ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
SISI KELAM


__ADS_3

Ternyata, Marvin membawa Serena ke kamarnya. Tapi kali ini bukan kamar yang biasa ditempati Serena. Melainkan kamar Marvin. Ia kemudian mendudukkan Serena di sofa santai.


"Ke-kenapa ke sini?"


Serena mengitari keadaan kamar yang nuansanya begitu maskulin. Warna cat dinding dan furniturenya didominasi oleh warna hitam, putih, dan abu-abu.


"Siapa yang melakukannya, hah?!"


Marvin mengecek tangan Serena. Sisa-sisa ikatan itu ternyata masih membekas di pergelangan tangan Serena.


"Kenapa Anda menanyakannya?! Bukankah Anda senang kalau aku tersakiti?!"


"Apa?! Yang boleh menyakiti kamu hanya saya, Serena! Cepat katakan! Siapa namanya?! Anak laki-laki atau perempuan! Kalau kamu tidak mau menjawab! Saya akan mencari tahu!" sentaknya sembari mencengkram dagu Serena.


"Kalau aku mengatakannya, memangnya apa yang akan Anda lakukan?!" Ia memegangi tangan Marvin yang bertengger di dagunya.


"Saya akan mengeluarkan dia dari sekolah! Beraninya dia mengganggu ---."


Bibir Marvin langsung terdiam. Tidak mungkin di hadapan Serena ia mengatakan 'gadisku.'


"Mengganggu siapa?! Katakan saja kalau aku ini mainan kamu! Ya, 'kan?!" tuduh Serena.


"Jangan membuat saya emosi! Cepat katakan! Siapa?!" Sambil menekan kening Serena dengan keningnya hingga kepala Serena bersandar pada sandaran sofa.


"Baik, aku akan mengatakannya, tapi tolong jangan ikut campur! Aku hanya ingin perpeloncoan itu tidak ada lagi di sekolah tersebut. Jadi tolong jangan bertidak berlebihan!"


Serena menjelaskan sembil mengalihkan pandangan. Hembusan napas hangat Marvin yang beraroma khas membuat Serena tidak konsentrasi. Ia yakin jika pria ini selalu menggunakan vitamin penyegar mulut.


"Serena, dengar ya! Kalau kamu dibully terus-menerus, kamu akan stres! Itu karena sistem limbik di tubuh kamu merekam aktivitas bullying! Lalu otak kamu akan menterjemaahkan bully itu sebagai acaman dan memicu stres! Jika kamu benar-benar stres, prestasimu akan terhambat! Paham?!"


"Anda bilang stres?! Aku tidak akan mudah stres hanya karena bullyan. Semenjak papaku bangkrut, aku sudah sering dibully dan hal itu tidak berdampak pada prestasiku! Aku tetap bisa belajar dengan baik! Aku justru stres karena Anda Pak Bos Marvin Mahesa Jacob!" teriaknya sambil mendorong dada Marvin.


"Apa katamu?!"


"Ya a-aku baik-baik saja! Jadi Anda tidak perlu ikut campur!"


Namun mata gadis itu tiba-tiba berkaca-kaca. Ternyata, apa yang dikatakannya adalah sebuah kebohongan. Faktanya, di sekolah lamanya, Serena sangat menderita akibat bullyan tersebut.


Bullying itu telah menghancurkan kondisi jiwanya, khususnya kondisi kepercayaan dirinya terhadap orang lain. Hal ini memicunya untuk menghindari semua orang yang ditemuinya. Itu karena Serena selalu merasa malu dan ia kesulitan untuk membangun kepercayaan diri dan semangatnya.


Alhasil, dia tidak punya semangat untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sepulang dari sekolah, Serena sering menghabiskan waktunya untuk mengurung diri di kamar. Serena juga tidak berani bercerita pada mamanya karena tidak ingin membuat mamanya khawatir dan menambah beban sakitnya.


"Sejak kapan kamu dibully di sekolah lama kamu? Apa sejak papamu bangkrut?"


Melihat mata Serena yang berkaca-kaca, Marvin jadi tidak tega menghardiknya. Ia bicara pelan sambil duduk di samping Serena.


"Se-sebelum papaku bangkrut, a-aku sudah dibully," lirihnya.


Serena menunduk sambil merematkan jemarinya. Sebuah kebiasaan yang selalu dilakukannya saat merasa tertekan atau terpojokkan.


