
'PRAK.'
Gelas kaca di tangannya terjatuh hingga pecah berkeping-keping. Tanganya bahkan terluka dan meneteskan darah.
"Ahh, Eren!" pekiknya. Langsung teringat pada putri cantiknya yang saat ini tidak mudah dijangkaunya lagi.
"Mama? Mama baik-baik saja?" Rio yang berusia 10 tahun berlari ke dapur saat mendengar suara gelas terjatuh.
"Ma-Mama baik-baik saja, cepat tidur lagi. Takut Via nangis," bujuknya. Ia mengusap kepala putranya dengan tangan gemetaran. Tangan yang terluka ia sembunyikan di balik punggungnya.
Semoga kamu baik-baik saja, pintanya di dalam hati.
Di hadapan Rio dan Via, bu Putri selalu berusaha tegar. Seperti halnya Serena, dia sangat pandai menyembunyikan kesedihannya. Setelah Rio kembali ke kamar, bu Putri terpuruk di lantai sambil menghisap darah yang menetes dari jemarinya. Batinnya benar-benar gundah.
Lalu memunguti serpihan gelas seraya menitikkan air mata. Buliran bening dari matanya, seolah berbaur dengan serpihan kaca tersebut.
"Eren, sedang apa kamu sayang? Kamu baik-baik saja, 'kan? Eren, Mama rindu sama kamu, Nak. Mama kesepian tanpa kamu. Walaupun ada adik-adik kamu, tapi tanpa kamu ... hidup Mama jadi sepi, Nak," gumamnya.
Setelah merapikan serpihan kaca, ia memberanikan diri pergi ke kamar suaminya.
"Pap," ia mengetuk pintu kamar. Tapi tidak ada jawaban.
"Pap, boleh aku masuk?" tanyanya. Bu Putri sebenarnya cantik, sayangnya ... dia terlihat kurus.
"Masuk." Ada sahutan juga dari dalam. Ia masuk dengan langkah mengendap. Khawatir membuat suaminya terganggu.
"Ada apa?" tanya pak Wandira. Ia menoleh sejenak pada istrinya lalu kembali memejamkan mata.
"Aku kangen sama Eren, Pap. Apa aku bisa meminta nomornya. Entah kenapa, malam ini aku merasa tidak tenang dan sangat merindukan dia, Pap."
"Aku tidak punya nomornya. Sudahlah, kamu tidur saja. Aku kira kamu ke kamar ini karena ingin melayaniku. Sudah lama juga 'kan kamu tidak melayaniku? Apa karena aku sudah tidak kaya lagi?" ocehnya.
"Ma-maaf Pap. Aku tidak melayani kamu karena mau fokus dulu sama anak-anak dan beradaptasi dengan kehidupan baru kita. Kalau Pap tidak mau kasih nomor HP-nya, lusa aku ingin ke kantornya Bos Marvin. Aku rindu sama Eren, Pap."
"Apa katamu?! Putri! Dengar ya! Aku sudah bilang kalau aku tidak punya nomornya! Bos Marvin memang tidak membolehkan kita berkomunikasi dengan Eren! Paham?!" teriaknya. Kilatan emosi terpancar dari sorot matanya.
"Ma-maaf Pap. Tolong jangan marah. Aku seperti ini karena batinku tidak tenang. Aku khawatir terjadi apa-apa pada Eren."
"Sini kamu!" Pak Wandira si raja judi menarik tangan bu Putri.
"Awh, lepaskan Pap!"
"Daripada kamu berpikir yang tidak-tidak lebih baik layani aku!"
"Pap, ja-jangan. Jangan sekarang, kasihan sama Rio dan Via, kalau mereka mencari Mam bagaimana?" Bu Putri berusaha menolak. Namun tubuhnya yang kurus dan ringkih tentu saja tidak mampu melawan tubuh pak Wanidira yang tinggi besar.
