
"Maaf Pak Bos. Aku tidak bermaksud mengganggu Anda." Hendrik tertunduk karena merasa tidak enak hati.
"Ya kamu memang mengganggu! Saya belum kenyang!" ketus Marvin. Buliran keringat halus masih tempak jelas di pelipisnya.
"Aku sudah menyiapkan makanan Pak Bos. Apa Anda mau menu yang lain?"
"Haish! Kamu usia berapa 'sih?! Ini bukan soal makanan! Sudahlah! Mana teleponnya?! Saya harus segera bicara sama Hugo 'kan?!"
Nada bicara Marvin masih meninggi. Mungkin di dalam pikirannya masih terbayang-bayang betapa indahnya Serena.
"O iya, i-ini Pak Bos."
Hendrik menyerahkan telepon gengam khusus untuk berkomunikasi dengan Hugo. Itu adalah jenis telepon jadul.
"Halo Hugo, ada apa?" Marvin memulai percakapan.
"Gawat Pak Bos! Ini gawat! Edrick, Boy dan Rian tidak ada di basecamp lagi!"
"Apa?!" Marvin terkejut.
"Ya Pak Bos! Aku cek CCTV, ternyata mereka dibawa oleh orang-orangnya Bos Besar. Aku selamat karena keluar sebentar mau membeli makanan."
"Papa keterlaluan!" Marvin mengepalkan tangannya.
"Aku curiga kalau Bos Besar menggendus rahasia kita Pak Bos. Maka dari itu, aku mau menyarankan agar Pak Bos dan Nona Serena segera meninggalkan villa itu."
"Saya tidak mau. Pulau Kecil ini aman. Yang bisa masuk ke pulau ini juga tidak bisa sembarangan orang," tolak Marvin.
"Tapi Pak Bos, Edrick dan Rian memiliki akses ke pulau itu. Bos Besar tidak bodoh. Dia pasti melakukan segala cara agar Edrick, Boy, atau Rian memberikan informasi tentang keberadaan Anda."
"Mereka tidak akan mengkhianati saya." Suara Marvin mulai tenang.
"Ya Pak Bos, aku juga percaya sama mereka. Tapi papa Anda bukan sembarang orang. Maaf Pak Bos, aku khawatir Edrick, Rian atau Boy tidak punya pilihan lain kecuali membocorkan keberadaan Anda pada Bos Besar."
"Saya paham. Saya juga tidak ingin melibatkan kalian sampai sejauh ini. Apa lagi sampai membahayakan kalian. Baiklah, akan saya pertimbangkan lagi dan mengabari kamu secepatnya."
"Maaf Pak Bos. Tolong jangan menghubungi aku lagi. Untuk beberapa hari ke depan, aku harus bersembunyi dari anak buah papa Anda. Mereka 'kan tahu kalau tangan kanan Anda ada empat orang. Oiya Pak Bos, ada kabar buruk lagi." Hugo ragu-ragu saat hendak mengatakannya.
"Apa lagi? Katakan saja."
"Em, ma-maaf Pak Bos, aku tidak bisa membantu keuangan Anda lagi. ATM bersama milik kami dipegang oleh Edrick, dan saat aku cari, buku tabungan kami yang berada di basecamp sudah raib. Saat ini, aku hanya punya uang untuk makan hari ini."
"Saya mengerti. Maaf Hugo, semua gara-gara saya. Kalian jadi kesulitan karena saya. Tolong bersabar sampai saya menemukan jalan keluarnya. Saran saya, kamu pulang kampung saja. Sangat berisiko kalau kamu tetap berada di pusat kota."
"Tapi Pak Bos, aku justru berencana akan menyerahkan diri. Aku tidak mau pergi tanpa Edrick, Rian dan Boy. Mereka sudah aku anggap sebagai saudara kandung."
"Tidak Hugo! Jangan membantah saya! Target papaku saya! Bukan kalian! Pokoknya kamu jangan sampai tertangkap!" tegas Marvin.
"Tapi Pak Bos ---."
"Tidak ada tapi lagi! Secara tidak langsung, papa sepertinya ingin menjadikan saya sebagai mafia! Dia mungkin berpikir kalau saya akan menyerah setelah dimiskinkan! Maaf, tidak semua hal bisa dibeli dengan uang!"
