ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
DRAMA TELUR DADAR


__ADS_3

"Ya ampun, bisa-bisa saya merasa kalah dan malu sendiri," rutuk Marvin saat tiba di kamarnya.


Karena situasinya sangat darurat dan sudah mendesak, dengan sangat menyesal Mavin pun terpaksa menuntaskannya seorang diri. Ini perbuatan memalukan dan dosa juga 'sih. Namun Marvin tidak bisa menghindarinya. Mohon jangan ditiru.


Setelah mandi dan melakukan kegiatan rutin, Marvin berencana untuk tidur sejenak. Ya, malam ini Marvin memang kurang tidur.


...***...


Sementara di kamar yang lain, tepatnya di kamar Serena, gadis itu ternyata sudah bersiap. Ia berencana untuk pergi ke sekolah dan tidak mengagendakan belajar di rumah.


"Dia itu buaya sekaligus vampir! Suka sekali menghisap dan menggigitku!" oceh Serena sembari menutupi tanda merah di lehernya dengan foundation.


Setelah siap, gadis itu lantas menunggu panggilan dari Marvin sambil membaca buku pelajaran. Anehnya, ini sudah pukul 07.30 waktu setempat, namun ia sama sekali tidak mendengar tanda-tanda Marvin akan memanggilnya untuk sarapan.


"Dia ke mana ya? Apa sengaja meninggalkanku?"


Serena lantas mengintip ke balik jendela untuk melihat garasi yang memang bisa dilihat dari kamar ini. Mobil Marvin masih terparkir di garasi. Berarti, pria itu masih berada di vila ini. Serena akhirnya keluar dari kamarnya untuk mengecek.


Lalu ia terkejut karena mendapati pintu kamar Marvin sedikit terbuka.


"Halo, Pak Bos?" panggilnya. Serena melongokan kepalanya untuk mengintip ke dalam kamar.


"Hha?"


Marvin ternyata masih tidur. Bahkan belum memakai baju. Hanya memakai boxer sebatas lutut dan sebagian tubuhnya tertutup selimut. Terlihat lelap sekali. Serena masuk ke kamar Marvin dengan mengendap-endap.


Aduh, bangunkan jangan ya?


Serena jadi bingung. Ada rasa tidak tega juga.


"Apa dia libur kerja?" gumamnya.


Jangan-jangan, hari ini Marvin memang sengaja meliburkan diri.


Mana Indri belum datang lagi.


Apa yang harus ia lakukan? Gadis itu berpikir keras.


"Baiklah, aku akan memasak seadanya saja. Kalau aku kesiangan, paling-paling tidak sekolah dan akan mengagendakan belajar di rumah saja," gumamnya saat ia beranjak ke dapur.


...***...


"Ini pertama kalinya aku memasak. Aduh, aku takut kompornya meledak. Kalau meledak, bagaimana dengan wajahku yang katanya cantik ini?"


Tiba di dapur, gadis itu malah berandai-andai kompornya meledak.


Di dapur mana ia akan memasak? Serena bingung lagi. Ada dua dapur berdampingan. Dapur bersih dan kotor. Di dapur kotor memakai kompor gas, lalu di dapur bersih memakai kompor listrik.


"Kamu harus bisa Serena!"


Ia menyemangati dirinya sendiri. Pikirnya, pasti tidak sulit untuk membuat sebuah dadar telur. Ia hanya perlu mengikuti tutorialnya di YT. Serena pun segera menyalakan ponselnya dan mencari tutorial memasak telur dadar sederhana.


"Kenapa tidak dijelaskan cara memilih telurnya? Yang oval apa yang bulat ya? Ah, aku tidak peduli!"


Segera mengambil wadah dan dua butir telur untuk dipecahkan. Ternyata, memecahkan telurpun Serena kesulitan, ada beberapa bagian kulit telur yang masuk ke dalam wadah dan ikut terkocok.


"Hahh? Pakai bawang dan cabai merah juga? Aduh, aku tidak bisa mengirisnya. Tapi akan aku coba," ocehnya.


"Ya ampun! Kamu memang jahat bawang merah! Huks, kamu membuatku menangis."


Serena terisak-isak. Airmatanya bercucuran. Setelah berhasil mengupas bawang merah dengan susah-payah, ia akhirnya berhasil mengirisnya dengan susah payah jua. Kini giliran mengiris cabai merah.


"Ya ampun, bijinya harus dibuang? Oh Tuhan, ini ribet sekali. Aku jadi salut sama pedagang makanan."


Serena berusaha membelah si cabai merah dengan tangan gemetaran.


