ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
KE HOTEL


__ADS_3

Ternyata, jarak yang mereka tempuh untuk menuju ke kediaman mama Serena tidak terlalu jauh. Serena tak menyangka jika Marvin menyembunyikan mama dan adik-adiknya di daerah ini. Saat ini, Serena sedang memainkan ponsel barunya dengan perasaan riang-gembira. Ini adalah ponsel sederhana yang harganya tidak terlalu mahal.


"Sebentar lagi kita akan sampai Nona. Sekitar lima menit lagi," jelas Indri.


"Aku sudah tidak sabar Indri." Mata gadis itu berbinar-binar.


"Itu rumahnya Nona." Indri menunjuk ke salah satu rumah.


Menurut Indri, Marvin membeli satu unit perumahan tipe residence untuk ditinggali mama Serena dan adik-adiknya.


"Wah, cepat Indri! Aku sudah tidak sabar!"


Walaupun tidak semewah dan semegah rumahnya yang dahulu, namun rumah ini jauh lebih baik jika dibanding dengan rumah kontrakan yang sebelumnya.


Jatung Serena seketika itu juga berdegup kencang saat melihat mama yang ia rindukan sedang mengangkat jemuran di halaman rumah. Lalu ia melihat Rio sedang menyuapi Via.


"Indri! Berhenti! Aku turun di sini saja!" Serena tidak sabaran.


"Baik Nona."


Serena membuka pintu mobil dengan terburu-buru. Langsung berlari dan beteriak. Untungnya, unit rumah di area itu terlihat sepi. Jadi, tidak ada yang menyaksikan momen mengharu biru ini kecuali Indri.


"Mamaaa!" teriak Serena.


Bu Putri yang sedang mengangkat jemuran tentu saja terkejut. Ia sampai menjatuhkan jemuran kering yang berada di pelukannya. Baru saja ia membayangkan kedatangan putrinya. Eh, Serena benar-benar datang, dan ia masih menyangka jika gadis berambut pendek di hadapannya itu adalah halusinasi.


Bu Putri baru menyadari jika itu bukan halusinasi saat Rio dan Via berlari berhamburan ke pelukan Serena. Lalu sebuah mobil yang ia kenali masuk ke garasi, dan ia tahu jika itu adalah mobil Indri yang tidak lain adalah orangnya Pak Bos Marvin.


"Eren!"


Ia berjalan pelan, menutup bibirnya, dan melelehkan air mata yang spontan jatuh begitu saja. Serena, gadis yang ia rindukan telah kembali. Hatinya yang rapuh dan sepi, perlahan menghangat.


"Ma-Mama ...."


Setelah puas menciumi Rio dan Via, Serena berhambur ke pelukan bu Putri. Lalu menangis sejadi-jadinya dalam dekapan wanita ringkih itu. Bibir Indri gemetar saat menyaksikan pertemuan itu. Ia berusaha keras agar tidak terbawa suasana.


"Sayang ..., putri Mama. Huks."


Bu Putri mendekap erat tubuh Serena. Walaupun rambut putrinya berubah menjadi pendek, ia melihat jika Serena tampak semakin cantik dan dewasa. Itu artinya, pria itu mengurus putrinya dengan baik. Jadi, kekhawatirannya selama ini sedikit demi sedikit memudar.


"Kakak sudah selesai ya acara sekolahnya? Apa ada mainan untuk Via?" Gadis kecil itu belum memahami situasi. Ya, namanya juga anak kecil.


"Via, mainan Via 'kan sudah banyak," protes Rio.


"Tadaaa, ada mainan," seru Indri.


Ia ternyata menyembunyikan sebuah boneka dan buku di belakang tubuhnya. Barang tersebut dibelinya saat ia mengantar Serena membeli ponsel. Via senang. Gadis itu meloncat-loncat kegirangan karena koleksi bonekanya akan bertambah. Rio diam saja, ia memang seperti dewasa sebelum waktunya. Saat ini, Rio sedang melipat tangan di dadanya sambil menyandarkan tubuh pada tiang rumah. Sungguh gaya yang cool sekali.


