
Serena gundah, saat ia terbangun di jam tiga malam. Marvin tidak ada di sampingnya. Entah kemana pria itu pergi. Marvin tidak izin, pun tidak memberikan penjelasan apapun pada Hendrik.
Saat ini sudah pukul 9 pagi, dan Marvin belum kembali. Serena menunggunya dan ia cemas. Ia bahkan belum memakan menu sarapan pagi yang disiapkan oleh Hendrik.
"Pak Bos pasti baik-baik saja. Lebih baik Nona sarapan dulu," bujuk Hendrik.
"Dia jahat! Sudah menjadi kebiasaan dia pergi permisi dan datang tanpa kabar!" Serena sepertinya ingin menangis. Namun ia tahan agar Hendrik tidak bisa melihat sisi melankolisnya.
"Saat pergi, Pak Bos tidak mengatakan apa-apa Nona. Dia hanya amanat agar aku menjaga Nona. Itu saja."
"Kamu tidak bertanya dia akan pergi kemana?!"
"Aku tidak berani Nona."
"Ish! Aku benci sama kamu Hendrik!"
"Jangan membenciku Nona. Kalau bayi yang dikandung Nona mirip dengan wajahku bagaimana?" canda Hendrik. Maksudnya untuk menghibur Serena.
"Apa?! Tidak lucu!"
Serena semakin kesal. Ia beranjak sambil menghentakkan kakinya. Namun, saat ia membalikkan badan, pria yang ditunggunya telah kembali. Serena terdiam dan langsung memasang wajah masam.
"Serena."
Setelah melempar koper kecil yang dibawanya pada Hendrik, Marvin mendekat dan memeluk Serena.
"Aku tidak mau dipeluk!" sentak Serena. Ia menepis tangan Marvin dan kembali menghentakkan kakinya.
"Serena, saya pergi untuk mendapatkan beras dan sebongkah berlian. Tidak memberi tahu kamu karena saya tidak ingin menganggu tidur kamu. Maaf ya." Marvin meraih tangan Serena. Namun kembali ditepis.
"Aaa!" Hendrik beteriak tiba-tiba dan membuat Serena terkejut dan segera menoleh.
Tampaklah Hendrik tengah memelototi koper yang di dalamnya berisi emas batangan yang kemilau warna keemasannya benar-benar menyilaukan.
"Apa ini emas asli?!" Mata Hendrik masih membelalak.
"Itu emas asli 24 karat. Di bawahnya ada surat-suratnya. Kamu cepat jual, jangan lupa buka rekening dan ATM baru. Oiya, cepat belanja kebutuhan ya," jelas Marvin. Sementara Serena, ia masih menatap emas batangan tersebut sambil menautkan alisnya.
"Ba-baik Pak Bos." Tangan Hendrik gemetar saat ia memberanikan diri menyentuh emas-emas tersebut.
"Pak Bos! Dari mana Anda mendapatkan emas sebanyak itu?!" Serena heran sekaligus penasaran.
"Serena, dengan emas-emas itu, saya bisa membeli apapun yang kamu mau."
"Pak Bos! Jelaskan dulu! Anda dapat dari mana?! Jangan-jangan emas-emas itu hasil pencurian! Aku tidak sudi diberi makan dari harta yang berasal dari hal-hal yang tidak baik!" teriak Serena sambil berlalu meninggalkan Marvin.
"Serena tunggu!" Marvin memegang tangannya.
"Lepas!"
"Ya, ini memang hasil merampok!" teriak Marvin.
"Apa katamu?!" Serenapun beteriak lebih keras.
__ADS_1
"Tapi saya mengambil hak saya! Jadi apa yang saya lakukan tidak sepenuhnya salah!" sanggah Marvin.
Sementara Hendrik, ia hanya bisa menunduk menyaksikan pertengkaran tersebut.
"Apa?! Jadi Anda berpikir merampok itu benar?! Dasar anak mafia!" celetuk Serena spontanitas. Ia sendiri sampai kaget dengan ucapannya.
"Apa kamu bilang?! Oh, hahaha. Apa kamu tidak pernah becermin Serena?! Lihat dan sadarlah dari mana kamu berasal! Kamu juga anaknya bandar judi! Uang yang dipakai untuk membesarkan kamu juga tidak terjamin kebaikannya!" tegas Marvin tanpa berpikir panjang.
