ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
RESTU?


__ADS_3

"Anak baik," puji Marvin seraya mengelus kepala Serena.


"Hmm," jawab Serena. Matanya terbuka sedikit lalu tertutup lagi.


"Terima kasih ya, istri," bisik Marvin.


"Sama-sama. Sudah ah, Pak Bos jangan bicara terus. Aku ngantuk," protes Serena.


"Berapa lama biasanya kalau kamu datang bulan?" Marvin malah bertanya tentang itu.


"Pak Bos, memang penting banget ya? Biasanya sebulan," canda Serena.


"Hah? Apa?!" Marvin jelas tidak percaya. Namun ekspresi kagetnya sangat natural.


"Aku ngantuk Pak Bos, memangnya yang tadi belum membuat Anda puas?" Serena jadi sedikit kesal.


"Jangan salah paham. Saya sangat-sangat puas, kamu sangat luar biasa. Maaf kalau perkataan saya membuat kamu tidak nyaman." Marvin meraih tangan Serena dan menciumnya.


"Hehe."


Melihat ekspresi penyesalan dari wajah Marvin, Serena terkekeh. Sungguh, ia tidak marah dengan semua hal yang dibicarakan oleh Marvin. Hanya sedikit lelah saja setelah melakukan praktikum adegan dewasa demi menyenangkan Marvin. Lelah dan juga malu. Seperti itulah perasaan Serena saat ini. Namun, ia bahagia setelah berhasil menaklukan Marvin dan membuat pria itu bertekuk lutut di hadapannya.


"Nakal," Marvin mengacak rambut Serena.


"Siapa gurunya? Anda 'kan?" elak Serena. Marvin tersenyum.


"Ya sudah, tidur ya cantik."


Marvin menyelimuti Serena. Serena memejamkan matanya. Bersama Marvin ia merasa bahagia dan nyaman. Walaupun harus meninggalkan kemewahan, ia rela asalkan bersama Marvin. Apa ini yang dinamakan cinta buta? Entahlah, Serena tidak bisa menyimpulkan.


...***...


Menjelang pagi, Marvin dan Serena pindah ke kamar yang lebih besar. Sayangnya, di sini juga tidak tersedia air hangat. Namun, kasurnya tentu saja lebih besar dan nyaman.


"Bagaimana Anda bisa tahu kalau aku ada di Danau Privilege?"


Saat ini, mereka sedang menikmati sarapan pagi. Penginapan ini ternyata menyiapkan sarapan pagi dan makan siang bagi pengunjung yang menempati kamar-kamar tententu. Menunya cukup sederhana. Pagi ini, menu yang terhidang adalah nasi goreng.


"Indri mendapat pesan dari nomor asing yang berisi tentang rencana kencan kamu dan Bill di Danau Privilege. Indri melaporkan pesan itu pada Hugo, lalu Hugo menyampaikan pesan itu pada Hendrik. Nah, Hendrik melaporkan pesan itu pada saya."


Marvin menjelaskan semuanya pada Serena. Dari mulai rencana kabur, mengelabui papanya, hingga menyusun rencana pergi ke kelab malam dan membuat pengawal papanya mabuk berat.


"Wah, Anda ternyata mahir menipu ya?"


Serena terkesan dengan kepiawaian suaminya. Apa lagi saat Marvin bercerita tentang idenya untuk menyelematkan Hendrik dari kemurkaan papanya, Serena benar-benar terhibur.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Hendrik."


"Hahaha. Saya yakin Hendrik berhasil menipu Papa."


"Apa Hendrik pernah menghubungi Anda setelah kita berada di sini?"


"Nomor saya sudah dinonaktifkan dan diganti dengan nomor baru."


"Hendrik sudah tahu nomor baru Anda?"


"Belum. Sekarang era digital. Saya bisa berkomunikasi dengan Hendrik tanpa menggunakan telepon."


"Emm, pakai surel alternatif ya?"


"Ya. Oiya, setelah ini, apa kamu ada rencana lain?" tanya Marvin.


"Tidak ada Pak Bos. Justru aku akan mengikuti semua rencana Pak Bos."