Lelaki yang memiliki sifat cool biasanya tidak suka mencari perhatian, tapi uniknya semua tindak tanduknya selalu menjadi pusat perhatian. Biasanya, laki-laki dengan sifat seperti ini memiliki keahlian khusus sehingga dengan skillnya itu ia bisa menjadi pusat perhatian khususnya oleh para wanita.


Teori kecoolan ternyata telah dipelajari oleh Rio. Ia masih kecil, namun uniknya, bocah itu menyukai buku-buku dewasa termasuk buku tentang pria dewasa. Maksudnya buku pelajaran orang dewasa, bukan buku orang dewasa dalam 'tanda kutif.'


"Boneka Moana? Wah, lucu sekali," seru Via.


"Ini untuk Rio."


Ternyata, buku yang dipegang Indri adalah untuk Rio. Indri mengetahui kenyaatan jika Rio menyukai bacaan orang dewasa saat ia tidak sengaja melihat Rio membaca buku filsuf tentang sejarah dunia di toko buku. Saat itu, Indri ditugaskan oleh Marvin untuk mengajak Via dan Rio jalan-jalan ke mall. Kejadiannya terjadi saat Indri membawa Rio dan Via dari rumah sakit.


"Terima kasih." Rio segera mengambilnya dan tersenyum.


"Nak, kenapa kamu ke sini? A-apa tidak apa-apa kalau kamu ke sini?" Bu Putri khawatir. Ia takut putrinya itu sengaja kabur dari Bos Marvin.


"Ma, lihat. Ini Indri. Indri, cepat jelaskan pada Mama," kata Serena sambil terus memeluk bu Putri.


"Pak Bos yang menyuruhku membawa Nona Serena ke sini, Bu," jelas Indri.


"Be-benarkah? Syukurlah kalau begitu. Berarti, dia tidak terlalu jahat dan masih punya hati nurani." Bu Putri bahagia.


"Ya sudah, mari kita masuk," ajaknya. Bu Putri menarik tangan Serena dan Indri agar segera masuk.


"Kak Marvinnya tidak ikut?" tanya Rio saat mereka sudah berada di ruang tamu.


Bocah itu sedang membaca buku dari Indri sambil menopang kaki. Indri sampai tersenyum melihat gaya Rio. Sementara Via, gadis kecil itu sudah berada di kamarnya dan bermain boneka.


"Kak Marvinnya sedang sibuk," jawab Serena asal.


"Suami 'kok begitu?" sahut Rio dan hal itu membuat bu Putri, Indri dan Serena terkejut. Terutama Indri.


"Hei, Rio. Kenapa kamu berkata sembarangan?"


Bu Putri panik. Segera memeluk putranya. Mata Serena mengerjap. Pikirnya, dari mana adiknya tahu kalau ia dan Marvin sudah menikah? Indri masih termangu.


"Haish, Rio pernah dengar obrolan papa dan mama kalau Kak Eren sudah menikah dengan Pak Bos Marvin. Lalu di rumah sakit, Rio pernah melihat Kak Eren dan Kak Marvin berpelukan. Kenapa pada bengong 'sih? Ish, jadi orang dewasa itu ribet ya!" jelas Rio seraya berlalu dari ruang tamu dan terus menggerutu.


"Ja-jadi, Nona Serena dan Pak Bos ---." Indri menutup bibirnya.


"Indri, tolong rahasiakan ini dari siapapun. Pernikahan ini rumit." Serena memegang tangan Indri.


"Saya yakin Bu Indri orang baik dan dapat dipercaya."


Bu Putripun memegang tangan Indri. Ia takut informasi ini akan membuat putrinya semakin kesulitan.


"Aku bisa menjaga rahasia. Nona Serena, maafkan aku karena sudah menuduh Nona sebagai simpanannya Pak Bos. Aku minta maaf, tolong jangan melaporkan ucapan lancangku pada Pak Bos," pintanya sembari bersimpuh di hadapan Serena.


"Indri, kamu berlebihan. Bangun!" Serena menarik bahunya. Lalu mereka berpelukan.


