ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
BADAI


__ADS_3

"Akhirnya kamu menyerah juga."


"Aku tidak menyerah, hanya tidak ingin terus-terusan hidup seperti ini. Aku ingin berkumpul kembali dengan anak-anak dan istriku."


"Hahaha. Dari dulu aku sudah menawarimu bantuan. Tapi kamu selalu menolak dengan berbagai alasan. Sekarang kamu baru paham kalau aku 'Bill Ethan Pranadipa' selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan. Termasuk mendapatkan putrimu. Ingat! Uang 17 T itu tidak sedikit. Kamu jangan mengecewakanku!"


"Tuan Bill, aku menjaminkan Serena dan perusahaan di luar negeri pada Anda. Jadi aku merasa Anda tidak terlalu merugi."


"Haish, dasar Wandira si bandar judi. Kamu pandai bersilat lidah."


"Aku juga meminta syarat lain," tawar pak Wandira.


"Apa lagi?!" Mata Bill mengerling.


"Aku ingin dibebebaskan dari semua tuduhan penipuan. Nama baikku ingin dibersihkan. Lagi pula, wajar jika Anda melakukan hal tersebut. Di masa lalu, perusahaan Anda pernah mendapatkan untung besar setelah bekerja sama dengan perusahaanku."


"Apa?!" Pria yang secara visual tampak gagah dan tampan itu membulatkan matanya.


"Ya, Tuan Bill. Anda sadari atau tidak, perusahaan judi online terbesar yang Anda bangun itu, di dalamnya ada campur tanganku juga. Jadi anggap saja jika kerja sama ini adalah simbiosis mutualisme," tegas pak Wandira.


Pria di hadapannya sebentar lagi akan menjadi menantunya, jadi pak Wandira merasa wajar jika ia sedikit tegas pada Bill.


"Cukup! Aku bisa mendirikan perusahaan itu karena aku kaya-raya! Bukan karena campur tangan kamu!"


"Tapi tim Anda selalu berkonsultasi padaku, Tuan. Apa Anda lupa kalau aku pernah menjadi konsulen perusahaan Anda?"


"Cukup Pak Wandira! Sekarang lihat fakta saja! Faktanya, Anda sudah bangkrut dan terpuruk!"


"Aku tidak benar-benar bangkrut Tuan Bill. Aku masih memiliki perusahaan di luar negeri. Namun demi memajukan dan pengembangan perusahaan itu, aku tidak bisa melunasi hutang pada Royal Bank. Andai pak Jacob tidak pernah memfitnah dan menuduhku membunuh putrinya, aku bisa saja tidak menyerahkan putriku pada Anda. Tapi karena dia telah mencemarkan mana baikku di masa lalu dan sudah menjebloskanmu ke penjara atas tuduhan penipuan, aku membencinya."


"Keluarga dia memang sombong. Di masa depan, kita akan bekerja sama untuk menghancurkan mereka. Langkah awal yang harus kamu lakukan adalah dengan mengambil kembali putrimu. Aku ingin melihat murkanya si keparat Marvin saat mainannya aku rampas. Hahaha."


Dari perkataan tuan Bill, ia sepertinya mengenal Marvin dan memiliki dendam kesumat pada Marvin. Pak Wandira menghela napas. Ia sadar langkahnya ini akan melukai putrinya, tapi demi masa depan Serena dan keluarganya, ia menyimpulkan jika Bill lebih baik daripada Marvin. Bill adalah adalah pengusaha ternama berkebangsaan campuran, berusia 33 tahun, dan berstatus sebagai duda muda kaya-raya.


Usut punya usut, istri Bill meninggal dunia lima tahun yang lalu saat mereka baru saja menikah selama 1 tahun. Mirisnya, istri Bill meninggal saat ia tengah mengandung 5 bulan. Tragisnya lagi, dia meninggal setelah berusaha menolong Bill dari serangan seseorang.


"Tuan Bill, aku akan merencanakan pertemuan dengan Marvin besok malam. Apa Anda juga ingin menemuinya?"


"Hmm, akan kupikirkan lagi. Kami memang sudah lama tidak bertemu."


...***...


Pulau Kecil


"Kenapa perutmu masih kecil? Kapan besarnya?" Marvin sedang mengelus perut Serena. Dicium, diusap, dan ditempelkan pada telinganya.


"Aku juga tidak tahu, aku lupa kapan terakhir aku datang bulan. Aku sempat ingat, tapi ragu," jelas Serena. Ia membiarkan Marvin memainkan perutnya. Posisi Serena bersandar di sofa.


"Kalau dihitung dari malam itu, sekarang memasuki bulan ke empat," sambil terus menciumi perut Serena.