"A-apa?! Kenapa kamu bisa dibully?! Di sekolah seelit itu kamu masih dibully?! Bukankah di sisi kamu selalu ada pengawal?! Lalu kerja mereka apa saja?! 'Kok mereka tidak menolong kamu?!"


Marvin jadi emosi. Napasnya sampai naik-turun karena menahan amarah. Sungguh, ia baru mengetahui fakta ini.


"Pe-pengawalku tidak selamanya berada di sisiku. Mereka hanya menjagaku saat aku ke kantin, dan melakukan kegiatan di luar sekolah," jelasnya. Lalu gadis itu menutup wajahnya dan menundukkan diri hingga wajahnya menempel ke pangkuan. Marvin membisu.


Serena. Ternyata gadis itu adalah korban bullying. Pantas saja jika ia lebih suka menyendiri. Di balik kisah kemewahan hidupnya hingga dijuluki sebagai 'princes,' gadis itu ternyata pernah merasakan hidup di tengah ketakutan yang teramat dalam.


"Huks."


Serena menangis. Ia mengingat kembali perlakuan buruk yang pernah dialaminya. Gadis itu pernah merasakan kondisi di mana ia hanya bisa melihat teman-teman yang lain bersenang-senang bersama, tanpa pernah merasakan hal yang sama. Hal itu karena Serena merasa takut untuk bersosialisasi dengan orang lain.


"Serena."


Tangan Marvin terulur. Perlahan mengusap punggung Serena.


"Ke-kenapa aku berani menceburkan diri ke kolam renang dan berpikir untuk mati? Itu karena aku pernah depresi berat. Dulu, aku pernah ingin mengakhiri hidupku. Namun berhasil ditolong oleh pengasuhku. Lalu aku meminta pada mereka agar tidak menceritakan kejadian itu pada mama atau papaku. Huks, jika mereka berpikir aku sangat bahagia dengan kekayaanku pada saat itu, mereka salah besar."


"Serena."


Marvin kembali mendekat hingga tubuhnya menempel pada Serena.


"A-aku hanya pura-pura bahagia dengan kehidupan mewahku."

__ADS_1


Marvin merenung. Ia tahu jika korban bully seringkali menunjukkan berbagai gejala masalah psikologis, bahkan setelah perundungan berlangsung. Kondisi yang paling sering muncul ialah depresi serta gangguan kecemasan. Pantas saja jika gadis ini selalu memberontak dan membuat masalah hingga membuat Manda angkat tangan karena merasa tidak mampu menanganinya.


Selain itu, pengaruh bullying pada kesehatan mental remaja dan anak ialah rasa sedih, rendah diri, kesepian, hilangnya minat pada hal yang biasa mereka sukai, serta perubahan pada pola tidur ataupun pola makan.


Ia jadi paham kenapa Serena begitu manja dan takut tidur sendirian. Sedikit demi sedikit, pria itu mulai memahami kondisi Serena.


"Apa yang mereka lakukan? Atas dasar apa mereka membully kamu? Kenapa tidak pernah melapor, hmm?"


Yang tadinya ingin memarahi Serena, akhirnya tidak jadi. Ia menarik bahu Serena agar menghadap ke arahnya.


Sebagai orang dewasa yang berpendidikan, Marvin paham benar jika efek bullying di kemudian hari akan menyebabkan gejala psikosomatis seperti masalah psikologis yang memicu gangguan pada kesehatan fisik. Hal ini tidak hanya berlaku pada orang dewasa, tapi juga berlaku pada anak-anak dan remaja seperti Serena.


"Mereka ...."


Serena Perlahan menghadapkan tubuhnya pada Marvin. Ia tidak menduga jika kehidupan kelam di sekolah lamanya akan diceritakan pada pria ini. Pria yang bahkan menjadi bagian dari sumber masalah dalam hidupnya.


"Ayo ceritakan pada saya, Serena. Jangan takut."


Marvin menengadahkan dan menangkup wajah Serena. Namun kali ini dengan perlakuan yang lembut.


Korban bullying juga sering kali mengalami kesulitan untuk tidur nyenyak. Sekalipun dapat tidur, tidak jarang waktu tersebut justru dihiasi oleh berbagai mimpi buruk. Pantas saja saat tidur dengannya, Serena sering mengigau, menunjukkan ekspresi sedih, dan memanggil-manggil mamanya.


"Mereka membully tu-tubuhku ..., ju-juga membully kekayaanku," jelasnya.


