ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
ADA YANG JANGGAL


__ADS_3

Suasana pagi ini begitu dingin. Lalu lalang kendaraanpun belum banyak. Apa lagi ditambah dengan cuaca mendung yang menyelimuti. Sepertinya, Pusat Kota akan diguyur hujan lebat. Seorang gadis cantik berjalan mantap. Melangkahkan kaki menapaki trotoar yang di sisi kiri dan kanannya dihiasi oleh bunga dan rerumputan.


Ya, gadis itu adalah Serena. Ia telah berjalan jauh meninggalkan apartemen. Tujuannya saat ini adalah menemukan ATM untuk mengambil uang. Sebab, ia tentu saja tidak bisa pergi ke rumah Tika jika tidak memiliki uang.


Langkah kakinya yang mantap, ternyata tidak sejalan dengan perasaannya yang saat ini tengah di rundung kesedihan. Kata-kata bernada lembut dari bibir Nyonya Syakilla, terus mengganggu perasaannya. Berulang kali ia mengusap air mata dan meyakinkan dirinya sendiri jika ia memang tidak pantas bersanding dengan seorang Marvin Mahesa Jacob.


...***...


Akhirnya, tiba juga di area mesin ATM. Serena segera mengeluarkan kartu ATM pemberian Nyonya Syakilla dari sakunya. Setelah memasukkan kata sandinya, iapun mengambil uang secukupnya, dan mencatat transaksi ini pada ponselnya. Serena berniat mengembalikan uang tersebut suatu saat nanti.


Lalu ia terkejut dengan saldo yang tertera di sana. Mungkinkah Nyonya Syakilla ingin mengujinya dengan uang sebanyak ini? Entahlah.


Karena belum sarapan, rasa lapar datang tiba-tiba, dan gadis itu bingung harus makan di mana karena mall belum ada yang buka.


Apa ia harus makan di pinggir jalan?


Tapi, Serena tidak terbiasa makan di pinggir jalan. Ia takut makanannya dihinggapi lalat dan membuatnya sakit perut. Ya ampun Serena, gadis itu ternyata belum berubah. Masih belum terbiasa hidup sederhana.


Akhirnya melewati beberapa pedagang kaki lima sambil menunduk dan menelan saliva. Sungguh, bubur ayam di ujung jalan sana sangat menggugah selera. Wangi kaldu ayamnya menusuk hidung Serena.


"Aku harus mencobanya," gumamnya.


Segera mendekat dan memesan. Lalu ia menjadi pusat perhatian beberapa orang penikmat bubur. Serena sebenarnya sadar jika dirinya sedang diperhatikan. Namun ia pura-pura tidak tahu.


Kenapa 'sih lihat-lihat aku terus? Kalau lagi makan bubur ya makan saja! Rutuknya dalam hati.


Ingin rasanya ia mengumpat mereka semua. Namun Serena tidak ingin membuat keributan. Gadis itu tidak sadar diri kalau penampilannya memang mencolok.


Cantik sekali. Batin pedagang bubur.


Bening seperti kaca, batin penikmat bubur ayam yang diaduk.


Anak orang kaya sedang iseng makan bubur di pinggir jalan. Itu kata hati penikmat bubur ayam tanpa diaduk.


Calon pelakor, batin seorang ibu-ibu.


J a l a n g, batin seorang wanita muda yang baru saja tiba.


Padahal, menilai orang lain tanpa bukti dapat dikategorikan sebagai buruk sangka, dan berprasangka buruk adalah sifat tercela.


"Ini buburnya, Nona."


Pedagang tersebut menyodorkan semangkuk bubur ayam yang masih mengepul pada Serena sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih," ucap Serena. Ia mengambilnya dan duduk di kursi yang paling dekat dengan posisinya berdiri.


"Maaf, ini kursi untuk suami saya," ucap perempuan di samping Serena. Ia memandang sinis pada rambut bagian sisi leher Serena yang tertiup angin dan memperlihatkan beberapa kiss mark.


"Maaf," jawab Serena singkat.

__ADS_1


"Di sini saja duduknya, Nona." Pedagang bubur cepat tanggap. Ia mengeluarkan kursi cadangan yang awalnya masih dilipat.


"Terima kasih, Pak."


Serena tersenyum. Pikirnya, Tuhan telah menolongnya melalui pedagang bubur yang ramah ini. Kini, gadis itu sudah duduk dan merenung. Bubur ayamnya masih panas, dan ia tidak terbiasa dengan makanan yang panas.


"Panas ya Nona? Ini."


Lagi, pedagang bubur itu membuat Serena tersenyum. Ia memberikan sebuah perca kardus pada Serena. Maksudnya untuk dijadikan kipas agar buburnya cepat dingin. Ini adalah kali pertama bagi Serena mendinginkan sesuatu dengan perca kardus.


