ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
PUTRA MAFIA VS PUTRI BANDAR JUDI


__ADS_3

"Marvin?!"


Serena menjadi orang pertama yang melepaskan diri dari rangkulan Marvin. Ia segera memegangi tangan kedua adiknya sambil menunduk. Sangat tidak menyangka jika wanita itu tiba-tiba berada di sini.


"Rara?! Kenapa bisa kamu ke sini?" Marvin menghampiri kekasihnya.


"Harusnya aku yang bertanya sama kamu, Vin! Kenapa kamu dan dia ada di sini?! Dia kenapa?! Lalu siapa anak-anak itu?!" teriak Clara. Tangannya mengepal kuat, wajahnya memerah dan napasnya berkejaran lantaran terbakar api cemburu yang bercampur emosi.


"Nona Clara?! Nona ada di sini? Kami mencari Nona."


Dua orang pelayan yang diduga adalah pelayannya Clara berdatangan. Mereka terlihat terengah-engah. Mungkin baru saja mengejar Clara. Mereka membungkuk saat melihat Marvin dan juga terkejut saat melihat keberadaan gadis lain di sisi Marvin.


"Baby, mari bicara. Jangan bicara di sini ya."


Marvin menarik tangan Clara agar keluar dari ruangan tersebut. Namun Clara menepis tangan Marvin. Sedangkan Serena yang kebingungan harus mengatakan apa, ia segera menarik tangan adik-adiknya agar menjauh dari Marvin dan Clara. Via santai saja, bocah itu tidak memedulikan apapun di sekitarnya dan tetap fokus pada bonekanya.


Berbeda dari Via, Rio terlihat memerhatikan Clara sambil mengernyitkan alisnya.


"Aku tidak mau jadi manusia dewasa, takut banyak masalah," gumam Rio saat ia berlalu sambil menepuk keningnya sendiri.


"Aku mau kita bicara di sini! Cepat jelaskan! Di saat aku menunggu kamu menjemputku, 'kok bisa-bisanya kamu berada di sini dan berpelukan dengan gadis itu!" Clara menepis tangan Marvin, matanya berkaca-kaca.


"Saya sedang mendukungnya, dia sakit," jelas Marvin.


"Ini sangat tidak masuk akal! Aku curiga kamu dan dia ada apa-apanya! Aku ke sini karena kebetulan mau menjenguk teman papaku yang sedang sakit! Tapi aku tidak sengaja melihat orang yang mirip kamu! Karena membawa anak-anak, kupikir itu bukan kamu! Tapi, karena aku mencium parfumnya mirip dengan milik kamu, aku penasaran dan menyusul ke sini! Ternyata ---."


Clara tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia duduk di sofa dan menangis. Pikirnya, Marvin keteraluan. Ia sudah jauh-jauh pulang dari luar negeri, namun apa yang didapat? Marvin malah banyak berubah. Tidak menepati janji, selalu menolak saat ia hendak menciumnya, dan saat ini secara terang-terangan lebih memilih bersama dengan pelayan rendahan daripada dengan dirinya yang notabene adalah kekasihnya.


"Huuks." Clara terisak.


"Saya minta maaf. Serena pelayan baru, dia butuh dukungan dari saya sebagai bosnya. Saya hanya peduli pada dia dan juga adik-adiknya yang masih kecil. Sungguh, tidak ada perasaan lain," jelas Marvin sambil menarik bahu Clara agar menangis di dadanya.


"Lepas!" tolak Clara.


"Kalian boleh pergi," Marvin memberi isyarat pada pelayan Clara.


"Baik, Pak Bos."


"Kamu tahu seperti apa saya mengasihi anak-anak yatim dan semua karyawan saya, 'kan? Harusnya, kamu tidak perlu melebih-lebihkan?" Sambil mengelus rambut Clara.