"Hari ini saya belum menyusun rencana apapun. Jadi, kita akan menghabiskan waktu di penginapan saja. Coba kamu tidak datang bulan ya." Marvin memandang langit-langit sambil tersenyum.


"Memangnya kenapa kalau aku tidak datang bulan?" Serena pura-pura tidak tahu. Padahal, ia tahu benar apa yang dipikirkan pria itu.


"Hahaha." Marvin berkilah, pipinya merona.


"Oiya Pak Bos, setelah aku pikir-pikir, mungkin yang mengirim pesan pada Indri itu Rio."


"Rio? Dari mana kamu yakin kalau itu Rio?"

__ADS_1


"Yang mendukungku untuk bersama Anda hanya Rio. Mama memang mendukung, tapi mamaku itu orangnya sangat patuh sama suami. Jadi, apapun keputusan Papa selalu didukungnya. Mama hanya protes dua atau tiga kali, tapi setelah protesnya tidak ditanggapi Papa, Mama seperti tidak memedulikannya lagi."


"Bisa jadi memang Rio. Dia anak yang cerdas." Marvin sepakat.


"Pak Bos, apa Anda bisa membantuku?"


"Membantu apa? Nyawapun akan saya berikan demi kamu."


"Aku ingin papaku melihat rekaman CCTV di Danau Privilege."


"Tujuannya?" tanya Marvin.


"Papa harus tahu kalau Tuan Bill itu pria yang kasar. Saat aku pura-pura kabur dan dia menemukanku, dia menyeretku dan membentakku dengan kasar. Kalau Papa melihat, setidaknya Papa akan berpikir ulang untuk menikahkanku dengan Tuan Bill."


"Baik, akan saya pikirkan bagaimana caranya. Ya sudah, kita ke kamar lagi yuk!" ajaknya sambil membersihkan sisa makanan di ujung bibir Serena.


"Siap Pak Bos!" Serena berdiri dan memberi hormat.


...***...


"Saya harus keluar dulu, kamu mau tetap di sini, apa ikut?"


Setelah satu jam istirahat di dalam kamar, Marvin berencana keluar untuk melakukan sesuatu.


"Aku mau ikut saja Pak Bos. Memangnya Anda mau ke mana?"


"Saya harus mencari warung internet dan mengirim pesan ke Hugo. Kalau saya pakai HP, ada kemungkinan saya bisa dilacak."


"Baik, aku mau siap-siap dulu." Serena beranjak.


...***...


"Apa?!"


Pak Wandira terkejut luar biasa saat mengetahui jika jam tangan yang telah dipasang GPS tidak dipakai oleh Serena. Jam tangan itu tergeletak begitu saja di atas nakas yang berada di kamar Serena.


"Diaaam!" teriaknya pada bu Putri yang sejak kemarin terus menangis meratapi kepergian Serena. Bu Putri tidak menyangka jika putrinya akan pergi meninggalkan rumah untuk kesekian kalinya.


"Huks, Pa ..., bagaimana kalau kita bernegosiasi saja sama Pak Jacob dan Tuan Bill? Mungkin, Serena dan Marvin memang tidak bisa dipisahkan, Pa," ungkap bu Putri.


"Apa kita bernegosiasi dengan Tuan Bill saja, Pa? Maksudku, bujuk Tuan Bill agar ia bisa melepaskan Serena."


"Ma, Bill bukan orang yang mudah dikendalikan. Dia punya semuanya dan bisa menghancurkan bisnis kita dalam sekejap."


"Tapi Pa, sampai kapan kita akan terus dikejar oleh permasalahan ini? Mama kira dengan keberadaan Tuan Bill, masalah kita akan berakhir. Faktanya, hidup kita malah tambah rumit."


"Sudahlah, sebagai istri kamu patuh saja. Aku janji akan segera menyelesaikannya. Aku ke kantor dulu, kalau ada media yang datang, katakan saja kalau aku sedang sibuk. Kamu juga tidak perlu banyak komentar. Lagi pula, hanya Tuan Bill dan anak buahnya yang tahu kalau Serena hilang."


