
"Emm," Marvin masih merenung.
"Kalau tidak boleh ya tak masalah, Pak Bos. Aku tidak memaksa, 'kok. Ya sudah, karena kita sudah sepakat, aku pergi ya." Serena beranjak. Masih dalam keadaan memeluk tubuhnya.
"Serena, tunggu." Marvin menguntit.
"Ya," namun Serena tetap melanjutkan langkahnya.
"Tolong jangan membuat masalah lagi. Mulailah beradaptasi dengan para pelayan di rumah ini."
"Baik, akan kuupayakan," jawabnya. Lalu Serena menghentikan langkahnya karena lorong apartemen terlihat remang-remang.
"Kamu takut?" duga Marvin.
"Ti-tidak, aku pemberani."
Dengan sombongnya gadis itu melangkah cepat meninggalkan Marvin. Namun saat ada sesuatu melintas di dinding lorong tersebut, Serena berbalik ke belakang, berlari dan memegang tangan Marvin.
"Pak Bos, tolong! Ada cicak raksasa!"
"Dasar bocah! Itu tokek!" Sambil menyentil kening Serena.
"Apa tokeknya obesitas? Lihat Pak Bos, dia besar sekali, 'kan?" Menunjuk pada tokek yang dimaksud.
"Dia tidak obesitas. Mungkin lagi hamil," jawab Marvin asal, sembari melepas tangan Serena yang memegang tangannya.
Setelah itu, mereka berjalan beriringan tanpa kata-kata. Serena diam saja, pun dengan Marvin.
"Mari berpisah di sini. Kamu cepat ke sana. Jangan sampai ada yang tahu kalau saya bersama kamu. Mengerti?"
"Ya, aku mengerti. Pak Bos tidak perlu khawatir." Serena berlalu. Marvin menatap Serena hingga sosok gadis itu menghilang dari pandangannya.
...***...
"Apa Bu Manda yakin?"
"Ya Dok. Aku yakin. Aku sudah mengecek data pelayan baru, tapi tidak ditemukan nama Serena."
Di tempat lain yang masih merupakan area apartemen milik Marvin, dokter Fathir dan Manda sedang berbincang.
"Hmm, ini aneh."
"Ya Dok, dia memang sangat aneh. Serena adalah pegawai baru teraneh yang pernah aku temukan. Saat ia melewati deretan mobil mewah dan barang-barang mewah milik Pak Bos, dia sama sekali tidak kaget. Dia bahkan mengatakan kalau kamar yang diperuntukkan untuknya sangat jelek dan pengap. Dia benar-benar gadis menyebalkan! Encokku sampai kambuh gara-gara mengejar dia."
"A-apa? Hahaha." Dokter Fathir malah tertawa.
"Kok malah tertawa, Dok? Aku serius, gadis itu sangat kurang ajar. Dia bahkan berani duduk di kursi khusus milik Pak Bos sambil menopang kaki."
"Tapi dia sangat cantik," puji dokter Fathir sambil membayangkan momen saat ia memeriksa Serena.
"Ishh, dasar pria!" rutuk Manda.
"Hahaha, aku normal. Wajar kalau kalau aku memuji Serena. Baiklah, karena sudah malam, pertemuan ini kita cukupkan sampai di sini. Terima kasih atas informasinya. Kuharap, Bu Manda mau menjaga dan membimbing Serena. Jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi."
"Apa?"
Manda kaget karena dokter Fathir malah menitipkan Serena kepadanya. Manda ingin protes tapi diurungkan karena berpikir ia juga masih harus menyelidiki identitas Serena.
...***...
Marvin merenung, menatap langit-langit kamarnya dan tertawa. Ia merasa heran dengan sikapnya. Bisa-bisanya jam sebelas malam belum tidur gara-gara seorang gadis bernama Serena. Gadis yang awalnya ingin ia siksa karena ayah Serena adalah orang yang telah membuatnya nyaris kehilangan reputasinya sebagai CEO bank ternama di negara ini.