"Tapi kata teori, usia kehamilan itu dihitung dari hari pertama haid terakhir Pak, bukan dari tanggal berhubungan intim."


"Sok tahu," goda Marvin sambil mencubit dagu Serena.


"Kan aku juga baca-baca Pak Bos."


"Baiklah. Begini saja, saya akan menyuruh Hendrik agar membawa seorang dokter kandungan ke villa ini untuk memeriksa kandungan kamu. Setuju?"


"Emm, boleh," jawab Serena. Karena Marvin tiba-tiba duduk disampingnya, Serena segera menyandarkan kepalanya pada bahu Marvin.


"Saya mencintai kamu, Serena," bisik Marvin.


"Haruskah aku memercayai ucapan Anda?"


"Harus dong."


"Pak Bos, aku merasa tidak enak hati. Kenapa ya?" Serena memeluk erat bahu Marvin.


"Mungkin hanya perasaan kamu saja. Tetap berbaik sangka dan terus mencintai saya, oke?" sarannya. Marvin mengusap lembut rambut Serena. Malam ini, ia akan meninggalkan Serena untuk bertemu pak Wandira.


"Oiya Serena, malam ini saya mau pergi. Ada keperluan mendadak. Jangan cemas dan mengkhawatirkan saya lagi ya," lanjutnya.


"Pergi? Pergi ke mana? Bukankah kita sudah punya banyak uang? Boleh aku ikut?"


"Hahaha. Ibu hamil dilarang pergi jauh. Tenang saja, saya tidak pergi ke tempat berbahaya 'kok. Saya akan segera kembali dan bersama kamu lagi."


"Apa perginya lama?"


Walaupun penasaran; Serena tidak berani bertanya lebih jauh lagi. Ia mencoba memahami jika suaminyapun memiliki hak untuk tidak menceritakan hal-hal tertentu pada dirinya. Boleh jadi, Marvin merahasiakan hal tersebut demi melindungi perasaannya. Petuah tersebut pernah ia dengar dari sang mama.


"Tidak akan lama 'kok."


"Kenapa harus pergi malam? Aku khawatir Pak Bos. Kata Hendrik kalau malam ombak di sini besar-besar. Apa tidak beresiko?"

__ADS_1


"Berdoa saja agar saya selamat. Saya mau naik kapal ferry dengan layanan khusus. Dari segi kemanan pasti terjamin. Lagi pula, saya pandai berenang. Jangan cemas, oke ibu hamil cantik?" Marvin jadi gemas. Perhatian Serena membuat hatinya berbunga-bunga.


"Berangkat jam berapa?"


Serena bertanya lagi. Kali ini sambil meletakan kepalanya di dada Marvin. Seperti biasa, tangannya langsung menelusup dan memainkan bulu dada suaminya.


"Jangan dicabut lagi ya," larang Marvin.


"Hehe. Tidak 'kok." Serena terkekeh.


"Saya berangkat jam 8 malam."


"Jam 8 malam?! Berarti sejam lagi dong?" Serena melirik pada jam dinding dan gelisah.


"Hei, kenapa?" Marvin menenangkannya.


"Berarti aku hanya punya satu jam lagi bersama Anda. Tidak apa-apa 'sih. Tapi mau dipeluk dulu ya," ungkapnya.


"Ya ampun, saya kira kamu mau saya sirami dulu," bisik Marvin.


Serena pura-pura tidak mendengar dan langsung memejamkan matanya. Marvin tersenyum. Baiklah, ia akan bersabar sampai Serena siap melakukannya lagi.


"Tidurlah ... selamat malam." Marvin membaringkan Serena dan memeluknya. Sesekali, ia melihat jam di tangannya. Pukul 17.45 Marvin harus bersiap.


"Saya mau bertemu dengan papa kamu, saya akan mempertahankan kamu agar tetap bersama saya.Serena, hutang keluarga kamu sudah lunas, dan itu artinya ... saya harus mengembalikan kamu pada keluarga kamu. Tapi saya tidak mau. Saya juga tidak memiliki uang sebanyak itu untuk mempertahankan kamu di sisi saya," jelas Marvin dalam batinnya seraya menatap Serena.


"Pak Bos?" gumam Serena.


"Kenapa?" tanya Marvin pelan.


"Aku mau dipeluk lebih erat lagi," pintanya.


"Baiklah." Marvin memeluk erat dan membelai rambut Serena.


...***...


Pusat Kota


Marvin tiba di tempat yang telah ditentukan. Yaitu sebuah bangunan kosong dengan penerangan minim. Marvin menggunakan masker dan kaca mata untuk menyembunyikan identitasnya karena khawatir keberadaannya di Pusat Kota terendus oleh papanya. Ia datang seorang diri.