Pak Wandira pergi setelah memberi pesan pada bu Putri. Apa Serena pergi bersama Marvin? Pak Wandira memiliki dugaan seperti itu setelah diberitahu oleh Bill kalau pada hari Serena hilang, ada mobil mencurigakan yang pemiliknya ternyata adalah Mark Jacob alias papanya Marvin.


...***...


Mark Jacob.


Pria itu hanya bisa meninju tembok kantornya setelah mendapati anak buahnya dan orang kepercayaan Marvin terkapar di sebuah kelab malam dalam keadaan mabuk berat dan nyaris tidak sadarkan diri.


Kemarin pagi, ia menerima laporan dari petugas keamanan kelab jika di kelab mereka ada enam orang pria mabuk yang saat diperiksa identitasnya, mereka semua memiliki kartu nama yang sama, yaitu atas nama Mark Jacob. Otomatis petugas keamanan tersebut langsung menghubungi nomor yang tertera pada kartu.


"Sampai kapan kamu terus seperti ini, Vin?" gumamnya.


Ia menghela napas sambil menatapi foto sang putra yang berada di kamarnya.


"Papa?"


Bu Syakilla tiba. Ia langsung memeluk suaminya dan terdiam. Mungkin bingung juga harus mengatakan apa. Sebab, ini bukan kali pertamanya Marvin kabur dan membuatnya sangat khawatir.


"Apa mereka sudah diobati?" tanya pak Jacob seraya membalas pelukan bu Putri.


"Sudah Pa. Kasihan mereka Pa. Harusnya tidak perlu disiksa sekeras itu. Lagi pula, itu kesalahan Marvin. Mereka hanya korban."


"Mereka pantas mendapatkannya. Kalau mereka tidak lalai, kejadiannya tidak akan seperti ini. Lagi pula, itu hanya luka luar. Papa hanya melukai kaki mereka. Tidak sampai melukai organ penting mereka."


"Ya Pa, tapi tetap saja kasihan. Oiya, bagaimana hasil pertemuan Papa dengan Tual Bill? Dia membahas apa 'sih? 'Kok tidak biasanya ingin bertemu Papa secara pribadi."

__ADS_1


"Dia mengajak kerja sama. Dia ingin memakai jasa WO pernikahannya dengan Serena menggunakan jasa WO milik kita. Dia berani membayar tiga kali lipat asalkan kita membantunya menemukan Serena. Dia menduga kalau Serena kabur bersama Marvin. Tuan Bill juga meminta kita pura-pura merestui hubungan Marvin dan Serena untuk memancing Marvin agar kembali. Menurut Mama bagaimana?"


"Mama sudah lelah Pa. Mama tidak mau ikut campur lagi. Kalau boleh jujur, rasanya Mama sudah bisa menerima Serena."


"A-apa?!" Pak Jacob seolah tidak percaya dengan penuturan istrinya.


"Marvin mencintai Serena, Pa. Jadi, Mama berpikir akan mengalah dan belajar menyukai Serena. Setelah Mama pikir-pikir, Serena itu memang cantik. Dia serasi dengan Marvin. Masalah latar belakang keluarganya, Mama sudah tidak peduli lagi. Lagi pula, pengadilan sudah memutuskan kalau Pak Wandira tidak bersalah," jelasnya.


Mendengar penjelasan bu Putri, pak Jacob terdiam sesaat. Ia hanya menghela napas sambil menautkan alisnya. Ya, pada kasus kematian Mirandapun, pak Wandira dinyatakan tidak bersalah. Hasil penyelidikan terbaru diperoleh fakta bahwa Miranda diduga adalah korban salah sasaran. Salah satu pelaku yang tertangkap bersaksi jika ia dan komplotannya berencana membunuh putrinya pak Wandira alias Serena.


Mereka mengira rencananya telah berhasil. Namun selang beberapa hari, baru menyadari jika mereka salah sasaran. Yang mereka tabrak ternyata adalah Miranda yang pada saat kejadian berada di lokasi yang sama dengan target yang diintai, serta memiliki penampilan dan wajah yang mirip dengan Serena.


"Papa juga menyukai Serena, 'kan? Sekarang, tidak ada alasan lagi untuk kita menolak Serena. Hutang keluarganya pada Royal Bank sudah lunas, dan nama baik keluarga besarnyapun sudah dipulihkan," lanjut bu Putri dan pak Jacob masih terdiam.


