
Mobil mewah berwarna hitam itu melesat cepat. Membelah malam, melintasi kesunyian dan menyibak dedaunan yang terhampar di jalanan. Entah akan ke hotel mana ia dibawa. Serena pasrah. Tidak bertanya lagi, apa lagi protes atau menolak.
"Apa kamu melayaninya dengan baik? Biar bagaimanapun, dia tetaplah suami kamu."
Penuturan mamanya kembali terngiang. Karena ia masih remaja, Serena belum bisa memaknai kata 'melayani dengan baik' yang dimaksud oleh mamanya.
"Hoaam, saya mengantuk Serena," keluhnya. Beberapa kali menutup mulutnya karena menguap.
"Bagaimana kalau aku saja yang menyetir Pak Bos?" tawarnya.
"Tidak boleh. Lagi pula, remaja seperti kamu pemikirannya belum stabil. Cenderung berani pada hal-hal yang sebenarnya membahayakan. Jadi saat seorang remaja menyetir, ia akan merasa terlalu percaya diri, terlalu berani dan risikonya tentu saja bisa lepas kendali. Paham maksud saya?"
"Aku paham 'sih. Tapi Pak Bos juga bahaya kalau memaksakan diri menyetir dalam keadaan mengantuk. Bagaimana kalau kita menepi dulu?" sarannya.
"Emm, tapi tanggung Serena. Sekitar 10 menit lagi sampai. Bisa memijat saya supaya tidak ngantuk?" pintanya.
"Baik, akan aku coba. Apa yang harus aku pijat?"
"Hahaha. Ya pundak saya 'lah Serena." Ia meraih tangan Serena dan diletakkan di pundaknya. Lalu Serena mulai memijat.
"Nah, lumayan juga. Tapi jangan terlalu pelan. Gunakan sedikit tenaga kamu ya. Kalau terlalu lembut, sayanya malah makin ngantuk."
"Segini?" tanya Serena.
"Kurang."
"Begini?"
"Masih kurang."
"Ya ampun."
"Awhhh! Serena! Jangan dicubit! Kamu memang tidak berbakat ya!" Marvin kesakitan.
"Makanya, kenapa kita tidak menepi saja?" Serena menghentikan pijatannya.
"Hei, kenapa berhenti?"
"Anda bilang tadi itu sakit, 'kan?"
"Haish. Ya sudah, pijat sesuka kamu, semau kamu. Bebas," usulnya.
"Oke." Serena kembali memijat.
"Hohmm, aku juga ngantuk Pak Bos. Kayaknya tertular dari Pak Bos." Serena merebahkan kepalanya pada kursi mobil.
"Dasar Kucing, kamu 'tuh ya. Kebisaan." Marvin geleng-geleng kepala. Padahal, hotel yang hendak ditujunya sudah tampak dari kejauhan. Tapi Serena, gadis itu malah tidur. Mengetahui Serena tidur, Marvin melajukan kemudinya perlahan.
...***...
Saat ini, mobilnya telah memasuki area parkir hotel. Ia segera turun dan menuju resepsionis.
"Saya mau check in. Mau kamar yang ini."
Ia tidak basa-basi. Segera menunjuk tipe kamar yang diinginkannya.
"Baik."
Resepsionis menautkan alisnya. Ia merasa pernah melihat tamu tampan ini beberapa kali. Tapi di mana ya?
"Saya datang bersama adik saya," lanjut Marvin sembari menunjukkan kartu pelajar milik Serena. Tadi, saat hendak menyusul Serena, ia mengambil kartu tersebut dari kamar Serena.
__ADS_1
"Baik, Pak."
Resepsionis tidak menyimpan curiga. Lagi pula, saat ia melihat sekilas, ia merasa jika tamu tersebut memang mirip dengan foto adiknya.
"Bisa minta kartu identitas Anda?" pintanya.
"Boleh."
Marvin kemudian memberikan kartu identitas milik Hugo yang di bagian fotonya terlihat pudar. Entah bagaimana Marvin mendapatkannya. Yang jelas, lagi-lagi resepsionis tersebut tidak menyimpan curiga. Ya, itu memang kartu identitas asli milik Hugo.
Marvin kemudian kembali ke parkiran untuk membangunkan Serena. Tapi Serena, seperti biasa. Sulit dibangunkan.
"Serena! Bangun!"
Ia menepuk pipinya, mencubit pipinya, dan menekan dagunya. Namun gadis itu masih bergeming
"Ya ampun Serena."
Akhrinya menyematkan kiss mark di leher Serena. Sedikit kuat agar ia cepat terbangun.
"Ah!" Gadis itu celingak-celinguk sambil memegang lehernya.
"Bangun, kita sudah sampai."
"Sampai? Ya ampun, aku baru saja mimpi kalau leherku digigit buaya berwarna putih. Ihh, maksudnya apa ya? Semoga bukan pertanda buruk." Serena bergidik.
"Mimpi itu termasuk dalam perkara gaib, jangan sok-sokan menafsirkan mimpi. Ya, mimpi memang bukan sekadar bunga tidur. Tapi jangan sampai hanya karena mimpi, kamu jadi berpikir buruk dan berperasangka buruk pada Tuhan. Paham?!" tegas Marvin sambil menuntun tangan Serena. Serena ternyata belum sadar kalau ia digigit sungguhan.
...***...
Serena keheranan saat menyadari jika ia dan Marvin bisa melewati bagian resepsionis dengan mudahnya dan tidak ditanya-tanya lagi.
"Memangnya Anda sudah pesan kamar?" tanya Serena saat mereka berada di dalam lift.
