
Bus itu melaju dengan kecepatan sedang. Saat ini, bus telah keluar dari jalur tol. Tengah memasuki jalan dua lajur yang kondisinya tidak begitu baik. Ada retakan di beberapa titik, dan kontur jalan yang tidak rata.
Serena dan Marvin telah pindah ke bagian depan. Di sini lumayan nyaman karena ber-AC. Sesekali, saat ada hantaman antar roda bus dan permukaan jalan, Marvin dan Serena tersenyum. Mereka baru merasakan jalan yang seperti ini. Jadi, wajar jika keduanya malah merasa asyik. Padahal, penumpang yang lain banyak yang menggerutu dan mengeluh.
"Kok masih jelek saja ini jalan, pemdanya pada kemana 'sih?! Tidur?"
"Pernah diperbaiki, Pak. Tapi bagusnya hanya beberapa bulan."
"Apa pemerintah daerah tidak bisa ngutang dulu?"
"Ngutang? Hahaha, hutang negara kita sudah banyak Pak."
"Ya, miris ya. Di satu sisi ada jalan yang masih jelek seperti ini. Tapi di sisi lain ada pembangunan yang sangat jor-joran dengan beban hutang serta bunga yang sangat banyak. Belum lagi sistem hukum yang tebang pilih. Lalu kemiskinan dan ketidakadilan merajalela. Pokoknya masalah di negara kita ini sangat kompleks."
Seperti itulah percakapan sekelompok penumpang yang duduk tidak jauh dari Serena dan Marvin. Saat mendengarnya, Marvin hanya mengulum senyum, sesekali mengangguk setuju, tapi tidak ikut berkomentar.
"Ikut berkomentar dong Pak Bos?" bisik Serena.
"Tidak perlu, saya cukup menyimak saja," jawab Marvin. Hingga saat ini, mereka masih duduk berhimpitan dan saling merangkul.
"Lapar," bisik Serena.
"Sama. Saya juga. Nanti saat mobil ini berhenti, kita langsung mencari tempat makan ya."
"Ya. Oiya, apa Anda bawa uang? Bagaimana kalau ATM Anda diblokir lagi?" Serena khawatir.
"Tenang saja, saya membawa ATM rahasia yang dibuat Hendrik. Jangan cemas oke?" Sambil mencium tangan Serena.
"Saya juga masih punya uang cash," lanjut Marvin sambil memegang sakunya. Serena jadi tenang, ia menyandarkan kepalanya di dada Marvin dan memejamkan mata.
"Mau tidur?" tanya Marvin.
"Hmm, aku memang ngantuk, tapi tidak bisa tidur."
"Sabar ya." Lagi-lagi, Marvin meminta Serena agar bersabar.
"Kapan sampai di terminal terakhir Pak?" tanya Marvin saat kernet bus melintas.
"Empat puluh menitan lagi," jawabnya sambil melirik berulang kali pada Marvin dan Serena.
Kernet itu pasti merasa heran dengan penampilan Marvin dan Serena yang tidak biasa. Serena memakai gaun yang cantik, lalu Marvin memakai kemeja yang sangat putih, berdasi, dan memakai setelan rompi yang senada dengan celana panjangnya.
...***...
Empat puluh menitpun berlalu. Tibalah mereka di terminal terakhir bus tersebut. Ini adalah sebuah daerah yang diapit oleh gunung, daerah ini termasuk dataran tinggi. Wajar jika udara di sini masih bersih dan terasa sejuk.
Marvin menuntun tangan Serena saat keduanya turun dari mobil. Marvin tidak memakai alas kaki karena sepatunya dipakai oleh Serena. Lalu mereka duduk di sebuah bangku di sisi jalan untuk istirahat sejenak.
"Saya harus cari hotel untuk kita menginap. 'Kok tidak ada taksi ya?" Marvin memerhatikan lalu-lalang kendaraan.
"Mungkin di sini tidak ada taksi Pak Bos," timpal Serena.
"Bisa jadi." Marvin memutuskan untuk bertanya pada pejalan kaki yang melintas dihadapannya.
"Pak, mohon maaf mengganggu. Apa saya boleh bertanya?"
"Oh, boleh. Ada apa?" Pejalan kaki menatap pada Marvin dan Serena secara bergantian.
"Apa di daerah ini ada taksi? Terus saya juga butuh hotel, apa di daerah ini ada hotel? Kalau ada, untuk akses ke sana, baiknya kami menggunakan kendaraan apa?"
"Kalian dari kota ya? Artis ya? Hehehe, pantas saja kelihatannya 'kok ganteng dan cantik sekali. Di sini tidak ada taksi, hotel juga tidak ada. Tapi kalau penginapan ada 'kok. Masih ada di daerah sekitar sini. Untuk ke sana, bisa memakai jasa motor di ujung jalan sana," terangnya sambil menunjuk ke ujung jalan yang dimaksud.
"Kami bukan artis Pak. Terima kasih informasinya."
"Sama-sama." Pejalan kaki melanjutkan perjalanan.