"Baiklah Pak Bos. Aku percaya pada Pak Bos. Aku akan mengikuti saran dari Pak Bos, dan aku titip Hendrik agar tetap bersama Anda dan setidaknya, dia bisa mewakiliku menjaga Anda."
"Baiklah. Adik kamu masih polos, tapi saya merasa kalau dia akan menjadi pria yang baik. Ya sudah, kita akhiri dulu. Ikuti saran saya, dan segera kabari jika ada kabar terbaru."
"Baik Pak Bos."
Pada dasarnya, Hugo dan yang lainnya sebenarnya sadar benar jika Marvin dan pak Jacob sama-sama berwatak bebal dan teguh pendirian. Namun kebaikan Marvin pada mereka, membuat mereka merasa berhutang nyawa dan budi.
Setelah mengakhiri panggilan Marvin kembali kembali ke kamarnya. Sementara Hendrik, hanya bisa menatap Marvin dengan perasaan tidak menentu. Ia berpikir akan mendapatkan pekerjaan di kantoran, namun faktanya ia disuruh oleh sang kakak untuk menjaga villa. Sebuah pekerjaan yang tidak sesuai dengan background pendidikannya sebagai analis kesehatan.
...***...
Tiba di kamar, Marvin berdiri sambil menatap pada Serena yang masih terlelap. Karena selimutnya tidak tertutup sempurna, ia bisa melihat sebagian tubuh Serena dan jejak-jejak cinta yang disematkannya. Marvin memperbaiki selimut tersebut, lalu mengecup perlahan kening Serena.
Lanjut meyingkap tirai kamar dan memandang nun jauh ke sana. Ke area lepas pantai yang seakan-akan tidak berujung. Pria itu kemudian larut dalam lamunan. Ia sedang memikirkan cara untuk mengurai masalahnya. Marvin ingin hidup bebas dan menjalani kehidupan sesuai dengan keinginannya.
Lalu sebuah tangan berkulit lembut tiba-tiba melingkari pinggangnya. Marvin menangkup tangan tersebut dan ia tetap berdiri di posisinya.
"Kenapa melamun?" tanya Serena.
"Tidak melamun, saya sedang nongkrong," kilahnya.
"Baru kali ini aku melihat Pak Bos melamun. Lucu juga ya melihat Anda melamun. Mirip manekin," ledek Serena.
"Hei, saya tidak melamun."
Marvin membalikan tubuhnya dan berubah posisi menjadi mengurung Serena. Lalu dengan gerakan cepat, ia mengekang tangan Serena dan mengecup lehernya kuat-kuat hingga Serena menjerit.
Belum juga Serena mengatur napas, bibir Marvin sudah melakukan serangan kedua. Serangan tersebut membuat mata Serena membulat dan nyaris kesulitan bernapas. Marvin melakukannya hingga ke segala arah, dan pria itu baru berhenti setelah Serena merintih kesakitan dan menginjak kakinya.
"Sakit tahu!" sentak Serena.Ia menutup bibirnya dan cemberut.
"Maaf. Makanya, jadi manusia itu jangan terlalu lucu, cantik, dan menggemaskan seperti ini." Sambil mengusap lembut bibir Serena yang terlihat bengkak dan memerah.
__ADS_1
"Siapa yang lucu?! Siapa yang cantik?! Yang menggemaskan siapa?! Aku?! Ya memang iya! Semua orang juga tahu!" sentaknya lagi sambil bertolak pinggang
"Hahaha."
Marvin tertawa saat Serena mengumpat sambil merapikan selimut yang menutupi tubuhnya hampir melorot.
"Makanya, kalau bicara sama suami 'tuh harus pakai baju dulu." Marvin membantu Serena. Tapi bukannya dirapikan, malah ditarik dan terlepas.
"Aaa! Marsupilami! Dasar kamu mesum ya! Kembalikan selimutnya!"
Serena terkejut, spontan menarik tirai dan memutar tubuhnya hingga terbungkus oleh tirai. Marvin kembali tertawa. Bercengkrama dengan Serena, benar-benar bisa melupakan permasalahannya.
"Cepat keluar, saya khawatir tirainya berdebu dan mengiritasi kulit kamu." Marvin mendekat.
"Kembalikan dulu selimutnya! Cepaaat!"
