
"Serenaaa!" teriak Marvin.
"Pak Bos, Se-Serena ada di kamarku." Manda maju. Ia tidak bisa mencari cara untuk berbohong lagi.
"Kenapa dia ada di kamarmu?!"
"Karena Serena tidak bisa mengerjakan pekerjaan sehari-hari, aku menyuruhnya mengetik Pak Bos."
"Oh, begitu rupanya. Saya tetap ingin melihatnya. Antar saya ke kamar kamu."
"Hahh? A-apa?"
Manda menelan saliva. 'Kok bisa Pak Bos ingin melihat Serena? Pak Bos bahkan ingin mengunjungi kamarnya demi melihat Serena. Mana kamarku berantakan! Itu yang dikatakan Manda dalam hatinya. Pikirnya, Serena adalah simalakama.
"Cepat! Antar saya!" desak Marvin.
"Baik Pak Bos."
Pelayan yang lain hanya bisa menunduk saat Marvin melewati mereka. Aura Marvin ketika sedang marah memang menyeramkan. Namun, jiwa sosial dan kedermawanannya bisa membuat semua orang jatuh hati. Ya, selain penampilan fisiknya yang rupawan, Marvin memang dikenal sebagai sultan yang murah hati. Pantas saja ia memaafkan papanya Serena.
...***...
"I-ini kamarku, Pak Bos," unjuk Manda, dan berharap di dalam hatinya agar di dalam sana, Serena tidak menunjukkan hal-hal yang janggal.
"Serenaaa!"
Kata 'Serenaaa!' saat ini seolah sudah menjadi budaya baru di apartemen ini. Bahkan ada pelayan yang katanya terbangun dari mimpi buruknya karena di alam mimpinya ia mendengar ada yang beteriak 'Serenaaa!'
Di dalam kamar Manda, Serena tentu saja terlonjak kaget. Ia yang ketiduran, langsung terjaga seketika.
"Oh tidak!"
Serena panik. Tadi, saat matanya terasa perih, ia berpikir akan tidur sejenak untuk memulihkan matanya. Faktanya ia malah ketiduran dan baru menyelesaikan tugas dari Manda sebanyak 40 persen.
"Serenaaa!"
Teriakan kedua membuat Serena berlari untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, tubuh Marvin sudah berada di depannya. Wangi parfum Marvin bahkan menusuk hidung Serena.
"Menurutku parfum Pak Bos terlalu menyengat."
Serena bicara spontanitas. Manda tercengang. Baru kali ini ada orang yang berani mengomentari parfum Pak Bos. Padahal hemat Manda, aroma parfum Marvin sangatlah memesona.
"Serena kamu jang ---."
"Ikut saya!" sela Marvin.
Jangan asal bicara. Lanjut Manda dalam batinnya. Ia ternganga saat Marvin menarik kasar tangan Serena. Entahlah Marvin akan membawa Serena kemana.
"Awh, Pak Bos! Tidak perlu menarikku!" protes Serena.
"Kamu lanjutkan tugasmu! Biar saya yang menangani gadis nakal ini!" seru Marvin saat Manda hendak mengikuti.
Manda terpaksa mengurungkan niatnya. Ada baiknya kalau ia mengecek hasil kerja Serena. Segera ke kamarnya dan mengecek. Hasilnya ....
"Serenaaa!" teriak Manda.
Serena tidak mengerjakan tugas sesuai ekspektasinya. Padahal ia berharap Serena bisa menyelesaikan minimal tujuh puluh lima persennya. Faktanya, hanya empat puluh persen dan hasilnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan ia mengetik sendiri.
"Aaarrghhh! Serenaaa! Dasar tidak bisa diandalkan!" rutuknya.
Segera mengecek mini kamera yang terpasang pada bonekanya. Manda ingin mengetahui hal yang dilakukan oleh Serena. Kenapa bisa gadis itu baru mengetik sedikit?
"Serenaaa!" Semakin sebal saat tahu jika Serena malah ketiduran.
"Apa gadis itu dilahirkan ke dunia hanya untuk membuatku emosi jiwa?! Ya ampun Serena!"
...***...