"Ada banyak yang terjadi di balik pernikahan ini. Jika melakukan kesalahan, saya takut anak saya celaka. Suami saya dan orang tuanya Pak Bos Marvin pernah berseteru," terang bu Putri sambil mengusap airmatanya.


"Aku paham." Indri merangkul bu Putri.


"Ya sudah, kalian cepat bersih-bersih. Setelah ini kita makan bersama ya. Di rumah ini ada tiga kamar. Bu Indri boleh menggunakan kamar yang di pojok sana. Ini kamar saya. Ini kamar anak-anak," jelas bu Putri.


"Aku mau tidur sama Mama," pinta Serena. Sedari tadi seolah tidak mau lepas dari merangkul mamanya.

__ADS_1


"Aku tidur di sofa depan TV saja, Bu. Khawatir Pak Bos Marvin berkunjung ke sini," tolak Indri.


"Apa?! Dia tidak mungkin ke sini 'kan Indri?!" Serena terperanjat mendengar penuturan Indri.


"Kemungkinan, Nona. Aku juga tidak yakin. Tapi untuk jaga-jaga, aku lebih baik tidur di ruang TV saja."


Setelah mandi dan melakukan rutunitas, Serena kembali pada mamanya. Ia terus memeluk mamanya, bu Putri bahkan menyuapinya.


"Dasar anak manja," ledek Rio. Yang ternyata lebih suka membaca daripada menonton TV.


"Manja juga tidak apa-apa," bela Via yang sedang meyuapi bonekanya dengan angin alias makanan bohong-bohongan.


"Hihihi," Serena terkekeh.


...***...


"Oiya Ma, kapan Mama cuci darah lagi?"


"Nanti ada ambulance yang menjemput Mama. Biasanya mengabari sehari sebelumnya. Sayang, Mama jadi bingung, sebenarnya ... Bos Marvin itu orang jahat bukan 'sih?" tanyanya setelah mereka berada di kamar dan bersiap untuk tidur.


"Aku juga bingung, Ma. Aku bingung pada sikapnya. Dia 'tuh kadang-kadang baik, kadang juga galak. Kadang juga manja kayak bayi," jelas Serena.


"Hah? Manja kayak bayi bagaimana, Eren?" Bu Putri mengernyitkan alisnya.


"Emm, hahaha. Aku malu menceritakannya sama Mama."


Pipi gadis itu memerah. Melihat wajah putrinya merona dan menutupi wajahnya sambil senyum-senyum, bu Putri jadi paham. Ia memeluk Serena dan berbisik, "Apa Pak Bos lembut? Atau suka kasar saat melakukannya?"


"Ma-Mama." Serena membalas dekapan mamanya. Ia bingung harus dari mana memulai ceritanya.


"Cerita sama Mama, sayang. A-apa dia memperlakan kamu dengan baik? Atau dia hanya memperalat tubuh kamu?" Bu Putri menangkup pipi Serena. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada Serena selama ini.


"Mama ...." Mata Serena mulai berkaca-kaca.


"Kenapa sayang? Walau Mama tidak bisa berbuat banyak, setidaknya ... Mama harus tahu keadaan kamu." Tangan kurusnya mengusap rambut Serena.


"Pak Bos, dia .... D-dia baik."


Jelas 'lah Serena tidak akan menceritakan detail perasaannya pada siapapun. Ia akan memendam perasaan dilema itu hingga sang waktu menjawabnya. Lagi pula, Serena tidak ingin kerisauan dan kegundahan hatinya turut dirasakan oleh mamanya.


"Syukurlah kalau dia baik. Apa kamu juga melayaninya dengan baik?"


"Maksud Mama?"


"Sayang, biar bagaimanapun, dia tetaplah suami kamu. Jadi, kamu harus berbakti pada dia, Eren."


"Tapi Ma, pernikahan kita hanya didasari oleh hutang-piutang dan dendam. Bagi Pak Bos, Papa adalah musuhnya, dan dia pernah berkata kalau aku adalah gadis yang telah menyebabkan adiknya meninggal."


"A-apa? Jadi, dia sudah menceritakan kejadiannya?"