"Serena, saya sudah melihat semuanya, dari yang terluar hingga yang terdalam sekalipun saya sudah melihatnya. Untuk apa kamu menutupinya dari saya? Cepat keluar," bujuk Marvin.
"Tidak mau!"
"Baiklah. Saya akan tutup mata."
Marvin memberikan selimut pada Serena dan pura-pura memejamkan mata. Serena memakai selimut tersebut dengan terburu-buru, lalu terbirit-birit ke kamar mandi sambil terus merutuki Marvin sebagai pria mesum.
...***...
"Aaa!"
Di kamar mandi Serena kembali beteriak. Kenapa? Karena saat ia hendak masuk ke dalam bathup, Marvin sudah terlebih dahulu berendam di sana.
"Kapan Anda ke sini?! Apa kamu hantu?"
Serena menutup tirai bathup dan mengatur napasnya. Lalu satu tangan Marvin keluar dari balik tirai dan melakukan gerakan melambaikan tangan yang artinya 'kemarilah.'
"Tidak mau!" tolak Serena.
Kemudian jari telunjuk Marvin begerak ke kiri dan kanan, yang berarti 'jangan membantah.'
"Tidak mau!" Serena masih menolak.
"Sraak." Tirai terbuka.
Lalu Marvin mengibaskan rambut basahnya dan mengusap rambutnya bak adegan iklan shampoo. Tak lupa mengerling, tersenyum pada Serena dan mengedipkan matanya. Serena melongo, ia sampai tidak berkedip untuk beberapa saat. Lalu dengan sendirinya, kaki Serena melangkah ke dalam bathup. Marvin mengulurkan tangan dan Serena meraih tangan tersebut. Lantas Marvin menutup tirai sambil tersenyum.
"Dasar kucing nakal," batin Martin.
...***...
"Jadi begitu ceritanya. Menurut kamu bagaimana? Apa ada saran untuk saya?"
"Marvin baru saja menjelaskan kabar dari Hugo pada Serena. Mereka sedang berada di balkon villa yang menghadap ke laut. Mereka duduk berdampingan dan Serena tengah memeluk lengan Marvin dan menyandarkan kepalanya.
"Kalau aku memberi saran, aku khawatir Anda tidak menyukai saranku."
"Saya belum tahu saran kamu seperti apa. Bisa jadi 'kan saya menerima saran kamu?"
"Emm, apa ya? Aku juga bingung. Aku pribadi hanya ingin hidup tenang dan bisa menjaga kandunganku tanpa ada gangguan."
"Kalau saya pergi meninggalkan negara ini, apa kamu mau ikut?"
"Emm," Serena menautkan alisnya.
"Pergi ke mana?" lanjutnya.
"Saya belum tahu, tapi rencananya, saya akan pergi malam ini juga."
"Anda serius?"
"Pak Bos, kita hadapi saja yuk. Anda tidak perlu menghindar lagi. Anda juga harus jujur kalau aku sedang mengandung anak Anda. Bagaimana?"
"Mama dan papa pernah menyuruh saya agar jangan sampai membuatmu hamil. Itu artinya, mereka tidak menginginkannya."
"Begitu ya? Tapi papa dan mamaku menginginkan cucu. Papa bahkan rela membayar mahal seorang dokter untuk memberikan obat kuat pada Anda. Kehamilanku adalah harapan papa."
"Maksud kamu?"
"Aku ingin pulang Pak Bos. Aku ingin membesarkan kandunganku bersama mama, Rio dan Via. Apa boleh?"
"Jadi kamu tidak mau ikut?"
"Bukan tidak mau. Tapi perjalanan ke luar negeri perlu waktu Pak Bos, dan pasti beresiko juga. Apa lagi kandunganku 'kan masih kecil."
"Baiklah, saya tidak juga tidak akan pergi. Tapi apa kamu mau kalau kita tetap tinggal di pulau ini?"
"Mau, aku sudah betah tinggal di sini."
__ADS_1
"Terima kasih Serena. Tapi saya harus segera mencari pekerjaan karena anak buah saya sudah tidak bisa membiayai saya lagi."
"Pekerjaan? Pak Bos tidak perlu bekerja. Bagaimana kalau Anda membantuku mengumpulkan kerang saja? Aku bisa membuat kerajinan tangan dari kerang. Setelah jadi, kita minta bantuan Hendrik untuk menjualnya ke wisatawan yang berkunjung ke Pulau Kecil. Bagaimana? Anda setuju?"
