
Serena. Ia memotong rambutnya hingga seleher. Jika ia menunduk, maka terlihatlah tengkuk mulusnya. Saat ini, ia dan Indri sudah berada di mobil menuju jalan pulang. Indri yang mengemudikan mobil.
"Apa itu tidak terlalu pendek, Nona?" tanya Indri. Sambil menyetir, ia memerhatikan rambut baru Serena.
"Tak apa-apa 'lah. Nanti juga panjang lagi 'kok." Serena cuek. Ia memainkan rambutnya sambil becermin.
"Aku tidak yakin Nona terkena permen karet karena jatuh. Jujur, apa ada yang membully Nona?" selidiknya.
"Emm, kalaupun ada, aku sudah memaafkan. Aku lelah berurusan lagi dengan masalah perbullyan," jawabnya.
Indri mengangguk-angguk, ia jadi yakin jika gadis itu ada yang mengganggu.
"Siapa pelakunya?" telisik Indri.
"Pelaku apa?"
"Yang membully Nona Serena."
"Tidak ada. Aku tidak ingin menyalahkan orang yang menyakitiku, karena aku berpikir mereka mungkin saja tidak memiliki teladan di rumahnya, sehingga anak yang menjahatiku tidak belajar mengenai perilaku yang benar dan salah. Bisa jadi, di rumahnya, mereka mengalami kekerasan fisik sehingga melampiaskan kemarahannya di luar rumah," terang Serena.
"Wah."
Indri tersenyum. Ia tidak menyangka jika di balik ketidakmandirian Serena bisa tersimpan sekelumit kata-kata bijak yang membuatnya sedikit terenyuh.
"Kalu Pak Bos tahu, orang yang menjahati Nona bisa dikuliti."
"Hahaha, jangan sok tahu Indri. Dia tidak akan peduli. Aku di matanya tidak lebih dari mainan," sahut Serena seraya tersenyum miris.
"Kalau boleh tahu, siapa yang menjahati Nona Serena?" Indri rupanya masih penasaran.
"Sudahlah Indri, tidak perlu dibahas lagi. Intinya, aku sengaja mengalah karena ingin menolong teman baruku. Bayangkan, dia menjadi korban bullying lama sekali. Dari mulai masuk sekolah sampai mau lulus lagi. Kasihan 'kan? Aku berniat melaporkan perundungan itu pada Kepala Sekolah, tapi yang menggangguku ternyata masih kerabat dekatnya pemilik sekolah."
"Wah, kalau begitu kasusnya, Anda harus meminta bantuan pada Pak Bos."
"Indri! Kenapa harus dia 'sih?! Aku sudah dewasa! Dalam hal ini, kecuali bantuan uang, aku tidak akan meminta tolong padanya! Lagi pula, aku juga ada rasa sedikit iba sama yang membullyku."
"Apa?!"
Indri terbengong-bengong. Baru kali ini ia mendengar ada orang yang merasa iba pada orang yang menjahatinya.
"Bisa jadi 'kan yang membullyku ditelantarkan di rumahnya? Atau, bisa jadi ia tidak diinginkan kehadirannya. Atau, mereka kurang kasih-sayang mungkin? Aku tahu seperti apa kehidupan anak-anak orang kaya yang kesehariannya hanya dijejali oleh uang, tapi limit kasih-sayang. Atau mungkin saja mereka terpengaruh dampak negatif dari lingkungan yang ditinggalinya. Dengan kata lain, anak-anak itu meniru apa yang ia pelajari dari sekitarnya."
"Nona Serena bisa bijaksana juga rupanya ya. Kalau Pak Bos tahu, dia pasti bangga."
__ADS_1
"Indri! Kenapa harus menyebut nama dia lagi?! Begini ya Indri, aku ingin memanfaatkan momen kebebasanku tanpa dia! Katanya, dia mau ke vila bulan depan. Hmm, aku bahagia." Sambil merentangkan tangannya.
"Oya? Tapi aku tidak yakin," Indri mengulum senyum.
"Aku optimis. Berharanya 'sih, dia tidak ke sini sampai aku lulus sekolah. Pasti akan sangat menyenangkan. Oiya Indri, sesekali kabur yuk! Aku ingin bertemu mama dan adik-adikku. Kamu pasti tahu keberadaan mereka, 'kan?"
"Ya ampun, Nona. Hahaha. Aku ini kaki-tangannya Pak Bos. Mana mungkin aku mengkhianati Pak Bos. Kalau Anda mau kabur, ya kabur sendiri saja. Tidak perlu bilang-bilang." Indri terkekeh.
