ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
DI VILA


__ADS_3

Serena membiarkan tubuhnya basah-kuyup. Ia merasa jika tubuhnya sangat kotor dan tidak berharga. Pikirnya, wajar jikapun ia dijadikan oleh Marvin sebagai barang sitaan. Toh, dirinya memang bukan berasal dari sesuatu yang baik. Ia dilahirkan dari papa penjudi, dan juga dari seorang mama bodoh yang terlalu mencintai suami jahatnya.


"Huuu."


Serena tergeletak di kamar mandi dan membiarkan keran air tetap menyala. Kalau bisa, ia ingin membuat cadangan air di apartemen milik Marvin habis tidak bersisa. Ia akan tetap menyalakan keran air itu, selamanya.


Lama-lama gadis itupun kedinginan jua. Tanpa melepas pakaian, Serena keluar dari kamar mandi dan naik ke tempat tidur yang kondisinya teramat berantakan. Ia tersungkur di sana dan kembali menangis. Sekujur tubuhnya jadi dipenuhi cerca kain, busa dan kapuk.


"Huuu. Mama ... apa boleh aku membencimu?"


Ia ragu untuk membenci mamanya. Cintanya yang teramat dalam pada sang mama, membuatnya tidak bisa membencinya. Apa lagi saat ia teringat cerita para pengasuhnya yang mengatakan jika mamanya nyaris mati saat melahirkannya.


"Huuu. Aku ingin kabur dari apartemen ini," gumamnya. Tapi, bagaimana caranya?


"Permisi Nona, aku Hugo." Suara dari luar kamar.


Serena awalnya terkejut. Namun, karena kondisinya sedang putus asa, gadis itu tidak memedulikan keadaannya. Pikirnya, biarkan saja Hugo mengetahuinya dan melaporkan keadaannya pada manusia sok suci itu. Ia bangun dan membuka kunci pintu.


"Haaa?! Nona?!"


Hugo yang datang bersama Indri hanya bisa membelalakan mata serta terbengong-bengong, dan mereka semakin syok saat melihat kondisi kamar.


"Indri! Di mana adikku?!"


Melihat Indri, Serena segera menarik tangan wanita itu ke dalam kamar. Hugopun ikut masuk dan kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar dengan mulut ternganga.


"Kenapa kamar Nona seperti kapal pecah? Kenapa Nona merusaknya?" tanya Hugo sambil memunguti bagian-bagian ponsel milik Serena yang tergeletak di lantai.


"Di mana adik-adikku? Kamu bawa kemana Rio dan Via, hah?!" Ia tidak memedulikan pertanyaan Hugo. Serena mencengkram baju Indri karena ingin segera mendapat jawaban.


"Nona tenang dulu. Akan aku jelaskan pelan-pelan." Sambil membersihkan cerca kain dan kapuk yang mengotori wajah cantik Serena.


"Cepat katakan, Indri!"


Sementara Hugo, pria itu langsung inisiatif merapikan kamar Serena. Ia memasukkan cerca ke tempat sampah, dan segera ke kamar mandi untuk mematikan keran air.


"Aaaa!"


Teriakan Hugo tiba-tiba menggema. Indri menyusul dan mendapati Hugo sudah tersungkur di kamar mandi. Ya, Hugo terpeleset karena lantainya licin akibat sabun yang ditumpahkan oleh Serena.


"Hahaha." Indri malah tertawa.


"Indriii!" Mata Hugo mendelik.


"Upps, maaf. Lanjutkan. Aku akan menangani Nona."


Indri menutup pintu kamar mandi di saat Hugo masih meringis sambil mengusap bokongnya yang terasa linu dan sakit.


"Nona."


Indri mendekati Serena yang tengah bersimpuh di pojok kamar. Gadis itu merasa rendah diri setelah Marvin melontarkan ucapan yang membuat batinnya terluka.


"Jangan dekat-dekat aku, Indri! Aku tidak pantas kamu dekati!"


"Nona, aku tidak akan bertanya Anda ada masalah apa. Aku ke sini untuk mengajak Anda pergi ke suatu tempat," bujuknya.


"Tidak mau! Aku tidak menyukaimu, Indri! Kamu belum menjawab pertanyaanku! Kamu kemanakan adik-adikku?!"


"Nona, adik Anda baik-baik saja. Pak Bos membawa mereka ke tempat yang aman. Namun untuk alamatnya, aku tidak bisa mengatakannya pada Nona."


"Bagaimana aku bisa percaya kalau aku tidak melihat buktinya?! Arrrgggh! Aku membencimu Marvin! Kamu jahat!" teriaknya.