"Emm, ide bagus. Tapi saya tidak yakin kamu bisa membuat kerajinan tangan dari kerang."
"Apa aku jadi foto model saja? Berpose di pinggir pantai, terus hasil fotonya dijual."
"Apa?!" Marvin sampai berdiri.
"Hahaha. Aku bercanda." Serena terkekeh.
"Kamu ya." Marvin menarik Serena hingga terduduk di pangkuannya.
"Kamu sudah banyak berubah. Sekarang jauh lebih dewasa dan bisa memberikan solusi. Terima kasih." Marvin menghidu tengkuk Serena. Sementara tangan kanannya, sedang mengelus perut Serena.
"Aku itu bukan wanita yang gampang menyerah Pak Bos. Saat dibully dan difitnah saja, aku masih bisa bertahan. Di sini aku hanya perlu menemani dan melayani Anda 'kan? Villa dan suasana di sini juga bagus. Aku suka. Berada di pulau kecil yang terpencil, ditemani pria tampan. 'Kan asyik. Anggap saja kayak di film-film. Terdampar bersama pangeran, hehehe," ocehnya.
"Yang kamu maksud tampan dan pangeran itu saya 'kan?"
"Hahaha. Bukan. Maksudku untuk Hendrik."
"Apa?! Kamu serius?" Marvin tertegun.
"Hahaha. Ya ampun Pak Bos. Yang aku maksud itu untuk seorang pria bernama Marvin Mahesa Jacob, suamiku," jelas Serena.
Mendengar kalimat itu, pipi Marvin sedikit memerah. Baru kali ini ia menerima pujian dari Serena.
"Mesum pada istri itu sangat dibolehkan. Bahkan dianjurkan," goda Marvin.
"Permisi," suara Hendrik.
"Kamu 'tuh ya, selalu datang di waktu yang tidak tepat," protes Marvin.
"Maaf Pak Bos. Tadi 'kan Anda yang menyuruhku segera mengabari kalau ikan bakarnya sudah matang."
"Oiya ya. Ya sudah, mari kita makan bersama." Marvin menuntun Serena.
...***...
Mereka menuju ke halaman villa. Setelah mencuci tangan dan berdoa, Marvin dan Serena malah melamun.
"Kenapa Pak Bos? Anda juga kenapa Nona?" Hendrik keheranan.
"Saya tidak bisa memakan ikan yang bertulang," jawab Marvin.
"Aku juga," timpal Serena.
"Oh, jangan khawatir. Biar aku bantu."
"Tidak perlu Hendrik, aku mau belajar makan ikan yang bertulang," kata Serena.
"Saya juga," sahut Marvin.
Serena dan Marvin mulai membedah ikan dengan hati-hati. Marvin beberapa kali melarang Serena. Namun Serena bersikukuh ingin belajar. Akhirnya, setelah melewati waktu yang cukup panjang, Marvin dan Serena bisa melakukannya.
Saat makan malam usai, barulah Hendrik memberitahu kabar terbaru.
"Pak Bos, Nona Serena, maaf sebelumnya, tapi aku harus menyampaikan kabar ini."
"Ada apa?" tanya Marvin sambil memeriksa tangan Serena. Ia khawatir tangan Serena terluka akibat tulang ikan.
"Kita sudah tidak ada stok makanan lagi Pak Bos, ini adalah beras terakhir yang aku masak, dan bahan pokok lainnyapun sudah tidak ada," jelas Hendrik.
Marvin dan Serena saling memandang.
"Aku punya anting-anting, bisa dijual 'kan?" Serena ada ide.
"Jangan menjual apapun. Malam ini, saya akan berusaha untuk mendapatkan uang."
"Malam ini? Caranya?" Serena penasaran, pun dengan Hendrik.
"Rahasia," jawab Marvin sambil mengecup pipi Serena.
Melihat adegen tersebut, Hendrik langsung memalingkan wajah.
_______
Bagaimana Marvin bisa mendapatkan uang dalam satu malam?
Apakah Edrick, Rian, atau Boy akan membocorkan persembunyian Marvin?
_______
Jangan lupa like dan komentar ya, nuhuun (terima kasih).
__ADS_1
...~Next~...