ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
ADA YANG LAGI GALAU


__ADS_3

Serena. Gadis itu sedang bersembunyi di toilet staf pria karena bingung harus lari ke mana lagi. Ia sebenarnya nyaris bisa keluar dari hotel ini, namun petugas keamanan terlihat mengecek satu persatu tamu yang keluar sambil menunjukkan selebaran yang merupakan foto dirinya. Serena melihat adegan itu dari kejauhan. Marvin ternyata telah begerak cepat untuk menemukannya.


"Serenaaa!"


"Serenaaa!"


Ia mendengar panggilan itu dan jantungnya kian berdegup. Apa lagi saat teriakan itu terasa semakin dekat dan ramai. Ya ampun, entah berapa orang yang saat ini sedang mencarinya. Serena berpikir jika dirinya benar-benar telah kalah dan tidak bisa kabur lagi.


Lagi pula, jikapun ia berhasil kabur, Serena tidak punya tujuan hidup. Kabur dari Marvin sebenarnya hanya pelampiasan sesaat lantaran merasa tersinggung dengan ucapan pria itu.


"Tapi ..., dia wajar memarahiku. Aku anak musuhnya. Aku anak dari pria jahat yang merugikan perusahaannya," gumam Serena.


"Permisi, kenapa lama sekali di kamar mandinya? Anda tidak apa-apa, kan?"


Itu suara penjaga kamar mandi yang menyadari jika dirinya belum keluar sedari tadi.


"TIDAK APA-APA," jawab Serena.


Ia memanipulasi suranya menjadi suara pria, dan berencana akan segera keluar untuk menyerahkan diri.


"Permisi!"


Terdengar suara pria yang semalam bermain-main dengan tubuhnya. Serena menutup mulutnya dan terkejut. Ya, itu suara berat Marvin.


"Serenaaa!"


Ada suara pria lain. Itu suara pria yang hampir saja melecehkannya. Leon.


"Kamu?! Siapa kamu?!" teriak Marvin. Pastinya tertuju pada Leon.


"Aku kekasihnya Serena!"


"Pak Bos!"


'Nah, itu suara Indri. Serena menguping dengan perasaan yang tidak menentu. Lau terdengar suara keributan seperti orang bertarung. Ya, sedang terjadi duel antara Indri dan Leon. Lalu terdengar jua teriakan petugas keamanan yang melerai Indri dan Leon.


"Pak! Bu! Jangan ribut di sini!"


"Yang lainnya ayo cepat bubar!"


"Kamu jangan pernah berani ikut campur lagi dengan urusan saya dan Serena! Hubungan kamu dan Serena sudah berakhir!"


"Diam kamu mafia!" teriak Leon.


Serena memberanikan diri mengintip dari celah pintu. Terlihat Leon sudah dipegang tangan kiri dan kanannya oleh Indri dan petugas keamanan. Leon beradi di pihak yang kalah. Pipi Leon lebam. Sementara Marvin, ia tidak terluka sedikitpun. Sedang bertolak pinggang dan menunjuk wajah Leon dengan garangnya.


"Apa kamu bilang?! Kurang ajar!" Marvin bersiap menampar Leon.


"Jangan!" teriak Serena. Ia keluar dari kamar mandi. Tangan Marvin mengambang di udara.


"Serena?" Leon senang melihat Serena.


"Kamu keluar demi membela pria ini?!" Marvin berang. Ia segera menarik tangan Serena dan memegangnya kuat-kuat.


"Yang lain! Ayo cepat keluar!" teriak Indri sambil menarik dan menyeret Leon dibantu oleh petugas keamanan.


"Serena! Hei, lepas! Serena! Aku minta maaf!" teriak Leon. Ia meronta-ronta dan terlihat putus asa.


"Cepat bawa dia Indri! Saya paling tidak suka melihat ada kecoa di depan saya!" ledek Marvin sambil membekap mulut Serena dengan tangannya agar gadis itu tidak bisa lagi berkomunikasi dengan Leon.


"Serenaaa! Serenaaa! Aku minta maaf Serena!" Teriakan Leon masih bisa didengar.


"Mmm." Entahlah Serena bicara apa karena bibirnya dibekap.


"Bubar! Bubar!" teriak petugas keamanan.