"Nona, Anda salah menduga. Pak Bos tidak jahat. Beliau sangat menyayangi adik-adik Anda. Aku baru saja mengantarkan banyak mainan untuk adik-adik Anda atas perintah Pak Bos. Aku bahkan pernah melihat Pak Bos menyuapi mama Anda."


"Apa katamu?! Jangan mengarang cerita ya!" Serena tidak memercayainya.


"Nona, biar aku tunjukkan ini pada Anda."


Indri membuka galeri di ponselnya. Lalu menunjukkan sebuah vidio singkat pada Serena. Serena melihatnya dan melongo tidak percaya. Ia melihat Marvin sedang berusaha menyuapi mamanya yang seolah menghindari Marvin. Mamanya sedang dirawat di sebuah kamar perawatan yang terlihat mewah.


"Mama ...," lirihnya.


Airmatanya kembali mengalir, dan ia tidak mampu menyimpulkan maksud dari sikap Marvin pada vidio tersebut. Apakah Marvin tulus? Atau hanya sebuah rekayasa untuk menipu dirinya?


"Bu Putri sudah pulang dari rumah sakit dan berkumpul kembali dengan adik-adik Anda. Tapi mereka tidak tinggal di rumah kontrakan lagi. Pak Bos sudah menempatkan mereka di rumah yang lebih layak," jelas Indri.


Serena terdiam. Penjelasan Indri membuatnya kian bingung.


"A-apa kamu tahu di mana papaku?"


Walaupun ia membenci sang papa. Namun, ia tetap ingin mengetahui kabarnya. Ya, papanya memang penjudi. Tapi Serena tidak bisa melupakan masa-masa indah itu. Masa di mana ia begitu dimanjakan oleh papanya. Serena mengelus rambutnya yang pernah dikepang oleh sang papa. Lantas menatap kukunya yang sering dipotong oleh papanya. Lalu memegang liontin berbentuk hati yang terpasang di lehernya.


Ini adalah liotin pemberian si raja judi di ulang tahunnya yang ke sepuluh. Satu-satunya peninggalan yang tidak diambil oleh papanya dengan alasan liontin tersebut berharga murah.


"Papa," spontan memanggilnya.


"Papa Anda ada di penja ---." Indri memotong kalimatnya.


"A-apa maksudmu papaku dipenjara?!" Serena terkejut.


"Ti-tidak Nona. Aku salah bicara. Sekarang Nona siap-siap ya, kita harus pergi."


"Indri, cepat jelaskan! Jika papaku dipenjara, lalu siapa yang menjaga mama dan adik-adikku?!"


"Nona, sebaiknya Anda bertanya langsung pada Pak Bos. Aku tidak memiliki wewenang untuk menjelaskannya. Maka dari itu, Nona harus bersiap dan ikut dengan kami."


"Ya, Nona. Kami harus membawa Anda," sahut Hugo yang baru saja keluar dari kamar mandi dan tampak kelelahan.


"Baik, aku ikut."


Serena berpikir, dengan keluar dari apartemen ini, ia bisa memiliki kesempatan untuk kabur. Padahal, ia sendiri tidak tahu akan dibawa kemana.


"Jangan lupa bawa buku pelajaran. Nona harus belajar," tambah Hugo.


"Ya sudah, kamu keluar dulu. Aku akan membantu Nona Serena," timpal Indri.


"Kamu tidak bertanya kenapa aku merusak kamar ini?" tanya Serena pada Indri.


"Anda pasti memiliki alasan. Aku tidak berani bertanya lagi." Indri sedang mengeringkan rambut Serena.


"Kemana kamu akan membawaku? Apa ini perintah manusia itu?"


"Manusia itu? Maksudnya Pak Bos? Ya, ini memang perintah Pak Bos, Nona. Pak Bos ingin membawa Nona ke vila pribadinya."


Serena menautkan alisnya.


"Indri."


"Ya, Nona Serena."


"Apa kamu tidak penasaran dengan hubunganku dan Pak Bos?"


"Tidak," jawab Indri sambil tersenyum.


Mendengar jawaban Indri, Serena jadi yakin jika Marvin memang biasa menyimpan wanita di apartemennya sehingga hal itu menjadi lumrah di mata para pegawainya.


"Apa Pak Bos memiliki kekasih selain Nona Clara?"


"Tidak ada. Kekasihnya hanya Nona Clara."


"Tidak ada?" Serena kembali menautkan alisnya.