Setelah buburnya hangat, ia segera berdoa dan menikmatinya sambil menatap lalu lalang kendaraan yang melintas. Lalu memandang jauh ke arah sana. Ke apartemen elit milik Marvin.


Apa yang sedang dilakukan pria itu? Apa Marvin bahagia dengan kepergiannya?


Serena merenung. Momen kebersamaannya dengan Marvin terbayang di ingatan.


...***...


_______


Setelah bersiap dan keluar dari kamarnya, Marvin langsung menuju ke kamar Serena. Ia bermaksud mengajaknya untuk makan bersama.


"Serena." Mengetuk pintu kamar.


Serena?" Pintu kamar tidak terkunci dan Serena tidak ada di dalam kamar.


"Serena?"


Di dalam kamar mandipun Serena tidak ada. Marvin mulai gundah.


Apa gadis itu berenang?


Tapi ini masih pagi. Air kolamnya masih dingin. Karena penasaran, iapun beranjak ke kolam renang. Namun, di kolam renangpun ia tidak menemukan Serena.


"Serena! Jangan bercanda!" teriak Marvin sambil membuka salah satu pintu ruang ganti. Lantai di area kolam renang tampak kering. Itu berarti tidak ada yang berenang. Marvin menghela napas. Ia menggelengkan kepalanya dan segera meraih ponsel di sakunya.


Ia menelepon Serena. Sayangnya, panggilannya dibaikan. Akhirnya mengirim pesan.


"Kamu di mana? Saya mau mengajak kamu sarapan bersama mama. Di mana? Di taman?" Pesan terkirim. Jangankan dibalas, dibacapun tidak.


"Haish." Ia berpikir jika Serena sedang mengerjainya.


"Hugo!"


Kebetulan sekali, saat keluar dari area kolam renang, ia melihat Hugo.


"Ya Pak Bos."


"Kamu melihat Serena?"

__ADS_1


"Oh, Nona Serena? Tadi ke sana bersama Nyonya Syakilla." Hugo menujuk ke arah pintu keluar.


"Bersama Mama?" Marvin menautkan alisnya.


"Ya, Pak Bos."


"Emm, ya sudah, kamu panggil mereka ya. Saya menunggu di ruang makan."


"Baik Pak Bos." Hugo bergegas. Lalu Marvin melanjutkan perjalanan menuju ruang makan.


...***...


Tiba di ruang makan, Marvin terkejut. Sebab, ia melihat mama Syakilla telah berada di sana. Bukankah kata Hugo, Serena bersama dengan mamanya?


Silahkan Pak Bos," Manda menarik kursi untuk Marvin. Namun Marvin tidak memedulikan Manda dan malah duduk di kursi lain.


"Kamu boleh pergi, saya ingin bicara empat mata bersama Mama," pinta Marvin.


Sikap Marvin pada Manda, tentu saja tidak lepas dari kecurigaannya pada Manda. Sebelumnya, Marvin ternyata telah menelepon Clara untuk mengkonfirmasi. Namun, mantannya itu mengatakan jika ia menerima informasi tentang keberadaan Serena di apartemen bukan dari Manda. Melainkan dari seseorang yang dirahasiakan.


"Baik Pak Bos," Manda mengundurkan diri.


"Kamu kesiangan ya?" tanya Nyonya Syakilla sembari mendekatkan hidangan pada Marvin.


"Ya, Mama."


Marvin mengambil susu hangat untuk diseruput dan ia berencana akan menunggu kedatangan Hugo dan Serena.


"Pak Bos." Hugo tiba.


Marvin menoleh dan ia terkejut karena Hugo tidak datang bersama Serena.


"Maaf Pak Bos, aku tidak melihat Nona Serena. Mungkin, Anda bisa bertanya pada Nyonya," jelas Hugo.


"Kamu mencari Serena? Dia sudah pergi Vin," sahut Nyonya Syakilla.


'Prak.'


Seketika itu juga, gelas kaca di tangan Marvin terjatuh ke lantai hingga air susunya membasahi lantai. Syukurlah, gelas tersebut tidak sampai pecah karena terbuat dari material kaca yang cukup tebal.


"Pergi? Maksud Mama?" Marvin mematung. Sementara Hugo, langsung mengambil lap dan membersihkan tumpahan.


"Dia meminta izin pada Mama untuk pergi. Dia bercerita sudah tidak tahan dengan sisksaan kamu selama ini, Vin. Karena kasihan, Mama membiarkannya pergi."


"A-apa?!"


Marvin berdiri. Ada yang janggal dengan ucapan mamanya. Benarkah Serena bercerita seperti itu? Karena faktanya, Marvin tidak pernah menyakiti Serena. Hanya pernah meminta gadis itu untuk bermain-main dan bercumbu. Tapi itu juga dilakukan sesekali dan Serenapun selalu patuh dan seolah-olah menyukainya.


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2