"Bagaimana mungkin aku tidak melebih-lebih, 'kan, Vin?! Aku tidak buta! Si Clara cantik dan seksi! Dia berbeda dengan pelayan kamu yang lain! Pokoknya, aku mau kamu memecat dia! Lalu apa ini?! Kenapa dia dirawat di ruangan semegah ini?! Jangan bilang kamu yang membayarnya!" teriak Clara. Emosinya masih meluap-luap.


"Ya, saya yang membayarnya, tapi akan dipotong dari gaji dia selama bekerja."


"Selama bekerja katamu?! Memangnya dia kerja apa?! Setahuku dia malah kamu sekolahkan dan tidak melakukan apapun! Vin, kamu sudah diperdaya! Jangan kamu kira aku tidak tahu siapa Serena!"


"Maksud kamu?" Marvin terkejut.


"Dia putrinya Wandira si raja judi, 'kan?! Aku tidak bodoh, Vin! Huuu." Clara menangis lagi.


"Dari mana kamu tahu?"


"Tidak terlalu penting siapa yang memberitahuku! Tapi, aku tidak mau kamu menjadi korban. Marvin, di luaran sana banyak yang sudah menjadi korbannya Wandira. Kenapa kamu tidak berpikir ke arah sana?"


"Baby, tenang dulu, biar saya jelaskan pelan-pelan." Marvin memegang tangan Clara.


"Apa papa Jacob sudah mengetahuinya?" tanya Clara.


"Sudah."


"Apa?! Jadi papa Jacob membiarkan putranya membawa anak raja judi?!" Mata Clara sampai membulat sempurna karena tercengang dengan apa yang didengarnya.


"Ya, dan saya punya alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Intinya, saya mohon maaf jika yang kamu lihat tadi tidak mengenakan. Maaf ya." Marvin memeluk Clara. Kali ini, Clara tidak menolak.


"Huuu, a-apa benar kamu tidak ada rasa?" Menatap mata Marvin. Seolah ingin menyelami isi hatinya.


"Hhm, ya," jawab Marvin singkat.


Lalu ia menangkup pipi Clara dan mencium bibir merah-merekah milik Clara. Perlakuan Marvin membuat Clara luluh, tatapan tajamnya pada Marvin berubah menjadi tatapan sendu. Ia memang sudah merindukan momen ini.


'Prak.'


Tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh, dan itu membuat Marvin melepaskan jalinan tersebut. Clara menggigit bibirnya, ia merasa belum cukup puas. Spontan melirik ke arah asal suara.


"Serena?! Beraninya kamu menganggu kami!" sentak Clara. Marvin hanya memijat keningnya dan tidak berkomentar.


"Maaf. Sengaja," ketus Serena sambil mengambil dot milik Via yang katanya sengaja dijatuhkan..

__ADS_1


Padahal faktanya, ia tidak sengaja menjatuhkannya. Melihat Marvin dan Clara bermesraan, batin Serena tiba-tiba tidak nyaman, hingga tangannya lemas dan tidak mampu memegang dot.


"Sengaja katamu?!" Clara berdiri hendak mendekati Serena. Namun Marvin menahannya.


"Rara, sudah ya. Tidak perlu dipermasalahkan." Pria itu menarik tangan kekasihnya dan membawa Clara ke luar ruangan.


"Dasar buaya!" rutuk Serena sembari mengatur napasnya yang tidak beraturan.


"Aku kenapa 'sih? Clara kekasihnya, mereka 'kan pasangan kumpul kebo? Kenapa aku harus kesal?" Serena marah pada dirinya sendiri.


"Kakak," Rio memanggil.


"Ya Rio, tunggu. Ada apa?" Serena kembali ke ruangan yang ditempati adiknya.


"Huuu hwaaa, Mama ... Mama."


Ternyata, Via menangis dan memanggil mamanya.


"Via, ada Kakak. Jangan menangis lagi ya."


Dengan sedikit susah payah, Serena memangku adiknya. Untungnya, infusnya hanya terpasang venflon dan tidak mengganggu pergerakan Serena.


