ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
WANITA SIMPANAN


__ADS_3

"Sampai kapan kamu membiarkan anak kita jadi seperti itu? Aku kasihan sama Leon."


"Sudahlah, nanti juga dia lupa. Aku akan mencari gadis lain yang lebih cantik dan lebih seksi dari Serena."


"Setidaknya, kita harus mempertemukan Leon dengan Serena."


"Aku tidak mengizinkan! Sampai kapanpun, aku tidak sudi merestui Leon menjalin hubungan dengan anak seorang penipu! Mau dikemakan muka kita?! Aku ini anggota dewan senior. Apa jadinya kalau publik tahu anakku menjalin cinta dengan anaknya si Wandira! Reputasiku bisa hancur! Bisa-bisa, aku dituduh bersekongkol dan melegalkan bisnis judi di negara ini," tegasnya. Lalu meninggalkan istrinya yang sepertinya masih ingin beradu argumen dengannya.


Pria yang meninggalkan ruangan itu adalah pak Nadiri. Ia adalah ayahanda Leon. Mantan kekasihnya Serena. Sedangkan wanita yang masih berada di dalam adalah istrinya. Namanya bu Ghani.


"Aku tidak mau Leon jadi gila gara-gara wanita. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menemukan Serena dan mempertemukannya dengan Leon," gumamnya. Lalu keluar dari kamarnya menuju kamar Leon.


"Leon, buka pintunya. Mama mau bicara sama kamu."


"Leon mau tidur, Ma. Jangan ganggu."


"Leon, Mama akan bicara hal yang penting. Cepat buka pintunya. Ini tentang Serena."


"Eren?!"


Pintu kamar langsung terbuka.


...***...


_______


"Jalannya licin, jangan ngebut Pak Bos!" Serena ketakutan.


Serena memegangi hand grip dengan erat. Sementara Marvin, ia fokus pada jalanan dan mobil yang menguntitnya.


"Saya ingin segera tiba di kawasan rumah warga." Marvin bersikukuh mempercepat kemudinya.


"Aaaa! Pak Bos! Itu!"


Serena menunjuk ke depan. Di sana ada tikungan tajam dan sebuah motor yang melaju kencang dari arah yang berlawanan.


"Ya Tuhan!" pekik Marvin. Segera membelok cepat ke kiri dan spontan menginjak rem secara mendadak.


"Ahh!" Serena terhentak. Untungnya, ia telah memakai sabuk pengaman.


"Maaf," kata Marvin, dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Serena beteriak ketakutan. Ditambah kondisi jalan yang menurun dan curam, membuat Serena merasa jika mobil yang dinaikinya sedang terbang dan hal ini benar-benar memacu jantungnya.


"Aaaa! Aku kenal dengan plat nomor mobil yang menguntit kita!" Karena takut Marvin nekad, Serena akhirnya ia jujur.


"A-apa katamu?!"


Marvin kembali merem mendadak. Bukan hanya mengerem, ia juga menepikan mobilnya ke sisi jalan. Mobil yang menguntitpun berhenti. Serena menunduk. Sedang mengatur napas untuk meredakan rasa kagetnya.


"Siapa mereka?" Marvin penasaran. Ia sampai melepas sabuk pengaman dan menatap tajam pada Serena.


"I-itu ... emm, mobil asistennya kak Leon." Serena ragu saat menjelaskannya.


"Leon?!" Marvin menautkan alisnya. Ia merasa pernah mendengar nama itu.


"Kak Leon itu mantanku," lanjut Serena dengan suara pelan.


Sebenarnya, Leon tidak pernah mengakhiri hubungan mereka. Dalam hal ini, Serenalah yang memutuskan berpisah dari Leon setelah skandal judi papanya terkuak ke publik hingga papanya menjadi bahan gunjingan.


"Saya mau turun." Marvin bersiap. Bahkan mengambil pistolnya. Sekarang ia sudah mengingatnya.