"Aku tidak mengerti cerita apa. Hanya itu yang dia katakan."


"Mama juga tidak tahu detail ceritanya, sayang. Kejadiannya terjadi di luar negeri. Pada saat itu, Papa meminta Mama dan adik-adik kamu pulang terlebih dahulu. Harusnya 'kan kita berlibur seminggu, tapi di hari kedua liburan kita sudah pulang. Kamu masih ingat, 'kan? Saat itu, Mama protes sama Papa, dan Papa menjawab ada urusan genting dengan Pak Jacob. Setelah kejadian itu, Papa sering bulak-balik ke luar negeri dan Mama dilarang mencari tahu."


"Tidak apa-apa, Ma."


Ada banyak hal yang sebenarnya ingin diceritakan pada mamanya. Namun, ia tidak ingin membebani mamanya. Serena kembali memeluk mamanya. Ia sedang meluapkan kerinduannya. Bu Putri mengusap punggung Serena hingga gadis itu terlelap dan tidur nyenyak di dalam dekapannya.


...***...


Pada jam satu malam, ponsel baru Serena menyala. Bu Putri tidak berada di samping Serena karena sedang bersama Rio dan Via di kamar yang lain. Awalnya, Serena enggan menerima panggilan itu karena merasa jika tidurnya malam ini sangatlah nyaman.


Tapi karena terus berbunyi dan mengganggunya, ia terpaksa mengambil ponsel tersebut.


"Siap 'sih?!"


Heran karena ini HP baru dan nomornyapun baru. Serena melupakan seseorang yang besar kemungkinan telah mengetahui nomornya.


"Halo! Siap ya?! Ini sudah malam! Ganggu tahu!" teriaknya.


"Saya." Hanya satu kata namun berhasil membuat Serena langsung terbangun.


"P-Pak Bos?!" Matanya membulat.


"Cepat buka pintu gerbangnya! Saya ada di depan rumah kamu!"


"Apa?!"


Serena langsung berdiri dan berjalan cepat ke luar. Dugaan Indri ternyata tepat. Pria itu benar-benar datang.


"Cepat buka dan jangan membangunkan yang lain termasuk Indri! Kamu sendiri yang harus menyambut saya!" titahnya.


Ya ampun, Serena jadi gugup. Ia mengendap-endap melewati Indri yang tidur di depan ruang TV dan tentu saja sambil sibuk mencari kunci gerbang.


"Cepat! Saya ngantuk!"


"Sabar dong! Aku lagi cari kuncinya! Lagi pula, kenapa Anda harus ke sini?! 'Kan bisa tidur di vila, di vila lebih nyaman daripada di sini!"


"Apa katamu?! Kamu tidak suka saya ke sini?! Baik, tidak perlu mencari kunci! Saya akan kembali lagi!"


Marvin merajuk saat Serena telah menemukan kunci.


"Ti-tidak. Jangan pergi. A-aku senang Anda ke sini. Aku minta maaf. Tolong jangan marah."


Tangan Serena sampai gemetaran saat ia hendak membuka kunci pintu. Ia takut Marvin tersinggung dan benar-benar pergi.


"Baik, saya hitung sampai lima, dan kamu harus sudah berhasil membuka pintu gerbang di detik ke lima."


"Apa?! I-ini bukan permainan Pak Bos! Kenapa Anda suka sekali membuatku tegang?!" Serena jadi panik.


"Saya memang suka melihat kamu tegang dan gemetar. Satu! Dua!" Marvin mulai berhitung.


"Beri aku waktu sepuluh detik!" Serena benar-benar panik.

__ADS_1


"Tidak bisa!"


Bibir Marvin menyeringai. Ia sudah bisa melihat Serena keluar dari rumahnya sambil memegang HP dan kunci. Wajah gadis itu terlihat panik, sampai beberapa kali menjatuhkan kunci gerbang.


"Tiga!"


"Aaa! Anda benar-benar ya!"


Serena sudah berlari menuju gerbang dan saat ini sedang berusaha membuka kunci gerbang.


"Empat!" Marvin semakin gencar mengerjai Serena.


