ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
TERKUAK


__ADS_3

"Apa Anda menyukaiku?"


Serena mengulangi pertanyaannya karena Marvin hanya bengong dan terdiam seribu bahasa.


"Sudah kuduga, Anda hanya menyukai tubuhku, 'kan?" Serena beranjak dari pangkuan Marvin.


"Kenapa menanyakan hal itu? Bukankah sedari awal kamu sudah tahu? Pernikahan ini hanya sebuah perjanjian antara saya dan papa kamu. Tolong jangan dianggap serius," ujar Marvin seraya menarik bahu Serena agar kembali merebahkan kepala di pangkuannya.


Kini, giliran Serena yang terdiam. Usianya yang masih belia, membuat gadis itu bingung dengan kebaikan dan sikap Marvin terhadapnya.


"Apa selamanya aku harus berada di sisi Anda? Sampai kapan perjanjian itu dibuat? Aku tidak ingin hatiku salah paham memaknai kebaikan Pak Bos. Jika Anda memang menganggapku sebagai barang sitaan, tolong pergunakan aku sesuai porsinya. Jangan terlalu baik, jangan pula terlalu jahat," pinta Serena. Mata gadis itu berkaca-kaca, namun airmatanya tidak sampai menetes.


"Serena," lirih Marvin.


Marvin menangkup pipi gadis itu. Apa jadinya jika Serena tahu kalau orang tua mereka pernah terlibat konflik sengit di masa lalu? Marvin menatap wajah polos Serena. Harusnya, ia memang membuat gadis ini menderita dan tidak memberinya harapan semu. Namun hati kecilnya merasa tidak tega.


"A-apa aku boleh melihat isi perjanjiannya?"


"Untuk apa? Cukup saya dan papa kamu saja yang mengetahuinya."


"Aku ingin tahu batasan kita sampai mana. Apa dalam perjanjian itu aku boleh memilih? Maksudnya, sampai sejauh mana aku bisa memperlakukan Anda, dan sampai sejauh mana Anda memperlakukanku?"


"Karena saya adalah pihak yang dirugikan, sayalah yang mendominasi isi dari pernjanjian itu."


"Ya, isinya seperti apa?" Bertanya sambil mengunyah sosis.


"Intinya, kamu itu milik saya. Saya bisa memiliki kamu minimal sampai papa kamu melunasi hutangnya," terangnya sembari mengusap lelehan saus yang mengotori bibir Serena.


"Kalau boleh tahu, berapa hutangnya? Jika aku bekerja seumur hidup pada Anda tanpa digaji, apa bisa lunas?"


"Sebenarnya, papa kamu bisa membayarnya. Sayangnya, aset papa kamu sudah habis untuk berjudi. Nominalnya 17 T. Itu jumlah bersihnya, belum termasuk bunga bank dan perjanjian bagi hasil."


"A-apa?! 17 T?!"


Bibir Serena sampai menganga saking kagetnya. Marvin menelan saliva, bibir Serena yang terbuka membuatnya ingin menyesapnya. Pesona gadis ini memang membahayakan. Tahan. Pria itu menghela napas dan segera memakan sosis untuk melupakan keinginannya.


"Uhhuk," Marvin sampai batuk karena terburu-buru.


"Pak Bos?" Serena inisiatif mengambil air minum.


"Terima kasih." Serena ada kemajuan. Setidaknya, gadis itu bisa menyuguhi air minum.


Setelah memberi air minum pada Marvin. Serena merenung. Ia mengingat kembali percakapan Marvin dengan papanya. Jika Marvin menikah, bagaimana dengan nasibnya? Namun, gadis itu pantang mengungkap keresahan kecuali pada mama tercintanya. Mulai detik ini, Serena berjanji akan menjalani takdirnya dengan ikhlas dan sabar. Apakah ia mampu? Entahlah. Ia juga tidak yakin.


"Kenapa?"


Marvin memeluk Serena dari belakang. Serena pasrah. Ia berpikir, Marvin sengaja menghabiskan waktu untuknya karena sebentar lagi pria itu akan menikah.


"Aku berjanji akan bekerja keras. Jika boleh, aku ingin usaha kecil-kecilan untuk mendapat uang tambahan."


