ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
"SERENAAA!"


__ADS_3

"Serenaaa!"


Marvin terus mencari dan memanggil namanya setelah ia bertanya dan menyuruh petugas keamanan untuk membantu menemukan Serena.


"Saya tidak melihat."


"Saya tidak lihat."


"Maaf, saya juga tidak melihat."


Itu yang dikatakan resepsionis, petugas keamanan dan juga tamu hotel yang kebetulan ditanya oleh Marvin.


"Dia tidak mungkin sudah keluar dari hotel," gumamnya.


Hal itu diperkuat oleh pernyataan petugas keamanan yang berada di pintu keluar. Mereka mengatakan tidak melihat sosok yang ditunjukkan oleh Marvin keluar dari hotel. Ya, Marvin menunjukkan foto Serena yang ada di ponselnya.


"Di mana kamu?!" teriaknya sat ia menelepon Indri. Marvin terlihat panik, ia memasygul rambutnya berulang kali sambil mondar-mandir.


"A-aku ada di lobi hotel Pak Bos." Jelas, Indri tentu saja merasa heran karena bosnya itu tiba-tiba membentaknya.


"Serena hilang! Kamu cepat ke sini! Bantu saya mencarinya! Telepon Edrick supaya dia segera melapor ke polisi untuk jaga-jaga kalau sampai kita tidak menemukan dia! Cepaaat!" teriaknya lagi.


"Apa?! Nona Serena hilang?! 'Kok bisa?!" Indri terkejut.


"Jangan banyak tanya! Cepat kemari Indri!"


"Ba-baik, Pak Bos." Marvin mengakhiri panggilan.


"Arrrghh! Di mana kamu gadis bodoh!?!" rutuknya.


Pantas saja semalam dia benar-benar nakal! Apa ini penyebabnya?! Apa itu karena kamu sudah berniat untuk meninggalkan saya, Serena?!


Batinnya menduga-duga, Marvin tidak mawas diri. Padahal, Serena memilih pergi lantaran tersinggung dengan perkataan Marvin.


"Bagaimana? Apa sudah ditemukan?!" tanya Marvin saat beberapa orang petugas keamanan menghampirinya.


"Maaf Pak. Kami tidak menemukannya. Ada kemungkinan kalau adik Anda bersembunyi di salah satu kamar hotel. Tapi itu juga kemungkinannya kecil 'sih. Kecuali adik Anda bertemu dengan seseorang yang dikenalnya dan bersembunyi di kamar orang yang dikenalnya tersebut," jelas salah satu petugas keamanan.


"Apa?! Tolong geledah saja seluruh kamar hotelnya! Saya berani bayar berapapun asalkan adik saya bisa ditemukan!" Marvin kian gusar setelah mendengar kabar tersebut.


"Maaf Pak, ini bukan masalah Bapak bisa membayar kami, tapi ini berhubungan dengan privasi tamu hotel. Kami tidak bisa sembarangan melakukan penggeledahan kecuali ada buronan polisi atau DPO. Itu juga harus ada surat resmi perintah penggeladahan," terang yang lain.


"Apa?! Saya ingin bertemu dengan manajer suvervisor kalian! Di mana ruangannya?!" teriak Marvin, kesal.


"Beliau belum datang, Pak."


"Apa?! Hotel macam apa ini?!"


Marvin terus marah-marah. Ia berlalu meninggalkan kumpulan petugas keamanan dengan wajah muram bercampur emosi. Ia berencana akan meminta bantuan polisi agar bisa segera menggeledah kamar dan menemukan kucing nakalnya.


...***...


Sementara itu si Kucing Nakal alias Serena, saat ini telah berada di dalam dekapan seorang pria yang tidak sengaja ditabraknya. Pria itu ternyata adalah orang yang sangat dikenalnya. Serena bahkan tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan pria ini di tempat ini dan dalam keadaan seperti ini. Serena masih terisak-isak.


"Menangislah Eren, menangislah jika dengan menangis bisa membuatmu lebih tenang."


"K-Kak Leon, huuu."


Benar, pria itu ternyata adalah Leon. Kekasihnya yang ia putuskan secara sepihak setelah skandal judi yang melibatkan pak Wandira mencuat ke publik.


"Aku merasa jika ini adalah mimpi Eren. Aku bersyukur dan bahagia karena Tuhan mengabulkan doaku. Aku merindukan kamu Eren." Pria itu menciumi puncak kepala Serena. Matanya berkaca-kaca.