"Menurutmu, aku ini siapanya Pak Bos?" Serena ingin mengetehui persepsi Indri terhadapnya.


"Emm, aku tidak berani menyimpulkan, Nona."

__ADS_1


Serena menghela napas.


...***...


"Kalian mau membawa Serena ke mana?" tanya Manda yang mendapati keberadaan Serena, Hugo, dan Indri di area pintu keluar.


"Aku diperintah Pak Bos untuk membawanya ke perpustakaan. Kata Pak Bos, mulai hari ini, Nona Serena akan bekerja di perpustakaan," jelas Hugo.


Mata Serena mengerling. Keterangan Hugo dan Indri sangat berbeda. Siapa yang benar? Mau kemana sebenarnya?


"Ya Bu Manda, kami akan ke perpustakaan," tambah Manda.


Ke perpustakaan? Batin Serena bertanya-tanya. Lalu ia menyimpulkan jika Indri dan Hugo telah bersekongkol.


"Oh, syukurlah. Selamat ya Serena."


Manda bahagia karena si sumber keonaran akan pergi dari apartemen ini. Ia menatap kepergian Serena dengan senyum merekah.


"Yes," ujar Manda dengan nada penuh semangat.


...***...


Sepanjang jalan, Serena hanya terdiam. Ia terus melamun dan melamun. Sedang memikirkan hal-hal yang mengganggu batinnya. Di usianya yang masih belia, wajar jika masalah ini terasa memberatkannya.


"Mama ...."


Di sisi jalan, ia melihat seorang ibu yang tengah menuntun tangan putrinya. Pemandangan itu membuatnya semakin merindukan mamanya. Lalu anak-anak kecil yang sedang bermain itu, membuatnya rindu pada Rio dan Via.


"Apa ada mau membeli atau memakan sesuatu?" tanya Indri.


"Tidak," jawabnya singkat.


...***...


Mereka tiba di vila yang dimaksud. Serena mematung di depan vila tanpa ekspresi.


Bagaimana bisa kabur? Via ini dikelilingi tembok yang tinggi dan berduri.


"Masuk, Nona," ajak Indri. Ia menarik tangan Serena.


"Ini adalah vila pribadi milik Pak Bos. Jika Nona ingin sesuatu, Nona ke dapur saja. Ada banyak bahan makanan yang bisa diolah. Aku dan Hugo pamit undur diri."


"Apa katamu?!" Serena terkejut saat menyadari jika dirinya akan ditinggalkan seorang diri.


"Maaf Nona. Kami hanya ditugaskan mengantar Anda. Pak Bos menyuruh kami membiarkan Anda sendiri di vila ini agar Anda merasa lebih tenang dan fokus belajar," jelas Hugo.


Mereka serius dengan ucapannya. Benar-benar berlalu meninggalkan Serena.


"Hugo, Indri, tunggu! Aku takut sendirian! Kalian jangan pergi!"


Serena mengejar sampai ke gerbang. Namun, pintu gerbang telah tertutup otomatis dan terkunci.


"Hugooo! Indriii!" teriaknya.


Gadis itu berjongkok di balik gerbang. Lalu menatap bangunan vila yang menurutnya terasa menyeramkan.


"Semoga ada jalan keluar."


Ia memberanikan diri mengelilingi bagian luar vila. Namun, tidak ada celah sedikitpun untuk ia bisa kabur. Hanya menemukan kolam renang yang sangat luas dengan airnya yang begitu jernih. Serena duduk di sisi kolam, kaki indahnya menjuntai ke dalam air dan digerak-gerakan.


Sebenarnya, ini bisa menjadi kesempatan untuknya bunuh diri. Namun Serena berpikir jika kematiannya tidak akan memecahkan masalah. Gadis itu tahu jika bunuh diri adalah perbuatan dosa.


Pikirnya, daripada bingung, lebih baik ia berenang saja. Serena berdiri dan melucuti busananya. Hanya menyisakan pakaian yang menutupi dua bagian dari tubuhnya.


...***...


"Dasar ceroboh!"


Marvin mengeraskan rahangnya. Ia sedang melihat live CCTV di vila pribadinya. Terkejut seketika saat ia menemukan Serena ada di kolam renang.


Tangannya mengepal kuat. Lalu beranjak dari meja kerja setelah mematikan laptopnya.


"Saya pulang cepat, tolong rapikan semuanya!" titahnya pada sekretarisnya.


"Baik, Pak."


...***...


Di area parkir, Marvin menelepon kekasihnya.