"Kamu bisa apa, hmm?" Marvin mulai berulah. Pria itu mengecupi tengkuk Serena perlahan-lahan. Serena bergidik. Bulu romanya berdiri.

__ADS_1


"Apa ada yang bisa kulakukan untuk Anda? Tapi, aku ingin digaji supaya bisa menabung," ujarnya.


"Ada," bisik Marvin. Lalu mengecup daun telinga Serena dan memainkannya.


"Pekerjaan apa?"


Serena membalikan badan dan menengadah menatap wajah Marvin. Sinar sang rembulan yang menelusup di balik awan malam, menciptakan rona kemilau di wajah keduanya. Sungguh pemandangan yang serasi.


"Kamu bisa menjadi teman tidurku." Sambil merapikan anak rambut yang menutupi pelipis Serena.


"Teman tidur? Hanya teman tidur?" Obrolan tersebut membuat mereka melupakan agenda barbequean.


"Lebih dari itu. Kamu harus rela memberikan tubuhmu," bisik Marvin seraya mendekap erat tubuh Serena.


"Hanya tubuh?" Jantung Serena berdegup.


"Ya, hanya tubuh kamu, dan tolong jangan memberikan hati kamu untuk saya. Sayapun demikian. Saya tidak akan memberikan hati saya untuk kamu." Seraya membelai rambut Serena.


Batin Serena berdesir. Penuturan Marvin membuat bibir gadis itu gemetar.


"Jika demikian, apa itu berarti aku boleh memberikan hatiku pada orang lain? Pada kak Leon misalnya?"


"Tidak boleh." Dekapan Marvin semakin erat.


"Ke-kenapa, Pak Bos? Kenapa tidak boleh?"


"Tubuhmu untuk saya, hatimu untuk disimpan. Tolong simpan dan jaga hati kamu dari siapapun. Di kemudian hari, saat perjanjian saya dan papamu telah selesai, saya baru akan mengizinkan kamu memberikan hatimu pada siapapun yang kamu inginkan. Paham?"


"Anda tidak adil," lirihnya.


"Sebelum kamu bicara tentang keadilan di hadapan saya, tolong telaah lagi awal mula perkara ini. Gara-gara kesalahan papa kamu, untuk menekan biaya produksi, saya terpaksa melakukan PHK pada ratusan karyawan. Saya bahkan pernah tidak tidur selama tiga hari tiga malam gara-gara krisis perusahaan. Apa kamu tahu kenapa saya tiba-tiba menjadi CEO Royal Bank?"


"Tidak tahu," jawab Serena. Ia masih di poisi menatap rembulan.


"Karena perusahaan saya memiliki hutang pada Royal Bank, dan kemampuan saya di bidang perbankan sangat mumpuni, papa mendapuk saya menjadi CEO Royal Bank. Tapi separuh gaji saya sebagai CEO dipotong untuk menyicil hutang perusahaan," jelasnya.


"Bukankah Royal Bank milik papa Anda?"


"Ya. Tapi itu tidak ada pengaruhnya untuk saya. Hutang tetaplah hutang, dan itu harus dibayar."


"Baik, aku mengerti. Atas nama papa, aku minta maaf." Serena meraih tangan Marvin dan diletakkan di dadanya.


"Sebenarnya, kesalahan papa kamu bukan hanya merugikan perusahaan. Tapi ada hal lain yang tidak bisa saya maafkan."


Marvin mengepalkan tangannya. Dadanya bahkan naik-turun yang menandakan jika pria itu tengah menahan emosi. Serena bergeser, ia menjauhkan tubuhnya dari Marvin.


"A-apa yang sudah papaku lakukan? Kesalahan apa?" Bertanya sambil menunduk.


"Info yang saya dapat, papa kamu terlibat dalam kematian adik saya."


"Hha? A-apa?!"

__ADS_1


Tubuh Serena melemas seketika. Informasi itu membuatnya tidak berdaya. Airmatanya yang ditahan sedari tadi, jatuh begitu saja. Ia ternyata sedang berada di kandang musuh yang memberinya belas-kasih. Masih beruntung Marvin menjadikannya barang sitaan dan tidak membunuhnya.