"Siap ya cabai merah, perutmu akan aku operasi. Wah, anakmu banyak sekali. Maaf ya anak-anak cabai merah, kamu akan aku buang." Maksudnya pada biji cabai.


"Ah, ah! Awh, panas!"


Serena lupa dan baru saja mengucek matanya. Jadilah ia kesakitan. Matanya perih dan panas.


"Ya ampun, ternyata memasak itu sulit ya. Tapi kenapa kelihatanya mudah?"


Serena segera mencuci tangan dan membersihkan matanya. Mata dan ujung hidung Serena, kini tampak memerah.


"Perih," keluhnya.


Sekarang waktunya menyalakan kompor listrik dan Serena memang sudah bisa menyalakannya. Lalu ia mengambil teflon dan melumurinya dengan mentega karena tutorial yang ia temukan adalah memasak dadar telur dengan mentega.


Serius, saat ini, kondisi dapur bersih di vila milik Marvin jadi berantakan. Kulit bawang berceceran, dan peralatan memasak turun semua dari nakas lantaran Serena mencari peralatan yang sama dengan peralatan yang digunakan oleh model pada tutorial. Serena sendiri sampai sulit melangkah karena dapur tersebut kini bak kapal pecah.


"Kenapa jadi begini?"


Ia jadi kaget sendiri saat melihatnya. Saat ini, ia sedang menunggu mentega meleleh. Setelah meleleh, ia akan memasukkan bumbu yang tadi telah diiris. Namun karena kurang hati-hati, sikut Serena malah tidak sengaja menyentuh wadah telur yang telah dikocok dan menjatuhkannya ke lantai.


'PRAK.'


"Oh TIDAK!" pekiknya.


Ia sudah susah-payah mengupas dan mengocoknya. Eh, sekarang malah tumpah. Belum lagi bau anyir dari telur yang tumpah tersebut mulai menyeruak ke permukaan, dan tentu saja mengotori lantai.


"Aaaa!"


Serena nyaris putus asa. Setelah menarik napas dan mulai tenang. Akhirnya mengambil dua telur baru dan kembali mengocoknya. Sama seperti telur sebelumnya, yang sekarang pun masih tercampur dengan sebagian kecil kulit telurnya.


"Apa?!"


Ia terkejut karena teflon berisi mentega yang tadi telah dipanaskan dan digunakan untuk memasak tiba-tiba mengepulkan asap serta mengeluarkan bau gosong.


"Ya Tuhan!"


Ia baru sadar belum mematikan kompor saat mengocok telur yang baru. Segera dimatikan dan menyalakan blower. Namun asapnya sudah terlanjur membumbung tinggi dan terbang ke sana ke mari hingga keluar dari dapur dan aroma gosongnya sampai jua ke kamar Marvin.


...***...

__ADS_1


"Shhp, shhp."


Hidung mancung Marvin spontan menghidu aroma gosong padahal matanya masih terpejam.


"Ba-bau apa ini?!"


Akhirnya mengucek hidungnya dan terbangun, lalu aroma gosong itu terasa semakin menyengat. Marvin yang jiwanya belum terkumpul sempurna, sejenak menggeliatkan tubuhnya.


"Apa?! Jam 7?!" Ia terperanjat kaget.


"Serena?!"


Sekarang kembali tersadar dengan bau gosong, dan tanpa memakai piyamanya, Marvin segera berlari tunggang-langgang menuju dapur.


...***...


"Se-Serena?!"


Tiba di dapur, Marvin hanya bisa tebengong-bengong dan membelalakan matanya. Kondisi dapur yang super berantakan, bau gosong, dan juga Serena yang memasak sambil memakai seragam sekolah, benar-benar membuat Marvin kehabisan kata-kata.


"Pak Bos?! Ehm, hehe. Ma-maaf, dadar telurnya belum matang. Anda duduk dulu di sana ya."


Serena menunjuk ke meja makan. Namun jelas sekali jika wajah gadis itu saat ini tengah gugup dan ketakutan. Dada bidang Marvin yang naik-turun dan tangan kekarnya yang mecengkram kuat pada tiang, sudah cukup membuktikan jika CEO Royal Bank itu sedang marah besar.


"Ya ampun Serenaaa! Apa yang kamu lakukaaan?!" teriak Marvin. Baru bisa bersuara setelah batinnya sedikit tenang.


"Maaf Pak Bos. A-aku sedang belajar memasak. Telurnya sebentar lagi matang 'kok."


Kedatangan Marvin sungguh membuat Serena kian gugup dan kaget. Hingga ia tidak fokus lagi pada tutorial YT. Serena inisiatif mengambil saus untuk membumbui dadar telurnya.