Marvin ternyata membawa Serena ke area kolam renang. Area itu terlihat sepi dan terdapat tulisan, 'Kolam Renang Pak Bos.' Padahal Serena sudah meringis sedari tadi, namun Marvin baru mau melepas genggemannya setelah mereka tiba di tepi kolam renang.
"Sakit tahu, Pak Bos!"
"Kenapa kamu tidak sekolah, hah?!"
"Apa?!" Kenapa dia bisa tahu?
"Jawab!"
"Tadi kehujanan Pak Bos, terus akunya jatuh di trotoar dan bajuku kotor," jelas Serena. Ia tidak bicara jujur tentang Rani karena Serena berpikir kalaupun ia jujur, Marvin tidak akan peduli.
Siapa aku? Aku hanya istri sitaan, istri main-main yang dijadikan alibi untuk mengikat papaku. Selama aku berada di sampingnya, ia pasti berpikir papaku tidak akan berani macam-macam lagi.
"Hanya karena jatuh dan kehujanan kamu tidak datang ke sekolah?!"
"Bajuku kotor. Apa boleh buat? Buku dan tasku juga basah. Kalau Anda tidak percaya, Pak Bos bisa mengecek CCTV."
__ADS_1
"Untuk apa saya melihat rekaman CCTV?!"
"Supaya Pak Bos tahu seberapa kotornya aku, bajuku dan tasku."
"Baik, nanti saya cek. Intinya, kamu jangan menyiakan-nyiakan kepercayaan saya! Biaya sekolah kamu mahal, jangan menghamburkan uang saya! Mengerti?!"
"Baik Pak Bos. Aku minta maaf jika sikapku hari ini membuat Anda kesal."
"Hmm, sudahlah. Dari awal kita bertemu, kamu selalu membuat saya kesal." Marvin menghela napas lalu membuka kancing bajunya.
"Eh eh tunggu. Anda mau apa?" Mata Serena membulat.
"Ya mau berenang 'lah. Mau apa lagi?" Sambil tertawa sinis ketika melihat Serena menutup mata dengan telapak tangannya.
"Apa Anda sengaja mau membuatku jadi semakin dewasa?" ocehnya saat mengintip indahnya tubuh Marvin dari balik jemarinya yang dijarangkan.
"Hahaha. Tidak perlu diajari. Semua orang akan berubah menjadi dewasa seiring berjalannya waktu. Tapi ada juga yang dewasa sebelum waktunya. Termasuk kamu." Sambil melempar kemeja dan celana panjangnya ke hadapan Serena. Bukan Serena namanya kalau tidak membuat kesal. Baju Marvin jatuh ke lantai.
"Serena! Kenapa kamu tidak menangkap baju saya?!"
"Memangnya harus ditangkap? Kenapa Pak Bos tidak bilang? Lagi pula, memberikan barang dengan cara dilempar itu tidak sopan tahu." Serena memunguti baju Marvin sambil mengoceh.
"Bawel. Cepat simpan baju itu di tempat kotor. Kotak baju kotornya ada di sana. Tugas kamu menyalakan dan mematikan stopwatch. Saya ingin melatih kemampuan berenang saya." Ia menyerahkan stopwatch pada Serena.
"Tugas yang cukup mudah," sahut Serena.
"Jangan melakukan kesalahan," pinta Marvin.
"Siap Pak Bos!" Memberi hormat pada Marvin.
Lalu mereka berdiri pada posisi masing-masing.
"Satu, dua, ti ---."
"Saya maunya dari tiga dua satu."
"Apa bedanya coba! Heran 'deh."
"Beda 'lah. Ulangi!" titah Marvin. Lalu kakinya usil menendang permukaan air kolam.
"Pak Bos! Aku tidak mau kebasahan!" Serena menghindar, Marvin tersenyum.
"Tiga! Dua! Satu! Go!" teriak Serena.
'Byur.'
"Hei!" pekik Serena. Untuk kedua kalinya, ia basah kuyup.
"Dasar Marsupilami!" Serena kesal. Jika sudah begini. Masa ya ia diam saja.
"Ahah!" Gadis itu ada ide. Karena kepalang basah, kenapa tidak berenang saja?
Tanpa pikir panjang, saat Marvin masih berenang. Serena melucuti baju basahnya. Hanya menyisakan busana di dua bagian tubuhnya.