Marvin duduk di sebuah kursi. Matanya beredar ke segala arah. Tetap waspada dan berhati-hati, adalah prinsipnya saat ini.


'Tring.' Lampu bohlam di ruangan tersebut menyala. Marvin kian waspada. Hingga akhirnya, ia melihat bayangan beberapa orang pria mendekatinya.


"Selamat malam, lama tidak bertemu." Pak Wandira ada di barisan paling depan. Disusul tiga orang pria di belakangnya.


"Aku membawa pengacara dan pengawal. Aku tidak bisa berlama-lama. Anton, cepat berikan berkasnya," tegas pak Wandira. Ia bahkan belum duduk di kursi yang berada di dekatnya.


"Silahkan Pak Bos," Anton yang merupakan seorang pengacara, menyodorkan berkas pada Marvin.


"Apa ini?" Marvin mengambil dan mengeceknya.


"Ini berkas dari pengadilan. Di sini tertera jika Anda dan Nona Serena resmi bercerai jika hutang-piutang antara Pak Wandira dan Royal Bank telah diselesaikan. Ini bukti transfer dan bukti validasinya," jelas Anton.


"Saya tidak mau membacanya. Saya tidak mau bercerai." Marvin meletakan berkas tersebut di hadapan pak Wandira.


"Hahaha. Anda lucu Pak Bos, jelas-jelas Anda sendiri yang membuat perjanjian ini. Tolong cepat tanda tangan sebelum kesabaranku habis." Pak Wandira mengambil dan menyodorkan kembali berkas tersebut pada Marvin.


"Tidak mau!"


Marvin mengambil berkas tersebut dan nyaris menyobeknya. Namun sebelum ia bertindak, anak buah pak Wandira telah terlebih dahulu mengekang tangannya.


"Kamu rupanya bukan pria yang bisa diajak kerja sama!" Pak Wandira kecewa. Ia menatap Marvin yang berusaha melawan dengan tatapan tajam.


"Serena hamil!" teriak Marvin.


"Apa?!" Untuk sesaat, pak Wandira terpaku.


"Saya mencintainya Serena! Saya tidak bisa melepasnya!" teriak Marvin, dan pria itu berhasil melepaskan diri.


"Aku sudah menduga kalau putriku hamil. Itu memang rencanaku. Tapi itu semua tidak bisa merubah surat perjanjian ini. Pak Bos, surat ini sah di mata hukum. Secara hukum, kamu dan Serena sudah resmi bercerai," tegas pak Wandira. Lalu ia memberi isyarat pada anak buahnya agar melumpuhkan Marvin.


Marvin bisa membaca situasi, dengan gerakan cepat, ia mengambil meja dan menangkis serangan lawan dengan meja tersebut. Pak Wandira hanya jadi penonton. Ia salah perhitungan, harusnya ia membawa banyak anak buah untuk menyerang Marvin. Marvin anak seorang mafia, ia yakin jika Marvin telah dibekali ilmu bela diri sejak dini.


"Payah!" ledek Marvin saat ia berhasil membuat salah satu anak buah pak Wandira tersungkur ke lantai dan tidak bergerak lagi. Pria naas itu hanya bisa mengerang kesakitan.


"Kalian, maju!" tantang Marvin pada Anton si pengacara dan pada anak buah pak Wandira yang masih bisa berdiri.


"Cukup!" cegah pak Wandira, ia menahan tangan anak buahnya yang hendak menyerang Marvin.


"Kenapa? Apa perlu saya melawan mertua saya sendiri?" sindir Marvin sambil merapikan kacamatanya.


"Sedari awal, ini adalah pernikahan bisnis. Kamu pasti tahu langkah apa yang harus dilakukan agar kamu bisa mempertahankan putriku."

__ADS_1


"Ya saya tahu," tegas Marvin.


"Aku beri waktu 24 jam," timpal pak Wandira.


"Baik," tanpa pikir panjang, Marvin menyetujuinya.


"Pertemuan kita selesai," kata pak Wandira. Dari sorot matanya yang sulit ditebak, bisa dipastikan jika pak Wandira memiliki rencana lain untuk mengalahkan Marvin.


"Baiklah. Saya permisi." Marvin berbalik badan dan pergi.


"Ikuti dia sampai kalian menemukan tempat tinggalnya. Hati-hati, dan jangan sampai gagal," kata pak Wandira saat sosok Marvin mulai menjauh.


"Baik Pak."


Sedangkan Marvin, pria itu langsung curiga jika ia akan diikuti. Ia segera memutar otak agar dirinya tidak bisa dikejar.


...***...


"Hahaha. Bagus. Melawan dia memang harus dengan cara seperti itu. Sabar sedikit, lalu tikam secara perlahan."