"Pak Bos, tolong tambah lagi waktunya! Aku tidak pernah membuka gembok! Dan ini kuncinya banyak sekali!"


Serena kesulitan, ia tidak bisa langsung mencocokkan merk kuncinya karena penerangan di area itu temaram.


"Lima! Kamu gagal!" seru Marvin. Ia membuka kaca mobil.


"Pak Bos, apa Anda mau pergi?"


Gadis itu melongokan kepalanya melalui celah gerbang. Marvin menatapnya. Tingkah Serena benar-benar lucu.


"Hei, sembarangan sekali kamu memasukkan kepala ke situ? Kalau tidak bisa dikeluarkan bagaimana?"


Fix, Serena jadi ada ide.


"Pak Bos! Tolong! Kepalaku tidak bisa keluar!" Serena meronta, kepalanya begerak-gerak.


"Apa?!"


Marvin segera turun dari mobilnya dan mengambil kumpulan kunci dari tangan Serena. Segera menuju sisi gerbang untuk membuka gembok dari luar.


"Awh, Pak Bos, ce-cepat, kepalaku sakit." Kini, giliran Serena yang membuat Marvin panik.


"Tunggu." Marvin ternyata bisa membuka pintu gerbang dengan cepat.


"Tada, hehe." Serena sudah berdiri di hadapan Marvin.


"Kamu?! Beranianya mengerjai saya!" Marvin menarik tangan Serena dan memasukan gadis tersebut ke dalam mobilnya.


"Ma-maaf Pak Bos." Serena terkejut.


'Brak.' Marvin menutup pintu mobilnya, dan setelah ia duduk, Serena tiba-tiba memeluknya.


"Kamu merayu saya?! Saya marah! Saya mengira kamu terjepit sungguhan! Lain kali, jangan mempermainkan saya lagi!" tegasnya. Namun ia tidak menolak pelukan Serena.


"Huks." Serena malah menangis.


"Hei, kenapa? Jangan cengeng ya Serena!" Ia menengadahkan kepala Serena.


"A-aku mau bilang terima kasih Pak Bos. Terima kasih karena Anda mengizinkan aku bertemu Mama dan adik-adik, huuu ... terima kasih," ujarnya dengan lirih dan terbata-bata. Marvin terdiam. Dengan perlahan, iapun memeluk Serena.


Andai kamu bukan putrinya ..., batin Marvin.


Ia mengusap lembut rambut Serena. Lalu keduanya terdiam tanpa kata. Serena bisa mendengar jantung Marvin yang berdegup kencang.


"Serena," panggil Marvin pelan.


"Ya."


"Kita ke hotel yuk!" ajaknya.


"A-apa?! Anda tidak menginap? Kalau aku pergi, Mama akan mengira kalau aku diculik."


"Tenang, saya akan mengabari Indri."


"Kenapa harus ke hotel Pak Bos?"


"Kamu lupa dengan janji kamu?"


"Janji apa?"


"Janji akan menuruti apapun permintaan saya."


"Ya, aku ingat."


"Baiklah, saya mengabari Indri dulu."


Serena mengangguk. Ia memang tidak punya kuasa untuk menolak Marvin.


"Pindah ke depan," ajak Marvin setelah mengirim pesan pada Indri.


"Ya." Serena patuh.


"Emm, besok kamu tidak perlu sekolah. Saya sudah mengabari Ermi agar dia membuat surat izin sakit untuk kamu." Mulai melajukan kemudi.


"Kenapa tidak sekolah? Aku tidak sakit Pak Bos."


"Besok kamu harus divisum. Saya akan melaporkan orang yang membully kamu pada polisi."


"Apa?! Tidak perlu, Pak Bos."


"Jangan membantah!"


"Tapi Pak Bos, Anda sudah janji tidak akan ikut campur, 'kan?"


"Saya tidak suka ada orang yang menyakiti kamu, saya tidak rela," tandasnya. Serena terdiam.


Lalu Marvin mengenggam tangannya. Perlakuan Marvin yang seperti ini, benar-benar membuatnya dilema.


_______


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2