Marvin kemudian memesan dua motor untuk mengantar mereka menuju penginapan. Sebelum ke penginapan, Marvin dan Serena singgah di toko sederhana yang menjual pakaian dan perlengkapan mandi. Marvin membeli beberapa potong baju dan setelan untuk ia dan Serena. Walaupun merk di sini tidak dikenalnya, Marvin tetap membeli karena tidak ada pilihan lain.
"Tidak apa-apa 'kan?"
Marvin khawatir Serena tidak menyukainya karena barang yang dibeli bukan barang mahal apa lagi bermerek.
__ADS_1
"Tak masalah."
Serena tersenyum sambil merangkul bahu Marvin dan menengadahkan kepalanya. Baginya, yang dibutuhkan saat ini bukan lagi harta, melainkan berada di samping pria ini. Ia bahkan rela meninggalkan keluarganya demi Marvin.
"Ya sudah, sekarang kita ke hotel. Emm, maksud saya ke penginapan."
...***...
Ternyata, Hendrik berkamuflase. Ia kembali lagi kelab dan pura-pura mabuk. Ia tidur di salah satu kursi, membuka baju atasnya, dan mengacak rambutnya agar akting mabuknya tidak diragukan. Hendrik bahkan membeli lipstik dan menggunakan lipstik tersebut di bibir dan lehernya. Hendrik berakting seolah-olah telah menjadi korban tipu daya Marvin.
Siapakah yang memberikan ide konyol itu? Ternyata, ide itu digagas oleh Marvin. Marvin tidak ingin Hendrik dihukum dan dibuang ke luar kota seperti Rian, Edrick, dan yang lainnya. Saat Hendrik kembali ke kelab, pengawal pak Jacob sudah tak sadarkan diri. Mereka mabuk berat dengan penampilan yang berantakan. Entah apa yang dilakukan para wanita kelab pada mereka. Yang jelas, uang yang sebelumnya tercecer di lantai telah tiada, dan para wanita itu tidak berada di tempat.
...***...
"Cari dia sampai ditemukan! Jika tidak, kamu akan kupenjarakan dan mendapatkan cap buruk lebih dari sebelumnya! Paham?!"
Bill mencengkram baju pak Wandira yang hanya bisa pasrah atas perlakuan ini. Untungnya, kejadian ini terjadi di kantornya. Setidaknya, perlakuan Bill terhadapnya tidak diketahui oleh bu Putri dan putra-putrinya.
"Tenang saja Tuan. Serena pasti akan segera ditemukan. Aku sudah memasang GPS di jam tangannya."
"Bagus! Aku beri waktu dua kali dua puluh empat jam! Jika sampai batas waktu itu Serena tidak berada di sisiku, maka saat kamu membuka mata, kamu akan berada di penjara!" Bill melepas cengkraman dan mengatur napasnya untuk menenangkan diri.
Lalu pengawalnya memberinya air minum dan merapikan dasinya. Lantas Bill keluar dari ruang kerja pak Wandira dengan ekspresi wajah yang masih menunjukkan kemarahan.
"Segera atur pertemuanku dengan Mark Jacob!" titahnya pada asistennya.
"Baik Tuan."
"Hitung juga berapa persen saham anak perusahaanku yang bekerja sama dengan Royal Bank!"
"Baik Tuan."
"Hitung juga bunga dan sisa hutang anak perusahaanku pada Royal Bank!"
"Baik Tuan."
Ternyata, Bill dan Royal Bank adalah kolega bisnis.
...***...
Padahal, Marvin sempat khawatir tidak diperbolehkan memesan satu kamar jika tidak memberikan salinan surat pernikahan. Walau demikian, sebelum mengambil kunci kamar, Marvin mengatakan pada resepsionis penginapan jika ia dan Serena adalah pasangan suami istri.
Serena menatap Marvin yang tidur di sofa. Kamar yang kosong hanya ini. Sebuah kamar ukuran tiga kali tiga meter dengan ukuran tempat tidur 120×200 cm. Merupakan salah satu ukuran kasur yang penggunaannya ditujukkan untuk kebutuhan tidur satu orang. Tentu saja tidak cukup untuk menampung ia dan Marvin. Namun, resepsionis akan segera mengabari jika sudah ada kamar besar yang kosong.
"Kenapa dia lelap sekali?" gumam Serena.
Ia tidak tahu jika Marvin sering insomsia semenjak berpisah dengannya. Namun malam ini, Marvin merasa nyenyak karena Serena berada di sampingnya.
"Pak Bos," panggilnya.
Karena Marvin tidak merespon, Serena bangun dan mendekat. Ia menggoda Marvin dengan memijat hidungnya.
"Suami, hei, bangun dong. Aku tidak bisa tidur," keluh Serena. Ia sepertinya tidak terbiasa tidur tanpa AC dan tempat tidur yang sempit.
"Kenapa? Tidak nyenyak ya?" Marvin membuka mata dan duduk.
"Ya. Ada nyamuk. Gatal. Kipas anginnya juga berisik sekali," sambil menggaruk kakinya.
