
"Rani?"
Serena berdiri. Rani adalah teman sekelasnya. Gadis itu menebar senyum. Baru kali ini ia berharap ada seseorang yang memberinya tumpangan.
"Mana mobilmu? Mana pengawalmu? Selamat datang orang miskin baru? Hahaha," ledek Rani. Disambut riuh tawa oleh dua orang teman Rani yang berada di mobil tersebut.
Mendengar ucapan Rani, Serena memilih bungkam. Ia kembali duduk di bangku halte dan menoleh ke arah lain.
"Kamu pikir aku mau mengajakmu? Sory yes, hahaha."
Rani dan teman-temannya kembali tertawa. Mereka merasa bahagia dengan kehidupan Serena saat ini. Sebab sebelumnya, mereka selalu iri dengan kehidupan Serena yang sempurna. Desas-desus bangkrutnya salah satu wali murid di sekolah terelit itu memang sudah menyebar.
Walaupun tidak ada penjelasan orang tua siapa yang bangkrut, namun teman-teman Serena telah menduga jika yang bangkrut adalah orang tua Serena. Pembenci Serena garis keras bahkan telah mencari tahu kenapa orang tua Serena bisa bangkrut.
"Memang enak jadi anak dari tukang judi?! Ya 'sih kaya tapi ternyata dari hasil judi! Woy, yang ada di badan dia semuanya hasil judi! Menjijikkan! Rasakan karmamu Eren!" teriak Rani. Lalu ia memundurkan mobilnya dan mengambil posisi memepet ke trotoar.
'BRUUUM.'
Rani menggas mobilnya kuat-kuat melewati genangan air yang berada di bahu jalan.
'BYUUUR.'
Jadilah Serena basah kuyup. Air itu membasahi sekujur tubuh hingga ke rambutnya. Tasnyapun tidak dapat diselamatkan. Serena menangis. Tapi ia bukan menangis karena penghinaan yang dilakukan Rani. Serena menangis karena bukunya basah. Padahal, di dalam buku itu ada tugas sekolah yang akan ia setorkan pada gurunya.
"Huks, bagaimana ini?"
Serena kebingungan. Ia tidak mungkin berangkat ke sekolah dalam keadaan seperti ini. Tidak ada cara lain kecuali kembali ke apartemen Marvin dan mengganti bajunya. Tapi jika kembali lagi, Serena akan terlambat ke sekolah.
"Sudahlah, aku kembali ke apartemen saja."
...***...
"Apa yang terjadi?!" teriak Manda yang sedang berada di depan pintu unit.
"Maaf Bu Manda, aku jatuh," jawab Serena.
Ia melepas sepatu, lalu masuk ke dalam apartemen dan meninggalkan jejak kotor berupa air yang menetes dari bajunya. Pelayan lain hanya bisa tercengang. Cleaning service menelan Saliva saat Serena berlalu tanpa permisi. Ya, etika gadis itu memang kurang baik. Sangat wajar kalau Manda naik darah.
"SERENAAA!"
Entah itu teriakan Manda yang ke berapa kalinya. Ia mengejar Serena sampai ke kamar. Walaupun Serena mengunci pintu, Serena tidak bisa menghindari Manda, sebab Manda memiliki kunci cadangan.
'PLAK.'
Manda menampar Serena yang belum sempat menghindar.
"Dasar anak tidak tahu diri! Harusnya kamu bersyukur karena Pak Bos masih memaafkan kesalahan papa kamu!"
"Bu Manda ...," Serena menunduk. Ia yakin jika Manda telah mengetahui asal-usulnya.
"Jangan kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu! Kamu putrinya si raja judi Wandira, 'kan? Raja judi yang sekarang sudah menjadi rakyat jelata. Cih, sudah kuduga, ayah kamu sengaja menjual kamu pada Pak Bos Marvin, 'kan?"
"Huuu," Serena tidak bisa berkilah lagi, terus menunduk sambil meremas baju basahnya.
"Jangan karena belas kasih Pak Bos kamu jadi besar kepala! Aku tahu sifat Pak Bos Marvin lebih dari siapapun. Dia menerimamu pasti karena terpaksa dan ada rasa sedikit iba. Selain kamu, Pak Bos memang menyekolahkan banyak anak-anak yang tidak mampu dan hidup di bawah garis kemiskinan. Tapi mereka yang disekolahkan oleh Pak Bos pada tahu diri! Mereka mau belajar dan bekerja keras! Tidak seperti kamu yang bodoh dan congkak!" Sambil menuding kepala Serena hingga gadis itu nyaris terjungkal.