Bibirnya sampai gemetar karena menahan dan memendam kepiluan dan luka mendalam di dalam dirinya.


"A-apa?"


Marvin mengusap air mata di pipi Serena. Perasaannya pada gadis ini jadi terasa semakin membingungkan.


"Me-mereka menilai tubuhku terlaku seksi dan menuduhku melakukan operasi di bagian bokong dan dadaku, huks. Padahal, a-aku juga tidak pernah meminta dilahirkan dalam keadaan seperti ini." Sambil menggelengkan kepalanya.


"A-apa? Berengsek!" Marvin kembali emosi.


"Lalu apa lagi yang mereka katakan! Cepat ceritakan Serena! Jangan diam saja!" Ia mengguncang bahu Serena. Namun setelah itu, Marvin segera memeluk Serena.


"Maaf," lanjutnya. Ia mengusap lembut rambut Serena.


"Mereka selalu menuduh ji-jika kekayaan papaku tidak sewajarnya. Sebelum sindikat judi itu diketahui, su-sudah ada yang menuduh jika papaku adalah bandar judi. Huks, padahal selama aku sekolah di sana, papa tidak pernah menunjukkan identitasnya. A-ada juga yang menuduh papaku terlibat korupsi."


"Serena."


"A-aku tidak berani cerita pada siapun karena takut jika dugaan mereka benar adanya. Huuu."


"Serena."


Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Marvin.


"Huuu, a-ada banyak siswa durjana yang memintaku menunjukkan bukti jika tubuhku bu-bukan hasil operasi," terangnya. Lalu tangisanya kian membesar.


"Apa?! Apa kamu menunjukkannya?! Katakan pada saya Serena!"


Tangan Marvin mengepal. Ia sampai berdiri sambil me-re-mas kuat rambutnya.


"Huuu."


Serena tidak menjawab. Gadis itu beringsut, memeluk lututnya dan terisak-isak. Marvin mencoba menenangkan diri. Lalu kembali mendekati Serena dan memeluknya.


"A-aku tidak tahu kenapa bisa aku menceritakan kisah kelam ini pada Anda. Harusnya, a-aku tidak menceritakannya pada siapapun. A-apa lagi pada Anda."


"Serena! Cepat katakan! Apa kamu pernah membuktikan dan menunjukkannya?! Atau, apa kamu sengaja menunjukkannya sebagai pembuktian?! Katakan pada saya Serena! Dan saya pastikan orang yang melecehkan kamu akan mati di tangan saya!" tandasnya.


"Ke-kenapa? Ke-kenapa Anda memedulikanku? Intinya, setelah mereka tahu aku bangkrut, mereka semakin puas membullyku."


"Bukan itu yang saya tanyakan Serena! Cepat katakan! Apa ada pria lain yang menyentuh tubuhmu selain saya?!" teriaknya.


Lalu ia menyentuh pelan bagian tubuh Serena yang diduga temannya telah dioperasi.


"Jika a-aku mengatakan ada, a-apa Anda akan menuduhku sebagai wanita murahan? Kalau aku mengatakan tidak ada, a-apa Anda akan mempercayainya?"


"Katakan saja Serena! Jangan bertele-tele! Baik, saya ingatkan lagi! Kamu itu milik saya Serena! Dan saya akan menghancurkan orang-orang yang berani menyentuk milik saya! Paham?!"


Ia mengungkung Serena dan menghidui tubuh gadis itu. Napas Marvin memburu. Dadanya seolah panas membara manakala pikirannya secara otomatis membayangkan ada pria lain yang melihat dan menyentuh tubuh indah milik Serena.

__ADS_1


"A-Anda ti-tidak perlu tahu! Huuu, aku menyesal telah menceritakan ini pada orang yang jelas-jelas telah melecehkan sekujur tubuhku! Kamu bahkan sudah mengambil kesucianku Marvin!" teriak Serena.


"Apa?! Cepat katakan Serena! Jangan membuat saya penasaran! Atau saya akan mengambil dan merusak kembali kesucian kamu!"


Kali ini seraya menyingkap baju Serena dan menyematkan dua tanda cinta pada tubuh gadis itu.


"Uhh, mmm .... Huks. K-kamu gila! Kamu mesum, Marvin!" Serena meronta.


"Makanya, cepat ceritakan dan jujur pada saya Serena!"


Ia merapikan kembali baju Serena. Lalu beranjak mendekati wajah gadis itu untuk membersihkan airmatanya. Marvin membersihkan air mata Serena dengan bibirnya. Sungguh perlakuan manis yang membuat Serena semakin membecinya.