Wanita cantik itu hanya bisa terisak-isak saat suaminya melucuti busananya. Bukan, ia bukan tidak ingin memenuhi kewajibannya sebagai istri. Ia hanya ingin menenangkan diri dulu agar bisa melayani pak Wandira dengan baik.
"Kamu tahu?! Walaupun kamu kurus dan penyakitan! Di mataku kamu tetap cantik!" sentak pria itu sambil menciumi leher dan tengkuk bu Putri. Pada akhirnya, ia membiarkan suaminya itu mengusai tubuhnya.
"Si-sial! Ranjang berengsek!" gerutu pak Wandira saat ia mendengar ranjang mereka berdecit-decit.
Di balik kesedihan dan kelukaan itu, bu Putri merasa lucu juga dengan tingkah-polah suaminya yang sangat sibuk. Ya, pak Wandira Sibuk menahan ranjang agar tidak berdecit. Suaminya itu pasti takut Rio dan Via terbangun karena mendengar decitan ranjang.
"Mama, Mama di mana? Via mau minum susu." Itu suara Rio.
"Pi-pintunya?"
Bu Putri panik. Pun dengan pak Wandira si raja judi. Mereka tahu benar jika kunci kamar rumah sewaan ini rusak parah.
"Siaaal," geram pak Wandira.
Pria itu terpaksa menghentikan aktivitasnya dan berlari ke kamar mandi saat mendengar langkah kaki Rio. Bu Putri merasa lega. Cepat-cepat memakai dan memperbaiki busananya yang berantakan.
"Mama tidak apa-apa, 'kan?" Rio menatap wajah bu Putri.
"Ti-tidak sayang, Mama baik-baik saja."
"Tunggu, apa ini, Ma? Ini juga. Satu, dua, tiga. Mama alergi? Apa digigit serangga?" Rio kaget saat menyadari leher mamanya merah-merah.
"Emm, tadi Mama gatal. Bisa jadi memang alergi." Padahal, itu ulahnya si raja judi.
"Oh," Rio mengangguk.
"Rio duluan ya. Mama mau ke dapur dulu bikin susu."
Bu Putri bergegas ke dapur. Sungguh, batinnya tetap terpaut pada putri sulungnya. Sambil membuat susupun ia terus melamun.
"Eren, kamu baik-baik saja 'kan, Nak?"
...***...
Serena. Gadis itu terus meronta, beteriak dan menangis. Ia tidak ingin Marvin menyentuhnya. Namun apalah daya, sebab semuanya hanya berujung dengan kata, 'sia-sia.'
Mama ... jeritnya dalam hati.
"Ja-jangan, ku mo-mohon jangan ...," lirihnya tenaganya nyaris habis karena sedari tadi terus beteriak dan memberontak. Keringat di wajah dan tubuhnyapun bercucuran.
Sementara Marvin, ia masih asyik dengan halusinasinya. Ia merasa sedang bercumbu di alam mimpi bersama Putri Eren.
"Wajahmu mirip dengan seseorang yang kukenal," gumam Marvin.
__ADS_1
Sejenak ia memerhatikan wajah Serena, lalu kembali melakukan aktivitas yang membuat tubuh Serena kembali gemetar dan terengah-engah. Akibat ulah Marvin, tubuh Serena telah beberapa kali mencapai batasnya dan kelelahan.
"Bukan, kamu buka Rara. Ohh ..., aku ingat. Kamu adalah Putri Eren," racau Marvin saat ia menanggalkan penghalang terakhir yang melindungi tubuhnya dengan tangan gemetaran dan terburu-buru.
"Ti-tidak .... Berengsek ...."
Serena tak kuasa beteriak lagi. Segera memejamkan mata dan memalingkan wajah. Tidak sengaja sekilas melihat tubuh Marvin, membuat gadis itu kian ketakutan dan merinding di seluruh tubuh.
"Kamu bilang apa tadi?! Berengsek? Siapapun itu, dilarang menghina saya!" tegas Marvin sambil menyatukan tangan Serena dan mengikat dengan dasinya.
