ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
LIMA DETIK


__ADS_3

Serena teramat kesal. Bisa-bisanya pria jahat itu melecehkannya.


"Hoek, hoek."


Ia bahkan ingin muntah karena merasa mual. Tapi tidak ada yang keluar setetespun.


"Aaargh! Marvin Mahesa Jacob! Kamu pria gilaaa!" teriaknya dan kembali meninju air kolam.


Lalu Serena berenang untuk melampiaskan kekesalannya. Setelah lelah, ia mengecek bajunya yang ternyata masih basah.


"Sampai kapan aku menunggu baju ini kering? Gara-gara dia aku jadi basah! Haish, bodo amat! Aku pakai saja 'lah!" Daripada dicari lagi oleh Manda, Serena berpikir lebih baik segera ke kamarnya. Ia tidak peduli kalaupun bajunya basah.


Ia mengendap keluar dari area kolam renang. Berharapnya 'sih tidak bertemu siapapun.


"Dari mana kamu, hah?" Seseorang menarik ujung baju Serena. Siapa lagi kalau bukan Manda.


"Bu Manda? Hehehe, maaf Bu. Tadi aku tersesat terus tidak sengaja tercebur ke kolam," kilahnya.


"Kolam?! Tercebur lagi?! Ya ampun Serenaaa! Bagaimana caranya aku bisa percaya sama kamu?! Tadi pagi kamu bilang tidak sengaja jatuh! Terus, sekarang jatuh lagi?!"


"Aku tidak berbohong Bu Manda!" Langkah Serena terhenti sejenak.


"Di mana kamu jatuh, hahh?! Di kolam ikan?!"


"Kolam ikan? Memangnya di apartemen ini ada kolam ikan?"


"Ada."


"Aku terjatuh di kolam renang, Bu."


"Apa?! Di kolam renang?! Ya ampun Serenaaa! Itu 'kan kolam renang milik Pak Bos! Berani sekali kamu masuk ke sana! Kalau Pak Bos tahu, kamu bisa dihukum Serena!"


"Emm, aku 'kan tidak tahu, Bu. Namanya juga tidak sengaja." Serena tidak memedulikan Manda. Tetap berjalan menuju kamarnya.


"Ya sudah, aku malas berdebat lagi sama kamu Serena. Keberadaanmu bukan tanggung jawab aku lagi. Pak Bos Marvin yang akan menangani kamu." Manda menghela napas sambil mengusap lehernya. Semenjak ada Serena, lehernya jadi sakit akibat sering beteriak.


"Baiklah, dadah Bu Manda. Oiya, apa Nona Clara suka menginap di sini?" Serena tiba-tiba menanyakan itu pada Manda.


"Nona Clara? Kenapa kamu bertanya tentang kekasihnya Pak Bos?" Manda keheranan.


"Ya aku mau tahu saja. Kalau Bu Manda tidak mau memberitahu ya tidak masalah. Biar nanti kutanyakan langsung pada Nona Clara secara langsung saat dia ada di sini. Dengar-dengar, hari ini dia mau ke sini."


"Apa?!"


Penjelasan Serena membuat Mada terkejut.


"Dari mana kamu tahu?"


"Dari ramalan bintang," jawab Serena asal.


"Serius dong Serena. Aku bukan orang yang percaya dengan ramalan bintang."


"Aku juga tidak percaya. Percaya itu 'kan harus sama Tuhan, bukan sama bintang," sahut Serena.


"Bu Manda."


Seseorang memanggil Manda. Ia ternyata adalah Hugo. Melihat kedatangan Hugo, Serena berjalan cepat agar segera tiba di kamarnya. Kejadian di kolam renang membuat Serena malu pada Hugo. Walaupun faktanya Marvin yang memulainya, tapi Serena tidak mungkin menjelaskan kejadian sebenarnya pada Hugo.


"Ada apa, Hugo?"


"Nona Clara mau datang. Kamu tolong atur semua kebutuhan dan perlengkapannya."


"A-apa?!" Jadi yang dikatakan Serena itu bukan hoax. Manda melongo.


"Permisi," kata Hugo. Ia memang tipe orang yang tidak pandai berbasa-basi. Hanya bicara yang penting-penting atau langsung pada intinya saja.


"Semuanyaaa! Kumpuuul!" teriak Manda. Ia tentu harus segera mengatur strategi untuk menyambut kedatangan Clara.