Bill bersuka cita setelah mendapat laporan dari Anton kalau pria itu berhasil meletakan alat pelacak di kursi yang diduduki oleh Marvin sebelum terjadi pertemuan antara Marvin dan pak Wandira.


"Apa kamu yakin alat pelacak itu menempel di calana si Marvin?"


"Aku yakin Tuan Bill."


"Bagus. Selebihnya biar aku yang bertindak. Terima kasih atas kerjasamanya. Pak Wandira pasti kaget kalau tahu kamu adalah mata-mataku. Hahaha." Bill kembali tertawa. Entah rencana seperti apa yang akan dilakukan pria itu.


...***...


Pulau Kecil


Serena setengah terpejam saat tubuhnya terasa dingin. Tangannya segera meraba ke segala arah untuk mengambil selimut. Namun ia tidak mendapatkannya. Ia mengucek matanya untuk mengetahui apa yang terjadi. Sebelum kesadarannya terkumpul sempurna, sebuah tangan telah memeluknya dan memberikan kehangatan. Sosok itu mendekap Serena, lalu mengecup lembut pundak Serena hingga ke punggung. Serena bergidik karena merasa geli, namun ia tidak menolaknya.


"Ka-kapan pulang?" tanya Serena. Suara khas bangun tidurnya terdengar menggemaskan.


"Sudah dari tadi, tidur kamu nyenyak ya?" Marvin membalikan posisi tubuh Serena dan mengurungnya.


"Di-dingin Pak Bos," rengek Serena.


"Sebentar lagi panas 'kok. Sabar ya," bisik Marvin. Pria itu bangun sejenak untuk membuka celana panjangnya. Lalu mata pria itu membulat sempurna saat menyadari jika di bagian belakang celananya ada sesuatu.


"Ke-kenapa?" Serena terbangun dan segera menutupi tubuhnya.


"Kurang ajar!" pekik Marvin. Tangan pria itu mengepal kuat dan wajah tampannya berubah memerah. Serena terdiam.


"Hendrik!" teriak Marvin sambil bergegas meninggalkan kamar.


"Pak Bos, ada apa?"


Namun Marvin tidak menjawab dan tetap meninggalkan Serena. Serena menghela napas sambil menatap potongan busananya yang tercecer di lantai. Ia enggan turun dari kasur untuk mengambilnya. Akhirnya ia menarik selimut dan merebahkan kembali tubuhnya.


Serena menyikukan tangannya dan menjadikan tangannya tersebut menjadi bantalan kepalanya. Tatapan mata Serena lurus ke depan dan kosong. Beberapa detik kemudian, lelehan air mata membasahi pipi mulusnya. Lalu bibirnya tampak gemetar dan bergumam ....


"Mama ...."


"Papa ...."


"Rio ...."


"Via ...."


"DOR!"


Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar villa. Serena terperanjat kaget. Ia membekap bibir dan sangat ketakutan. Dari mana asal suara tembakan itu? Serena tidak berani beteriak. Ia mengurung tubuhnya dengan selimut.


"Pak Bos, a-aku takut. Mama, Papa, aku takut," ratapnya dalam hati.


Lalu Serena mendengar derap langkah kaki menuju kamarnya. Anehnya, langkah itu terdengar banyak, dan dipastikan bukan dari sepasang kaki. Serena kian panik. Tapi ia memaksakan dirinya untuk bangun. Serena yang kebingungan dan ketakutan, tidak memiliki ide lain kecuali merangkak ke bawah tempat tidur dan bersembunyi.


"BRAK!" pintu kamar terbuka.


Serena memejamkan mata kuat-kuat dan berharap jika yang terjadi saat ini hanyalah mimpi. Namun samar-samar telinga Serena mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali.


"Saya mencintai Serena, Papa! Tolong bantu Marvin untuk memiliki Serena! Marvin tidak menginginkan apapun, Marvin hanya ingin hidup bahagia bersama Serena! Tolong Papa, Marvin mohon."


"Kamu dan dia sudah bukan suami-istri lagi! Jangan mempersulit keadaan! Masalah ini berasal dari keisengan kamu, 'kan!? Kalau kamu tidak gegabah! Kekacauan ini tidak akan terjadi!"


"Serena hamil Pa! Papa mau punya cucu!"


"Apa katamu?!"


Serena mematung, jiwa dan raganya seolah tidak ingin mendengar lagi percakapan tersebut. Lalu ia melihat kaki bersepatu memasuki kamarnya dan melangkah pelan, itu bukan Marvin. Mereka juga lebih dari satu orang. Tubuh Serena gemetar, jiwanya tergoncang. Perlahan, pandangan matanya kabur, gelap, dan Serena melupakan semuanya. Serena pingsan.

__ADS_1


...~Next~...


Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.


__ADS_2