"Lepaskan aku, Marvin. Suatu hari aku akan membunuhmu," ancam Serena di sisa-sisa tenaganya.
"Ini hukuman karena kamu selalu melawan saya!"
"Huuks. A-aku Serena, aku Alsava Serena, aku putri Wandira si raja judi. A-aku istri sitaan kamu, Marvin. Tolong sadarlah, Marvin."
Faktanya, Marvin semakin menggila, tubuh mulus gadis itu dipenuhi kissmark di sana-sini.
"Huuu, kita dijebak. Kamu juga dijebak. Tolong jangan mengambil kesucianku, komohooon, please Marvin, please ...." Dengan tatap mengiba, Serena memohon.
Namun tetap tidak berhasil. Tubuh Marvin telah dikuasai sepenuhnya oleh hasrat yang berlebihan. Pria itu merangkak sempoyongan. Ia mendekati inti tubuh Serena dan kembali melakukan hal-hal vulgar yang tidak layak dideskripsikan.
"A-ahm ...."
Serena menggigit bibirnya kuat-kuat. Matanya terpejam rapat, tangannya yang diikat mengerat erat.
Marvin. Ia sedang melakukan hal di luar batas. Ia menjadi pria yang berkubang napsu. Tengah memaksakan diri mengusai Serena dengan semena-mena. Sungguh biadab manusia yang telah membuat Marvin menjadi seperti ini.
Serena mengerang. Ia merasakan sakit yang luar biasa saat Marvin memaksakan tubuhnya pada Serena. Gadis itu menggigit bibirnya hingga lecet dan berdarah. Airmatanya bederai. Kejadian ini tidak akan dilupakannya.
Papa ... aku membencimu.
Disusul oleh teriakannya yang menyayat hati dan memilukan. Tubuhnya gemetar dan mengejang.
Marvin. Pria itu benar-benar melakukannya. Pada hakikatnya, mungkin akan sulit menemukan pria yang tidak terpikat oleh Serena. Ya, gadis itu memiliki semua hal yang diidamkan pria dan diimpikan oleh seluruh wanita.
Sebenarnya, tidak perlu obat apapun untuk menuntut pria agar terpesona oleh Serena. Namun hal berbeda terjadi pada Marvin. Ia melakukannya karena pengaruh obat. Hingga saat ini, jiwanya masih merasa jika yang dilakukannya adalah bagian dari mimpi. Ia menguasai, menjamah, menjajah dan mengeksplor tubuh indah yang tidak berdaya itu dengan ganasnya.
Sungguh, ini mimpi terindah dan ternikmat yang pernah ia rasakan. Marvin bahkan berharap jika mimpi ini tidak lekas berakhir. Ia termangu sesaat kala merasakan ada sesuatu yang mengalir dari sana. Namun hal itu tidak menghentikan hasratnya. Malah semakin membuatnya menggebu dan bergairah.
"Huuu ...."
Di akhir jeritannya, air mata Serena terus meleleh. Ia merasa hidupnya tidak berharga lagi. Ia tahu jika Marvin telah merusaknya. Ia menyadari sudah tidak suci lagi.
Dia memang suamiku. Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini? Batin Serena melara.
"Don't cry, Putri Eren."
"Cu-cukup .... Sshh .... Sa-sakit ...," lirih Serena.
Apa yang diucapkannya tidak didengar oleh Marvin karena pria itu tengah menikmati mimpi liarnya. Mata Marvin sesekali terpejam, sesekali terbuka, dan bibirnya tiada henti melenguh dan mengerang. Ia sedang menikmati sebuah sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bahkan tidak menyangka jika rasanya akan sedahsyat ini.
Marvin tidak mampu mengelak lagi. Terjangan rasa yang melenakan itu telah memakari tubuhnya. Ia meracau dan menggila. Tangan Marvin memeluk kuat tubuh Serena hingga otot-otot di tubuhnya menyembul ke permukaan kulitnya yang telah berpeluh.