"A-apa?!" Mendengar kalimat tersebut, Serena benar-benar marah. Ia menggigit bibirnya yang gemetar karena menahan tangisan.
"Serena." Marvin mendekatinya. Ia mengatur napasnya dan berusaha keras agar emosinya mereda.
"Aku membenci kamu Marvin Mahesa Jacob! Kalau kamu mengakui aku sebagai anak bandar judi yang tidak berguna! Harusnya kamu tidak menikahi dan menghamili aku! Aku minta cerai! Cepat ceraikan dan pulangkan aku ke rumah mamaku!" Serena tidak bisa menahan lagi tangisnya. Ia berurai air mata.
"A-apa? Serena. Saya tidak bermaksud seperti itu. Ma-maaf ---."
"Atau kalau kamu tidak bisa memulangkan aku, kamu bisa membuangku ke laut!" teriak Serena sambil terus menepis tangan Marvin yang berusaha memeluknya.
"Serena. Saya salah, saya minta maaf."
Marvin memberi isyarat pada Hendrik agar segera pergi. Hendrikpun bergegas sambil membawa koper.
"Aku mau sendiri dulu!" Serena berlari ke arah kamar.
"Serena! Jangan berlari! Kamu sedang hamil!" Marvin mengejar.
"Apa pedulimu?! Kamu hanya menjadikan aku sebagai pemuas! Kamu tidak benar-benar mencintaiku 'kan?!" tuduh Serena sambil berusaha menutup pintu kamar dan mencegah Marvin masuk. Namun usahanya gagal.
"Apa?! Jadi seperti itu penilaian kamu pada saya?! Kalau saya tidak mencintai kamu, saya tidak mungkin melangkah sejauh ini Serena!"
"Saya merampok ke rumah saya sendiri! Saya mengambil aset saya yang dirampas oleh papa! Apa itu salah, Serena?!" Marvin sampai bertolak pinggang dan mengepalkan tangannya.
"Tetap saja namanya mencuri! Itu artinya Anda tidak bisa hidup susah! Harusnya kita belajar hidup susah di pulau ini dan memulai semuanya dari nol! Aku maunya seperti itu!" Tidak mau kalah dari Marvin, Serenapun bertolak pinggang. Agar lebih tinggi dari Marvin, ia bahkan sengaja berdiri di atas kasur.
"Apa katamu tadi?! Dari nol?! Hahaha! Sekarang lihat ini!" Marvin tiba-tiba mengambil kotak skin care milik Serena.
"Hei, apa yang akan kamu lakukan Marsupilami?!"
"Lihat skin care kamu!" Marvin melempar beberapa botol skin care milik Serena ke atas kasur.
"Marsupilami!" Serena memungutinya.
"Kamu bilang tadi mau memulainya dari nol, kan?! Tapi harga lipstik kamu saja bisa untuk makan satu bulan! Belum lagi parfum kamu! Merek yang kamu gunakan selalu brand dunia! Itu baru membahas lipstik dan parfum! Saya belum membahas semua barang-barang mewah dan mahal yang melekat di tubuh kamu!"
"A-apa?! Berarti selama ini kamu tidak ikhlas menafkahi aku?!"
"Bukan! Bukan saya tidak ikhlas! Tapi saya sadar diri kalau kamu sudah terbiasa dengan kemewahan sejak kecil! Maka dari itu saya harus tetap kaya demi memenuhi semua kebutuhan kamu! Kamu paham?!"
"Huuaaa, aaa. Tega-teganya kamu mengungkit semua pemberianmu pada istrimu sendiri! Kamu jahat Marvin! Aku tidak mau memakai lagi barang-barang dan baju dari kamu!" Serena membuka bajunya dengan cepat dan melemparnya pada Marvin.
"Cukup Serena!"
"Silahkan ambil semuanya! Aku bisa memakai baju yang paling murah! Aku juga tidak perlu skin care lagi!"
__ADS_1
Serena melempar skin care yang ada di atas kasur ke hadapan Marvin. Beberapa merek ada yang terlempar ke lantai dan pecah karena Marvin tidak berhasil menangkapnya.