"Hati-hati, Kak." Rio membantu.


"Terima kasih, Rio. Rio memang pintar," puji Serena.


"Sebenarnya, Kakak sakit apa 'sih, Kak?"


"Kakak demam tifoid, emm tipes," jawab Serena asal.


"Tipes? Kok di menu makanannya tidak pakai bubur? Itu juga kuahnya pakai santan." Rio memerhatikan menu yang terhidang di meja pasien.


"Apa?" Serena sadar diri kalau adiknya tidak mudah diprovokasi.


"Mama, Mama," Via gelisah, ia seperti ingin tidur lagi tapi masih mencari-cari sesuatu.


"Via, sshhh," Serena mengelusnya.


"Adik biasa memutar rambut panjang mama sebelum tidur, Kak. Kakak lupa ya?"


Serena segera mendekatkan kepalanya ke tangan Via. Gadis kecil itu antusias. Ia memutar-mutar sebagian rambut Serena dan mulai terpejam. Sementara tangannya yang lain tentu saja memegang dot. Via minum susu dengan lahap. Mungkin karena ia mendapatkan kembali susu yang ia inginkan setelah sebelumnya hanya diberi teh manis.


"Kak, aku juga ngantuk, boleh aku bersandar di sini?" Rio menunjuk pangkuan Serena.


"Boleh," jawab Serena.


Ia membiarkan kepala Rio bersandar di pangkuannya. Sebenarnya, posisi ini membuat Serena tidak nyaman, namun ia berusaha sebisa mungkin membuat kedua adiknya tetap nyaman.


Melihat Rio dan Via, batin Serena berdesir. Ia ingin segera mengakhiri permasalahan ini. Ia tidak mau keadaan tidak mengenakan ini terjadi terus-terus pada ia dan adik-adiknya.


Apa bertahan bersama pria itu adalah jalan terbaik?


Serena bertanya pada dirinya sendiri. Lalu terbayang lagi adegan saat Marvin mencium Clara. Lagi, di dadanya ada sesuatu yang tidak nyaman.


Aku kenapa?


Ia tidak mengetahui jawabannya. Lalu Serena pura-pura tidur saat mendengar pintu kamar perawatan terbuka dan ada langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Semakin langkah kaki itu mendekat, Serena semakin merapatkan matanya.


"Rio, pindah ke kamar ya."


Itu suara Marvin. Saat Serena mengintip, Marvin tengah memangku Rio. Serena kembali memejamkan matanya saat Marvin kembali. Selanjutnya, Marvin memindahkan Via.


"Saya tahu kamu pura-pura tidur," tuduh Marvin.


"A-apa?!" Jadillah Serena membuka matanya dan cemberut. Marvin terkekeh sambil mendekati Serena.


"Kamu mau apa? Pergi sana! Bukankah kamu banyak urusan sama kekasih kamu?!" hardiknya.


"Mau memindahkan kamu," dan Marvin benar-benar memangku Serena.


"Pak Bos! Turunkan! Hei, kalau Nona Clara tahu pasti akan berpikir macam-macam!" Sayangnya, Serena belum bisa merontakan kakinya karena masih merasa ngilu.


"Pasien itu tempatnya di sini," ujar Marvin saat merebahkan Serena di bed pasien.


"Ke-kenapa Anda ke sini lagi? Mana Nona Clara?"


"Dia sudah saya atasi."

__ADS_1


"Dasar buaya," sahut Serena.


"Apa?! Beraninya kamu mengganti nama saya dengan julukan yang aneh-aneh. Saya lebih suka dipanggil Marsupilami." Sambil menyelimuti Serena.


"Apa lagi namanya kalau bukan buaya?"


"Atas dasar apa kamu memanggil saya buaya?" Sambil bersiap. Marvin sepertinya hendak pergi ke suatu tempat. Namun, benda yang dipegang Marvin membuat jantung Serena berdegup.


