
"Serena!"
"Serena!"
Marvin terus memanggilnya. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Serena. Namun tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak memegang tas pribadinya.
"Aaarrggh!" teriaknya. Pikirannya buntu.
Jika nanti tim medis hotel datang, bagaimana ia harus menjelaskan pada mereka? Bagaimana jika salah satu dari mereka ada yang mengenalinya dan mempublikasikan kejadian ini?
"Tidak!"
Ia tidak mau hal itu terjadi. Namun melihat kondisi Serena yang mengenaskan, Marvin merasa iba. Serena menjadi seperti ini salah satunya tentu saja karena ulahnya. Ia ingat benar bagaimana ia memperlakukan Serena di dalam mimpi liarnya itu.
'BRAK.'
Pintu kamar terbuka. Marvin terkejut dan segera menoleh ke sana.
"Hugo?" Marvin merasa lega. Namun ia kaget karena di pipi Hugo ada lebam.
"Pak Bos?! No-Nona Serena?!"
Hugo mematung dan ternganga. Matanya fokus pada sosok yang berada di samping Marvin. Lalu bola matanya bergulir pada darah yang beceran di tempat tidur.
"Hugo, saya bisa jelaskan. Untung saja kamu datang sebelum mereka tiba."
"Ada apa dengan Nona Serena, Pak Bos?! Kenapa Nona jadi seperti ini?! Pantas saja aku merasa tidak enak hati dan inisiatif menyusul Anda. Aku bahkan sempat berkelahi dengan klien yang berusaha mencuri tas Anda," ujar Hugo dengan ekspresi tegang karena melihat keadaan Serena. Ia mendekati Serena dan membantu Marvin memegangi Serena.
"Kami tiba."
Tim medis hotel berdatangan. Hugo melongo dan masih kebingungan saat beberapa orang tim medis mengecek dan memasangkan oksigen pada Serena.
"Bisa saya bicara dengan suaminya?" kata seorang dokter sambil menatap sejenak pada Marvin dan Hugo.
"Dia suaminya, Dok," jawab Marvin sambil menunjuk pada Hogo.
"A-apa?!"
Hugo jelas terkejut, dan Marvin segera memberi isyarat pada Hugo dengan tatapan matanya yang menyiratkan agar Hugo mengiyakan pernyataannya.
"Ya, Pak. A-aku suaminya."
Dengan terpaksa ia mengatakan demikian. Sangat tidak mungkin bagi Hugo untuk menolak permintaan Marvin. Sebab ia sudah menganggap jika Marvin adalah dewa penolongnya.
"Cepat!" teriak Marvin. Ia tidak sabaran melihat cara kerja petugas medis menangani Serena. Ia beranggapan jika mereka sangat lambat.
"Baik, Pak. Bapak harap tenang. Kami akan pasang infus dulu," jelas salah satu dari tim medis.
"Mari ikut saya, Pak," ajak dokter yang tadi menanyakan suami Serena pada Hugo.
"A-aku belum bisa menjelaskan. Tolong beri aku waktu," kata Hugo sambil membantu tim medis memindahkan Serena ke brankar.
Hugo tentu saja tidak bisa menjelaskan apapun pada dokter sebelum ia mendapat penjelasan dari Marvin. Sementara Marvin, pria itu kembali menatap pada darah yang mengotori sprei. Ia ingin menolak jika itu adalah ulahnya. Namun faktanya, ia memang pelakunya.
Marvin melamun saat ia menguntit tim medis yang membawa Serena.
"Bawa ke rumah sakit internasional," titah Marvin.
Hugo hanya bisa menghela napas. Ia tahu jika pada dasarnya, Marvin sangat mengkhwatirkan Serena. Tapi kenapa Nona Serena jadi seperti ini? Apa yang terjadi?
...***...
"Begitu ceritanya Hugo," jelas Marvin.
Ia sudah mengatakan semuanya. Hugo hanya bisa menyimak dan terbengong-bengong. Lalu mengepalkan tangannya karena teramat marah pada orang yang telah merencanakan hal jahat tersebut. Saat ini mereka sudah berada di rumah sakit.
"Secara tidak langsung, dia nyaris membunuh putrinya sendiri! Kurang ajar!" Marvin kembali meninju tembok untuk yang kedua kalinya. Padahal buku-buku tangannya sudah terluka.
"Cukup Pak Bos! Jangan melukai diri lagi. Kita hanya perlu membuktikan kalau Wandira adalah dalangnya."
"Saya yakin pasti dia yang melakukannya!"
"Kita tidak bisa menuduhnya tanpa bukti."