"Saya tidak boleh lengah. Bisa jadi si serakah Wandira sengaja menjadikan putrinya sebagai umpan." Ia memijat keningnya.
"Ini hanya pernikahan siri. Saya bisa menceraikan dan meninggalkan dia kapan saja. Pernikahan ini tidak terikat apapun. Saya tidak perlu preskon dan memperkenalkan dia pada siapapun apa lagi pada keluarga saya. Untuk apa saya pikirkan?" gumamnya. Segera memeluk guling dan memejamkan untuk pergi ke alam mimpi.
Lalu ponselnya bedering.
'My Lovely Clara .... Calling.'
Marvin terkejut. Ia baru ingat jika hari ini ia belum memberi kabar pada kekasihnya.
"Halo, Rara ...." Ia berpura-pura sudah setengah tidur. Suaranya dibuat seperti bangun tidur.
"Marvin, kamu sibuk sekali ya? Kenapa sebelum tidur tidak telepon aku dulu?"
"Ma-maaf Ra, serius saya sibuk." Ya, ia memang sibuk mengurus istri sitaannya, Serena.
"Lusa aku mau libur kuliah. Aku kangen kamu, Vin. Aku pulang ya."
"A-apa? Pulang?"
"Iya pulang, enggak ada yang salah 'kan kalau aku pulang? Rindu berat."
"Saya juga rindu, tapi bisakan kalau kamu pulangnya bulan depan saja? Maksud saya, kalau bulan depan, urusan kantor tidak terlalu banyak dan saya bisa quality time sepuasnya menemani kamu belanja dan jalan-jalan."
"Enggak mau, pokoknya aku tetap mau pulang besok lusa. Aku bahkan sudah memberitahu papa kamu."
__ADS_1
"Papa saya?"
"Ya, kenapa, Vin? 'Kok kamu seperti tidak senang 'sih aku pulang."
"Ti-tidak Ra. Kamu salah paham. Saya senang kamu pulang. Jam berapa kamu tiba di bandara? Biar Rian menjemput kamu."
"Rian? Aku tidak mau dijemput Rian, Boy, Edrick ataupun Hugo. Aku maunya dijemput sama kamu, Marvin."
Suara Clara terdengar begitu manja. Ya, siapa 'sih yang tidak mau bermanja-manja di hadapan seorang Pak Bos Marvin? Apa lagi Clara yang kapasitasnya sebagai kekasih Marvin.
"Baik," jawab Marvin. Ia tidak mau berdebat dengan kekasihnya.
"Thank's my honey," seru Clara.
"Yes, baby. Saya ngantuk. Bisa tutup teleponnya?" pinta Marvin.
"Oke. I wanna kiss you, my honey, mmuach," ucap Clara sebelum mengakhiri panggilannya.
Marvin menghela napas. Pikirnya, tidak biasanya Clara libur di awal semster.
...***...
"Pokoknya aku harus membuktikan laporan mereka. Aku tidak bisa percaya begitu saja sebelum membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri," ucap Clara setelah mengakhiri panggilannya dengan Marvin.
Clara Judith, wanita berusia 25 tahun. Ia adalah kekasih Marvin. Mereka berpacaran karena perjodohoan orang tua. Tujuan utamanya tentu saja untuk kelangsungan bisnis keluarga mereka. Namun konon katanya, mereka saling mencintai. Clara dan Marvin adalah pasangan idaman yang diimpikan oleh muda-mudi di negara ini. Bagaimana tidak, keduanya sama-sama berasal dari keluarga terpandang, berpengaruh dan kaya-raya.
Setelah mendapat laporan dari mata-matanya tentang pelayan muda yang berparas cantik, dan mencurigakan, Clara memutuskan untuk libur kuliah. Selain kerinduannya pada Marvin yang sudah menggebu, Clara juga ingin membuktikan dan melihat secara langsung paras pelayan tersebut. Pelayan yang katanya dipanggil 'Nona Serena' oleh Rian, Boy, Edrick dan Hugo.