"Aku juga bahagia bisa bertemu dengan Kak Leon. Ke-kenapa Kak Leon bisa berada di sini?" tanya Serena seraya melepaskan diri dari dekapan Leon.


Adegan dewasa yang telah ia lakukan bersama Marvin, membuat Serena merasa bersalah pada pria ini. Serena beranggapan jika tubuhnya telah kotor dan tak pantas untuk seorang Leon.


"Aku sudah lama berada di daerah ini, Eren. Tepatnya semenjak pengawalku menemukan kamu di daerah ini," terangnya. Ia kembali merengkuh tubuh Serena.


"Terima kasih Kak Leon, ta-tapi ... aku tidak bisa berlama-lama dengan Kak Leon, aku harus segera pergi Kak. Aku tidak mau keberadaanku di sisi Kak Leon akan menimbulkan masalah."


"Pergi? Pergi ke mana, Eren? Kamu mau meninggalkan aku lagi, Serena? Aku tidak bisa pisah dari kamu. Aku mencintai kamu Serena. Ayo kita menikah!" ajaknya.


Ia menangkup pipi Serena dan menatap lekat pada wajah cantik jelita yang teramat dirindukannya. Untuk kabur dari rumah demi mencari Serena, Leon telah bersusah-payah. Jadi, pria itu tidak mungkin melepaskan Serena begitu saja.


"Pokoknya aku harus pergi, Kak." Serena beranjak.


Serena bingung harus mengatakan hendak pergi ke mana. Ia tidak ingin kembali ke sisi Marvin, namun juga tidak bisa kembali ke rumah mamanya karena jika ke sana, Marvin pasti akan menemukannya dengan mudah. Tidak mungkin juga ia berada di sisi Leon karena khawatir kehadirannya berdampak buruk pada reputasi Leon dan keluarganya.


"Tidak bisa Eren. Kamu tidak bisa meninggalkan aku lagi. Sampai saat ini, aku tidak pernah merasa putus sama kamu." Leon memegang tangan Serena.

__ADS_1


"Kak, Kakak sudah tahu semuanya, 'kan? Aku berharap Kak Leon memahami kondisinya. Lagi pula, orang tua Kak Leon pasti tidak akan menerimaku."


"Tidak Eren. Mama sudah menerimamu. Masalah papaku, aku yakin bisa menanganinya. Ayo kita kawin lari saja, Eren. Aku pria. Aku tidak butuh restu mereka," paksanya. Ia kembali mendekap Serena.


"Kak, komohon. Aku ingin keluar dari sini dengan selamat. Aku harus pergi, Kak. Aku sedang kabur dari seseorang!" Serena mulai tegas karena Leon mengekangnya erat-erat.


"Serena, kenapa kamu jadi seperti ini? Jelas-jelas tadi kamu sendiri yang memintaku untuk melindungimu. Sekarang kenapa kamu tiba-tiba mau pergi lagi? Apa ini ada hubungannya dengan pria itu? Jelaskan Serena, apa benar kamu jadi wanita bayarannya Bos Marvin?" telisik Leon.


"Bu-bukan, Kak. Aku bukan simpanannya." Aku istrinya, Kak Leon. Lanjutnya dalam hati.


"Baik. Jika bukan, apa kamu ingin pergi dariku karena ingin menemuinya?" Leon melepaskan Serena dan membiarkan gadis itu duduk tenang.


"Kak, aku justru sedang menghindarinya! Aku kabur dari dia!" jelas Serena dan kembali menangis. Ia bersedih lantaran teringat lagi pada ucapan Marvin yang menyakiti perasannya.


"Kamu kenapa bisa terlibat dengan pria sombong itu, Serena?"


"Papaku punya hutang pada Bank Royal, Kak. Kakak pasti sudah tahu."


"Ya, aku tahu. Berapa hutangnya? Aku bisa menolong kamu Serena."


"Kak, ini urusan keluargaku dengan Bank Royal. Tolong jangan melibatkan diri. Hutangnya besar sekali Kak, 17 T."


"Apa?! 17 T." Leon terperangah.


"Papaku tidak bisa membayarnya Kak. Itu belum termasuk bunga dan perjanjian bagi hasil." Sambil mengusap airmatanya.


"Serena, aku tidak bisa melihat kamu menangis. Aku akan memohon pada Papa agar bisa membantu kamu."


"Kak Leon! Cukup Kak! Aku bilang jangan pernah melibatkan diri apa lagi melibatkan keluarga Kakak dalam masalah ini! Aku tidak mau banyak orang terlibat masalah gara-gara aku. Maka dari itu, aku harus segera pergi Kak! Tolong buka pintunya Kak Leon!" pintanya.