"Benar ya Indri. Baik, kalau ada kesempatan, aku mau kabur ah. Sebenarnya, aku juga tidak akan benar-benar kabur, hanya ingin menemui mama dan adik-adik saja. Setelah itu, aku pasti kembali pada Pak Bos. Tanpa dia 'kan aku tidak punya apa-apa."
"Apa Anda tidak ada keinginan untuk menemui pak Wandira?"
"Dari berita yang kulihat, papaku sudah dipenjara. Kupikir, penjara lebih baik untuk papa. Dengan dipenjara, ruang gerak papaku yang katanya telah melakukan kejahatan jadi terbatas. Selain itu, di penjara 'kan dapat makan dan fasilitas. Setidaknya, papa tidak harus bekerja keras untuk mencari makan dan memenuhi kebutuhan mama dan adik-adikku."
Serena menghelas napas, saat mengingat tentang mama dan adik-adiknya, ia selalu teringat pada Marvin. Pria sulit dipahami yang tega menyitanya sekaligus membantunya.
...***...
_______
"A-apa?! Apa aku tidak salah lihat?!"
Serena menggosok matanya. Ia terbelalak saat melihat mobil milik Marvin terparkir di depan vila. Gadis itu terpaku. Tidak mau turun dari mobil padahal Indri sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Tunggu Indri. Aku melihat penampakan. I-itu ada mobil dia. Kuharap aku salah lihat," sambil menunjuk mobil milik Marvin.
"Hahaha. Itu memang mobil Pak Bos, Nona. Nona tidak salah lihat."
"A-apa?! Kenapa dia ke sini?! Ya ampun, rasanya aku ingin kembali ke salon. Kamu turun duluan saja Indri, aku akan tetap di dalam mobil. Katakan saja kalau aku masih ada di salon." Serena tidak mau turun. Ia menutup pintu mobil dan bersembunyi.
"Baik, aku pergi ya, Nona." Indri tidak mau memaksa. Lagi pula, Serena tidak akan bisa kabur karena kunci gerbang vila ini ada di tangannya.
...***...
"Nona Serena mana?" tanya Edrick. Matanya mencari-cari.
"Hehehe, dia kaget saat melihat mobil Pak Bos. Jadinya sekarang bersembunyi di dalam mobil dan tidak mau turun."
"Ya ampun, Nona Serena lucu ya," Edrickpun terkekeh.
"Di mana dia?!"
Indri dan Edrick terkejut saat suara itu memecah obrolan mereka. Seketika terdiam dan saling menatap.
__ADS_1
"Serena di mana?!" Marvin bertanya lagi dan matanya mengitari ke sekeliling.
"Nona Serena ada di dalam mobil Pak Bos." Indri yang menjawab.
"Kok bisa?!" Marvin bertolak pinggang.
"Katanya kaget melihat mobilnya Pak Bos," timpal Edrick.
"Gadis itu!" Marvin bergegas ke parkiran.
Indri dan Edrick kembali bersitatap dan mengangkat bahu mereka. Lalu pergi untuk mengerjakan tugas masing-masing. Jika ada Marvin, maka semua hal yang berhubungan dengan Serena akan diurus oleh Marvin. Kecuali Marvin sendiri yang memintan mereka untuk mengatasi Serena.
...***...
"Serena!"
Marvin mengetuk kaca mobil, lalu mengintipnya ke dalam. Gadis itu sedang berjongkok dan menempelkan wajahnya ke kursi. Mau bertemu Marvin, jantungnya jadi berdebar. Ia yakin jika debaran ini adalah sebuah refleksi dari rasa takutnya.
"Serena!"
Karena Serena diam saja, ia membuka pintu mobil dari luar yang memang tidak dikunci oleh Indri. Matanya langsung menatap pada rambut pendek Serena, dan ia kurang suka Serena berambut pendek.
"Serena!"
Ia menarik bahu Serena. Serena berusaha menolak, namun lagi-lagi, selalu kalah karena kekuatan Marvin memang bukan tandingannya.
"Pak Bos."
Serena duduk namun ia tetap tertunduk. Niatnya ingin berakting menangis, namun airmatanya sulit keluar.
"Kenapa dipotong sependek ini, hah?!" Marvin mengacak rambut Serena.
"A-aku mau model baru. Tidak apa-apa, 'kan? Nanti juga tumbuh lagi."
Akhirnya berani mengangkat kepalanya. Tangannya segera memainkan dasi Marvin untuk mengalihkan pria itu.
"Cepat turun!" Marvin malah menarik tangannya dan membawa Serena ke dalam vila.
"Ke-kenapa suka sekali menarik tanganku?! Sakit tahu!"
"Kamu itu merepotkan ya! Cepat! Saya tidak punya banyak waktu."
...~Next~...
__ADS_1