"Huuu." Serena terus menangis.


"Hei, jangan menangis lagi." Marvin menangkup pipinya.


"To-tolong jangan memperlakukanku seperti ini. Please ..., jangan memberikan kasih sayang serta harapan palsu dan semu terhadapku, Pak Bos. Bi-biarkan aku membenci Anda seutuhnya, jangan membuat perasaanku terperangkap di dalam kubangan dilema seperti ini." Gadis itu sedang mengiba pada Marvin.


"Ma-maksud kamu?"


"A-aku sudah terluka dan menderita, aku telah menyimpan banyak kenangan pahit dan derita di lubuk hatiku. Ja-jadi ..., bisakah Anda tidak menambah luka di tubuhku lagi?"


"Serena." Marvin mengecup pipi gadis itu.


"Luka yang menganga di dalam batinku sangat besar, Pak Bos. Aku menanggung malu saat papaku jadi gunjingan publik, dan aku teramat menderita kala dibully habis-habisan oleh teman-temanku. Huks, setiap malam, aku juga harus mendengar tangisan mama dan adik-adikku. A-apa di hati Anda tidak ada sedikit saja rasa iba untukku?"


Marvin mematung. Ia menatap Serena dengan tatapan yang mulai meredup.


"Si-silahkan Anda menikmati tubuhku sesuka hati Anda, ta-tapi tolong .... Tolong bantu aku agar bisa menghindar dari perasaan ini." Serena memukuli dadanya. Marvin menahan tangannya.


"Sudah kubilang jangan menggunakan hati dan perasan kamu! Kamu mengerti?! Saya musuh kamu! Orang tua kita berseteru! Pahami hal itu Serena!"


"Ta-tapi aku tidak bisa!" Serena menggelengkan kepalanya.


"Harus bisa! Harus!" tegas Marvin.


"Huuu. Aku takut Pak Bos! Aku takuuut!" teriaknya sambil memalingkan wajah.


"Apa yang kamu takutkan, Serena?!"


"Huuu. A-aku takut ... aku takut menyukai Anda," jawabnya. Lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan terisak-isak.


Marvin terpaku. Ia segera mendudukkan dirinya di bawah sofa, menatap langit-langit kamar, dan memegang dadanya yang tiba-tiba bergemuruh.


"To-tolong bunuh saja a-aku Pak Bos. Jika bunuh diri adalah perbuatan dosa, mungkin ... akan lebih baik kalau aku dibunuh saja," lanjut Serena.


"Tapi ... Tuhan melaknat para pembunuh yang melakukan pembunuhan dengan sengaja. Sebagai manusia biasa, saya juga tidak mau mendapat siksa neraka gara-gara membunuh kamu," sahut Marvin.


"Baiklah, kalau begitu ... kuharap Anda bekerja keras dan terus menyakiti perasaanku. Semoga apa yang Anda lakukan bisa membuatku mati lebih cepat," ujar Serena seraya mengusap tanda merah yang baru saja disematkan oleh Marvin pada tubuhnya.


Bukan, ini bukan tanda cinta seperti yang dikatakan orang pada umumnya. Bagi Serena, ini adalah tanda penyiksaan.


"Saya juga terluka, Serena. Apa kamu berpikir kalau saya baik-baik saja? Tidak, saya tidak baik-baik saja," gumam Marvin.


Pada akhirnya, keduanya hanya terdiam dan larut dalam perasaan masing-masing.


"Serena."


"Pak Bos."


Di detik yang sama, mereka saling menyapa. Bahkan saling menatap di waktu yang bersamaan.


"Kenapa?"


Kata itupun mereka ucapkan secara bersamaan. Serena jadi spontan tersenyum. Pun dengan Marvin. Keduanya jadi saling memandang sambil tersenyum.


Lalu entah siapa yang memulainya, keduanya saling mendekatkan diri. Marvin lantas meraih tangan Serena dan menuntunnya ke tempat tidur.


Setelah Serena terbaring, Marvin melepaskan dasinya. Lalu membuka satu persatu kancing kemejanya hingga tubuh bagian atasnya polos. Serena menatap Marvin tanpa bersuara, dan ia terus menatap wajah Marvin saat tangan pria itu membuka satu-persatu kancing baju milik Serena.


Apa yang akan mereka lakukan? Entahlah.


...~Next~...

__ADS_1


 


__ADS_2