ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
MARVIN KABUR


__ADS_3

"Huuu. Marviiin!"


Clara beteriak sambil menangis. Pengunjung rumah sakit mengelilingi. Lalu dengan terbata-bata, ia menjelaskan kronologinya. Petugas keamananpun datang. Disusul oleh pengawal Bos Besar yang berjaga di depan kamar Marvin. Mereka tiba lantaran mendengar keributan.


Saat pengawal-pengawal itu melihat Clara menangis dan menyebut nama Marvin, wajah mereka pucat seketika.


"Celaka! Kita celaka!" celetuk salah satu dari mereka.


"Cepat cari! Pasti belum jauh!" tambahnya.


"Cek CCTV!" teriak yang lainnya.


"Pak! Cepat bantu kami mencarinya!" desak pengawal yang lain pada petugas keamanan.


"Baik Pak!"


Petugas keamananpun panik saat menyadari jika yang akan mereka cari adalah putra semata wayangnya Bos Besar. Mereka tahu benar jika para pengawal itu adalah orang-orangnya Bos Besar.


"Cepat bagi tugas!"


"Cepat-cepat!" Mereka berpencar setelah berbagi tugas.


Sementara itu, tangisan Clara kian menjadi. Ia telah ditenangkan oleh beberapa orang suster dan pengunjung, namum tangisnya tak kunjung reda. Clara sangat ketakutan. Ia takut mama dan papa Jacob menyalahkannya. Clara mengakui kelalaian dan kebodohannya. Bisa-bisanya ia percaya pada Marvin yang sudah jelas-jelas mengkhianati cinta tulusnya.


...***...


~Dua hari yang lalu~


"Cepat cari cara supaya saya bisa pergi dari sini," desak Marvin saat Edrick mengunjunginya ke rumah sakit.

__ADS_1


"Kami kehilangan ide Pak Bos, caranya bagaimana? Di depan ada empat orang pengawal, area rumah sakitpun dipenuhi CCTV," jelas Edrick.


"Dasar bodoh!" rutuk Marvin sembar menuding bahu Edrick.


"Begini saja, Pak Bos 'kan anak mafia, hehehe. Harusnya sebagai anak mafia, Anda punya cara atau trik-trik tertentu agar bisa kabur dari sini."


"Apa katamu?! Saya tidak suka menjadi anak mafia! Lagi pula, papa saya sudah bertaubat."


"Maaf Pak Bos. Tapi sungguh Pak Bos, kami tidak punya ide."


"Hmm, sebentar, saya mau berpikir dulu." Marvin menautkan alisnya. Beberapa detik kemudian, bibir merahnya tiba-tiba tersenyum.


"Pak Bos ada ide?"


"Ssst, jangan keras-keras. Jangan sampai pengawal papa menguping percakapan kita. Begini," Marvin kemudian berbisik di telinga Edrick.


"Hari ini juga, kamu harus survey area rumah sakit. Carilah spot-spot yang sekiranya tidak dapat dijangkau oleh kamera CTTV. Mengerti?"


"Ya kamu survey dulu. Setelah kamu mendapatkan lokasi atau hasil survey, saya akan mencari ide lain untuk langkah selanjutnya."


"Baiklah. Apa aku harus pergi sekarang, Pak Bos?"


"Tidak sekarang! Tapi kemarin!" sentak Marvin kesal.


"Hahaha." Maaf Pak Bos, kukira surveynya tahun depan," canda Edrick sambil berdiri dan bersiap melaksanakan perintah Marvin. Marvin menahan tawa mendengar candaan Edrick yang menurutnya sangat garing dari pasaran.


Tiga puluh menit kemudian, Edrick kembali.


"Bagaimana?" Marvin tidak sabaran.

__ADS_1


"Area yang tidak terjangkau CCTV hanya tempat sampah di dekat taman dan gudang apotik Pak Bos." Edrick menunjukkan denah lokasi area yang baru saja disurveynya.


"Tidak ada cara lain." Marvin menautkan alisnya. "Saya ada ide." Tapi kamu harus datang tepat waktu." Marvin menunjuk salah satu lokasi yang ia targetkan.


"Taman? Di taman ada CCTV Pak Bos?"


"Lihat ini, di sini ada tempat sampah 'kan? Nah, tugas kamu adalah menyamar menjadi petugas kebersihan, lalu siapkan plastik besar dan masukan ke tempat sampah tersebut. Pastikan tempat sampah di area taman itu besar dan bersih." Edrick menyimak sambil manggut-manggut.


"Tempat sampahnya harus cukup untuk saya masuk ke dalamnya. Kalau kecil, kamu ganti yang besar. Jadi, tempat sampahnya harus baru dan belum digunakan untuk buang sampah sampai saya datang. Selanjutnya, kita akan mengatur waktunya."


"Sip, aku mengerti Pak Bos. Tapi bagaimana caranya Anda bisa keluar dari sini?"


"Kamu tidak perlu tahu. Intinya tanggal 17 jam sembilan pagi kamu harus standby di lokasi sebagai petugas kebersihan. Jangan sampai ada yang curiga."


"Tunggu, bagaimana caranya aku membawa Pak Bos? Pasti aneh kalau aku tiba-tiba membawa sampah ke dalam mobil yang bukan mobil sampah."


"Haish, saya tidak sembarangan menyusun rencana. Mobil sampah akan berkeliling mengambil sampah setiap hari. Karena area taman ada di depan, artinya akan menjadi area terakhir pengambilan. Di area parkir saya pernah membaca kalau mobil oksigen memasuki area rumah sakit di atas jam sepuluh. Jadi, mobil sampah harus keluar kurang dari jam sepuluh. Mobil sampah dan oksigen sama-sama besar. Mereka tidak akan berada di jam yang sama karena bisa menyebabkan kemacetan," jelas Marvin panjang lebar.


"Wow, analisa Pak Bos luar biasa. Aku angkat tangan. Hahaha. Maksudnya angkat jempol." Sambil mengangkat jempol.


"Kalau kamu memuji saya, harusnya angkat topi," protes Marvin.


"Pak Bos bisa saja."


"Masih ada tugas lain. Survey lokasi TPS dan Rian atau Boy harus menjemput saya di sana. Oiya, jangan lupa sediakan masker dan aroma terapi. Saya tidak tahan bau, tapi demi Serena dan menyadarkan papa-mama, saya rela melakukannya. Jika rencana ini berhasil, saya pastikam mama-papa akan menyesal karena telah memonopoli anaknya kandungnya. Saya akan menghilang ke ujung dunia bersama Serena," pungkasnya seraya menghela napas, memejamkan mata, dan membayangkan wajah Serena.


"Baik Pak Bos. Semoga berhasil. Aku dan yang lain akan berusaha semaksimal mungkin dan membantu Pak Bos mengakhiri kerumitan ini."


"Saya pegang janji dan kesetiaan kamu, awas saja kalau kamu berkhianat!"

__ADS_1


"Tidak akan Pak Bos."


...~Next~...


__ADS_2