ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
TEKAD [Visual]


__ADS_3

Cukup lama mereka berpelukan. Marvin membiarkan Serena menangis sepuasnya. Dari tangisan Serena, Marvin bisa menyimpulkan jika istrinya ini sangat menderita dan kesepian.


"Maaf karena saya tidak bisa melepaskan kamu. Saya seperti ini karena tidak ingin kehilangan seseorang yang membuat saya nyaman. Dulu saya berpikir kalau mama dan papa adalah tempat ternyaman untuk saya berkeluh-kesah. Tapi apa yang mereka lakukan sudah tidak bisa saya terima lagi."


"Dulu saya selalu patuh karena berpikir jika kepatuhan itu adalah bukti bakti seorang anak pada orangtuanya. Tapi saat mereka mengaturku dalam masalah hati dan semua hal, saya sulit menerimanya."


"Saya nyaman bersama kamu Serena. Saya memang berpacaran lama dengan Clara. Tapi mungkin karena LDR, saya tidak pernah merasakan nyaman dan tenang saat bersama dia. Di juga selalu menuntut, agresif dan posesif."


"Cukup! Kenapa Anda jadi membicarakan Nona Clara? Apa Pak Bos mau kembali lagi pada dia?" Serena mengusap airmatanya dan melepaskan diri dari dekapan Marvin.


"Serena, saya dan dia tidak ada hubungan apa-apa lagi. Tidak pernah terbesit sedikitpun keinginan untuk kembali pada dia. Saya sudah memiliki kamu." Marvin tidak terima Serena melepaskan diri. Ia kembali merangkul Serena erat-erat.


"Jangan pernah menyebut nama wanita lain saat sedang bersamaku. Kecuali nama mamaku dan mama Anda. Atau nama nenek Anda," ketus Serena. Marvin mengecup gemas wajah Serena yang bibirnya mengerucut. Ia menyimpulkan jika istri cantiknya itu sedang cemburu.


"Cemburu ya?" duga Marvin.


"Tidak!" tegas Serena sambil memainkan kancing baju milik Marvin.


"Baiklah, saya anggap itu bukan cemburu. Tapi kenapa pegang-pegang kancing baju segala? Apa kamu mau sesuatu?" goda Marvin.


"Tidak mau! Aku tidak mau apa-apa!" Tapi tangannya tidak berhenti memainkan kancing baju milik Marvin.


Marvin mengulum senyum. Gelagat Serena benar-benar lucu dan menggemaskan. Iapun segera menuntun Serena menuju villa.


"Tunggu, aku mau bawa kerang itu."


Serena mengambil kerang kecil dalam wadah dan membawanya. Kerang-kerang itu adalah koleksinya selama berada di Pulau Kecil.


"Kamu mencarinya sendiri?"


"Iya."


"Apa kamu kesulitan selama berada di sini?"


"Tidak Pak Bos. Selama stok makanan cukup, aku tidak pernah khawatir."


"Oiya, maaf karena saya belum menyiapkan asisten untuk kamu. Yang bisa datang ke sini hanya Edrick dan Rian. Hugo dan Boy pun tidak bisa datang karena untuk masuk ke pulau ini harus memiliki akses khusus."


"Tidak apa-apa. Ada penjaga villa Pak Bos, aku tidak terlalu kesepian. Emm, di sini tidak tersedia fasilitas mencuci pakaian Pak Bos. Tapi aku bisa mencuci pakaian sendiri 'kok. Aku juga sudah pandai memasak." Serena seolah ingin menunjukkan kemandiriannya pada Marvin.


"Wah, kamu hebat. Di villa itu tidak ada fasilitas makan dan mencuci karena villa itu sudah saya beli. Yang bersama kamu bukan penjaga villa. Dia adiknya Hugo yang saya pekerjaan untuk menjaga dan merawat villa."


"Oh, tapi wajahnyanya tidak mirip sama Hugo."