"Aku tidak bodoh! Aku hanya belum bisa melakukan pekerjaan rumah!" sangkal Serena.
"Semua karyawan Pak Bos harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga! Kamu paham Serena?! Jangan mentang-mentang kamu merasa cantik bisa mendapat perhatian lebih dari Pak Bos! Jangan mimpi ya! Pak Bos sudah memiliki kekasih! Namanya Nona Clara Judith, dan reputasi keluarga Nona Clara seperti langit dan bumi jika dibanding dengan keluarga kamu yang hanya mengandalkan kekayaan dari hasil berjudi!"
"Cukup! Jangan menghina keluargaku! Ya, papaku memang salah! Tapi papaku sudah mendapat balasan dari kesalahannya! Aku tidak membela papaku! Tapi sebelum tergiur dengan judi, papaku pernah bekerja sama dengan Pak Bos dan menghasilkan keuntungan!" tegas Serena. Ia ingin menunjukkan pada Manda jika papanya pernah berjasa membesarkan perusahaan milik Marvin.
"Hahaha. Faktanya, keluargamu sudah jatuh miskin! Lalu papamu tidak memiliki apapun untuk membayar hutangnya pada Pak Bos. Terpaksa 'deh memberikan kamu sebagai jaminan! Ya, 'kan?!"
"Cukup Bu Manda! Cukup! Cepat pergi dari kamarku!" Serena mendorong Manda keluar dari kamar. Lalu mengunci pintu kamarnya.
"Percuma kamu mengunci pintu!" Manda kembali membuka pintu dan menarik Serena.
"Iin, Killa, Lea!" Manda menanggil pelayan yang lain untuk membantunya menyeret Serena.
__ADS_1
"Hei, lepaskan! Kalian mau apa?!"
"Bawa dia kamarku!"
"Baik Bu."
Serena diseret ke kamar Manda.
...***...
"Cepat mandi! Setelahnya pakai baju ini! Tugas kamu adalah membuat soft file dari buku ini! Bisa 'kan?!"
"Bisa. Aku pandai mengoperasikan komputer. Tapi masa ya datanya sebanyak ini?" protes Serena.
"Jangan protes Serena! Atau kamu mau mengepel seluruh lantai di unit milik Pak Bos?!"
"Baik." Akhirnya Serena sepakat. Ia lelah berdebat. Lagi pula, Serena sudah tidak nyaman dengan baju basahnya.
...***...
Di jam istirahat, seperti biasa, Marvin akan makan siang bersama empat orang kepercayaannya. Hugo, Rian, Boy dan Edrick.
"Coba kamu cek ke sekolahnya," sambil melirik pada Hugo.
"Maksud Pak Bos?"
Hugo yang sedang mengunyah spontan menelan makanannya. Padahal makanannya belum tercabik dengan sempurna.
"Saya tidak mau rugi. Kalau Serena tidak sekolah dengan baik, saya harus memarahinya, 'kan?"
"Oh, baik Pak Bos. Akan aku cek pada wali kelasnya." Hugo hendak menyelesaikan makannya.
"Habiskan dulu," kata Marvin. Rian, Boy, dan Edrick hanya menyimak.
Setelah menghabiskan makan siangnya, Hugo izin menelepon wali kelas dan meninggalkan perkumpulan kecil itu. Sambil menuggu Hugo, Marvin tidak melakukan apapun. Hanya melipat kedua tangan di dadanya dan menatap langit-langit kantor.
Mereka tidak bisa meninggalkan Marvin sebelum Marvin menyuruh mereka pergi.
"Tidak perlu. Haish, kenapa Hugo lama sekali?" keluhnya.
Panjang umur, Hugo tiba. Marvin langsung berdiri.
"Bagaimana?" tanya Marvin, ia seperti tidak sabar ingin mendengar kabar dari Hugo.
"Kata Wali Kelas, Nona Serena sudah dua hari tidak masuk sekolah, kalau dengan hari ini sudah tiga hari, Pak Bos."
"Apa?! Hari ini dia tidak sekolah?"
"Ya, Pak Bos."
"Dasar gadis nakal! Jelas-jelas tadi pagi dia meminta izin ke sekolah!" Marvin mengepalkan tangannya. Ia kecewa karena Serena telah menyia-nyiakan kepercayaannya.
"Kalian boleh pergi!" usir Marvin. Perangainya berubah muram.