"Jangan digaruk. Usap saja." Marvin menghela napas. Mengusap kaki Serena, membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
"Kok Anda tidak digigit nyamuk 'sih?"
"Saya 'kan pakai lotion anti nyamuk."
"Aku tidak pakai karena alergi lotion itu. Lebih baik pakai minyak bayi daripada lotion nyamuk."
"Ya, saya paham." Marvin menyelimuti kaki Serena.
"Kenapa Pak Bos tidak tidur di sana saja?"
"Kan tidak cukup. Sabar ya. Besok kita pasti dapat kamar yang paling bagus dan luas."
__ADS_1
"Cukup 'kok Pak Bos. Kita bisa tidur menyusun. Anda di bawah, aku di atas," godanya.
"Apa? Hahaha." Marvin tertawa.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Serena cemberut.
"Baiklah, begini saja. Kita geser sofanya ke tempat tidur dan kita bisa berpelukan. Mau kamu seperti itu, 'kan?"
"Mau aku? Memangnya Pak Bos tidak mau peluk aku? Kenapa?" Cemberut lagi.
"Hei, bukannya saya tidak mau peluk kamu. Tapi 'kan."
Marvin tidak melanjutkan kalimatnya. Ia segera mengeser sofa, membaringkan Serena di tempat tidur dan menyelimutinya. Lalu ia berbaring di sofa menghadap Serena. Serena menggeser tubuhnya. Ia sengajakan menelusupkan kepalanya ke dada Marvin, kemudian menelusupkan tangannya ke dalam piyama Marvin.
"Serena." Marvin menahan tangan Serena.
"Kenapa Pak Bos? Memangnya tidak boleh kalau aku raba-raba?" Malah semakin berani. Serena membuka kancing piyama Marvin dan menciumi dada bidang pria itu.
"Ya ampun Serena. Apa kamu mau tanggung jawab?" Marvin tidak tahan. Siapa 'sih yang tahan digoda oleh istri semolek Serena?
"Hihihi." Serena malah terkekeh. Marvin akhirnya mengurung Serena.
"Kenapa juga tadi Anda cuek? Aku itu kangen tahu!" ketus Serena seraya memalingkan wajah saat Marvin hendak mencium pipinya.
"Hei, saya tidak cuek. Tapi tadi saya lihat kamu membeli pembalut dan memakainya di kamar mandi. Itu artinya kamu sedang datang bulan 'kan?"
"Iya. Ini adalah datang bulan pertamaku setelah keguguran." Pantas saja Marvin seolah membiarkan Serena. Ternyata itu alasannya.
"Nah, maka dari itu saya berusaha tidak dekat-dekat kamu dulu. Tapi karena kamu sudah membangunkan macan tidur, kamu harus tanggung jawab," bisik Marvin. Lalu menangkup pipi Serena dan membungkam bibirnya hingga Serena tidak sempat protes. Detik berikutnya, Serena hanya bisa pasrah.
"Ba-bagaimana caranya a-aku melayani Anda?" tanya Serena dengan suara pelan bahkan nyaris tidak terdengar.
"Nanti saya ajari caranya," bisik Marvin.
"Terus, a-apa benar status kita masih sah sebagai suami istri?" Serena bertanya lagi.
"Kenapa? Apa kamu ragu? Serena, surat perjanjian cerai itu tidak ada titimangsanya. Disitu hanya tertulis kalau saya akan menceraikan kamu saat hutang papa kamu lunas. Saya juga belum pernah mengucap kata talak untuk kamu. Saya sudah konsultasi dengan lawyer saya. Setelah dianalisis, surat perjanjian cerai itu cacat hukum. Ada poin-poin yang seharusnya dicantumkan di sana tapi tidak dicamtumkan. Salah satu poin yang tidak tercatat adalah poin jika saya mencintai kamu, maka surat perjanjian itu akan direvisi lagi."
"Aku tidak ragu Pak Bos, hanya ingin tahu saja."
Tok, tok, tok.
"Permisi."
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Marvin dan Serena terkejut. Bukankah ini masih jam tiga pagi?
"Siapa? Ada apa?"
Marvin mengancingkan baju Serena dengan terburu-buru, lalu memakai kembali piyamanya. Serena ketakutan. Ia menarik selimut dan bersembunyi dibaliknya.
"Aku penjaga penginapan Pak. Ada kamar yang sudah kosong, apa Bapak dan istri mau pindah kamar sekarang?"
"Hupphh ...."
Serena menghembuskan napas lega. Pun dengan Marvin.
"Terima kasih Pak. Kami akan pindah besok pagi saja."
"Baik Pak. Permisi."
"Pak Bos, kenapa kita tidak pindah sekarang saja?" protes Serena.
"Ssst, 'kan lagi tanggung," jawab Marvin asal, dan kembali mengurung Serena.
"Tanggung?" Serena seolah tidak paham.
"Apa kamu lupa kalau kamu adalah dalang dari ketanggungan saya?"
"Oh, hahaha." Serena terbahak. Ia telah menyadarinya, dan siap menanggung risiko.
...~Next~...
__ADS_1
Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.