"A-apa itu pistol mainan?!" Serena sampai duduk dan kembali mengamati benda tersebut.


"Bukan," Marvin menjawab dengan entengnya.


"Kenapa Anda memiliki barang berbahaya itu? Apa itu ilegal?" Serena ketakutan. Ia mengintip dari balik bantal.


"Ini pemberian papaku. Di negara papa saya, papa mendapatkannya secara legal," jelasnya.


"Untuk apa Anda membawa itu?! Berbahaya, kenapa harus membawa benda itu?!"


"Karena orang yang akan saya hadapipun bersenjata."


"A-apa?! Pak Bos, Anda bercanda, 'kan? Siapa yang akan Anda hadapi? Apa ini ada hubungannya dengan mama dan papaku?" Serena menatap Marvin, matanya berkaca-kaca.


"Kalau saya jawab ada, bagaimana pendapatmu?" Sambil mendekati Serena dan memasukkan pistol ke dalam tasnya.


"Pak Bos, a-aku rela menjadi budak Anda, a-asalkan, Anda berjanji akan menyelamatkan mamaku." Dengan tangan gemetar, Serena meraih tangan Marvin.


"Yakin rela menjadi budakku?" Serena mengangguk.


"Seumur hidup kamu?"


"Emm, sa-sampai aku bisa membayar kerugian perusahaan Anda yang diakibatkan oleh papaku." Ia terus menatap Marvin dengan tatapan penuh harap.


"Bagaimana dengan papamu?"


"Papaku? Sampai aku tahu kebenarannya, tolong biarkan papaku hidup. A-aku mohon," pintanya. Air mata Serena menetes membasahi punggung tangan Marvin.


"Baiklah, tapi saya ada satu permintaan." Marvin mengusap air mata di pipi Serena.


"Katakan," lirih Serena.


"Papaku mantan mafia, dan papa kamu bandar judi. Apa kamu berpikir kita bisa sejalan?" Pertanyaan Marvin terdengar aneh. Serena tidak bisa memahaminya.


"Maksud Anda?"


"Saya sendiri tidak yakin kalau papa saya sudah berhenti dari dunia mafia."


"Pak Bos, mimpiku adalah keluargaku kembali utuh seperti semula. Aku pribadi tidak apa-apa jatuh miskin asalkan aku bisa melihat senyuman mama dan adik-adikku. Sebenarnya, aku juga menyayangi papaku. Aku hanya tidak menyukai sifatnya," jelas Serena.


"Sama, saya juga tidak menyukai sifat papaku."


"Tapi dalam hal wanita, kurasa papaku lebih baik daripada Anda."


"Maksudnya?" Marvin mengernyitkan alis.


"Papaku setia. Ia hanya mencintai mama, dan tidak ada wanita lain di sampingnya kecuali mamaku."


"Emm, tunggu. Apa kamu cemburu?" duga Marvin.


"Hha? A-apa?! Cemburu? Cemburu untuk apa? Jangan asal bicara ya!" elak Serena.


"Hahaha." Marvin malah tertawa.


"Cepat pergi!" usir Serena.


"Baiklah," Marvin membalikkan tubuhnya.


Serena. Ia menatap punggung Marvin dan berharap jika pria itu bisa diandalkan. Lalu ia memeluk lututnya dan menangis. Serena tidak menyadari jika Marvin kembali membalikkan badan dan melihat keterpurukkannya.


"Mama ..., Papa ..., aku tidak mengerti dengan semua ini," lirihnya, dan ucapannya tentu saja didengar oleh Marvin.


Untuk beberapa saat, Marvin terus menatap Serena. Ia nyaris melangkahkan kaki untuk kembali pada Serena. Namun entah apa sebabnya, Marvin mengurungkan niatnya. Pria itu kini melangkah mantap meninggalkan kamar Serena.


"Jaga dia baik-baik," ucap Marvin pada dua orang pria yang berada di depan kamar Serena.


"Baik, Pak Bos," ucap mereka serempak.


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2