"Baik, kami mohon pamit Pak Bos Marvin, terima kasih makan siangnya." Hugo mewakili yang lain.
"Cepat sana!" Hugo mengibaskan tangannya.
"Serena! Mau kamu apa 'sih?!" Iapun bergegas menuju ruang kerjanya.
...***...
Tiba di ruang kerjanya, Marvin langsung menelepon Serena. Sayangnya, karena gadis itu sedang berada di kamar Manda, panggilan Marvin terabaikan.
"Beraninya dia mengabaikan panggilanku! Serena! Lancang kamu ya!" Jadi berpikir ingin segera pulang dan memberi pelajaran pada Serena.
...***...
"Pokoknya, kamu harus mengaturnya dengan rapi. Eren dan Pak Bos harus secepatnya tidur bersama," kata pak Wandira. Ia bicara melalui ponselnya dengan seseorang. Pak Wandira adalah papanya Serena.
__ADS_1
"Aku yakin bisa membangun kembali dunia bisnisku kalau Eren mengandung anaknya Pak Bos," lanjutnya. Lalu mengakhiri panggilan.
"Apa yang akan kamu rencanakan?"
Dari balik pintu rumah yang bisa dibilang sangat sederhana itu muncul seorang wanita cantik namun berbadan kurus.
"Kamu menguping? Sudahlah Putri, kamu ikuti saja aturan mainnya."
Ya, wanita itu adalah bu Putri, mamanya Serena. Sedari awal, ia memang tidak sepemahaman dengan suaminya.
"Kamu istriku! Sudahlah, kamu patuh saja! Kamu pikir kamu bisa cuci darah pakai uang dari mana, hah?! Kalau aku tidak memutar otak untuk mendapatkan uang kamu ---." Pak Wandira tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kamu mau bilang kalau aku akan mati, 'kan?! Tega kamu, Pap! Kalau saja kamu tidak tergiur bisnis judi itu, nasib kita pasti tidak akan seperti ini! Aku kasihan sama Eren! Tolong jangan melakukan tindakan gegabah yang bisa membayakan Putri kita, Pap! Pak Bos bukan lagi tandingan kita, dengan dia tidak membunuh kamu saja, harusnya kamu sudah bersyukur!"
"Diam! Kamu tidak tahu apa-apa! Apa kamu pikir suamimu ini bodoh! Aku tahu apa yang harus kulakukan!" sentaknya. Lalu pergi begitu saja meninggalkan bu Putri yang berurai air mata.
"Mama."
"Mama."
Rio dan Via muncul. Bu Putri segera mengusap airmatanya agar tidak diketahui putra-putrinya.
"Hai Rio, hai Via, ada apa sayang?" Sambil memeluk keduanya.
"Mama, kapan Kak Eren pulang?" tanya Rio.
"Ya Mama, kapan misinya selesai? Via tidak betah tinggal di rumah ini," keluh Silviana.
"Sabar ya para kesayangan, Mama. Sebentar lagi, 'kok."
"Mama, aku mau telepon Kak Eren," pinta Rio.
"Emm, Kak Eren tidak diperbolehkan menggunakan alat komunikasi. Nanti, kalau sudah boleh, kita telepon ya." Bu Putri membuat alasan untuk menenangkan Rio dan Silviana.
...***...
Saat sore menjelang Senja, lembayung di ufuk barat tanpa menguning, kemilaunya memancarkan cahaya kejinggaan, dan matahari perlahan menyusup ke peraduannya.
Serena, gadis itu masih sibuk mengetik. Hanya istirahat sejenak, lalu melanjutkan kembali tugasnya.
Saat ini, matanya mulai berair dan perih. Ia sudah meminta istirahat pada Manda tapi tidak digubris.
"Jangan berhenti sebelum aku menyuruhmu berhenti." Itu yang dikatakan Manda.
...***...
"Serenaaa!"
Teriakan itu membuat semua orang kalang-kabut. Mereka menghentikan sejenak aktivitas guna membungkukkan badan ke arah suara.
"Mandaaa!"
Manda berlari dan mendekat.
"Y-ya Pak Bos."
"Di mana Serena?!"
"Serena ada di --- emm, a-anu Pak Bos."
"Di mana?!"
"Di ---."
Manda kebingungan, kedatangan Marvin ke area ruang tamu terlalu tiba-tiba. Selepas pulang kerja, Marvin biasanya istirahat di kamarnya dan baru keluar dari kamar saat hendak makan malam.
Apa yang akan dilakukan Pak Bos Marvin pada Serena?
...~Next~...
__ADS_1