"Saya mau menghukum adik saya! Jangan ada masuk ke area ini sebelum saya selesai menghukumnya!" jelas Marvin pada petugas yang menjaga kamar mandi.


"Baik Pak!" Petugas tersebut pergi.


"Mmm!" teriak Serena.


"Masuk!"


Marvin membawanya ke kamar mandi. Lalu menguncinya. Kamari mandi itu sangat sempit. Tubuh mereka nyaris berhimpitan.


"Kenapa kabur, hah?!" Melepas bekapannya.


"Karena Anda mengusirku!" teriak Serena.


"Dasar bocah! Berani ya kamu kabur?! Memangnya kamu akan kabur ke mana?! Mau jadi anak jalanan?! Bagaimana kalau ada yang menculik kamu dan menjual kamu ke mucukari?! Apa kamu mau seperti itu?!" Sambil mencengkram dagu Serena.


"Aku tidak suka dibentak-bentak! Aku tidak suka sama pria kasar! Kata-kata Anda menyakiti perasaanku!" jelasnya. Airmatanya berurai.


"Kata-kata yang mana?! Jangan berani kabur dari saya Serena! Atau saya tidak akan peduli lagi sama mama dan adik-adik kamu! Paham?!"


Lalu Marvin mengambil gayung dan mengguyur tubuh Serena. Ini adalah bentuk hukuman yang ia pernah lakukan pada adiknya. Dulu, adiknya pernah pergi ke taman bermain tanpa sepengetahuannya. Serena memeluk tubuhnya.


"Janji tidak ada akan kabur lagi?!" Marvin menengadahkan wajah Serena.


"Ya," jawabnya singkat.


"Baik, kali ini saya maafkan."


Marvin kemudian memeluk Serena. Ia membiarkan tubuhnya terkena basah dari baju Serena. Serena melanjutkan tangisnya. Sepertinya, ia memang tidak akan bisa meninggalkan Marvin sampai pria ini membebaskannya, atau sampai perjanjian papanya dan Marvin terselesaikan.


"Maaf kalau ada ucapan saya yang menyinggung perasaan kamu." Ia meraih sapu tangan dari saku jasnya. Lalu membersihkan rambut basah Serena dengan sapu tangan tersebut.


"Huks, huks."


Serena memeluk Marvin dan berkata, "Bi-bisakah Anda menyayangiku seperti Anda menyangi adik Anda?" pintanya. Marvin terdiam.


"Jika memang benar adik Anda meninggal gara-gara aku, aku rela melakukan peran apapun sebagai pengganti adik Anda." Marvin masih terdiam.


"Tidak ada yang bisa menggantikan adik saya. Apa lagi kamu. Mama saya tidak bisa memiliki anak lagi setelah melahirkan Miranda. Itu menjadi salah satu alasan kenapa kami sangat kehilangan. Untuk mendapatkan Mirandapun sangat sulit. Mamaku harus bulak-balik berobat ke luar negeri dan menjalankan beberapa kali program bayi tabung. Miranda adalah harapan keluarga. Namun mimpi kami hancur gara-gara kesalahan papa kamu."


Marvin mendekap Serena kuat-kuat hingga tangan gadis itu meronta lantaran merasakan sakit dan sesak di dadanya. Serena paham jika pria itu sebenarnya ingin melukainya. Namun dengan alasan yang tidak jelas, Marvin tidak melakukannya.


"Hhh ...."


Serena sesak napas. Matanya membeliak, dan gadis itu berharap jika dirinya mati saja.


"Serena," lirih Marvin. Dekapannya melemah. Ia lantas menundukkan kepalanya pada pundak Serena.


"Saya tidak bisa memahami perasaan saya terhadap kamu. Di satu sisi, saya ingin melukai kamu atas perbuatan papa kamu. Tapi di sisi lain, saya merasa jika kamu berhak dilindungi." Ia kemudian mengusap lembut air mata Serena.


"Serena, tolong pahami satu hal. Salah satu alasan kenapa saya ingin kamu tetap berada di sisi saya, itu karena saya ingin melindungi kamu dari Papa. Serena, Papa saya ingin mencelakai kamu. Papa ingin balas dendam atas kematian adikku," jelas Marvin. Ia baru mengatakan fakta itu agar Serena tidak berani kabur lagi.