"Dadar telur tidak pakai saus Serena!" teriak Marvin sambil berkacak pinggang dan mulai mendekati Serena dengan menjinjitkan kakinya karena harus menghindari peralatan memasak yang berserakan di lantai. Menghindari serpihan wadah kaca yang pecah, bahkan ada pisau tajam yang nyaris terinjak oleh Marvin.


"Tidak pakai kecap juga!" teriak Marvin saat tangan Serena beralih mengambil kecap.


"Ta-tapikan, a-aku sering melihat dan memakan telur dadar ataupun telur ceplok ada kecapnya," kata Serena sambil menunduk. Tangannya mulai gemetar tidak karuan.


"Ya! Tapi baiknya kecapnya dibubuhkan setelah telurnya matang supaya tidak gosong! Dan memasak telur juga tidak dengan api sebesar ini, Serena!"


Lalu Marvin mematikan kompor gas. Ternyata, setelah membuat teflon gosong di dapur bersih, Serena pindah ke dapur kotor dan menggunakan kompor gas dengan api besar.


"Ma-maaf."


Serena menunduk sambil merematkan jemarinya. Ia menyesalinya. Jika tahu akan seperti ini, ia lebih baik menyiapkan susu hangat dan biskuit saja.


"Kalau belum yakin, jangan pernah berani memasak sendirian, Serena! Kamu harus didampingi!"


Marvin mengangkat telur dadar dari wajan dan langsung membuangnya ke tempat sampah karena menurut Marvin, telur tersebut tidak layak dikonsumsi. Dengan melihat sekilas saja, Marvin sudah bisa menilai jika telur dadar tersebut sangat berminyak, terlalu matang, dan juga tercampur dengan kulit telurnya.


"Ke-kenapa dibuang?! Anda tidak menghargai kerja kerasku Pak Bos!"


Serena marah sekaligus sedih. Di pojokan dapur, gadis itu duduk di kursi dan terisak-isak. Marvin menghela napas. Melihat Serena menangis, ia jadi tidak tega memarahinya. Marvin pun mendekat dan berusaha menenangkan.


"Maaf, saya seperti ini karena khawatir dan takut terjadi apa-apa sama kamu. Kalau tanganmu terluka terkena api atau pisau bagaimana? Terus, kalau kakimu terkena serpihan mangkuk kaca yang pecah itu bagaimana? Makanya saya menyediakan sandal khusus memasak. 'Tuh, sandalnya ada di sana, dan kamu tidak menggunakannya. Kamu juga mengotori seragam sekolah kamu."


Marvin mendekat dan berusaha memeluk Serena. Namun gadis itu malah menghindarinya.


Lalu ia mengambil sapu dan berencana akan membereskan kekacauan ini.


"Jangan," larang Marvin.


"Kenapa?!"


"Biar sama petugas yang bersih-bersih saja. Kebetulan, jadwal mereka adalah datang di hari ini," jelas Marvin sambil memaksa meraih tangan Serena dan memeriksanya.


"A-aku sedang belajar dan berusaha. Ha-harusnya Anda tidak memarahiku. 'Kan akunya jadi takut dan malas belajar memasak lagi," protesnya.


"Baiklah, saya minta maaf." Pada akhirnya Marvin yang harus meminta maaf terlebih dahulu.


Pikir Marvin, wanita memang tidak pernah ragu dalam menunjukkan perasaannya kepada pasangan, termasuk ketika mereka sedang marah, cemburu, sedih, dan bahagia. Perubahan emosi atau mood swing karena faktor hormonal juga semakin menguatkan anggapan jika wanita cenderung lebih emosional dibandingkan pria.


Apa lagi Serena yang secara usia memang masih labil, emosional, dan penasaran akan hal-hal baru.


"A-aku tidak berguna," lirih Serena.


"Ssst, jangan bicara seperti itu. Tidak ada yang tidak berguna di dunia ini, sekalipun itu sebuah serpihan titik kecil debu di jalanan." Marvin mengusap air mata Serena, dan ia kaget karena dari dekat terlihat jelas kalau mata kanan Serena memerah.


"Kenapa matanya? Kita ke dokter ya," ajaknya.


"Tidak perlu ke dokter, ini hanya iritasi kecil," tolaknya dan ekspresi Serena masih menunjukkan kekesalan. Serena yang menimbulkan masalah, dan ia sendiri yang pada akhirnya marah dan kesal pada Marvin.