"Apa dua kamar?"
"Tidak."
"Kok bisa?"
"Bisa dong. Saya jelaskan kalau kamu adalah adik saya," terangnya santai.
"Oh," sahut Serena.
Ia melamun sejenak karena baru saja berharap jika Marvin menjelaskan pada resepsionis kalau ia adalah istrinya. Serena menyesali harapan tersebut.
"Kenapa?" Marvin sadar Serena melamun.
"Ti-tidak apa-apa," jawabnya. Lalu mendahului Marvin saat pintu lift terbuka.
...***...
Karena hari telah pagi yaitu pukul 02.00, setelah mencuci muka, gosok gigi, dan mengganti baju dengan piyama, Marvin segera naik ke tempat tidur. Sementara Serena, ia malah menyalakan televisi.
"Cepat tidur. Piyama kamu ada di dalam tas saya. Ambil saja." Ternyata Marvin juga membawa baju untuk Serena.
"Terima kasih."
Serena meraih tas milik Marvin, dan ia rasanya ingin bertanya tentang Clara. Pikirnya, apa Clara menginap di vila? Lalu, kegiatan apa saja yang dilakukan Marvin bersama Clara? Serena penasaran. Namun ia tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya.
Marvin menatap Serena yang melamun saat mengambil piyama dari tasnya. Ia terus menatap Serena sampai tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi. Rupanya, Serena akan mengganti baju di kamar mandi.
__ADS_1
"Kemari," ajak Marvin setelah Serena keluar dari kamar mandi sambil menepuk bantal di samping kepalanya.
"Aku tidur di sofa saja," tolaknya.
"Serena, saya mau bicara serius." Kembali menepuk bantal.
"Ya," akhirnya mendekat juga dan naik ke tempat tidur. Namun Serena menggeser bantalnya dan memberi jarak.
"Jangan membuat saya kesal." Marvin menarik bahu Serena hingga tubuh mereka berdekatan.
"Aku ngantuk," Serena beralasan.
"Ya sudah, kalau ngantuk, cepat tidur."
Marvin memeluknya. Tapi bukan Marvin namanya jika tidak usil. Ia tidak cukup hanya dengan memeluk, tangannya aktif menelusup ke dalam piyama Serena.
"Aku tidak mau divisum," kata Serena. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk menggagalkan rencana Marvin.
"Harus," bisik Marvin. Sementara tangannya semakin berani. Tengah melakukan gerakan-gerakan yang membuat Serena mati kutu dan harus mengatur napasnya.
"Ka-kalau aku divisum, polisi pasti akan melihat ini." Serena menyentuh kiss mark di leher dan bagian lain dari tubuhnya.
"Kalau polisi melihat, mereka pasti akan curiga. Bisa jadi ada yang berpikir kalau aku mengalami pelecehan. Ya, 'kan?" lanjutnya.
"Emm, sebentar. Saya pikir- pikir dulu ya." Serena ada benarnya juga.
Lalu Serena membalikan badan dan menghadap pada Marvin.
"Biarkan aku menyelesaikan sekolahku dengan tenang. Pak Bos, ada banyak hal yang sudah dan tengah aku lalui. Apa Anda tahu? Aku sangat mengandalkan banyak harapan pada Anda. Ya, aku sadar diri, aku tahu benar kalau orang tua kita berseteru. Tapi melihat bagaimana Anda memerlakukan mama dan adik-adikku, aku jadi berpikir kalau Anda tidak menganggapku sebagai musuh. Apa dugaanku benar?" tanya gadis itu sambil menatap wajah Marvin.
"Kamu salah," jawab Marvin sambil menelusuri garis wajah Serena.
"Ma-maksud Anda?"
"Jangan pernah menganggap jika belas-kasih saya pada mama dan adik-adik kamu adalah sebuah kebaikan. Saya melakukannya atas dasar dasar kemanusiaan. Hanya itu," jelasnya.
"Be-benarkah?" Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ya," jawab Marvin singkat.
Serena terdiam. Gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi. Berarti, ia telah salah menilai Marvin. Ia merasa bodoh dan terlalu percaya diri.
Fix, mulai hari ini, ia benar-benar akan menganggap jika dirinya adalah budaknya Marvin. Ia akan mengabdikan dirinya sampai Marvin bosan dan membuangnya. Ia berjanji tidak akan memedulikan perasaannya. Serena berencana akan menggoda Marvin, dan jika perlu, ia akan menggunakan kesempatan ini untuk membuat Marvin jatuh cinta kepadanya.
Ia akan merubah citra dirinya menjadi wanita murahan yang katanya tidak disukai oleh Marvin. Jika ia terlihat murahan, Serena berpikir Marvin akan merasa ilfeel, jijik, dan selanjutnya akan membuang serta menceraikannya. Gadis itu rupanya sudah benar-benar putus asa.
"Pak Bos," Serena tiba-tiba menangkup wajah Marvin.
"Kenapa?" tanya Marvin.
"A-aku ingin menikmati tubuh Anda."
"A-apa?!"
Marvin terkejut. Belum juga hilang keterkejutannya, bibir Serena yang manis itu, telah mengulum bibirnya. Marvin mengerjap, ia tidak menyangka jika Serena akan seberani ini. Tidak hanya itu, tangan Serenapun tidak tinggal diam. Perlahan menelusup ke sana. Ke mana? Entahlah. Hanya mereka yang tahu.
Ohhh ... Serena.
_______
Ya ampun Serena!
__ADS_1
Apakah setelah ini Marvin akan membuang Serena karena menganggap jika gadis itu murahan?
...~Next~...