"Hanya ada satu Nona di sisi Bos Marvin. Nona Clara Judith," tegasnya sambil mengepalkan tangannya.
...***...
Pagi ini dingin sekali, hujan lebat turun sejak jam tiga pagi. Hingga saat ini, curah hujan masih deras. Mataharipun seolah enggan menampakkan cahayanya. Tetap di sana, menyembunyikan diri di balik awan yang berkabut.
"Cepat-cepat!"
Seperti biasa, Manda selalu menyemangati para pelayan. Mereka sedang menjalankan tugasnya masing-masing. Ada yang menyapu, mengepel, memasak dan lain-lain. Pelayan yang kinerjanya bagus dengan keahlian khusus, nantinya akan direkrut secara bertahap ke perusahan lain milik Pak Bos Marvin, seperti hotel, resto, kafe, dan lain-lain.
Manda berulang kali mengernyitkan alisnya, ia merasa telah melupakan sesuatu. Apa ya? Ia benar-benar lupa. Namun, saat ia merasakan lututnya sakit, Manda baru menyadarinya.
"Serena. Ya ampun, aku melupakan gadis itu! Kalian lanjutkan pekerjaan! Pastikan sarapan untuk Pak Bos masih mengepul saat Pak Bos tiba di mejanya!" serunya. Lalu tergesa-gesa menuju kamar Serena.
"Jika gadis itu tidak berubah, bisa-bisa aku cepat tua!" rutuknya. Tidak lupa membawa kunci duplikat untuk jaga-jaga bila gadis itu tidak membuka kamarnya.
...***...
"Serenaaa!" Segera membuka pintu dan terkejut melihat fakta yang ditemukannya.
"Serena?! Di mana kamu gadis nakal?!"
Manda kembali murka. Gadis itu tidak ada di kamarnya. Di kamar mandipun tidak ada.
"Serenaaa!" teriak Manda sambil mengangkat kedua tangannya ke udara dan bersimpuh di lantai.
Dimanakah Serena?
...***...
Serena, gadis itu ternyata masih tertidur pulas. Ia meringkuk nyaman di sebuah tempat tidur nan megah bersama seorang pria tampan rupawan yang juga masih tertidur. Mereka tidur berhadap-hadapan. Ada guling pembatas di antara mereka.
...***...
Flash back
'DUAR.'
Suara petir menggelegar memekik telinga. Disertai dengan guyuran hujan yang tumpah-ruah. Suara petir membuat kaca jendela kamar yang ditempati Serena bergetar.
"Huks. Mama ...."
Serena ketakutan. Kamarnya yang dulu tidak seperti ini. Mama atau pelayannya selalu memasang pelindung telinga serta menemaninya di kala hujan lebat yang disertai petir seperti ini.
Kilatan petir membuat Serena semakin ketakutan. Ia bersembunyi di balik selimut dan menangis sambil menutup kedua telinganya.
"Aku takut ...," lirihnya.
Lalu memberanikan diri mengambil ponsel sederhana yang diberikan oleh Marvin. Ponsel canggih miliknya tentu saja telah disita dan diambil oleh papanya. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan ponsel tersebut. Anehnya, di ponsel itu hanya ada satu kontak.
'MY BOSS.'
Percayalah, bukan Serena yang menyimpan kontak tersebut. Tanpa pikir panjang, Serena menelepon nomor yang tertera. Tidak memerlukan waktu lama, sebab di dering ke dua, pemilik kontak tersebut sudah menerimanya.
"Halo ..., huks, P-Pak Bos, a-aku takut petir, bo-bolehkah aku tidur di kamarmu? Di sini aku tidak memiliki teman, hanya Pak Bos yang bisa kuandalkan. Setelah ini, aku janji tidak akan menyulitkan Pak Bos lagi, huks ...," lirihnya. Lalu Serena menjerit karena petir kembali menggelegar.
"Baik, tapi hanya malam ini saja. Saya akan mematikan koneksi CCTV selama dua menit," jawab Marvin.
