ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
PANIC ATTACK


__ADS_3

Untung saja Serena mencubit lengan Marvin, jika tidak, Marvin pasti terlena dan melupakan misinya.


"Anda tidak tahu tempat ya!" Serena sedikit kesal. Bibirnya mengerucut.


"Maaf, harusnya kamu menolak dong. Faktanya, kamu juga menyambut saya. Malah meladeni saya. Ya 'kan?" Marvin tidak mau menjadi pihak yang disalahkan. Karena sangat jelas tadi Serena begitu pasrah dan mengimbangi.


"Ya aku tidak menolak lah! 'Kan Anda suamiku! Aku juga mau dapat pahala! Pokoknya kalau misi ini gagal, salah Anda!" rutuk Serena sambil merangkak menuju balkon meninggalkan Marvin.


"Marvin!"


"Marviiin!"


"Papa bongkar pintunya ya!"


"Hei kamu, kamu, dan kamu! Cepat dobrak pintunya!"


Di bawah sana, sayup-sayup terdengar teriakan pak Jacob yang sedang memberikan intruksi pada anak buahnya. Marvin menarik tirai yang tadi digunakan oleh Serena, lalu menutup celah dengan sebilah kayu. Kayu tersebut memang diperuntukkan untuk menutup celah tersebut.


"Baiklah, nanti kita buktikan siapa sebenarnya yang tadi paling aktif, menikmati, dan sangat mendalami," oceh Marvin sambil melindungi kepala Serena dari kerangka plafon.


"Haish, sudah ah! Jangan bahas itu lagi!" Serena memukul bahu Marvin.


"Biar tidak terlalu tegang, kita harus mengalihkannya 'kan?" kata Marvin sembari membuka lubang angin yang mengarah ke bagian luar.


"Marviiin!"


"Apa?!"


"Mereka kabur Bos Besar!"


"Sepertinya ke arah sana!"


"Ya, tidak ada jalan lain selain celah itu!"


Suara dari arah kamar mandi masih terdengar jelas. Marvin dan Serena saling menatap. Mereka tidak memiliki banyak waktu lagi.


"Pak Bos." Serena mulai panik.


"Tenang, kita ke sana. Di sana ada tangga tangga kayu, kita turun ke bagian belakang villa, melewati semak-semak, lalu beputar arah menuju pesisir pantai," jelas Marvin sambil menuntun Serena agar bisa berjalan lebih cepat, dan sampailah mereka di tangga yang dimaksud.


"Kamu turun duluan ya. Hati-hati jangan sampai terpeleset," titah Marvin sambil memantau situasi sekitar.


"Aku sebenarnya pandai memanjat dan jago berlari. Tapi sekarang 'kan lagi hamil. Jadi ragu-ragu kalau mau terlalu aktif," keluh Serena.


"Pak Bos! Aku di sini!"


Gayung bersambut, di bawah sana ada Hendrik yang sudah siap dengan sepedanya.


"Itu mereka!"


Anak buah pak Jacob yang mencurigai gerak-gerik Hendrik berhasil menemukan keberadaan Marvin dan Serena. Di saat yang bersamaan, Serena berhasil turun dari tangga. Bagusnya, tanah di sekitar villa ini merupakan hamparan pasir. Jadi, Serena tidak kesakitan saat memijakan kakinya yang tidak beralas.


"Sial! Rasakan ini!" Marvin segera melompat dan menyerang anak buah papanya.


"Cepat bawa Serena!" teriak Marvin pada Hendrik sambil melakukan perlawanan.


"Ke mana Pak Bos?!"


"Langsung ke pesisir saja! Nanti saya menyusul!"


"Baik Pak Bos!"


"Pak Bos, kita harus pergi bersama!" tolak Serena, dan dengan gerakan cepat, Serena mengambil pasir dengan kedua tangannya dan melemparkan pasir tersebut pada mata orang-orang yang menyerang Marvin.