Dalam hal ini, Marvin terlihat lebih tidak emosional dibandingkan Serena. Kenapa demikian? Jawabannya adalah karena Marvin lebih bisa menyembunyikan perasaannya. Ini karena sejak kecil ia sering mendapatkan nasihat 'Pria tidak boleh nangis! Pria harus kuat!'


Ya, memang tidak ada yang salah pada nasihat tersebut. Namun nasihat itu secara tidak langsung mengajarkan anak pria untuk percaya jika menangis identik dengan kelemahan.


Jadi, jangan heran kalau ada pria yang lebih memilih untuk menyembunyikan perasaannya. Karena seringkali, banyak orang menganggap pria yang menangis sebagai orang yang 'lemah'. Padahal, mengekspresikan emosi adalah hak siapa saja termasuk para pria.


"Baik, saya coba cek dulu ya. Karena kesiangan, saya mau cuti kerja. Hari ini kita belajar memasak ya," ajaknya sembari terus mengamati mata Serena.


Yang matanya diamati ternyata sedang berdebar-debar. Itu karena Serena bisa melihat dengan jelas roti sobek sempurna yang terpampang di hadapannya. Posisi Serena yang duduk, dan Marvin yang berdiri, benar-benar pas.


"Kenapa? Kamu suka melihat tubuh saya?" Marvin sadar kalau Serena mencuri pandang.


"A-apa?! Tidak! Aku biasa saja!" elaknya.


"Oya? Makanya, sesekali raba dong, jangan hanya dilihat," goda Marvin sambil meraih tangan Serena dan meletakan di perutnya.


"Wah," tanpa sadar tangan Serena lantas menelusurinya.


Marvin dan Serena tidak sadar jika adegan itu dipergoki oleh Indri yang baru saja tiba dari mengantar Clara.


Posisi Marvin yang menghadap pada Serena, Serena yang duduk menghadap Marvin dan terhalang oleh meja makan, membuat Indri berpikir jika pasangan suami-istri itu sedang melakakun hal yang bukan-bukan.


Indri segera membalikan badan, dan bersembunyi. Saking fokusnya pada adegan itu, ia sampai belum sadar kalau kondisi dapur pada saat ini bak sisa-sisa perang dunia kedua.


"Besar sekali," kata Serena. Maksud Serena yang besar itu otot perut Marvin. Indri yang bersembunyi menutup mulutnya.

__ADS_1


"Keras juga, 'kan?" sahut Marvin.


"Ya," timpal Serena.


Aaaa! Jerit Indri di dalam hati.


Padahal, ia harus segera mengabari Marvin kalau Bos Besar hari ini akan menemui Marvin gara-gara memutuskan hubungannya dengan Clara secara sepihak dan tanpa berunding dulu dengan Bos Besar.


"Aaaa!"


Indri akhirnya berteriak saat matanya baru saja menoleh ke bagian dapur dan menyadari seluruh kejanggalannya. Sontak, Serena dan Marvin pun jadi terkejut.


"Indri?!" ucap Marvin dan Serena secara bersamaan.


"Apa yang terjadi?! Kenapa dapurnya jadi begini?!" Mata Indri masih membelalak sempurna akibat menyaksikan kekacauan yang ditimbulkan oleh Serena.


"Maaf, itu karena aku, Indri. Aku tadinya mau belajar memasak," jelas Serena.


"A-apa?! Oh, hehehe."


Karena pelakunya adalah Serena, Indri akhirnya berusaha untuk bersikap biasa saja. Apa lagi saat ia melihat Marvin yang berada di belakang Serena memberi isyarat kepadanya dengan meletakan jari telunjuk di bibir. Artinya, Marvin tidak ingin Indri memberi komentar yang bisa menyinggung perasaan Serena.


"Nona Serena hebat, ini berarti Nona Serena mau berusaha dan bekerja keras," puji Indri. Marvin langsung mengangkat jempol sebagai isyarat jika perkataan Indri sangat bagus.


"Tuh, 'kan? Indri juga memuji kamu. Jadi, jangan marah lagi, oke?" sahut Marvin sembari memeluk punggung Serena.


Indri yang ternyata seorang jomlo, hanya bisa tersenyum melihat pemandagan serasi itu. Lalu ia mengasumsikan jika Pak Bos Marvin sengaja mengakhiri hubungannya dengan Clara lantaran perasaannya telah berpindah pada Nona Serena.


"Kamu tidak kaget melihat dapur jadi seperti ini?" tanya Serena dan ia terlihat risih karena Marvin terus memeluknya.


"Kaget? Tentu saja tidak. Hehehe. Tadi aku beteriak juga karena terkesima Nona, bukan karena kaget," elak Indri.


"Ya, Indri benar. Namanya juga proses belajar," sahut Marvin sambil memciumi leher Serena.