Apa Nona Clara sangat diistimewakan? Batin Serena. Gadis itu mendengar dengan jelas teriakan Manda.


"Lebih baik kalau aku di kamar saja." Serena segera mengunci pintu dan ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Selesai mandi dan mengganti bajunya, Serena merenung. Dalam keadaan sendirian seperti ini, hati gadis itu berubah rapuh. Kerinduan pada keluarganya membuncah. Tidak, Serena tidak merindukan papanya, ia hanya merindukan mama dan adik-adiknya.


"Huks."


Ia tertelungkup, membekap kepalanya dengan bantal dan menangis. Andai Marvin memberinya HP canggih, mungkin ia bisa melepas rindu dengan melakukan VC.


"Aku harus memohon pada manusia itu agar bisa bertemu mama. Atau setidaknya dia harus memberiku HP yang bisa video call. Awas saja kalau kamu tidak memenuhi permintaanku. Akan kuumumkan pada semua orang akan kalau kamu memaksa menciumku."


"Aaarrggh!"


Jadi teringat lagi adegan itu. Bibir hangat dan lembut milik Marvin seolah terasa kembali.


"Marvin gila!" Serena mengamuk di tempat tidur.


...***...


Marvin sedang mengemudikan mobilnya menuju bandara. Matanya fokus pada jalanan, sesekali tersenyum sambil mengusap bibirnya. Entah hal apa yang dipikirkan pria itu. Apa ia mengingat sesuatu?


Karena khawatir bertemu dengan awak media yang mengenalnya, saat memasuki area bandara Marvin segera memakai masker, kaca mata dan topi. Ia juga telah meminta pada Clara agar tidak memberitahu keberadaannya di negara ini pada media.


Popularitas Clara yang merupakan putri pejabat negara sekaligus pengusaha ternama, memang tidak diragukan lagi. Selain itu, Clara yang pernah menjadi finalis ajang kecantikan, membuat namanya semakin melambung saja. Sebenarnya, banyak rumah produksi yang ingin bekerja sama dengan Clara, namun wanita cantik berusia 25 tahun itu menolak tawaran tersebut dan memilih fokus pada studinya.


"Kamu di mana?" Marvin menelepon Clara.

__ADS_1


"Aku sudah melihat kamu honey. Dari jarak sejauh ini, kamu terlihat tampan, aku ada di sisi utara, yang paling cantik," jawab Clara.


"Baik, saya ke sana."


Marvin sudah menemukan sosok yang dicarinya. Ia melangkah panjang dan mendahului beberapa orang di hadapannya. Clara menutup telepon, lalu melambaikan tangan pada pujaan hatinya. Ia menatap Marvin seraya tersenyum. Merasa bangga dan bahagia karena pria gagah, tampan, kaya-raya dan terkenal dermawan itu adalah kekasihnya.


"Honey," Clara tidak bisa menahan diri. Saat Marvin berada jangkauannya. Ia segera merangkul Marvin. Marvinpun demikian, ia mendekap Clara dan mencium puncak kepala kekasihnya.


"Im longing you, baby," bisik Marvin.


"Me too, honey," sahut Clara. Matanya bahkan berkaca-kaca. Ia menghidu aroma tubuh Marvin berulang-ulang.


"Bagaimana kalau pelukannya dilanjut di dalam mobil?" ajak Marvin sambil merapikan topi besar yang dipakai Clara.


"Sebentar lagi honey, dua puluh detik lagi," pinta Clara.


"Emm, okey," Marvin setuju.


...***...


Setelah berada di dalam mobil, mereka kembali berpelukan. Clara bahkan beberap kali menciumi leher Marvin.


"Rara, ehm ...." Mervin menahan tangan Clara yang menelusuri rahangnya.


"Why?" tanya Clara. Sementara matanya sudah terfokus pada bibir Marvin.


"Saya sedang sariawan," jawab pria itu.


"Really?" Clara cemberut.


"Yes baby," lalu Marvin mengecup kening Clara. Clara menghela napas saat Marvin memakaikan sabuk pengaman.


Marvin melajukan kemudi sambil memegang tangan Clara. Clara bergelayut manja di bahu Marvin.


"Bagaimana kuliahnya? Lancar?" Marvin memecah keheningan.