"Auhh! Auhhh!" teriak mereka. Langsung sempoyongan sambil memegang matanya yang terasa sakit dan perih. Ya, pasti perih karena pasir mengandung garam.


"Ya Tuhan, kamu menyerang mereka dengan cara licik." Marvin geleng-geleng kepala. Hendrik terpaku.


"Biarkan saja! Namanya juga kepepet dan terpaksa! Ini kondisi genting! Mana bisa leyeh-leyeh!" ujar Serena. Lalu gadis itu merebut sepeda dari tangan Hendrik dan kabur.


"Nona Serena cerdik sekali," puji Hendrik.


"Marviiin!"


Pak Jacob yang sudah berada di lantai dua, bersiap menuruni tangga kaya disusul oleh anak buahnya.


"Maaf Papa!" teriak Marvin. Lalu menendang tangga dan berlari menyusul Serena. Pun dengan Hendrik, ia berlalari sambil membawa pasir di ke dua tangannya untuk berjaga-jaga.


"Kejar mereka! Kejaaar!! Kalau kalian tidak berhasil menangkapnya, kalian semua saya pecat!" teriak pak Jacob pada anak buahnya yang berada di bawah.


"Baik Bos Besar."


Salah satu dari mereka yang terkena pasir tidak terlalu parah segera menaiki mobil tipe jeep offroad untuk mengejar. Sepertinya, pak Jacob sudah menduga jika hal ini akan terjadi. Itulah alasan ia menyuruh anak buahnya membawa mobil jeep offroad yang tentu saja bisa digunakan di berbagai medan yang sulit.


...***...


"Hhh! Hhh! Hhh!"


Napas Serena memburu, keringatnya bercucuran. Ia tidak tahu sampai batas mana harus mengayuh sepeda. Permukaan pasir yang empuk, membuat Serena harus ektra kerja keras mengayuh sepeda agar roda sepeda tidak terjebak ke dalam pasir. Hingga akhirnya, ia terjatuh karena menabrak batu karang kecil yang permukannya tertutup pasir.


"Auh!" keluhnya.


"Serena! Kamu baik-baik saja 'kan?!"


Marvin dan Hendrik tiba. Serena mengangguk. Padahal, kakinya terasa perih. Di balik celana panjang yang digunakannya, kakinya pasti terluka. Namun Serena tidak ingin membuat Marvin khawatir.


Marvin menarik Serena dan kembali berlari. Lalu Marvin menyadari cara berlari Serena yang sedikit pincang. Ia pun sigap menggendong Serena.

__ADS_1


"Pak Bos! Itu mobil mereka!" Hendrik yang menoleh ke belakang melihat mobil jeep offroad yang bergerak cepat ke arah mereka.


"Gawat!" Marvin memutar otak agar bisa secepatnya menghindar dan lolos dari kejaran.


"Itu dia!"


Marvin ada ide setelah melihat sebuah speed boat yang dikendarai seseorang sedang beraksi dan berputar-putar di area tersebut.


"Kita ke sana! Cepaaat!" Marvin berlari ke arah pantai.


"Heeei!!"


Marvin beteriak pada pemilik speed boat yang entah siapa. Ia pasti salah satu dari wisatan yang berada di Pulau Kecil. Sayangnya, pemilik speed boat itu belum mendengar teriakan Marvin karena suara Marvin berbaur dengan deburan ombak dan suara mesin speed boat.


"Hee!i! Halooo!!"


Hendrik ikut beteriak sambil loncat-loncat dan melambaikan tangan pada orang asing yang mengendarai speed boat tersebut. Sementara mobil jeep offroad, posisinya kian mendekat saja.


"Kalian payah! AAAA! Tolooong! Aku mau diperkosaaa!" teriak Serena. Marvin dan Hendrik saling memandang dan terkejut.


"AAA! Tolooong!"