"Ya, saya tahu. Maaf karena saya memaksa kamu berpura-pura menjadi suaminya. Saya yakin pasti kamu mengerti alasannya."
"Aku mengerti Pak Bos. Tidak apa-apa. Lagi pula, jika sampai publik tahu Anda telah menikah dan nyaris membunuh Nona Serena hanya karena melakukan malam pertama, situasinya akan lebih sulit."
"Syukurlah. Semoga dia baik-baik saja."
Lalu Marvin memijat keningnya. Kejadian yang ia kira sebagai mimpi itu terbayang lagi dan membuatnya terus mengingat Serena.
"Untuk saat ini, aku yakin pihak rumah sakit tidak akan curiga. Aku menjelaskan pada mereka kalau aku dan dan Serena menikah di bawah tangan. Sesuai perintah Pak Bos, aku juga sudah membayar orang yang berperan menjadi ayah dan ibunya Serena. Mereka juga tidak mengenali Nona Serena karena pak Wandira tidak pernah mempublikasikan anak-anaknya," lanjut Hugo sambil membungkus tangan Marvin yang terluka.
"Suami Nona Serena?" Seorang suster datang menghampiri Marvin dan Hugo yang berada di selasar rumah sakit.
"Aku suaminya." Hugo berdiri. Pun dengan Marvin. Ia juga ingin tahu kondisi Serena.
__ADS_1
"Mari ikut saya, Pak," kata suster. Lalu Marvinpun mengikuti.
"Bapak siapanya pasien? Kami akan menjelaskan hal yang rahasia. Jika bukan keluarga inti, di luar saja."
Karena memakai masker, suster tersebut tidak mengenali Marvin. Marvin dikenal publik karena ia sering menjadi narasumber acara TV yang membahas tentang bisnis.
"Saya kakak kandungnya," jelas Marvin.
"Ya, ini kakak iparku, Sus," sahut Hugo.
"Oh, baiklah. Anda berdua boleh masuk."
"Bagaiman kondisi adik saya, Dok?" Marvin tampak Cemas. Ia tidak sabaran karena di ruang tersebut tidak ada Serena.
"Emm, begini Pak. Saya akan jelaskan pelan-pelan ya. Jadi, Nona Serena mengalami kasus yang disebut dengan perdarahan setelah berhubungan in-tim, atau sering disebut dengan istilah medis post-coital bleeding. Perdarahan ini tidak terkait dengan bercak-bercak, atau perdarahan yang ada hubungannya dengan menstruasi. Yang terjadi pada Nona Serena murni karena trauma di bagian dalam organ in-timnya."
"Serena," lirih Marvin sambil memasygul rambutnya dan membuat dokter melirik kepadanya.
"A-aku minta maaf, Dok. Aku yang salah karena tidak melakukannya dengan hati-hati," timpal Hugo. Ia tidak ingin dokter dan suster curiga pada Marvin.
"Baik, tidak apa-apa, Pak. Kami sering menemukan kasus seperti ini pada pasangan muda. Penyebabnya mungkin karena kurangnya pengetahuan pasangan pengantin prihal cara-cara yang baik dan aman saat melakukan hubungan in-tim untuk pertama kalinya. Bisa juga karena faktor lain yang berhubungan dengan bentuk dan ukuran organ in-tim." Dokter tersebut secara spontan menatap pada Marvin. Marvin langsung menunduk.
"Oiya, akibat robekan itu Nona Serena banyak kehilangan darah. Ia mengalami syok dan kadar HB-nya saat kami cek hanya 6,5 gram persen. Itu artinya, bisa dikatakan ia telah kehilangan lebih dari separuh cairan dari tubuhnya. Telat beberapa menit saja, Nona Serena bisa kehilangan nyawanya." Dokter menghela napas sejenak.
"Setelah kami periksa, ada robekan yang cukup luas di bagian dalam. Karena kondisinya sangat kritis, kami melakukan operasi sito. Kami telah melakukan prosedur reparasi dan hymenoplasty untuk memperbaiki kembali selaput daranya seperti bentuk semula. Saat ini, istri Bapak sedang melewati tahap pemulihan untuk menormalkan hemoglobinnya," jelas dokter panjang lebar.
Marvin dan Hogo saling menatap. Ada binar kebahagiaan di mata Marvin. Pria itu bersyukur karena Serena dapat tertangani.
"Oiya, Pak Hugo harus bersabar ya, karena situasinya pasca operasi. Nona Serena dan Anda dilarang melakukan hubungan in-tim sampai dokter memperbolehkan. Jikapun sudah diperbolehkan, harus dilakukan dengan ekstra hati-hati," tambah dokter.