Usut punya usut, Marvin ternyata mendapat informasi dari Rio jika Rio tidak senjaga membocorkan pernikahannya dengan Serena pada Indri. Jadi, Marvin tidak perlu bersembunyi lagi di hadapan Indri. Ia hanya perlu memastikan kalau Indri berada di pihaknya dan bisa menjaga rahasia.


...***...


"Pak Bos, aku ada hal penting yang harus aku sampaikan," kata Indri saat mereka telah duduk di meja makan. Indri ternyata telah membeli menu sarapan. Sembari menjelaskan Indri sibuk menghidangkan.


"Hal apa?"


Marvin telah kembali dari kamarnya dan saat ini sudah memakai baju santai. Serenapun telah mengganti seragam sekolahnya dengan baju sehari-hari.


"Bos Besar mau ke mari Pak Bos," jelasnya.


"Uhhuk-uhhuk."


Penjelasan Indri langsung membuat Marvin batuk-batuk. Sementara Serena, gadis itu menghentikan kunyahannya dan langsung tertunduk.


"Kapan Papa mau ke sini? Memangnya kamu mengantar Clara ke mana?" tanya Marvin.


"Nona Clara tidak mau diantar ke rumahnya Pak Bos. Nona Clara maunya pulang ke rumah orang tua Anda."


"Oh. Emm, tidak masalah kalaupun Papa mau ke sini."


"Tapi Pak Bos." Indri melirik pada Serena dengan sudut matanya.


"A-apa aku harus pergi dari sini?" tanya Serena.


"Tidak perlu," sela Marvin sembari mendekatkan kursinya dengan kursi Serena dan segera memegang tangan Serena.


Indri yang melihat secara langsung pemandangan itu, tiba-tiba merasa terenyuh. Ia tahu benar jika di antara Marvin dan Serena, ada jurang pemisah yang sangat sangat curam dan terjal. Indri segera meneguk minumannya karana merasakan makanan yang ditelannya serasa tercekat di leher saat Serena mengatakan, "A-aku takut Pak Bos," katanya.


"Ada saya, Serena. Jangan takut," sahut Marvin.


"Ba-bagaimana kalau kita berakting saja? Beraktinglah seolah-olah Anda suka menyiksaku," pinta Serena.


"Tidak bisa. Saya tidak bisa menyakiti kamu, Serena."


"Pak Bos, kumohoon. Mau ya? Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berakting, anggap saja aku di sini sebagai tukang kebun. Aku bisa memotong rumput 'kok." Serena tampak panik. Tangannya yang memegang sendok bahkan terlihat gemetaran.


"Serena. Sshhh." Marvin segera memeluk dan menenangkannya.


"Huuu."


Tangis Serena pun pecah. Indri menunduk karena tidak sanggup melihat pemandangan yang menurutnya sangat mengharukan itu.


"Tidak apa-apa, Papa saya tidak jahat 'kok."


"Tapi, kalau Anda dipukul bagaimana?" Serena menatap Marvin.


"Dipukul? Saya sudah biasa dipukul Papa. Tak masalah," jawabnya.


"A-apa Anda akan mengatakan kalau kita sudah menikah?" tanya Serena.


"Tidak."


Jawaban Marvin sangat singkat, namun sudah lebih dari cukup untuk membuat batin Serena berkecamuk. Serena menggigit bibirnya demi menahan gejolak di dadanya.


Ternyata, ia berharap jika Marvin jujur pada papanya kalau mereka telah menikah. Namun, Serena tidak bisa apa-apa. Ia tahu benar posisinya. Pernikahan ini hanyalah pernikahan di atas kertas. Ia hanya bisa pasrah dan mengikuti kehendak Marvin.


"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan, lanjutkan lagi sarapannya ya," bujuk Marvin.


"Aku sudah kenyang, Pak Bos. Terima kasih," ujarnya.


Serena mengakhiri makannya. Padahal baru makan beberapa suap, dan Serena segera meninggalkan ruang makan.


"Serena, tunggu."


Marvin beranjak menyusul Serena dan tidak menghabiskan sarapannya. Alhasil, Indri pun jadi tidak ada selera makan lagi.


"Hmhh ..." Indri menghela napas sambil menatap makanan yang terhidang.


_______

__ADS_1


Apa yang akan terjadi saat Bos Besar bertemu dengan Serena? Jika bukan sebagai istrinya, lalu Marvin akan mengakui Serena sebagai apa? Wanita bayaran 'kah? Teman? Atau adik angkat mungkin? Entahlah.


...~Next~...


__ADS_2