Serena beteriak lagi. Dalam hal berteriak, Serena memang ahlinya. Marvin tahu benar jika istrinya itu pandai beteriak, bahkan bisa dikategorikan sedikit berlebihan. Maka dari itu, di beberapa kesempatan jika Marvin dan Serena sedang memadu cinta, Marvin sering membekap Serena agar teriakan over ekspresifnya tidak terdengar ke luar kamar.


Speed boat itu sepertinya merespon karena tiba-tiba mendekat.


"Yes, berhasil." Serena senang.


Begitupun dengan mobil jeep offroad, kini sudah berada dekat di belakang Marvin dan anak buah pak Jacob berlompatan keluar dari mobil tersebut.


"Ada yang minta tolong? Apa aku salah dengar?"


Pengemudi speed boat itu ternyata seorang wanita. Wajahnya tidak terlalu jelas karena terhalang oleh masker, kaca mata hitam, dan topi berukuran besar.


Karena tidak ada waktu lagi, Marvin menembak permukaan pasir tepat di depan mobil jeep hingga menimbulkan kepulan debu yang lumayan tebal.


"DOR!"


Ia sengaja melakukannya untuk menghambat pergerakan anak buah pak Jacob. Wanita pemilik speed boat terperanjat dan kaget luar biasa. Belum juga rasa kagetnya hilang, tiga orang manusia asing alias Marvin, Serena dan Hendrik tiba-tiba melompat ke speed boat miliknya.


"Hei! Kalian siapa?!"


Namun pertanyaannya diabaikan. Hendrik mencekal tangannya dengan cepat, dan Marvin segera mengambil alih kemudi speed boat. Lalu speed boat itu melesat dengan kecepatan tinggi.


"Aaaa!" teriak Serena sambil memegang erat sisi speed boat.


"Pak Booos! Berhentiiii!" teriak anak buah pak Jacob. Mereka putus asa karena telah gagal.


"Marviiin!"


Bos Besar tiba, dan ia hanya bisa menatap speed boat yang dinaiki putranya semakin menjauh, mengecil, dan menghilang entah ke mana. Yang tersisa hanya anak buahnya yang saat ini sudah melakukan posisi tiarap dan siap menerima hukuman darinya.


...***...


"Baiklah," Marvin memperlambat laju speed boat sambil menghela napas. Lega rasanya karena sudah berhasil kabur.


"Kalian siapa 'sih?! Seenaknya saja merebut speed boat aku!"


Wanita itu kembali protes sambil menepis tangan Hendrik yang sedari tadi memeganginya.


"Maafkan kami Bu, kami terpaksa. Kami akan membayar Ibu. Jangan khawatir, kalau kami jelaskan, ceritanya terlalu panjang-lebar," jelas Hendrik.


"Apa?! Kamu bilang apa tadi?! Ibu?! Hei, aku masih muda!"


Wanita itu marah. Ia segera membuka masker, kaca mata, dan topinya. Lalu menatap Hendrik dengan tatapan penuh kemarahan. Untuk sesaat, Hendrik terpaku. Pemilik speed boat itu ternyata seorang wanita muda dengan paras yang cantik dan menarik. Rambut sebahunya yang tertiup angin laut, membuatnya semakin cantik. Usianya sekitaran beberapa tahun lebih tua dari Serena.


"Wah, aku seperti melihat adegan pertemuan pertama di drama-drama romantis," celetuk Serena dan membuat Hendrik segera mengalihkan pandangan dari gadis itu. Marvin hanya melirik sebentar dan tersenyum.


"Perkenalkan, aku Hendrik. Ini Nona Serena, dan yang itu bosku. Namanya Pak Marvin, dan kami biasa memanggilnya Pak Bos," jelas Hendrik sambil mengulurkan tangan.


"Aku tidak bertanya, dan tidak mau tahu!" ketus gadis itu, dan ia menolak tangan Hendrik.


"Ya Tuhan, sombong sekali," keluh Hendrik.


"Jangan sombong Kak, orang sombong itu temannya setan," timpal Serena.


"Serena, peluk saya. Saya kedinginan," ucap Marvin.