"Eren ...."
Entah ia sadar atau tidak. Bibir pria itu menyebut nama panggilan Serena.
Waktu berjalan begitu lama bagi Serena, namun terasa begitu singkat di mata Marvin. Hingga akhirnya, Marvin mencapai batasnya. Ia mengerang pelan, dan tersungkur ambruk di samping tubuh Serena. Mata Marvin menutup perlahan, dan ia yakin jika mimpi ternikmatnya itu telah berakhir.
"Huks, huks," isakan dari bibir seksi yang bengkak dan memerah itu kembali terdengar.
"Marvin ... k-kamu melukai tubuhku."
Setelah tubuhnya terbebas dari kuasa Marvin, Serena mencoba menggerakkan tubuhnya perlahan. Dalam keadaan tangan yang masih terikat, ia berusaha melihat apa yang terjadi dengan mengangkat kepala dan melihat ke sana.
"Ti-tidak, k-kenapa?" pekiknya.
Serena melihat darah segar terus mengalir dari sana, dan saat ia menggerakkan kakinya, Serena merasa sangat kesakitan.
"Uhh .... A-apa yang terjadi?"
Ia menjatuhkan kepalanya pada bantal dan menggeleng kepala berulang-ulang. Sedang berupaya menyangkal kejadian yang baru saja dialami dan dilihatnya. Darah itu, kini bahkan telah membasahi punggungnya. Rupanya, apa yang dilakukan oleh Marvin telah mengakibatkan inti tubuh Serena terluka parah.
"Huuu. Marvin, ba-bangun. Sesuatu terjadi padaku, huuks. Bangun."
Karena tangannya terikat dan kakinya sakit saat digerakkan, Serena berusaha membangunkan Marvin dengan kepalanya. Namun pria itu sangat lelap.
"Marvin, darahnya semakin banyak. Huuu, aku takut mati. To-tolong bangunlah. Huuu, Mama ... aku belum siap mati, Ma. Aku masih muda dan banyak dosa. Huuu, aku juga belum bisa membahagiakan Mama dan adik-adik."
Serena hanya bisa menangis sambil memandang langit-langit kamar. Sementara itu, kaki mulusnya telah berlumur dalah, dan darah itu kini telah mencapai tubuh Marvin serta merubah sebagian warna sprei yang putih menjadi merah.
"Marvin ... ba-bangun. Please .... cepat sadar dan ce-cepat tolong aku."
Bibir merah Serena perlahan memucat. Wajah segarnyapun perlahan berubah menjadi pucat pasi.
"Mama ... Via ... Rio ...," lirihnya.
Bibirnya gemetar dan pandangan matanya mulai kosong. Rupanya, darah yang keluar dari tubuhnya sangat banyak. Sepertinya, inti tubuh Serena telah mengalami robekan yang sangat parah.
Tuhan, apa Engkau telah menakdirkan aku mati dalam keadaan seperti ini? Apa umurku hanya sampai di sini?
__ADS_1
Pandangan mata Serena mulai kabur, gelap dan berkunang-kunang. Ia juga merasa lemas dan mual.
Tuhan, aku ingin panjang umur. Tuhan, aku ingin membahagiakan mama dan adik-adikku. Tuhan, aku masih ingin melihat sinar mentari dan rembulan. Tuhan, aku masih ingin dicintai dan mencintai seseorang. Tuhan ....
Batin Serena terus memohon di saat matanya telah terpejam.
Tuhan, jika detik ini adalah akhir kematianku, apa aku bisa dikelompokkan sebagai wanita beruntung yang meninggal gara-gara melayani suaminya?
Di sisa-sisa kesadarannya, gadis itu berharap jika Marvin bisa menjadi pelantara kebaikan untuknya.
Papa ... aku berharap Papa mau berubah menjadi manusia yang baik.
Rio ... Via ... Kakak mencintai kalian. Jika Kakak panjang umur, kita main ke pantai dan mengubur badan di pasir lagi ya ....