"Baik. Sekarang kamu buka saja semuanya! Semua yang melekat di tubuh kamu!" teriak Marvin.
"Ya!" sentak Serena.
Lantas Marvin melongo saat Serena benar-benar melakukan titahnya. Melihatnya, Marvin jadi tidak tahan. Ia segara mendekat dan mengekang tangan Serena.
"Biar saya yang membukanya!" tegasnya. Lalu dengan gerakan cepat, pria itu mengikat tangan Serena.
"Marsupilami! Apa maumu, hah?!" Serena meronta.
"Kamu yang memulainya Serena!" Sambil merangkum pipi Serena dan merenggut bibir Serena kuat-kuat.
"Mmmhhh...."
"Kamu?!" Serena marah. Rasanya ingin menampar Marvin, namun tangannya terikat.
"Apa kamu mau merasakan bagaimana sensasinya bercinta dengan mafia?" bisik Marvin.
"A-apa?! Marsupilami! Jangan gila kamu ya! Aku tidak mau!" Serena berusaha melawan dan menutup diri. Namun tenaganya tentu saja tidak sebanding dengan tenaga Marvin.
"Mari kita selesaikan pertengkaran ini sampai kamu puas dan menyerah." Sambil mengusap tubuh Serena dan tersenyum sinis.
"Marvin! Aku tidak mau! Aku sedang marah!"
Serena berusaha menggunakan kakinya untuk menghindari Marvin. Namun kaki jenjang yang indah itu, telah terlebih dahulu berada di bawah kuasa Marvin.
"Kka-kamu ---." Serena tersentak. Marvin baru saja melakukan hal yang membuat bulu romanya berdiri dan tubuhnya berdesir hebat.
"Ja-jangan! Ma-Marvin! Hen-tikaaan!"
Serena kembali meronta. Namun lagi-lagi, usahanya sia-sia. Tenaga Marvin bukanlah tandingannya. Pria itu sedang berusaha menguasai tubuh Serena.
"Hiks ...." Serena menangis perlahan, memejamkan mata, dan memalingkan wajahnya.
"Kamu boleh saja marah dan menolak saya. Tapi tubuh kamu ... jelas menginginkan dan menyukai saya," bisik Marvin. Serena terus memalingkan wajahnya yang memerah. Ia tidak ingin bersitatap dengan pria itu. Serena membencinya. Tapi di sisi lain, ia juga menyukainya. Perasaan itu membuat Serena kesal dan bingung.
"Nikmati saja Putri Eren."
Marvin kembali berulah. Kali ini, ia melakukan hal-hal yang lebih nakal dari sebelumnya. Serena terjerembab, terpojok, dan terjerat. Serena marah, dan kesal. Namun tubuhnya justru memberikan reaksi yang sebaliknya. Hingga akhirnya, Serena pun menyerah.
Setelah berhasil membuat Serena mengalunkan nada-nada cinta, Marvin membuka pengikat di tangan Serena.
"Maaf jika saya keterlaluan," gumamnya sambil mengusap dada Serena yang naik-turun karena mengatur napas. Marvin kemudian membalikan badan dan hendak beranjak. Namun tubuhnya tertahan karena Serena tiba-tiba memegang tangannya.
"Ke-kenapa? Masih belum puas marahnya?" Marvin melirik. Ia sudah menduga jika hal ini akan terjadi.
"A-aku belum membalas perbuatan Anda!" tegas Serena sambil menarik tubuh Marvin ke arahnya.
Marvin mengulum senyum, dari sorot mata Serena, pria itu bisa memahaminya. Ia pun membalas tatapan Serena sambil memosisikan tubuhnya. Beberapa detik kemudian, tatapan dua insan itu berubah menjadi tatapan nanar. Jelas sekali jika keduanya sama-sama saling membutuhkan dan mengingingkan.
Detik berikutnya ... adegan mereka tidak bisa dideskripsikan lagi. Udara di pesisir pantai memang panas, namun sepertinya tidak lebih panas dari udara yang memenuhi kamar Marvin dan Serena.
__ADS_1
...~Next~...
Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.