"Baik," Serena mendekat dan memeluk Marvin.


"Mau cium kamu boleh?" lanjut Marvin. Sambil menarik leher Serena dengan tangan kirinya, tangan yang lain tetap mengendalikan speed boat, sementara matanya tetap fokus pada jalur yang dilewati.


"Hei! Kalian jangan mesum di speedboatku!" protes si gadis asing. Ia menutup matanya dengan jemari yang dijarangkan saat Serena mengecupi bibir Marvin berulang-ulang.


"Mereka suami-istri," terang Hendrik sambil meraih bahu gadis pemilik speed boat agar posisinya membelakangi Marvin dan Serena.


"Jangan pegang-pegang!" Gadis itu mengusap bahunya yang dipegang oleh Hendrik.


Sementara Marvin, pria itu lantas menyuruh Serena agar berpindah posisi dan memeluknya dari depan.


"Ish, Pak Bos ada-ada saja!" Serena protes, namun tetap mengikuti keinginan Marvin.


"Mereka pasangan yang sedang memperjuangkan cinta mereka. Orang tua mereka bukan orang sembarangan. Mereka tidak direstui dan sedang menghadapi konflik yang pelik," jelas Hendrik dengan suara pelan.


"Aku tidak bertanya," ucap gadis itu.


"Jangan terlalu percaya diri, aku juga tidak sedang bicara sama kamu. Aku sedang bicara sama lautan, dan terumbu karang," sahut Hendrik.

__ADS_1


"Dasar orang aneh," gumam gadis itu.


"Dasar gadis sombong," balas Hendrik.


"Hei, bisa gantikan saya?" panggil Marvin.


Serena ternyata tertidur, dan Marvin khawatir pergerakannya saat mengemudikan speed boat mengganggu tidur Serena.


"Bisa! Lagi pula, ini speedboatku! Kalian mau pada kemana?! Biar aku antar!" Walaupun gayanya ketus dan sombong, gadis itu sepertinya baik hati dan mau membantu.


"Bawa kami ke pelabuhan," jawab Marvin sambil memosisikan Serena agar lebih nyaman. Untungnya, ini adalah speed boat yang berukuran cukup besar dan bisa menampung tiga sampai empat orang penumpang dewasa.


...***...


Speed boat melaju dengan kecepatan sedang, Marvin bersandar pada sisi speed boat dan Serena bersandar pada dada Marvin. Marvin memeluk Serena sembari menikmati indahnya lautan yang terbentang luas sejauh mata memandang. Sementara Hendrik, ia duduk sambil menopang dagu dengan tangannya. Sesekali, ia melirik pada gadis pemilik speed boat yang entah siapa namanya.


"Ini speed boat milik kamu, atau sewaan?" tanya Hendrik memberanikan diri.


"Harus banget ya Anda tahu siapa pemiliknya? Apa urgensinya?" jawabnya.


"Ya ampun." Hendrik menghela napas.


"Pasti speed boat punya kamu 'kan?" duga Marvin.


"Kok Pak Bos bisa menebak seperti itu?" Hendrik merasa heran.


"Lihat sepatu dan jam tangan gadis itu, lihat juga kacamatanya, itu barang mahal semua. Dia pasti anak orang kaya," bisik Marvin. Ia jelas tahu benar brand barang-barang yang digunakan gadis itu.


"A-apa?" Hendrik terdiam. Niatnya untuk berkenalan lebih dekat dengan gadis itu, segera diurungkan.


"Kenapa?" bisik Marvin.


"Aku tidak mau berurusan dengan orang kaya lagi. Cukup Anda saja Pak Bos." Marvin tersenyum mendengar ucapan Hendrik.


Beberapa menit kemudian ....


"A-aah ...." Serena mengaduh tiba-tiba.


"Serena? Ke-kenapa?" Marvin kaget karena Serena melengking sambil memegang perutnya.


"Pe-perutku sa-sakit Pak Bos, uuhh ... sa-sakit sekali."