Dia suamiku, jadi tidak masalah 'kan kalau aku memakai busana renang di hadapannya? Lagi pula, dia tidak menyukaiku. Santai saja Alsava Serena. Ternyata, batin Serena berkata demikian.
'Byur.'
Serenapun melompat ke dalam air. Gadis itu memang pandai berenang. Ia bahkan bisa menggunakan beberapa macam gaya. Ia terlihat lincah dan mampu berganti gaya dengan mudahnya. Saat ini, posisi Serena berada di ujung kolam. Ia berhenti sesaat di seberang sana. Sementara Marvin sudah kembali ke titik awal dia melompat.
"Berapa detik?" Kepala Marvin muncul ke permukaan.
"Serena?!"
Ia kaget karena melihat stopwatch tergeletak begitu saja. Semakin kaget saat melihat baju luar Serena tercecer di sisi kolam.
"Hai Pak Bos! Aku di sini!" teriak Serena di seberang sana. Marvin spontan menoleh, dan ....
Seolah ada sebuah beban berat yang menghentak dada Marvin. Serena muncul dari dari kolam renang seraya mengibaskan rambut basahnya. Lalu naik ke sisi kolam dan memperlihatkan semuanya.
Marvin melotot sempurna saat Serena dengan santainya menaiki tangga kolam tanpa perasaan malu dan canggung. Lekuk tubuhnya yang terlihat padat, beserta segenap bagian lain yang terbuka, membuat hentakan di dada Marvin terasa semakin kuat.
"Serena! Hahh! Beraninya dia meggoda saya!" Marvin mengatur napas dan memalingkan wajahnya.
"Pak Bos, kita balapan yuk!"
Serena malah berjalan melenggang mendekati Marvin. Marvin terdiam. Ia sedang mencari cara agar Serena menyadari kecerobohannya. Biar bagaimanapun, ia tetaplah pria yang menyukai keindahan.
"Ke sini kamu!" geramnya.
"Ya Pak Bos."
Tanpa diduga Serena, Marvin menarik tangan Serena hingga gadis cantik bertubuh seksi itu tercebur kembali ke dalam kolam. Serena terkejut. Ia berusaha berenang, namun Marvin menahan tangannya dan membuat Serena tidak bisa menggerakan tangannya.
Beruntung, Serena masih bisa menggunakan kakinya. Kedalaman kolam yang mencapai dua meter, membuat Serena harus tetap menahan gerakan kakinya agar tidak tenggelam.
__ADS_1
"Apa kamu sengaja menggoda saya?!" Sentak Marvin sambil menyeret tubuh Serena ke dinding kolam.
"A-apa?! Ti-tidak Pak Bos! Aku tidak ada niatan ke arah sana! Ahh, bisa lepaskan tangannya! A-aku bisa tenggelam!" teriak Serena.
"Jangan bohong! Kamu disuruh papa kamu untuk menggoda saya, 'kan?!" Dada Marvin naik turun karena menahan emosi. Sekarang ia memindahkan tangan ke leher Serena. Tepatnya, nyaris mencekik gadis itu.
"A-apa yang kamu lakukan?! Lepas! Aku tidak sepicik itu! Jangan menyamakan aku dengan papaku!" Serena berusaha melepaskan tangan Marvin dari lehernya. Tapi tidak berhasil.
"Dasar murahanl! Beraninya kamu berpenampilan seperti ini di hadapan saya! Sekarang mari kita lihat, apa kamu bisa menyelematkan diri kalau saya membunuhmu?!"
Tatapan Marvin berkobar, ia kemudian menekan tubuh Serena ke sisi kolam hingga gadis itu kesulitan begerak. Lalu dengan teganya, Marvin menekan kepala Serena ke dalam air.
"Haupphh .... Huhh huhh."
Serena mengambil napas saat Marvin memberi kesempatan dan menarik kepalanya ke permukaan.
"P-Pak Bos, a-ampun, huhh hahhh, ma-maaf aku, ak ---."
Lagi, Marvin kembali menekan kepala Serena untuk yang ke tiga kalinya. Kali ini dengan durasi yang lebih lama dari sebelumnya. Kaki Serena meronta, tangannya meraih-meraih, dan napasnya mulai tercekal.