"Akan Papa pertimbangkan," sahut pak Jacob.


...***...


"Beraninya dia kasar pada putriku!" Pak Wandira mengepalkan tangannya. Saat ini, ia sedang melihat rekaman CCTV yang berada di Danau Privilege saat Serena dan Bill berkencan.


Kemarin, ia mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang menyuruhnya mengecek rekaman tersebut. Entah siapa yang mengirim. Sebab, saat pak Wandira mencoba menghubungi, nomor tersebut sudah tidak aktif. Tak sampai di situ, pak Wandira juga mendapatkan bocoran sebuah rekaman yang berisi percakapan antara Bill dan anak buahnya.


"Setidaknya, kalau aku sudah memiliki tubuhnya, aku tidak penasaran lagi. Anggap saja kalah main."


Seperti itu isi rekaman tersebut. Walaupun pak Wandira belum bisa memastikan siapa objek yang dimaksud oleh Bill. Namun, ia menduga jika ucapan Bill ditunjukkan pada Serena.


"Aku harus menemui Pak Jacob dan bicara empat mata," gumamnya. Kemudian ia bersiap dan merahasiakan rencana pertemuan itu dari anak buahnya.


...***...


Marvin dan Serena memutuskan untuk pindah ke hotel yang letaknya lebih dekat dengan Pusat Kota. Keputusan ini memang berisiko. Namun, di tempat sebelumnya Marvin merasa kurang nyaman lantaran jalur komunikasi di sana sering terputus akibat pemadaman arus listrik.


Ya, daerah pedesaan sepertinya memang kurang cocok bagi Marvin dan Serena yang sudah terbiasa dengan kehidupan mewah.


"Akhirnya ...."


Serena membantingkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Tiga jam perjalanan menggunakan bus untuk mencapai hotel ini cukup melelahkan. Sementara Marvin, pria itu langsung berbenah.


"Pak Bos, maaf ya. Aku lelah."


Serena menatap Marvin yang saat ini merapikan pakaian.


"Tak masalah. Kamu istirahat saja." Marvin tampak bersemangat.


"Kenapa hari ini Anda semangat sekali? Perasaan, kemarin-kemarin biasa saja," oceh Serena.


"Karena hari ini kamu sudah berhenti datang bulan," jawab Marvin sambil tersenyum.


"A-apa?!" Serena menelan saliva kasar.


"Kenapa kaget?" Marvin heran.


"Ti-tidak Pak Bos. Aku tidak kaget 'kok," elaknya.


"Haruskah aku jujur kalau tubuhku sudah dioperasi lagi? Atau, aku diam saja untuk memberinya kejutan?" batin Serena.


"Kalau kamu tidak mau, saya tidak akan memaksa." Marvin mendekat sejenak dan mengecup kening Serena.


Lalu matanya teralihkan pada ponselnya yang menyala. Ada pesan masuk. Ini adalah pesan dari seseorang yang diteruskan oleh Hendrik ke nomor barunya.


"Di manapun kamu berada, cepat pulang ya sayang. Mama dan Papa sudah merestui kamu. Mama dan Papa akan menerima Serena. Jadi, kamu pulang ya."


Marvin terkejut. Apakah pesan ini sungguhan? Atau, hanya jebakan? Ia mengerutkan dahinya.


"Kenapa?"


Serena mendekat. Marvin lantas memperlihatkan pesan itu pada Serena. Serena membacanya dan turut terkejut.


Apa benar mereka sudah mendapatkan restu? Marvin dan Serena saling memadang dan tidak bisa menemukan jawabannya.


...~Next~...


Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.

__ADS_1


_______


Maaf karena nyai jarang up. Alhamdulillah, nyai diberi amanah (positif dua). Sedang ada di fase 'ngidam' dan efek lainnya. Jadi, nyai tidak bisa mengintai dengan maksimal. Semoga reader tercinta bisa mema'lumi dan memaafkan. Mohon doanya agar nyai dan kandungan nyai selalu ada dalam lindungan-Nya. Aamiin.


__ADS_2