"Lancar dong honey. Kalau aku sudah lulus, kata papa, kita akan membicarakan pernikahan kita. Papa juga sudah membicarakan masalah ini sama papa kamu."


"Oya?"


"Vin, 'kok respon kamu biasa saja 'sih?" Clara langsung cemberut.


"Maaf baby, saya bercanda. Masalah pernikahan, pastinya akan dirundingkan lagi. Lagi pula, kamu masih setahun lagi 'kan Ra kuliahnya? Masih lama."


"Ya, aku tahu. Maunya 'sih dipercepat Vin." Clara yang manja menggoda Marvin, tangan gadis itu merayap ke bagian tubuh Marvin.


"Ra, kamu masih ingat kesepakatan kita, kan?" Marvin menahan tangan Clara.


"Ya, aku tahu. Tapi ...." Clara tidak melanjutkan kalimatnya karena di luar sana ia melihat jajanan kesukaannya.


"Jangankan rambut nenek, rambut emaspun akan saya belikan," ucap Marvin sambil menepikan mobilnya. Demi kekasihnya, ia rela berjalan di trotoar dan membeli jajanan kaki lima.


...***...


"Selamat datang Nona Clara."


Ia disambut hangat oleh para pelayan. Marvin menggandeng Clara. Mata Marvin menyisir. Pun dengan Clara. Ia menatap satu-persatu pelayan. Berharap bisa segera menemukan pelayan baru yang katanya mencurigakan.


"Halo semuanya, aku Clara. Salam kenal untuk kalian yang belum mengenalku." Clara memperkenalkan diri. Padahal seluruh pelayan telah mengenalinya.


"Vin, apa kamu merekrut pelayan baru?" tanya Clara.


"Apa?" Marvin yang tengah mencari keberadaan Serena sedikit terkejut.


"Apa kamu merekrut pelayan baru?" Clara mengulang pertanyaannya.


"Ya," jawab Marvin singkat.


"Yang mana?"


"Untuk apa kamu mengenalnya? Tidak terlalu penting juga bukan?"


"Emm, ya juga, 'sih," sahut Clara.


...***...


"Nona Clara, ini aku. Manda." Manda berdiri di depan kamar Clara.


"Masuk," sahut Clara.


"Baik Nona."


"Ada apa Nona?" tanya Manda setelah ia berada di kamar Clara.


"Aku ingin mendapatkan informasi tentang karyawan baru yang bernama Serena."


"A-apa? Serena?"


Lagi dan lagi Serena membuatnya terkejut. Padahal, ia sudah lepas tanggung jawab dari mengurusi Serena. Tak dinyana, sekarang malah kekasihnya Pak Bos yang bertanya tentang Serena.


"Ya, Serena. Kamu jelaskan asal-usul dia dari mana, terus tolong kamu panggilkan dia untuk ke kamarku. Aku ingin dilayani secara khusus oleh pelayan baru yang bernama Serena.


Gawat. Serena tidak bisa apa-apa. Mana bisa ia melayani Nona Clara. Batin Manda.


"Kenapa diam?"

__ADS_1


"Em, be-begini Nona, Serena belum bisa apa-apa. Aku khawatir dia tidak bisa melayani Nona dengan baik."


"Aku ada tas branded yang sudah bosan kupakai. Apa kamu mau?" Clara membuka kopernya dan menunjukkan tas yang ia maksud.


Adegan selanjutnya sudah bisa ditebak. Ya, Manda menjelaskan semua hal yang ia ketahui tentang Serena pada Manda.


...***...


Serena merasa lapar. Namun ia bingung harus meminta makan pada siapa. Orang-orang di apartemen ini sedang fokus pada Clara Judith.


"Apa aku telepon manusia itu saja? Kata Manda, manusia itu yang akan menanganiku. Berarti dia juga bertanggung jawab sama perutku, 'kan?"


Serena kemudian menelepon Marvin. Sayangnya, Marvin tidak menerima panggilannya.


"Sial! Dia pasti sedang kumpul kebo sama kekasihnya! Cih, menjijikkan!"


Serena bergidik. Ia membayangkan jika Marvin dan Clara sedang melepas rindu dengan melakukan hal yang bukan-bukan.


"Kenapa orang tua mereka tidak menikahkan mereka saja?! Tunggu, kenapa aku kesal? Itu 'kan urusan mereka." Serena menghela napas.