"Leon Dika Nadiri adalah kekasihnya Nona Serena. Ia adalah putra bungsu dari politikus senior sekaligus pengusaha Dirga Nadiri." Itu yang dijelasakan Hugo pada Marvin sebelum ia memutuskan menjadikan Serena sebagai istri sitaan.


"Jangan turun, Pak Bos. Jangan diladeni. Aku sudah tidak ada kepentingan dan hubungan apapun dengan kak Leon. Apa lagi dengan asistennya," cegah Serena.


"Dasar bodoh. Kalau tidak ada apa-apa, lantas kenapa mereka menguntit? Anehnya, 'kok bisa mereka tahu jika di dalam mobil ini ada kamu? Lalu sejak kapan mereka melihat kamu? Saya harus menemui mereka dan menanyakan motifnya!" tandasnya.


Marvin segera turun dari mobil di saat Serena masih kebingungan harus menjelaskan apa pada Marvin. Saat Marvin keluar Marvin dari mobilnya, dua orang pria yang berada di dalam mobil yang menguntitpun ikut turun.


"Kamu tetap di dalam mobil," titah Marvin.


"Tidak. Aku juga mau turun Pak Bos." Serenapun turun. Dua pria dari mobil penguntit semakin mendekat.


"Nona Serena? Ini benar-benar Anda? Syukurlah, berarti kami tidak salah melihat." Dua orang pria berpakaian rapi itu langsung menghampiri Serena dan seolah tidak memedulikan Marvin.


"Gerry? Kevin? Kalian apa kabar?"


Serena mendekat dan menyalami mereka. Seperti biasa, gadis itu selalu cium tangan pada siapapun yang usianya lebih tua.


"Kabar baik, Nona. Nona apa kabar? Kenapa sore-sore begini pakai seragam? Apa ada acara sekolah?"


Yang bernama Kevin memperhatikan penampilan Serena. Yang bernama Gerrypun menatap Serena dari atas hingga ke bawah seraya berdecak.


"Ck, ck, Nona Serena semakin seksi saja."


Sontak kalimat itu membuat bibir Marvin mengerucut. Ia melipat tangan di dadanya dan menunjukkan ekspresi kekesalan. Namun, ia belum mengatakan sepatah katapun.


"Kabarku baik. Serius aku makin seksi? Hahaha. Aku juga merasakannya 'sih." Serena terkekeh sambil memukuli bahu Kevin dan Gerrry. Ketiganya lantas tertawa terbahak.


Sial! Apa mereka tidak melihat keberadaan saya?!


Marvin kesal. Ia yang memakai topi, membuatnya tidak langsung dikenali oleh Gerry dan Kevin.


"Ini sopir baru Nona? Wah, sudah kami duga, papa Anda tidak bangkrut, 'kan?" Kevin melirik ke arah Marvin, sedikit terkejut karena supir Serena kali ini terlihat modis, gagah, dan tampan.


"Apa kamu bilang?! Saya bukan sopir!"


Marvin langsung emosi. Ia merapikan topinya, bertolak pinggang, dan menatap pada Kevin dan Gerry secara bergantian.


"A-Anda?"


Kevin dan Gerry saling memandang. Tentu saja mengenali Marvin setelah melihatnya dengan seksama.


"Anda Pak Bos Marvin, 'kan?"

__ADS_1


Gerry sok kenal sok dekat. Langsung meraih tangan Marvin untuk disalami. Namun Marvin menepisnya.


"Hahaha. Ya, ini memang Pak Bos Marvin. Kami berada dalam satu mobil karena ada kepentingan bisnis," jelas Serena. Ia berbohong agar Kevin dan Gerry tidak curiga.


"Kepentingan bisnis?" Kevin malah keheranan.


"Kenapa kalian menguntit mobil saya?! Saya hampir kecelakaan gara-gara kamu dan kamu!" Marvin yang sudah kesal sedari tadi segera meluapkan kekesalannya.


"Pak Bos." Serena berusaha menenangkan.


