menerka-nerka kondisi yang mungkin saja tengah dialami oleh mamanya.


"Huks."


Serena terisak lagi. Ia mengalihkan fokus kamera agar Rio tidak cemas.


"Kakak, apa benar pria dewasa ini tidak jahat?"


Serena menatap adiknya. Hatinya sakit, kedua adiknya tampak kurus. Untuk beberapa saat, Serena terdiam. Ia belum yakin jika Marvin adalah pria baik, ia juga tidak tahu siapa yang bersalah pada kasus ini. Apakah papanya murni bersalah? Atau mungkin ada pihak lain yang menjadi dalang utama kebangkrutan papanya hingga menyebabkan mama dan adik-adiknya berada pada kondisi memprihatinkan.


Lalu, seperti apakah kerja sama yang dilakukan papanya dan Marvin hingga pria itu tega menjadikannya sebagai istri sitaan? Sungguh, Serena belum mengetahui detail dan seluk-beluknya.


"Hallo Kak."

__ADS_1


"Haaa, hwaa."


Serena melihat Via menangis. Lantaran hal itu, ia spontan mengatakan, "Pria dewasa itu baik, kamu boleh memercayainya."


"Benarkah?"


"Ya, Rio dan Via boleh ikut dengannya. Jangan rewel, jaga adik, dan Rio harus memanggilnya Pak Bos," titah Serena.


"Jika terjadi sesuatu pada adikku, kamu akan tahu akibatnya dan menyesalinya seumur hidup kamu!" ancam Serena saat di hadapan layar hanya ada wajah Marvin. Respon Marvin hanya tersenyum dan mengangguk. Lanjut melambaikan tangan dan mengakhiri VC.


"Aaaa! Menyebalkan!" teriak Serena.


"Huuu." Kemudian melanjutkan tangisnya karena bingung dengan situasi ini.


...***...


Usaha Marvin berhasil. Rio akhirnya mau diajak pergi. Ia menguntit Marvin sambil membawa perlengkapan milik Via. Seperangkat dot, beberapa mainan, dan bonekanya.


Sementara Via, gadis kecil itu tidur nyaman di pangkuan Marvin. Marvin memboyongnya sampai ke mobil. Jadi merasa sedang memangku Serena versi balita. Ditatapnya gadis kecil berwajah cantik dan manis itu sambil senyum-senyum.


Di dalam mobil, Via tidur di pangkuan Rio. Lalu Marvin memasang sabuk pengaman yang melindungi keduanya. Lantas melajukan kemudi dan hingga saat ini, ia masih melupakan janjinya. Ya, Marvin melupakan janjinya pada Clara. Padahal, sehabis pulang kerja ia berjanji akan menjemput Clara.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit, ia terus memerhatikan usaha Rio memomong adiknya. Ternyata, Marvin salah telah menuduh jika bu Putri tidak bisa mendidik anak-anaknya. Sebab dari Rio, ia bisa menyimpulkan jika bocah itu sangat mandiri. Marvin melihat bagaimana cekatannya Rio mengganti popok adiknya.


Berarti, kesalahan ada di kamu Kucing Nakal. Lihat adik kamu, mereka saja bisa mandiri, batinnya.


Marvin kemudian menyempatkan diri pergi ke minimarket dan membeli susu yang biasa diminum oleh Via setelah bertanya pada Rio.


Seperti apa ekspresi dia saat bertemu adiknya?


Entah kenapa, Marvin merasa tidak sabar untuk menyaksikan momen tersebut.


Apa dia akan sangat bahagia dan mengucapkan terima kasih? Batinnya menebak-nebak.


"Oiya, saya lupa. Siapa nama kamu? Adik kamu?"


"Nama panggilanku Rio, adikku Via," jawab Rio.


"Oh, emm ..., apa Kak Eren sudah punya pacar?" Tiba-tiba saja mau bertanya tentang hal itu.


"Sudah, namanya kak Leo." Seketika itu juga, tangan Marvin mengerat pada setir.


"Tapi, kata kak Eren, ia bukan pacar kak Leo lagi. Sebelum pergi ke acara sekolah, kak Eren pernah cerita sama aku kalau kak Eren sudah ada yang memiliki. Aku sebenarnya masih tidak mengerti, maksud kak Eren itu apa ya?" kata Rio.


"Oya?" Marvin mengulum senyum, entah mengapa, penjelasan Rio membuatnya merasa senang.


...***...


Rumah Sakit Internasional


Serena. Ia sungguh tidak sabaran. Ingin segera bertemu adiknya dan memeluk mereka. Apa Marvin bisa dipercaya? Lalu, apa yang terjadi pada mama dan papanya?


"Cepat datang, cepat datang," gumamnya sambil belajar berjalan. Lalu menyalakan televisi karena merasa bosan.


"Berita tidak baik datang dari mantan pengusaha ternama inisial "W." Menurut sum ---."


Langsung mematikan televisi karena khawatir inisial "W" itu adalah papanya.


"Permisi."


Jelas sekali itu suara Rio. Tanpa memedulikan kondisinya, Serena berjalan tertatih menuju pintu.


Rio.


Pintu dibuka dari luar. Terlihatlah pemandangan yang membuat Serena terbengong-bengong. Ia melihat Marvin menggendong Via.


"Kak Eren?"


Via dan Rio memanggilnya bersamaan. Marvin membawa kedua bocah itu masuk ke dalam. Mereka berlarian untuk memeluk Serena. Sementara Serena, langsung merentangkan tangan dan memeluk keduanya sambil menangis.


Setelah puas memeluk dan menciumi adiknya, entah ada angin dari mana, Serena berjalan ke pelukan Marvin dan memeluk pria itu. Marvin terkejut. Mengerjapkan mata, dan tidak begerak.


"Te-terima kasih," lirih Serena.


"Sama-sama," tangan Marvin perlahan memeluk Serena.


"Hha?" Rio dan Via saling menatap.


"Tidak boleh tahu pelukan di hadapan anak di bawah umur," oceh Rio.


Lalu pintu kamar perawatan terbuka lagi.


"Marvin?!"


Suara itu berasal dari seseorang yang masuk ke kamar perawatan. Marvin terkejut, pun dengan Serena.


Siapakah yang datang?

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2