
Sepanjang jalan, wajah Serena muram. Sebab, gadis itu masih mau menonton bioskop. Sebenarnya, bukan itu alasan Marvin pergi dari bioskop. Alasan utamanya karena Marvin mendapat pesan penting dari Hugo.
"Pak Bos, ada di mana? Ada yang ingin bertemu dengan Pak Bos. Anehnya, dia datang ke vila. Pak Bos cepat pulang ya." Itu bunyi pesan dari Hugo.
Marvin merasa jika saat ini vila pribadinya itu sudah tidak menjadi tempat yang bisa menjaga privasinya lagi.
"Tunggu, kita mau ke mana? 'Kok kayak bukan jalan ke vila?" tanya Serena setelah menyadarinya.
"Vila saya sudah tidak aman lagi. Ada tamu tidak diundang yang datang ke vila saya. Jadi kita kembali lagi ke apartemen," jelasnya.
"Memangnya kenapa kalau ada tamu? Tamunya juga belum tentu jahat, 'kan? Kalau aku di apartemen, itu artinya aku harus bertemu sama Manda lagi? Haish, aku malas berantem terus sama dia. Terus, sekolahku bagaimana, Pak Bos? 'Kan besok ada jadwal belajar."
"Sudahlah, kamu nurut saja."
Marvin tidak ingin dibantah lagi. Wajahnyapun tampak serius. Setelah menerima telepon dari pak Wandira, Marvin berpikir jika tamu yang datang adalah orang-orangnya pak Wandira.
"Ya sudah, terserah Anda saja." Pikir Serena, memang akan lebih baik kalau ia di apartemen. Karena dengan di apartemen, ia tidak diganggu Marvin lagi. Lalu pemikiran itu membuat Serena tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum?" Marvin melirik.
"Tidak apa-apa. Mau tahu ya? Hehe," goda serena seraya mencubit permukaan kulit tangan Marvin yang yang berbulu.
"Tidak! Saya tidak mau tahu!" Perangainya menunjukkan kekesalan.
"Maaf. Baiklah, aku jujur ya. Tadi aku berpikir kalau aku di apartemen akan aman dari jamahan Anda. Ya, 'kan? Di apartemen 'kan banyak orang."
"Oh, jadi itu alasan kamu? Saya kira apa. Untuk masalah itu ... saya yakin bisa mengatasinya."
"Oya? Coba saja!" tantang Serena.
...***...
_______
"Pak Bos?"
Semua pekerja menjadi panik saat mengetahui jika bos mereka kembali ke apartemen. Manda mondar-mandir kesana-kemari lantaran panik belum menyiapkan makan malam untuk pak Bos. Kemudian kepanikan mereka bertambah saat seorang gadis yang mereka kenali tiba-tiba keluar dar mobil Marvin.
__ADS_1
Tak ayal jika hal tersebut membuat mereka terbengong-bengong.
"Se-Serena?"
Manda melongo. Tubuh wanita itu nyaris goyah dan pingsan. Untung saja ada pekerja lain yang menahan tubuhnya. Belum juga hilang keterkejutan mereka. Marvin tiba-tiba menuntun tangan Serena sambil berkata, "Sekarang, gadis ini mainan saya," tegasnya.
"A-apa?!" Mereka ternganga. Tak hanya mereka, Serena pun demikian.
"Apa Anda bilang? Mainan?!" protes Serena. Ia ingin menepis tangan Marvin, namun Marvin menahannya.
"A-apa kita tidak salah dengar?"
Mereka saling memandang saat Marvin dan Serena berlalu. Manda memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.
"Jangan ada yang berani mengatakan penjelasan dari Pak Bos pada siapapun! Intinya, jangan ada yang membocorkan keanehan apapun yang terjadi antara Nona Serena dan Pak Bos! Jika kalian berani, maka aku memastikan kalau kalian akan dipecat! Paham?!" tegas Edrick yang baru saja tiba. Setelah mengatakan kalimat itu, iapun pergi menyusul Serena dan Marvin.
...***...
"Apa Anda gila?! Masa ya aku harus tidur di kamar Anda? Lalu kenapa Anda menyebutku sebagai mainan? Aku tidak suka!" protes Serena saat Marvin menariknya ke dalam kamar. Kamar Marvin.
"Sudah malam, kita harus tidur." Pria itu enggan menanggapi protesan Serena. Malah sibuk membuka bajunya. Sepertinya akan mandi dulu sebelum tidur.
"Saya mau mandi dulu. Kalau mau mandi bersama, saya tunggu." Marvin malah masuk ke kamar mandi.
"Pak Bos!"
"Baiknya kamu mandi dulu," katanya. Benar-benar tidak memedulikan Serena.
"Aaaa!" teriak Serena putus asa.
Akhirnya menunggun Marvin mandi dengan duduk di sofa. Eh, karena sofanya nyaman, ditambah ngantuk, Serena malah tertidur.
"Kebisaan," gumam Marvin saat ia usai mandi dan melihat Serena sudah tidur di sofa. Pria itu lantas memakai baju sambil menatap Serena.
"Serena, bangun. Ganti baju dulu." Ia menusuk pipi Serena dengan ujung jemarinya.
"Serena." Sambil mengguncang tubuhnya.
__ADS_1
"Hmm," Serena linglung. Setelah membuka matanya, ia menatap Marvin sambil senyum-senyum. Lalu menyentuh wajah Marvin dan berkata, "Handsome," ungkapnya. Marvin terkekeh.
"Ganti baju dulu," bisik Marvin. Barulaha Serena tersadar dan duduk.
"Malas, ngantuk," keluhnya.
"Ya sudah, aku saja yang ganti."
"Ja-jangan!" Serena akhirnya bangun, mengambil baju ganti, dan bergegas ke kamar mandi.
...***...
Saat ini, mereka berdua sedang berpelukan dan berhadap-hadapan. Mata Serena bahkan telah terpejam kembali.
"Besok kita ke dokter."
"Periksa? Siapa yang sakit? Pak Bos?"
"Kamu."
"Aku?" Serenan heran. Sejenak membuka matanya dan menatap Marvin.
"Cek bekas operasi ...." Membisikkan sesuatu pada Serena.
"A-apa?! Aku tidak mau! Lagi pula, aku tidak merasakan keluhan apapun!"
"Hahaha. Biar dokter tahu sudah bisa digunakan lagi apa belum," jelas Marvin sambil mengulum senyum.
"Digunakan?!"
Mata Serena membulat dan ia segera tersadar serta memahami ucapan Marvin. Pipinya langsung merona.
"Kamu juga mau mencobanya bukan?" duga Marvin.
"Apa?! Ti-tidak!" Padahal dalam batinnya, Serena juga penasaran.
"Ya sudah, tidur yuk! Besok, kamu 'kan memerlukan energi banyak untuk melawan Manda dan semua pekerja yang tidak menyukaimu." Seraya menarik Serena agar lebih mendekat ke dadanya. Lalu ia mencium kening Serena, berdoa, dan memejamkan matanya.
__ADS_1
_______
nyai tidak tega meninggalkan reader nyai. Semalaman sampai kepikiran terus. Jadi nyai usahakan untuk tetap mengintai. Tapi mohon ma'lum karena mengintainya tidak bisa lama-lama. Semoga bisa mema'luminya, dan sekali lagi mohon dimaafkan🙏🙏🙏