"Kakak beradik itu tidak harus mirip 'kan? Yang penting harus akur, saling menjaga, dan saling menyayangi."


"Ya 'sih." Serena mengangguk setuju.


...***...


Setibanya di villa, Marvin terkejut dengan dekorasi di ruang tamu, ia tersenyum karena di ruangan ini ada dua foto besar yang diletakkan berhadapan. Foto dirinya dan Serena.


"Siapa yang memasang foto ini? Ide siapa?" tanyanya sambil memeluk Serena dan memerhatikan dua foto tersebut secara bergantian.

__ADS_1


"Hendrik yang pasang. Katanya disuruh Anda."


"Saya tidak pernah menyuruh. Pasti idenya Hugo. Kamu cantik sekali. Senyum kamu di foto itu bisa mengalihkan dunia," puji Marvin.


"Hehe, terima kasih. Pak Bos juga keren 'kok."


Serena tersipu malu. Ia jadi teringat ulah konyolnya yang sering memandangi foto Marvin berlama-lama. Ia bahkan pernah tidur di ruang tamu karena rindu dengan Marvin. Dengan tidur di dekat foto tersebut, ia berharap kerinduannya bisa terobati.




"Apa kamu sering memandangi foto saya?" tebak Marvin.


"A-apa?! Tidak Pak Bos! Tidak pernah!"


Serena menyangkal, tapi tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Ia salah tingkah hingga berulang kali mengerlingkan mata sambil menahan tawa.


"Baiklah, saya tidak akan memaksa kamu untuk berkata jujur. Ya sudah, kita mandi bersama yuk," ajak Marvin.


"Emm, a-aku tidak mau Pak Bos. Aku sekarang jelek. Perutku mulai besar. Lagi pula aku sudah mandi."


"Saya juga sebenarnya sudah mandi 'kok. Kamu justru semakin cantik. Oiya, kenapa kamu menyembunyikan kehamilan kamu dari saya, hm?"


Marvin tiba-tiba berlutut dan menyingkap baju Serena. Awalnya Serena ingin menolak, namun saat melihat Marvin menatap dan mengusap perutnya dengan mata berkaca-kaca, Serena mengurungkan niatnya.


"Maaf karena saya terlambat menyadari kehadiran kamu." Lalu ia mendaratkan bibirnya di perut Serena berulang kali.


"Saya masih ingin mencium perut kamu. Di kamar ya saja supaya tenang."


Modus mulai dijalankan. Ya, modus ingin mencium perut, padahal ingin lebih dari itu. Dugaan Serena ternyata benar. Marvin memang sudah tidak sabar lagi untuk mencurahkan kerinduannya. Lagi dan lagi, pria itu memeluk Serena dan tangan jahilnya mulai berulah.


"Apa boleh?" tanya Marvin setelah mereka tiba di kamar.


Tatapan pria itu telah berubah. Raut kelembutannya, berubah menjadi semburat tajam yang menggetarkan jiwa Serena. Tangan kokohnya menulusup ke sana kemari, tanpa kendali, dan tanpa permisi.


"P-Pak Bos, a-aku belum pernah periksa ke dokter, jadi ... a-aku tidak tahu aman apa tidak."


"Saya yakin aman, calon anak pasti kuat," kilahnya.


Sebagai seorang istri, Serena jelas tidak bisa menolak.


"Pak Bos, a-aku ta ---." Kut ....


Serena hanya bisa melanjutkan kalimatnya di dalam hati. Sebab Marvin telah membungkam dan menjajahnya. Serena memejamkan mata, lalu tangannya perlahan merangkul bahu Marvin hingga adegan itu semakin mendalam dan larut.


Suara deburan ombak yang terdengar samar-samar, angin darat yang bersemilir lirih, mentari yang nyaris pergi, dan burung camar yang terbang rendah di atas permukaan laut, seolah menjadi pelengkap kebersamaan dua insan tersebut. Mereka laut dalam kerinduan yang mendalam, dimabukkan oleh cinta dan dipersatukan oleh ikatan suci.