"Maaf Pak Bos, kami tidak bermaksud menguntit, hanya ingin memastikan jika kami tidak salah melihat. Kami berada di daerah ini untuk survey lokasi. Bos kami pak Nadiri, baru saja membeli lahan kosong di daerah perbukitan. Lalu temanku tidak sengaja melihat mobil Anda melintas. Karena kaca mobilnya tidak ditutup, kami berdua melihat Nona Serena dan langsung mengejar," jelas Gerry.


"Langsung mengejar katamu?! Untuk apa?!" teriak Marvin.


Entah kenapa, pria itu jadi tiba-tiba emosi. Serena belum bisa berbuat banyak. Masih berpikir untuk segera mengakhiri pertemuan ini.


"Tuan Leon sakit, Nona Serena harus menemuinya. Tuan Leon sangat merindukan Nona Serena," kata Gerry.


"Apa?!" Serena terkejut.


"Bukankah tuanmu sudah berpisah dari gadis ini?!" Nada bicara Marvin kian meninggi.


"Kak Leon," gumam Serena. Ia melamun sesaat. Benarkah kak Leon sakit? Tiba-tiba jadi mekhawatirkannya


"Mereka tidak berpisah Pak Bos. Hanya terjadi kesalahpahaman," ujar Kevin.


Marvin terdiam. Ia sebenarnya tahu kalau Serena memutuskan Leon secara sepihak, dan ia yakin jika gadis itu masih mencintai Leon.


"Apa kondisi kak Leon sangat parah?" Mata Serena memerah. Sepertinya, ia sedang menahan tangis.


"Bisa disebut demikian, Nona. Tuan Leon bahkan tidak mau berangkat kuliah setelah Nona hilang kontak."


Marvin menyimak dengan ekspresi sulit terbaca.


"Ya Nona. Sebaiknya, Nona segera menemui tuan Leon, bicara baik-baik, dan tolong perbaiki semuanya. Kasihan tuan Leon, Nona."


"Aku yakin kalian sudah mengetahui keadaanku dan keluargaku. Aku mengakhiri hubungan dengan kak Leon demi kebaikannya. Papa kak Leon orang terpandang, mana mungkin membiarkan putranya menjalin hubungan dengan gadis sepertiku. Ma-maaf, aku tidak bisa menemuinya," ucap Serena dengan suara lirih.


"Nona harus ikut kami." Gerry tiba-tiba mendekat dan menarik tangan Serena. Serena kaget, pun dengan Marvin.


"Ti-tidak mau!" tolak Serena.


"Harus, Nona. Nona harus ikut!" Kevinpun menarik tangan Serena di sisi yang lain.


"Hei! Lepaskan!" Marvin meradang. Ia menendang bahu Kevin hingga terjengkang ke bahu jalan.


"Cepat bawa Nona Serena! Biar aku yang mengani dia!" teriak Gerry. Ia menyeret Serena dan membekap Serena agar tdak beteriak.


"Kurang ajar!"


Marvin mengejar. Namun langkahnya terhenti karena Kevin menghadangnya. Serena meronta, tapi jelas tidak bisa melawan karena Gerry bukan orang sembarangan. Ia menguasai ilmu bela diri.


"Jangan ikut campur Pak Bos! Ini urusan Nona Serena dan bos kami!" jelas Kevin sembari menghindari serangan Marvin.


Ia menendang kembali dada Kevin. Karena mendapat perlawanan, Kevin tidak bisa tinggal diam. Bos Marvin rupanya ingin ikut campur.


"Anda yang mencari masalah Pak Bos!"


Kevin mulai menyerang. Namun ia melawan dengan cara yang licik. Ia mendorong tubuh Marvin ke tengah jalan. Padahal, sesaat lagi akan ada mobil yang melintas.


Serena menyadari. Mata gadis membulat. Ingin beteriak guna menyadarkan Marvin. Tapi sayang mulutnya telah dibekap.


Tidaaak! Jerit Serena dalam batinnya.


Kevinpun terperanjat kaget. Ia ternyata tidak menyadari akan ada mobil yang melintas.


"Pak Bos! Awas!" teriak Kevin.