"Baby, malam ini saya tidak pulang, ada hal penting yang harus saya urus."


"Boleh aku ikut?"


"Maaf, tidak bisa baby."


"Memangnya urusan apa, honey? Klien atau investor?"


"Emm, bukan keduanya."


"Maksudnya?"


"Sudah ya baby. Saya buru-buru."


Marvin mengakhiri panggilan dan bergegas masuk ke mobilnya.


Setelah melajukan kemudi, pria itu beberapa kali memijat keningnya. Ternyata, ia sedang menyingkirkan pikiran kotornya. Serius, tubuh milik Serena saat ini tengah memenuhi isi kepalanya.


Semok (seksi dan montok), batinnya.


"Arrrggh! Siaaal! Saya mengaku kalah Wandira!" geramnya. Lanjut memukul setir dan mempercepat laju mobilbya.


...***...


Serena. Setelah berenang, ia merasa agak lapar. Segera menepi ke sisi kolam sambil mengibaskan rambut panjangnya.


"Aku harus memotong rambutku," gumamnya.


Karena malas mengambil handuk, ia membiarkan tubuhnya mengering dengan sendirinya. Serena merebahkan tubuhnya pada kursi panjang berbahan dasar rotan yang berada di sisi kolam. Ia menghalangi matanya dengan lengan dan terpejam.


Serena berencana akan tidur sejenak sebelum pergi ke dapur untuk memakan sesuatu. Udara sore yang hangat, membuat Serena nyaman. Ia melupakan kesedihannya dan terlelap.


...***...


Setelah memarkirkan mobilnya, Marvin bergegas ke dalam vila. Ia mengira jika Serena telah selesai berenang dan sudah berada di dalam vila.


"Serena," panggilnya. Langkahnya terhenti saat melihat koper Serena masih berada di depan kamar.


Apa dia masih berenang? Ya ampun!


Ia beranjak ke kolam renang.


Serena?


Langsung memalingkan wajah kala melihat pemandangan di sana.


"Kamu mau cari masalah rupanya ya?"


Marvin mendekat sambil melonggarkan dasinya. Lalu membuka jasnya dan menutupi tubuh Serena.


Aagar bisa menenangkan diri, Marvin memutuskan untuk berenang. Ia membuka bajunya dengan cepat seraya menatap Serena.


'BYUR.'


Marvin menceburkan tubuhnya dan berenang gaya bebas.

__ADS_1


"Hha?" Serena celingak-celinguk. Ia baru saja mendengar sesuatu terjatuh ke dalam kolam.


"Suara apa itu?!" Terbangun.


"Jas?!"


Matanya membulat saat menyadari jika tubuhnya diselimuti oleh sebuah jas berlabel, 'Marvin M.C., CEO.'


"Dia?!"


Sekarang menyadari kalau pria jahat itu sedang berenang ke arahnya. Serena memakai jas Marvin untuk menutupi tubuhnya.


"Sudah bangun?"


Marvin menaiki tangga kolam renang. Roti sobeknya bertebaran. Bulu halus di dadanya seolah meneteskan air.


"Su-sudah." Sambil memalingkan wajah.


"Cepat ke dapur dan ambilkan makanan untuk saya," pinta Marvin. Ia merebahkan diri di kursi yang terletak di samping Serena.


"Makanan apa?! Aku tidak memasak!"


"Bisa membuat jus?" Marvin menatap langit-langit dan menggunakan sikutnya sebagai bantalan.


"Tidak bisa! Bikin sendiri saja!" Serena berdiri dan meninggalkan Marvin begitu saja.


"Serena."


"Aku tidak dengar!" ketusnya.


Serena mengambil bajunya dan bergegas ke kamar ganti sambil melempar jas milik Marvin ke kolam renang.


"Hei! Kamu merusak jas saya!" Marvin terlonjak.


"Aku tidak peduli!" Serena tetap berjalan menuju kamar ganti.


"Berani kamu ya."


Marvin bangkit dan menyusul Serena. Melihat Marvin mengejarnya, Serena mempercepat langkah. Marvin kemudian berlari. Serena tidak mau kalah, ia berlari ke arah lain. Marvin mengejar sambil tersenyum. Sebab, Serena berlari ke arah ruangan yang buntu.


"Sial!" rutuk Serena. Untung saja di rungan itu ada handuk yang bisa ia gunakan.


"Kena kau ya." Marvin memeluk Serena dan membuat gadis itu tehenyak kaget.


"Aaa, lepas!" Serena berontak.


"Tidak akan!"


"Lepas!"