"Ba-baik, Dok," sahut Marvin dan langsung dicubit lengannya oleh Hugo. Untungnya dokter tidak menyadari jika yang menyahut adalah Marvin.
"Aku mengerti, Dok. Boleh kami menemuinya?"
"Silahkan, Pak. Tapi kondisi Nona Serena masih lemah dan butuh istirahat. Jadi, kami mohon agar pihak keluarga yang membesuk tidak membuat keributan."
"Baik, Dok."
Setelah mendapat penjelasan dari dokter, merekapun bergegas ke kamar perawatan di mana Serena berada. Sepanjang perjalanan menuju kamar perawatan, Marvin terus menunduk.
Ia bahkan membiarkan panggilan dari Clara. Kejadian ini membuatnya gundah dan tidak tenang. Ia tidak menyangka jika dirinya berubah menjadi maniak yang nyaris membunuh Serena. Lagi, ia mengepalkan tangan karena teramat marah pada musuh yang menjebaknya.
...***...
Serena. Gadis itu masih terbaring lemah. Ada dua jalur infus yang terpasang di tubuhnya. Cairan elektrolit dan transfusi darah. Marvin duduk pada kursi yang berada di samping tempat tidur. Ia menatap sekujur tubuh Serena. Wajah gadis itu berangsur segar kembali.
"Kamu boleh pergi," usirnya pada Hugo.
"Serena," perlahan memegang tangan Serena.
"Maafkan saya."
"Serena."
"Apa Anda serius mau minta maaf?" Sambil menepis tangan Marvin.
Marvin terkejut. Serena ternyata sudah siuman.
"Ya," jawab Marvin pelan.
"Aku minta cerai," jawab Serena. Ia memalingkan wajah. Tidak ingin melihat Marvin. Apa yang dilakukannya membuatnya membenci pria itu.
"Kecuali cerai," sahut Marvin.
"Anggap saja kesucianku sebagai hadiah perceraian kita."
"Kamu yakin ingin bercerai? Apa kamu sudah siap dengan konsekuensinya. Saya akan memenjarakan papa kamu."
"Silahkan lakukan apapun pada papaku. Asalkan jangan pada mama dan adik-adikku."
"Bagaimana dengan hutang papa kamu? Kesucian kamupun belum cukup untuk membayarnya."
Serena terdiam. Perkataan Marvin membuat hatinya terluka.
"Saya akan memberikan apapun yang kamu mau sebagai ungkapan maaf atas kejadian semalam. Tapi bukan dengan perceraian. Lagi pula, kejadian semalam bukan serta-merta salah saya. Bisa jadi, orang yang melakukannya adalah orang-orangnya papa kamu."
Serena kembali terdiam. Jujur, iapun yakin jika pelakunya adalah papanya. Kenapa demikian? Karena yang menculik Serena adalah Nunu. Mantan pengawalnya.
"Serena," Marvin kembali memanggilnya. Serena diam saja.
"Saya tidak bisa melepaskan kamu karena kejahatan papa kamu. Menurut informasi yang saya dapat, kemiskinan kamupun diduga direkayasa. Papa saya mantan mafia. Papa saya mengetahui seluk-beluk kejahatan yang biasa dilakukan mafia judi," jelas Marvin.
"Jangan berasumsi seenaknya. Jelas-jelas papaku sudah bangkrut. Kamu tidak tahu seberapa miskinnya aku saat ini."
Lalu pintu kamar perawatan terbuka dan seorang dokter masuk.
"Selamat sore Nona Serena. Syukurah, rupanya Anda sudah siuman." Dokter memeriksa Serena.
__ADS_1
"Di mana kakak ipar Anda?" tanya dokter pada Marvin.
Kakak ipar? Serena keheranan.
"Aku di sini, Dok." Hugo yang baru saja tiba segera menyahut. Serena menyimak.
"Nona Serena dan Pak Hugo harus sabar ya. Waktu pemulihannya memang memakan waktu lama. Hehehe. Kedepannya, Pak Hugo harus lebih hati-hati dan lembut," terang dokter sambil senyum-senyum.
"Baik, Dok. Terima kasih," sahut Hugo.
Oh, jadi dia melimpahkan perbuatannya pada Hugo? Pintar kamu ya Marvin! Dasar pria jahat! Rutuk Serena dalam benaknya.
"Anda licik!" sentak Serena setelah dokter pergi.
"Papa kamu yang licik bukan saya," elak Marvin. Ia belum beranjak dari kursi yang berada dekat Serena.