Tangan Serena yang terikat terkulai, lalu gadis itu ... pingsan. Sementara darah dari inti tubuhnya masih tetap menetes.
_______
Sekitar Tiga Puluh Menit Kemudian
"Awhh ...."
Marvin terbangun sambil memegang kepalanya. Ia masih merasakan kepalanya berat dan sedikit pusing. Ia membalikkan tubuhnya menjadi terlentang. Perlahan membuka mata dan sedikit meringis karena merasa pusing.
"HHA?!"
Terperanjat karena mendapati tubuhnya yang tanpa busana. Segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"A-apa?!" Terkejut karena di balik selimut itu ada ....
"DARAH?!"
Mata Marvin membulat sempurna. Segera menyibak selimut dan melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Se-Serena?!"
Marvin memegang dadanya sambil mengingat kembali apa yang terjadi.
"Ti-tidak mungkin!" Mimpi gila itu membayangi isi kepalanya.
"Arrggh!" Ia kesakitan setelah menggigit tangannya sendiri. Berarti ini bukan mimpi, dan mimpi gila itu adalah kenyataan.
"Serena!" Marvin merangkul Serena dan membawanya ke pangkuan.
"Serena!" Ia tidak mampu berkata hal lain selain memanggil nama Serena.
Matanya menatap tubuh Serena yang dipenuhi tanda cinta. Tangannya cepat-cepat melepas ikatan di tangan Serena.
"Serena!"
"Se-Serena!"
Marvin panik. Ia tidak bisa berpikir jernih lagi. Darah yang mengotori tubuh Serena membuatnya takut.
"Kurang ajar!" Marvin menyadari dalang yang sengaja menjebaknya.
"Serena!" Meletakkan telunjuk di ujung hidung Serena.
"Ti-tidak." Serena tidak bernapas.
Lalu meraba nadi di tangan Serena. Tidak teraba.
"Serena! Ja-jangan mati!"
Lanjut mengecek nadi di leher Serena. Ada. Namun sangat lemah. Masih ada harapan. Marvin meletakkan kembali tubuh Serena dan segera diselimutinya. Lanjut memakai busananya yang berceceran di lantai. Sementara matanya tetap fokus pada Serena.
"Tolooong! Tolooong!" teriak Marvin.
Ia menggodor pintu hotel untuk meminta bantuan. Namun tidak ada yang meresponnya. Lalu ia mencari apapun yang ada di kamar ini dan berharap ada yang bisa digunakan untuk membuka pintu. Marvin mengacak apapun yang dilihatnya hingga kamar megah tersebut jadi berantakan, dan di bawah tempat tidur Marvin menemukan telepon paralel.
Giginya gemeretak. Ia yakin telepon paralel di kamar ini sengaja disembunyikan oleh musuhnya. Segera diambil dan disambungkan. Kemudian menelepon resepsionis dengan napas yang tidak beraturan lantaran panik.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" Suara resepsionis.
"To-tolong ----." Marvin mematung. Ia bingung harus mengatakan apa pada resepsionis tersebut.
"Halo, Pak? Ada yang bisa kami bantu?"
"Emm, a-anu, i-itu, emm i-istri saya mengalami perdarahan! Tolong segera bawa tim medis ke kamar saya!" Marvin kaget sendiri setelah mengatakan kalimat itu.
"Perdarahan?! Baik, Pak. Kami akan segera ke sana."
Setelah menutup telepon. Marvin kembali memeluk Serena.
"Se-Serena, ma-maafkan saya," gumamnya.
"Serena ...."
...~Next~...
____
__ADS_1
Punten, nyai terlambat mengintai karena sedang mengikuti kajian ilmiah dan persiapan SOCA. Mohon maaf ya. Jangan lupa dukungannya. Caranya: like, komen, vote, bunga, dll. Jika berkenan itu juga. Enggak juga tidak apa-apa. Hehehe.