"Tidak Eren! Aku tidak mau kehilangan kamu lagi!" Leon mencekal tangan Serena. Tidak hanya mencekal, ia juga berusaha mencium Serena.


"K-Kak Leon, a-aku tidau mau Kak! Lepas!"


Serena meronta. Lepas dari kandang buaya, malah terkurung lagi di kandang singa. Seperti itulah kira-kira kondisi yang bisa menggambarkan keadaan Serena pada saat ini.


"Aku merindukan kamu Serena. Aku sudah tidak sabar ingin memiliki kamu seutuhnya." Leon kian menjadi. Ia merangsek, mengekang Serena, dan memaksa menggiring tubuh gadis itu ke tempat tidur.


"Aaa! Kak Leon! Lepas! A-aku mau jujur Kak! Aku memang benar menjadi wanita simpanannya Bos Marvin! Aku sudah ditiduri dia, Kak Leon! Aku tidak suci lagi!" teriak Serena. Ia berharap pernyataannya itu bisa merubah persepsi Leon terhadap dirinya.


"Apa katamu?!"


Leon mematung sejenak. Ia menatap hampa pada Serena. Ucapan Serena melukai sekaligus membakar lubuk hatinya.


Gigi Leon gemeretak menahan amarah. Ia melepaskan Serena dan memasygul rambutnya.


"Harusnya kamu meminta perlindunganku dari kearoganan pria itu! Bukannya malah memutuskanku secara sepihak dan menghindariku Serena!"


"Kak! Orang tua Kakak sangat berpengaruh! Aku sadar diri Kak! Kalau sampai aku dekat-dekat Kakak, reputasi papa Kakak akan hancur! Kita tidak ditakdirkan untuk bersama Kak Leon! Maka dari itu, tolong lepaskan aku Kak Leon! Aku akan menyimpan semua kenangan indah tentang kita di hatiku. Dan aku akan berdoa agar Kakak bisa mendapatkan gadis yang sepadan dengan Kakak. Bukan gadis hina sepertiku," ujarnya.


"Berani dia meniduri kamu, Serena?! Kurang ajar!"


Leon mengepalkan tangannya. Lalu tiba-tiba menjambak rambut Serena hingga gadis itu tersungkur ke tempat tidur.


"Akhh! Kak Leon?!"


Serena terkejut dengan perlakuan kasar Leon. Biasanya, pria itu selalu lembut. Gadis itu menangis sejadi-jadinya karena ketakutan.


"Jika dia bisa menikmati tubuh kamu! Aku juga harus mendapatkannya Serena! Aku harus menikmati tubuh kamu!" Dengan tergesa-gesa, Leon menarik paksa baju Serena.


"Kak Leon! Huuu, jangan Kak!" teriak Serena. Ia meronta sekuat tenaga yang ia mampu.


"Apa ini?!"


Mata Leon semakin memerah saat mendapati jika di leher Serena dipenuhi dengan kiss mark. Tidak salah lagi, ini pasti perbutan si keparat Bos Marvin!


"Aku tidak ada masalah kalaupun harus menikmati bekas dia! Ohh, tubuh kamu semakin menawan, Serena. Aku akan bertanggung jawab Serena! Setelah ini kita akan menikah!" racau Leon sembari membuka bajunya dengan terburu-buru. Napasnya tidak beraturan dan matanya tidak bisa lepas dari menatap kemolekan tubuh Serena.


"Kak Leon! Jangan! Kumohoon, Kak!"


"Harusnya aku melakukannya sedari dulu!"


Karena terbakar api cemburu, akal sehat Leonpun sirna. Ia mulai menciumi leher jenjang milik Serena seraya merabai tubuh gadis itu. Serena beteriak minta tolong walau ia sendiri pesimis ada yang bisa mendengarnya.


"Tolooong! Aaa! Tolooong!"


Leon tidak sabaran. Melihat Serena yang meronta, hasratnya kian meluap. Ia melepaskan sejenak tubuh Serena guna membuka celana panjangnya. Lalu dengan kekuatan penuh, Serena menendang keras senjata milik Leon.


"Awh!" pekik Leon.

__ADS_1


Ia melengking dan tersungkur ke lantai. Tendangan Serena sangat kuat. Senjatanya benar-benar kesakitan. Sakitnya merambah ke bagian perut hingga membuatnya mual dan pegal linu.