Lalu Serena mengendap-endap, dengan jantung berdegup, ia pergi ke kamar Marvin.
__ADS_1
...***...
"Pak Bos, huuu."
Setibanya di kamar Marvin, ia langsung memeluk pria itu. Marvinpun spontan memeluk Serena. Ia melakukannya karena teringat pada adik perempuannya yang juga takut dengan suara petir.
"Huks," setelah beberapa detik, Serena baru tersadar jika tubuh Marvin polos. Pria itu ternyata terbiasa tidak memakai baju saat tidur.
"Aaa," teriak Serena, ia segera menutup matanya, tubuh Marvin yang sempurna membuatnya jadi malu.
"Telat. Dada saya sudah tercemar air mata kamu," Marvin membersihkan dadanya dengan tissue.
"Maaf Pak Bos."
"Cepat tidur, besok saya harus kerja." Marvin naik ke tempat tidur.
"Terima kasih, Pak Bos." Serena bergegas menuju sofa.
"Tidur di samping saya. Ranjangnya masih luas. Jangan tidur di sofa." Sambil menempatkan guling untuk pembatas.
"Wah, asyiiik."
Serena langsung berlari ke tempat tidur. Marvin geleng-geleng kepala. Awalnya, ia mengira Serena akan menolak dan tetap memilih tidur di sofa, tapi dugaan Marvin salah. Gadis itu malah antusias tidur di sampingnya.
Dasar bocah, batin Marvin.
"Jangan mendengkur, jangan melewati batas guling ini."
"Baik Pak Bos."
Serena memejamkan matanya. Beberapa menit berlalu, Serena iseng mengintip pada Marvin, dan ia mendapati Marvin masih terjaga. Pria itu menatap langit-langit kamar dan seperti sedang melamun.
"Apa Anda insomnia?" tanya Serena.
"Hmm," jawab Marvin.
"Mau aku ceritakan sebuah dongeng?" tawar Serena.
"Boleh," jawab Marvin singkat.
"Ehm, ehm."
Serena memulai cerita dengan berdeham. Faktanya, Serena bingung mau mendongeng apa.
"Cepat," desak Marvin.
"Pada suatu saat ---,"
"Bukaannya pada suatu hari?" protes Marvin.
"Kan aku yang cerita Pak Bos, ya terserah aku dong," sahut Serena.
"Baiklah, lanjutkan," sela Marvin.
"Pada suatu saat, penduduk bumi akan menangis karena mereka tidak memiliki pekerjaan. Saat itu, pekerjaan manusia diganti oleh robot-robot canggih. Angka kelahiran menurun drastis karena manusia lebih memilih menikah dengan robot. Pemerintah kalang kabut karena kekurangan generasi muda penerus bangsa di tengah meningkatnya angka kematian yang diakibatkan oleh berbagai macam penyakit."
"Cerita macam apa itu?"
"Ssstt, jangan protes, dengarkan saja."
"Baiklah." Mata Marvin setengah terpejam.
"Di tengah krisis itu, datanglah seorang pahlawan wanita bernama Putri Eren."
"Putri Eren?"
"Ssstt, dengarkan saja."
"Baiklah ...." Mata Marvin terpejam seluruhnya.
"Putri Eren sangat cantik, masih muda dan enerjik. Ia memiliki kekuatan super, dan ---."
Serena bangun sejenak untuk mengecek Marvin. Ternyata Marvin sudah tidur. Saat Serena mengibaskan tangan di depan wajah Marvin, pria itu tidak merespon. Serena tersenyum. Lalu menatap wajah Marvin.
Ganteng juga kalau dia lagi tidur, batinnya. Lalu merebahkan diri di samping Marvin.
Flash back selesai
...***...
"Serenaaa!"
"Serenaaa!"
Manda kembali mengerahkan pelayan untuk mencari Serena. Gadis itu benar-benar pembuat onar.
"Serenaaa!"
__ADS_1
...~Next~...