"Ke-kenapa menangis?" tanya Marvin. Ia menangkup pipi Serena dan membersihkan air mata Serena dengan bibirnya. Serena tersenyum sambil mengecup telapak tangan Marvin.


"Kenapa? Apa kurang nyaman? Apa saya keterluan?" bisik Marvin. Lagi, Serena hanya tersenyum.


"Kenapa hanya senyum-senyum?"

__ADS_1


Serena menggelengkan kepala, pipinya memerah. Lalu ia menutupi wajahnya karena malu. Apa semua wanita hamil seperti itu? Pikirnya.


"Are you satisfied?" tanya Marvin. Serena kembali menjawabnya dengan senyuman. Ia terlalu malu untuk menjawab dengan lisannya. Tapi faktanya, tubuh Serena telah menjawab semuanya.


"Very beautiful," gumam Marvin. Lalu ia nyaris tidak bisa mengendalikan diri.


"You trapped me," dan Marvin benar-benar tidak terkendali.


Beruntung, Marvin cepat tersadar jika di balik tubuh yang molek nan indah itu, ada makhluk kecil yang harus ia jaga.


"Maaf," bisiknya seraya merengkuh tubuh Serena yang berpeluh dan tampak kepayahan.


"Ti-tidak apa-apa," cicit Serena. Ia yang sering membangkang dan cerewet itu, kini berubah menjadi sosok berbeda yang telah berhasil membuat Marvin terlena dan terbelenggu.


"Tok tok tok."


Perayaan cinta itu sepertinya harus segera di akhiri. Mata Marvin membulat sempurna. Ingin rasanya melenyapkan si pengganggu saat ini juga. Serena mengelus bibir Marvin dan berusaha menenangkan suaminya.


"Maaf mengganggu Pak Bos, ada kabar penting dari kak Hugo." Terdengar suara Hendrik dari luar kamar.


Marvin enggan menjawab, pun dengan Serena yang segera membekap bibirnya sendiri agar suara alunan cintanya tidak terdengar oleh Hendrik.


"Ma-maaf Pak Bos. Kata kak Hugo, Anda harus tahu kabar itu secepatnya. Sebab kalau terlambat, kita semua bisa celaka," lanjut Hendrik.


Penjelasan Hendrik membuat mereka saling menatap. Lalu Marvin menyelesaikan aktivitasnya dan tersungkur di samping tubuh Serena.


"Aku takut." Serena menggeser tubuh lemasnya dan memegang erat tangan Marvin.


"Kamu tenang saja. Percaya sama saya Serena. Saya akan menjaga kamu dan calon anak kita dengan nyawa saya. Sekalipun harus ada yang celaka, biar saya saja, jangan kamu ataupun yang lainnya."


Air mata Serena kembali menetes.


"A-apa kita menyerah saja?" Serena terpaksa bicara demikian karena ia tidak ingin Marvin celaka.


"Apa?! Jika dengan menyerah tidak menyebabkan kita harus berpisah! Saya pasti sudah melakukannya sedari dulu!" Nada bicaranya cukup tinggi.


Serena terdiam sejenak. Ia menatap Marvin yang beranjak, mengelap keringat di tubuhnya, kemudian menarik selimut untuk menutup tubuh Serena. Rautnya wajah Marvin berubah dingin. Lalu pria itu menggunakan kembali busananya dan bergegas keluar kamar.


"Pak Bos." Serena memanggilnya.


"Brak."


Marvin membanting pintu dan mengabaikan Serena. Serena menghela napas panjang. Marvin pasti marah karena ucapannya.


"Pak Bos! Aku tidak ingin menyerah! Aku hanya asal bicara! Aku minta maaf!" teriak Serena. Ia ingin menyusul Marvin, namun akibat aktivitas itu, tubuhnya terasa lelah.


_______


Ada kabar penting apa ya?


Mari kita intai sampai tuntas!


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2