"Ma-maaf Kak!" seru Serena sambil merapikan pakaiannya.


Ia juga tidak menyangka jika tendangannya akan sehebat itu. Serena tidak ingin kehilangan kesempatan, saat Leon masih melengking-lengking, Serena segera merebut kartu kamar yang disembunyikan Leon di kantung celananya. Saat berhasil diambil, Serena segera berlari untuk keluar dari kamar tersebut.


"Awh .... Ja-jangan pergi Serena."


Leon berusaha bangkit. Sial! Ia tidak mungkin mengejar Serena dalam keadaan sebagian tubuhnya terbuka. Ia meraih kembali celananya untuk dikenakan dan bersamaan dengan itu, Serena telah berhasil membuka pintu dan keluar dari kamar.


"Serenaaa! Tunggu!"


Jadi, sekarang ada dua pria di hotel itu yang sedang mencari Serena.


...***...


"Serena terengah-engah. Ia berusaha berjalan biasa saja agar tidak dicurigai. Ia menunduk dan segera mencari area tangga darurat.


"Kita sedang menunggu surat penggeledahannya!" kata seseorang yang posisinya tidak jauh dari tempat Serena berada. Gadis itu berdegup lantaran mengenali suara tersebut.


Indri?


Ya, itu suara Indri. Indri dan beberapa orang petugas keamanan sedang melakukan briefing. Lalu di manakah pria itu? Serena tidak melihat Marvin.


"Serenaaa!"


Terdengar suara Leon. Jelas Serena segera berlari ke arah tangga darurat.


"Hei, Anda siapa?!"


Indri menghalangi langkah Leon. Bagus. Ini kesempatan emas bagi Serena untuk segera menjauh.


"Kamu yang siapa?! Aku sedang mencari kekasihku! Namanya Serena! Minggir!" Leon mendorong badan Indri yang menghalanginya.


"Hei, tunggu!" Indri menahan tangan Leon.


"Jangan ikut campur!" Leon marah.


"Apa kita mencari orang yang sama?" Indri menunjukkan foto Serena pada Leon.


"Apa?!"


Leon terkejut, dan ia yakin jika wanita ini adalah komplotan si pria keparat, Bos Marvin.


"Mana bos kamu?! Aku harus membuat perhitungan dengan dia!" teriak Leon. Teriakannya kemudian mengundang perhatian yang lain.


"Ada apa ini?"


Marvin tiba, disusul dengan kedatangan beberapa orang staf hotel dan manajer supervisor.


"Kamu?!"


Leon tidak sabaran. Ia mengenali wajah Marvin dan tanpa basa-basi, Leon segera menyerang Marvin. Namun belum juga tonjokkannya mengenai wajah Marvin, tubuh Leon sudah terlebih dahulu terpental oleh tendangan Indri.


"Aaa!"


Staf hotel yang perempuan beteriak. Baru kali ini mereka menyaksikan keributan seperti ini.


Marvin menautkan alisnya. Siapakah pria ini? Apakah dia adalah Leon? Marvin tidak mengenalinya. Namun ia malas menelisik lebih jauh. Tujuan utamanya adalah menemukan Serena.


"Tangani dia, Indri! Saya harus menemukan Serena!"


Marvin tidak peduli. Ia berlari ke arah tangga darurat untuk menemukan Serena. Ia sebenarnya sudah melewati area itu. Namun baru ingat jika di samping tangga darurat ada kamar mandi khusus staf yang sepertinya belum dicek. Marvin menduga Serena bersembunyi di sana.


"Baik Pak Bos!"


Indri menyingsingkan lengan baju dan bersiap untuk melumpuhkan Leon. Leon mengatur napas, jika ia meladeni wanita ini, maka ia akan kehilangan kesempatan menemukan Serena.


"Minggir!" teriak Leon.


Ia menepis Indri dan berlari ke sana. Ke arah yang sama dengan Marvin. Indri mengejar Leon dan disusul oleh yang lainnya. Yaitu petugas keamanan, staf hotel dan manajer supervisor.


"Serenaaa!" teriak Leon.


"Serenaaa!"


"Serenaaa!"


Yang lainpun ikut beteriak memanggil nama Serena.

__ADS_1


_______


Apakah Serena akan berhasil ditemukan? Jika ya, siapakah yang lebih dulu menemukannya? Marvin atau Leon? Atau Serena benar-benar bisa meloloskan diri dari kejaran dua pria itu? Entahlah.


__ADS_2