"A-apa?! Kamu serius?!" Marvin panik.


"Pak Bos! I-itu a-ada ---."


Hendrik sampai berdiri dan tak kalah paniknya. Matanya membelalak saat melihat rembesan darah segar keluar dari balik kaki Serena. Hendrik menunjuk apa yang ia lihat dengan tangan gemetar.


Gadis pengemudi speed boat menoleh, dan iapun turut kaget.


"Aku akan putar arah ke rumah sakit!" tegas gadis itu. Ia rupayanya memiliki kepedulian yang cukup tinggi.


"Ya Tuhan, Serena!"


Marvin menangkup pipi Serena. Ia yang biasanya tegar dan kuat, tiba-tiba merasa lemas, gugup, dan sangat ketakutan.


"Uhh, huks. Sa-sakit sekali, Ma-maaa," lirih Serena. Airmatanya menetes. Ambang batas sakit Serena memang rendah, wajahnya memucat, dan buliran keringat memenuhi kening dan lehernya.


"Serena, bertahan ya." Marvin kian gelagapan.


"Gadis kaya-raya! Cepat dong! Cepat bawa kami ke rumah sakit terdekat!" teriak Hendrik.


"Aku tahu! Kamu tidak perlu mengajariku! Namaku Belvina! Bukan gadis kaya-raya!" hardik gadis itu sambil menambah kecepatan.


"Se-Serena sabar ya."


Marvin terus menenangkan Serena. Sementara darah yang keluar, terus mengalir dan bertambah banyak.


"Pak Bos ... a-aku pu-pusing." Serena merasakan pusing yang hebat. Pandangan matanya kabur dan mulai menggelap.


"Serena! Serena!" Marvin membangunkan Serena yang tengah memasuki fase syok hipovolemik akibat perdarahan.


"Pak Bos, Anda harus tenang. Kita sedang berusaha." Hendrik mengusap bahu Marvin.


"Serena! Buka mata kamu! Serena! Serena! Serena, sa-sayang ... saya minta maaf, ini salah saya."


Dengan terbata-bata karena panik dan merasa berasalah, untuk pertama kalinya, Marvin akhirnya memanggil 'sayang' pada Serena. Hendrik yang menyaksikan adegan itu merasa terharu hingga matanya berkaca-kaca.


"Sebentar lagi sampai, aku akan meminta bantuan orang-orangku," kata Belvina seraya merogoh ponsel di sakunya.


Dugaan Marvin ternyata sangat tepat. Gadis itu ternyata bukan gadis biasa. Namun sebelum gadis itu melakukan panggilan, ponselnya sudah menyala terlebih dahulu. Ada panggilan masuk.


"Ya, Kak Bill. Sebentar lagi aku pulang 'kok. Ada sedikit masalah. Aku harus menyelesaikannya dulu. Tenang saja, aku pasti baik-baik saja," kata Belvina. Ia mengakhiri panggilan, lalu menelepon seseorang.


"Aku ada di jalur pantai arah barat raya, kilometer seratus empat belas Pulau Kecil, lintang selatan. Tolong siapkan mobil, aku ingin ke rumah sakit terdekat. Ada wanita hamil yang membutuhkan pertolongan segera," jelasnya.


Sementara Marvin, ia tidak memedulikan apapun kecuali Serena. Ia terus memeluk dan memanggil nama Serena. Sedangkan Hendrik, alisnya sedang berkerut.


"Bill?" batin Hendrik.


Hendrik merasa pernah mendengar nama itu dari kakaknya. Tapi nama Bill pastinya tidak hanya satu. Jadi, yang disebut Belvina pastilah bukan Bill yang dimaksud oleh Hugo.


_____


Siapakah Belvina? Siapakah Bill yang dipanggil kakak oleh Belvina?


Untuk Serena, semoga kamu dan calon bayimu baik-baik saja.

__ADS_1


...~Next~...


Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.


__ADS_2