Karena merasa sangat lapar, Serena memutuskan keluar dari kamarnya. Dengan penuh percaya diri, ia berjalan menuju dapur dan berencana meminta makan malam pada pelayan yang berada di sana.


"Wahh," serunya. Langkahnya terhenti saat melihat hidangan super lengkap di atas meja makan.


"Apa aku boleh memakan ini?" gumamnya. Ia mendekat ke sana. Serena sampai menelan salivanya karena tergiur oleh hidangan tersebut.


Seperti biasa, gadis itu tidak suka berpikir panjang. Setelah memastikan tidak ada siapapun, Serena mengambil piring dan mengambil beberapa hidangan yang disukainya. Sengaja tidak mengambil nasi agar tidak ketahuan. Rencananya, ia akan membawa hidangan curian itu ke kamarnya.


Namun, saat ia hendak kembali ke kamarnya, ia mendengar derap langkah yang sedang menuju ke area ini.


"Gawat!" Serena panik.


"Aduh, bagaimana ini?"


Langkah kaki itu kian mendekat. Serena mendengar ada suara Marvin dan seorang wanita. Itu pasti Clara, batinnya.


"Selamat menikmati menu makan malam Pak Bos dan Nona." Itu suara Manda.


Karena merasa terdesak dan tidak memiliki kesempatan untuk menghindar, Serena akhirnya bersembunyi di bawah meja makan. Syukurlah, taplak mejanya besar dan nyaris menyentuh lantai.


"Hufth, aman ...." Serena merasa lega.


Dari tempat ini, Serena juga bisa melihat sepatu Marvin dan Clara.


Bodo amat! Yang penting aku bisa makan.


Serena tidak peduli. Ia segera menikmati makanan curiannya sambil memyimak obrolan Marvin dan Clara.


"Terima kasih ya honey, makanannya banyak sekali." Itu suara Clara.


"Saya bahagia melihat kamu senang," sahut Marvin.


Menyebalkan! Batin Serena.


"Ya sudah, kita makan yuk honey."


"Oke baby."


Honey dan baby? Cih, menyebalkan! Sok imut! Sok romantis! Rutuk batin Serena. Lalu Serena terkejut saat sebuah sendok jatuh ke kolong meja. Entah itu sendok siapa.


"Kamu lanjutkan makannya, biar saya yang ambil sendoknya. Ini, pakai sendok yang baru ya." Berarti yang jatuh adalah sendok milik Clara.


Gawat!


Jantung Serena berdegup. Sendok itu ada di ujung kakinya. Bagaimana kalau Marvin memergokinya.


Oh, tidaaak.


Serena meletakkan piringnya. Lalu mencari ide agar ia tidak ketahuan. Sayangnya, belum juga ada ide, ia sudah melihat tangan Marvin menyingkap ujung taplak meja dan menunduk untuk mengambil sendok.


DEG.


Di detik pertama keduanya terkejut. Mata mereka bertemu dan membelalak. Serena tertangkap basah. Detik selanjutnya, Marvin yang kaget tentu saja akan beteriak secara alamiah.


Namun sebelum Marvin beteriak, tepatnya didetik ketiga, Serena segera membungkam bibir Marvin dengan bibirnya. Dibungkam kuat-kuat. Mirip seperti yang telah dilakukan oleh Marvin pada Serena di kolam renang. Kini giliran mata Marvin yang membelalak. Detik ketiga berlalu sangat cepat, dan didetik ke empat, Serena dengan kemampuan alakadarnya berusaha memperdalam jalinan itu.


"Honey?"


Di detik ke lima, Clara memanggil Marvin. Bersaman dengan itu, Serena melepaskan Marvin dan meletakkan jari telunjuk di ujung bibirnya.


"Ssst," ucap Serena pelan.


"Ya, baby."


Marvin mengambil sendok, menutup alas meja, kembali ke posisi semula, dan melonggarkan dasinya.


"Kenapa?" Clara heran karena setelah mengambil sendok, wajah Marvin sedikit memerah.


"Tidak ada apa-apa, honey. Kita lanjutkan makannya ya," ajak Marvin.


Sementara di kolong meja, Serena sedang menyesali kebodohannya.


'Kok bisa aku kepikiran mencium bibirnya? Aaa, tidaaak ....


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2