Gerry yang menyeret Serena mematung sejenak. Matanya melotot pada adegan dramatis di hadapannya. Serena memejamkan matanya, dan batinnya memohon pada Sang Pemilik Kehidupan untuk menyelamatkan Marvin.


'TOOD.'


Sopir truk menyalakan klakson. Dalam keadaan terkejut, Marvin berusaha menghindar ke arah mana saja dan tanpa perhitungan.


"Hufth."


Kevin dan Gerry bisa bernapas lega. Begitupun dengan pak sopir truk. Ia sangat bersyukur karena tidak sampai menabrak pemuda itu. Selamat. Ya, Marvin selamat dari hantaman truk. Namun, tubuhnya terperosok ke parit yang berada di sisi jalan dan belum muncul lagi.


"Cepat tolong dia! Apa kalian mau cari mati?! Yang kalian sakiti itu Bos Marvin!" teriak Serena saat Gerry melepaskan bekapannya.


"Tapi Nona." Gerry dan Kevin saling menatap.


'DOR.'


Di dalam parit, Marvin meletupkan pistol. Maksudnya ingin meminta tolong karena kakinya terjebak ilalang. Untungnya, parit tersebut kering alias tidak berair.


"Bagaimana ini?" Kevin dilema.


"Kalau Serena tidak dilepaskan, saya akan meledakkan kepala kalian!"


Terdengar ancaman Marvin dari dalam parit. Disusul dengan kemunculan kepala Marvin. Rupanya, pria itu sudah berhasil melepaskan diri dari jebakan ilalang dan semak-belukar.


"Maaf Pak Bos. Kami harus tetap membawa Nona." Kevin berlari ke arah Gerry dan membantu Gerry membawa Serena.


"Tolooong," teriak Serena. Ia akan dimasukkan ke dalam mobil. Sementara Marvin, pria itu sedang berusaha keluar dari dalam parit.


"Kalian tidak bisa saya maafkan!" Marvin terpaksa menggunakan cara brutal untuk menyelamatkan Serena. Ia menarik pelatuk pistol untuk menembak ban mobil.


'DOR!'


Meleset. Malah mengenai kaki Gerry. Gerry memekik dan tersungkur kesakitan.


"Aarrghh! Dasar anak mafia!" umpat Gerry.


"Gerry! Kaki kamu tertembak! Dia pasti mendapat pistol dari ayahnya!" sahut Kevin.

__ADS_1


"Apa kubilang! Jangan melawan dia! Kalian harusnya tidak memaksaku! Jika kondisinya sudah terkendali, aku sendiri yang akan menemui kak Leon," kata Serena. Ia berhasil melepaskan diri karena Kevin menolong Gerry.


"Rasakan! Apa kamu juga mau merasakan timah panas?!"


Sambil menodongkan pistol pada Kevin yang spontan mengangkat tangan. Marvin sesumbar. Ia telah berhasil keluar dari parit. Ketampanannya tidak berubah. Hanya saja, bajunya sedikit kotor dan topinya hilang entah kemana.


"Harusnya Anda tidak perlu ikut campur Pak Bos! Aduh, kakiku." Gerry semakin kesakitan.


"Saya akan bertanggung jawab!" Marvin melempar kartu namanya pada Kevin.


"Pas Bos, Anda tidak apa-apa?" Serena telah berhasil kembali ke sisi Marvin.


"Saya masuk ke parit dan hampir terlindas mobil truk! Masih kamu tanya tidak apa-apa?! Seumur hidup, baru kali ini saya masuk ke parit!" umpat Marvin.


"Karena telah menembakku, Anda akan berurusan dengan tuan Leon, Pak Bos," ancam Gerry.


"Saya tidak sengaja! Niatnya menembak ban mobil! Jadi salah sasaran karena fokus saya terhalang rerumputan!" Marvin beralibi.


"Pokoknya Anda harus segera kembali pada tuan Leon, Nona Serena."


"Tidak! Saya tidak mengizinkan! Katakan pada tuan Lion (Tuan Singa) kalian kalau Serena sudah menjadi wanita simpanan saya!" teriak Marvin sambil merangkul bahu Serena.