"Kamu juga sama saja!" sentak Serena pada Hugo yang sedang menyiapkan makanan untuk Serena.
"Hanya dengan cara seperti ini kita akan aman Nona. Sekarang Nona Serena harus banyak istrirahat supaya cepat pulih." Hugo bermaksud menyuapi Serena.
"Biar saya saja yang menyuapinya," Marvin mengambil piring yang dipegang Hogo.
"Aku tidak mau makan!" tolak Serena.
"Harus makan. A ---," bujuk Marvin.
"Tidak mau!"
"A ---." Marvin bersikukuh.
"Saya akan izinkan kamu bertemu mama kamu, tapi harus mau makan ya."
"Be-benarkah?" Serena sepertinya akan luluh. Tapi ia masih tidak mau menatap Marvin.
"Saya serius. Tapi nanti ya setelah kamu pulih."
Berhasil. Setelah diiming-imingi bertemu mamanya, Serena mau makan namun tidak mau disuapi oleh Marvin dan meminta disuapi oleh suster.
"Anda mau pulang kapan, Pak Bos? Apa mau menginap di rumah sakit?"
"Tidak, saya mau pulang setelah dia tidur," sambil memerhatikan Serena yang sedang disuapi suster. Ia dan Hugo berada di bagian lain kamar perawatan.
"Pak Bos," Hugo sepertinya ingin mengatakan susuatu.
"Kenapa?"
"Nona Serena masih belia. Sampai kapan Anda akan mengekang kebebasannya? Ma-maaf kalau ucapanku tidak sopan." Hugo langsung menunduk.
"Apa? Sejak kapan kamu memedulikan kehidupan pribadi saya?" Marvin sepertinya tidak menyukai pernyataan Hugo.
"Maaf Pak Bos."
Lalu ponsel Marvin bedering kembali. Kali ini ada panggilan dari nomor yang dinamainya sebagai 'Papa.'
"Ya, Pa. Apa kabar Pa?"
"Kemana saja kamu hari ini? Kata sekretaris kamu, kamu tidak masuk kantor. Kamu juga tidak pulang ke apartemen. Jelaskan pada Papa!"
"Saya ada urusan, Pa."
"Marvin, kamu itu CEO! Tolong tunjukkan sikap profesional kamu! Masa ya kamu ada urusan tapi tidak melapor sama sekretaris?! Memangnya urusan seperti apa yang kamu tangani, hah?! Apa ada hubungannya dengan perusahaan kita?"
"Ada," tegas Marvin dengan nada malas-malasan.
"Baik, kali ini Papa maklumi. Oiya, Papa mau bertemu dengan putrinya si raja judi. Bisa?"
"Apa? Untuk apa, Pa? Papa tidak ada hubungannya dengan dia. Lagi pula sedari awal Papa sudah setuju kalau saya mengambilnya sebagai sitaan." Marvin berdiri dan memelankan suaranya.
"Papa hanya ingin bertemu dengannya, Vin. Bukan melarang kamu untuk membawanya. Papa mau melihatnya secara langsung dan memastikan kalau dia tidak memiliki bakat menipu kamu. Papa khawatir putrinya justru lebih bahaya daripada ayahnya. Ingat Vin, di luaran sana banyak orang-orang sukses yang reputasinya jatuh akibat tipu-daya seorang wanita."
Marvin menghelas napas.
"Sudah dulu ya, Papa." Ia mengakhiri panggilan secara sepihak. Hugo kaget. Sebab baru kali ini Marvin memutus panggilan dari papanya begitu saja.
"Kamu cepat pulang. Jika da yang menanyakan, jawab saja kalau saya sangat sibuk."
"Baik Pak Bos. Kalau Nona Clara bertanya, aku harus jawab apa?"
"Katakan saya ada urusan penting. Besok baru bisa menemaninya seharian. Jangan lupa buatkan surat izin sakit untuk wali kelasanya Serena."
"Baik, Pak Bos."
...***...
Kini, hanya ada Marvin dan Serena di kamar perawatan tersebut. Setelah mendapatkan obat, Serena kembali tidur. Marvin mendekat. Lagi, ia duduk di kursi dan memerhatikan Serena. Lama-lama menunggu Serena, kantukpun datang. Hingga iapun tertidur dalam posisi duduk dan meletakkan kepalanya di sisi tempat tidur.
Entah di jam berapa serena terbangun. Lumayan terkejut mendapati Marvin tidur di sisinya dalam keadaan duduk. Serena memiringkan badan. Lalu menatap Marvin.
__ADS_1
Kalau kamu tidur seperti ini, kamu terlihat seperti manusia baik.
...~Next~...