Serena membalikan badannya dan menyerang Marvin. Ia memukuli dada pria itu membabi-buta.


"Kamu jahat! Kamu ba-jing-an! Kamu buaya tidak punya perasaan!" Ia terus memukuli Marvin. Marvin tidak melawan.


"Pukul lebih keras," pintanya.


"Huuu."


Tangis gadis itu pecah jua. Ia berjongkok dan menangis bak anak kecil. Gagal sudah pertahanannya. Di hadapan Marvin, Serena merasa jika dirinya begitu lemah.


"Kenapa, hmm?"


Marvin memegang bahunya.


"Singkirkan tanganmu!" Ia menepis tangan Marvin dan kembali menangis.


"Jangan menangis di sini. Udara di sini dingin." Secara tiba-tiba, Marvin memanggul tubuh Serena.


"Aaaa! Kamu gila ya?! Lepas! Turunkan aku Marvin! Aku takut jatuh!"


"Jangan berisik kucing nakal!" Marvin spontan memukul bokong Serena.


"Akh! Beraninya kamu memukul bokongku! Rasakan ini!" Serena hendak menjambak rambut Marvin. Namun Marvin menahan tangannya.


"Kamu sudah melewati batas kesabaran saya. Cepat mandi dan pakai baju." Marvin memasukkan Serena ke dalam sebuah kamar.


Tak hanya Serena, ia juga turut serta ke dalam kamar tersebut.


"Kenapa Anda di sini?! Pergi!"


"Ini vila pribadi saya. Ini kamar saya!" tandasnya.


"A-apa?! Aku mau keluar! Kamarnya tidak hanya ini, 'kan?!"


"Tidak boleh. Tetap di sini." Marvin mendekati, mengurungnya, dan melepas handuk yang digunakan oleh Serena.


"K-Kamu?!" Mata Serena membulat. Ia melindungi bagian tubuhnya dengan kedua tangan.


"Saya kalah, Serena. Saya menyerah." Marvin merangkum wajah Serena yang poisisinya masih berdiri di balik pintu kamar.


"Ma-maksud kamu?" Serena memalingkan wajah lantaran wajah Marvin teramat dekat.


"Kamu akan menjadi wanitaku," bisiknya sambil menghidui tengkuk Serena.


"Wanitamu?! A-aku tidak mau!" Serena bergidik saat hembusan napas Marvin menyapu tengkuk dan lehernya.


"Kamu harus mau. Kamu tidak bisa memilih." Seraya merabai bagian tubuh Serena hingga gadis itu membulatkan matanya.


"Apa Anda akan menggunakan tubuhku sebagai pemuas?" Serena menanyakan sebuah hal yang selama ini ditakutinya.


"Jika saya mengatakan 'ya,' apa kamu akan membenci saya?"


Sambil menelusuri bibir Serena dengan jemari tangannya. Serena tidak menjawab, gadis itu perlahan membalas tatapan Marvin.


"A-aku memang membencimu," lirih Serena.


"Teruslah membenci saya," kali ini sambil menciumi bagian lain dari tubuh Serena. Hingga tangan Serena mengerat pada handle pintu.


"A-aku kotor, aku bukan berasal dari keluarga yang baik-baik," ucapnya.


Namun, Serena membiarkan tangan Marvin menjamah tubuhnya. Ekspresi Marvin sulit didefinisikan. Ia tengah fokus pada tubuh indah memikat yang teramat menggiurkan itu. Mata pria itu nanar, dan napasnya mulai menderu.


"Su-sudah berapa banyak wanita yang Anda tiduri?" tanya Serena saat Marvin mengiring perlahan tubuhnya menuju tempat tidur.


"Satu orang," jawabnya.


"Se-serius?"


"Ya," sambil menciumi pipi Serena.


"Mana ada pria hidung belang mengakui kebohongannya," tuduh Serena.


"Saya pria hidung mancung, bukan pria hidung belang," elak Marvin.


Lalu ia membungkam bibir Serena dengan gerakan yang tiba-tiba. Serena terkejut. Pria itu seolah tengah melahap sesuatu yang teramat disukainya.


"Uhhmm ...." Bibir mereka terjalin erat.


Serena. Gadis itu mengakui kebodohannya. Ya, ia memang membenci pria yang saat ini tengah menjelajahi indra pengucap dan pengecapnya. Tapi entah kenapa, tubuhnya tak kuasa menolak. Dengan bodohnya, tangannya bahkan melingkar di leher Marvin dan memperdalam jalinan itu.


*Marvin ....


Serena* ....


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2