"Rasakan! Apa kamu berpikir saya bercanda?! Saya paling tidak suka dengan wanita murahan! Apa lagi wanita yang dengan sengaja memamerkan tubuhnya di hadapan saya! Hanya istri sah saya yang bisa melakukannya!" tegas Marvin saat kepala Serena masih tenggelam.
Aku 'kan istrimu, jerit Serena dalam batinnya. Karena sudah tidak bisa menahan napas lagi. Tubuhnya mulai melemas.
Mama ... Papa ... Rio ... Via ....
Apa aku akan mati?
Saat Marvin menjambak rambutnya ke permukaan, mata Serena setengah terpejam dan melelehkan air mata yang bercampur dengan air kolam.
"Huhh ... kenapa berhenti? Bu-bukankah Anda ingin membunuhku?" kata Serena dengan suara sangat pelan.
"Dasar bodoh! Saya tidak mungkin mengotori tangan saya dengan membunuh kamu! Kalaupun saya ingin membunuh kamu, saya bisa menyuruh orang lain untuk melakukannya!" Marvin tidak lagi menenggelamkam Serena. Ia melepaskan cekalannya. Jadi, Serena bisa bernapas kembali. Serena mengatur napas sambil berpegangan pada sisi kolam.
"Kalau Anda tidak suka melihat tubuhku, untuk apa repot-repot menyiksaku?! Apa jangan-jangan Anda termasuk kategori pria munafik?!" kata Serena sambil berusaha naik ke sisi kolam.
"Apa katamu?!"
Ucapan Serena memantik kembali kemarahan Marvin. Ia menarik kaki Serena yang baru saja menapaki sisi kolam hingga gadis itu kembali masuk ke dalam air.
"Anda munafik! Puas?! Anda Marsupilami!" teriak Serena sambil berusaha menghidar dari tangan Marvin yang memegang bahunya.
"Kurang ajar! Mulutmu harus diberi pelajaran!" Dengan gerakan cepat Marvin mencengkram dagu Serena.
"Lepas! Hei! Anda mau a ---."
Bibir Serena tebungkam. Mata Serena membulat sempurna. Jemari Serena spontan mencengkram lengan Marvin saat pria itu menyesap bibir Serena dengan gerakan kasar.
"Hmph ... mmhh ...."
Serena memukuli bahu Marvin, tangannya yang lain menjambak rambut Marvin agar berhenti.
"Pak Bos?!"
Terdengar suara Hugo. Marvin yang tengah menyesap kuat terperanjat. Ia melepaskan Serena dan seolah baru tersadar kalau ia baru saja mencium bibir Serena.
Hugo gemetaran, ia segera membalikan badan dan meminta maaf.
"Maaf Pak Bos. Aku tidak melihat apapun. Aku berjanji akan merahasiakannya," kata Hugo. Sementara Serena, langsung bersembunyi dari Hugo dengan cara menenggelamkan diri.
"Ada apa?" Dengan santainya Marvin naik dan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Emm, Nona Clara Judith sudah sampai di bandara Pak Bos," jelas Hugo.
"Oh, baiklah. Katakan padanya tunggu sebentar. Saya akan menjemputnya." Sudut matanya melirik ke kolam renang, pasti sedang mencari sosok Serena.
"Baik, aku permisi Pak Bos." Hugo tergesa-gesa pergi. Bahkan bisa dikatakan berlari.
"Apa kamu mau buhuh diri?!" teriak Marvin.
"Kenapa kamu menciumku! Dasar mesum! Dasar Marsupilami! Aku tidak terima!" Serena muncul ke permukaan. Lalu meninju air membabi buta.
"Lupakan. Anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi," ucap Marvin sembari berlalu.
"Apa?!" Serena tecengang.
"Dasar MARSUPILAMI! Lihat saja! Aku akan memberitahukan pada kekasihmu kalau kamu menciumku!" teriak Serena.
"Silahkan," kata Marvin sambil mengusap sudut bibirnya dan meninggalkan Serena seorang diri.
"Brengsek!" rutuk Serena. Lalu mencuci bibirnya dengan air kolam.
"Kamu mencuri first kissku, Marsupilami! Padahal, bibirku hanya untuk suamiku!" Masih mencuci bibirnya.
Apa Serena lupa kalau Marvin adalah suaminya?
__ADS_1
...~Next~...