"A-apa informasi itu bisa dipertanggung jawabkan?" Serena masih berharap jika papanya tidak terlibat.


"Bisa," tandas Marvin.


Ia mendekati Serena dan mencengkram kuat pipi gadis itu hingga bibirnya mengerucut. Serena mengalihkan pandangan karena melihat ada kilatan amarah di mata Marvin.


"Harusnya, yang mati bukan adik saya, tapi .... Kamu!" sentaknya. Cengkramannya kian kuat. Rupanya, Marvin telah menemukan fakta baru di balik kematian adiknya.


"Huks."


Serena benar-benar menangis. Pipinya yang dicengkram Marvin memerah, dan tangan pria itu belum melepaskannya.


"Ke-kenapa Anda tidak membunuhku saja? Kenapa Anda malah memaafkan papa dan menolong mamaku?"


"Karena saya baru mengetahuinya setelah saya menandatangani perjanjian dengan papa kamu. Andai saya belum pernah melihat kamu, lalu saya tidak pernah menikmati tubuh kamu, mungkin saat ini, kamu hanya tinggal nama." Sekarang, pria itu mengusap air mata di pipi Serena.


"A-aku masih belum mengerti, kenapa papaku terlibat dengan kematian adik Anda?"


"Saya juga masih menyelidiki kebenarannya. Ada banyak informasi yang saya dapat, tapi saya merasa belum cukup," tegasnya. Lalu Marvin beranjak dan meninggalkan Serena.


...***...


"Huuu."


Setelah sosok Marvin menghilang. Serena menumpahkan airmatanya. Sungguh, ia tidak menyangka jika jalan hidupnya akan seperti ini. Hilang sudah harapan dan asanya untuk mencari celah agar terbebas dari kondisi ini. Untuk saat ini, ia hanya bisa patuh pada Marvin.


"Apa kematianku akan membuatnya bahagia?" Dengan tatapan nanar, Serena berjalan menuju kolam renang.


Ketika berada dalam lingkungan yang tepat, anak seusia Serena harusnya sudah bisa membangun support system yang sejalan dengannya. Misalnya, ketika anak tersebut berdiskusi dengan orang yang tepat, ia akan memikirkan dengan matang masukan yang bermanfaat untuknya.


Namun ternyata, anak seusia Serena belum tentu mengetahui identitas diri dan apa saja yang diinginkannya. Hal inilah yang saat ini terjadi pada Serena.


"Mama ...." Selalu mengingat mamanya saat batinnya sedang risau.


Gadis seusia Serena, harusnya sudah mulai memikirkan apa yang diinginkannya. Maka dari itu, orang tua harus menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Tapi Serena, ia tidak memiliki siapapun yang bisa diajaknya bicara. Apa lagi untuk mendengarkan pendapat dan keinginannya.


'BYUR.'


Ia menjatuhkan tubuhya ke kolam renang. Namun bukan untuk berenang. Melainkan untuk menenggelamkan segenap problema yang tengah dihadapinya.


Ia yang selalu bersikap sok tegar itu ternyata mengalami depresi. Gadis itu baru saja merasakan sakit emosional yang sangat parah dan membuatnya kehilangan harapan. Hal tersebut membuatnya tidak bisa menemukan cara lain untuk mengatasi situasi ini. Selain dengan mengakhiri hidupnya.


Mama, Via, Rio, maafkan Kakak ya ....


Ia menatap rembulan yang seolah tersenyum kepadanya sebelum tubuhnya tenggelam. Lalu air kolam mulai memasuki hidung Serena saat tubunya telah tenggelam seluruhnya. Serena berusaha menahan napas, namun kemampuannya terbatas hingga ia refleks menelan air kolam sebanyak-banyaknya.


Tubuhnya mulai meronta. Menjadi pertanda jika gadis itu telah kehilangan oksigen. Ia merasakan perut dan dadanya sakit. Matanya mulai terpejam kala rasa sakit itu berubah menjadi rasa sesak yang mencekik dan teramat menyiksanya.


Beberapa saat kemudian, tubuh yang secara kasat mata terlihat indah itu, berhenti meronta dan terkulai sepenuhnya. Serena. Ya, gadis itu telah kehilangan seluruh kesadarannya.

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2