"Apa?! Simpanan?!" Mereka terkejut. Serena gelagapan.


"Namanya Leon, bukan Lion," ralat Serena.


"Saya tidak peduli!"


"Apa benar Nona Serena wanita simpanannya Pak Bos?"


"Bu-bukan. Jangan percaya. Pak Bos memang suka berguyon," elak Serena.


"Kalian mau bukti?! Biar saya tunjukkan!"


Lalu Marvin merangkul Serena dan mencium bibir Serena dengan tiba-tiba. Serena terkejut. Mata gadis itu sampai membulat. Bola matanya berputar-putar. Kevin dan Gerry menganga.


"Mmm, mmm."


Serena berusaha menolak. 'Kok berani dia menciumnya di pinggir jalan? Ia memukuli bahu Marvin.


"Nah, apa kalian sudah percaya?!" Marvin melepaskan Serena.


"Kami belum percaya."


"Apa?! Katakan saja pada si Lion kalau Serena sudah tidur dengan saya!"


"Apa?!" Mereka kembali terkejut.


"Pak Bos! Anda keterlaluan!" Serena marah. Ia berlalu dari Marvin dan hendak pergi ke mobil Kevin dan Gerry.


"Mau ke mana kamu?! Serena! Kalau kamu berani pergi dari sisi saya, itu artinya kamu sudah tidak peduli lagi sama mama dan adik-adik kamu!" teriak Marvin.


Serena menghentikan langkah. Lalu berbalik arah menuju mobil Marvin. Ia masuk ke mobil Marvin dan menutup pintu mobil dengan kencang.


'BRUK.'


"Apa Anda memperalat Nona Serena?" tanya Kevin. Ia pasti akan melaporkan masalah ini pada Leon.


"Memperalat katamu?! Yang ada, saya menstimulasi dia!" tegas Marvin. Gerry dan Kevin saling memandang. Mereka belum memahami maksud dari ucapan Marvin.


"Dasar bodoh! Kalian melihat 'kan tubuh Serena semakin seksi? 'Nah, itu karena selama berada bersama saya, saya sering menstimulasi tubuhnya!" jelas Marvin sambil mempraktikkan sebuah gerakan nakal dengan tangannya.


"Hhah? Apa?!" Mereka melongo. Sementara Marvin, ia lantas berlalu sambil tertawa.


"Hahaha."


Ada perasaan heran pada dirinya sendiri. 'Kok bisa ya ada kepikiran menstimulasi tubuh Serena? Kalau gadis itu mendengarnya, ia pasti marah. Marvin segera masuk ke dalam mobil dan menahan tawanya.


"Puas mempermalukanku?!" Serena menatap kesal pada Marvin.


"Belum," jawab Marvin. Lalu melajukan kemudi dalam keadaan masih menahan tawanya sambil melihat Kevin dan Gerry melalui kaca spion.


"Beraninya Anda menciumku di pinggir jalan!"


"Kalau di tengah jalan, saya takut kita tertabrak mobil."


"A-apa?! Maksudku, Anda sudah mempermalukanku, Pak Bos!"


"Untuk apa malu? Faktanya, saya sudah melihat semuanya."


"Pak Bos! Maksud Anda apa?"


"Saya memang sudah meniduri kamu, 'kan?"


"Apa?! Ya, tapi kenapa harus dijelaskan pada mereka?! Penjelasan Anda akan membuat mereka salah paham! Pasti akan mengira kalau aku wanita murahan!" teriaknya.


Marvin terdiam. Matanya fokus pada jalanan. Malah menyalakan musik dan membuat Serena semakin kesal.


"Pak Bos!"


"Apa."


"Aku marah!"


"Ya, saya tahu!"


"Kenapa Anda jahat sekali?! Aku membencimu!"


"Sstt, jangan berisik," larangnya.


"Aaaa!" teriak Serena.


Ia menumpahkan kekesalannya dengan membuka kaca mobil dan melongokan kepalanya keluar jendela. Marvin memelankan kemudi, seolah sedang memberi kesempatan pada Serena untuk meredakan emosinya.


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2