"Apa keberadaanku membuat Pak Bos berseteru dengan papa Anda? Jika ya, lebih baik segera membunuh aku saja, Pak Bos. Aku rela, 'kok. Dengan aku mati, aku berharap masalah ini segera berakhir dan papaku mau menyerahkan diri ke polisi," harapnya.


"Tidak bisa Serena. Saya tidak bisa melakukannya. Tolong jangan bicara seperti itu lagi."


Ia mengusap bibir Serena. Selanjutnya, pria itu merampas bibir Serena tanpa ragu. Entah ini adegan terkejut yang ke berapa kalinya. Serena mematung saat Marvin menelisik dan memperdalamnya hingga indra pengecapnya terasa hangat dan nyaman. Tangan gadis itu perlahan melingkar pada pinggang Marvin dan meremat bajunya.


"Permisi. Pak Bos, aku Edrick."


Edrick tiba dan mengacaukan konsentrasi Marvin.


"Edrick, dasar pengacau!" geramnya.

__ADS_1


Serena segera menundukkan kepala. Kemudian Marvin menuntun Serena keluar dari kamar mandi.


"Cepat ambilkam handuk," titahnya pada Edrick yang mematung bingung karena melihat Serena dalam keadaan basah kusup, dan sebagian baju bosnyapun turut basah.


"Baik Pak Bos."


Tidak perlu waktu lama bagi Edrick untuk mengambil handuk. Dalam waktu kurang dari dua menit, pria itu sudah kembali lagi.


"Kamu antar Serena ke rumahnya. Saya mau ke kantor polisi. Beri tahu Hugo agar membantu Indri menjaga Serena." Sambil menutupi tubuh Serena dengan handuk.


"Baik Pak Bos. Mari Nona," ajak Edrick.


Serena terdiam sesaat, dan segera beranjak dari sisi Marvin setelah menatap wajah Marvin dengan tatapan yang sulit didefinisikan.


"Serena, tunggu." Marvin mengejar.


"Emm, istirahat ya. Saya akan menyuruh Indri untuk membawa dokter ke rumah kamu," lanjutnya.


"Baik Pak Bos." Karena Serena diam saja. Edrick inisiatif menjawab.


...***...


_______


"Kamu baru datang? Kamu mempermalukan Papa, Vin!" teriak pak Jacob. Ia kecewa karena Marvin datang terlambat.


"Maaf."


Hanya itu kata yang terucap dari bibir Marvin. Ia kemudian duduk dan memainkan ponselnya.


"Marvin Mahesa! Papa bicara sama kamu!"


"Ya, saya tahu," sahutnya.


"Kenapa kamu terlambat, hahh?! Kamu tahu? Tadi wartawan ingin bicara sama kamu, Vin!" Pak Jacob sampai berdiri dan berkacak pinggang.


"Preskonnya sudah selesai 'kan? Lagi pula, kenapa harus ada media 'sih? Sudahlah, Papa jangan teriak-teriak di sini. Ini kantor polisi."


"Marvin! Bukan Papa yang mengundang media! Papa juga tidak tahu kalau wartawan akan datang!"


"Media tahu sepak terjangnya Wandira, Pa. Mereka datang pasti karena kaburnya dia dari sel sudah diketahui media." Masih tetap memainkan ponsel.


"Marvin!"


Pak Jacob merebut ponsel milik Marvin, dan dibantingnya ke sofa.


"Sejak kapan kamu bicara tanpa melihat mata Papa, Vin?! Kamu anak harapan keluarga satu-satunya! Tolong jangan membuat Papa emosi!"


"Pa, Marvin sudah mengikuti keinginan Papa. Papa ingin mempercepat pernikahan saya dan Clara Judith, saya setuju. Papa ingin Wandira dipenjara, itu juga sudah saya lakukan. Tapi kalau pada akhirnya dia bisa kabur dari sel, yaitu kelalain POLSUSPAS dan sipir, Pa. Bukan salahnya Marvin," elaknya.


"Kamu sekarang pandai berkilah! Jangan bilang sama Papa kalau kamu juga belum menyiksa gadis itu! Papa dengar, kamu malah menyekolahkan dia!"


"Dia aset untuk kita Pa. Kalau kita terlalu cepat membunuhnya, Wandira akan melewati kesedihannya terlalu cepat. Jika gadis itu mati, dia juga akan mendapatkan asuransi yang jumlahnya sangat besar. Putrinya harus tetap hidup dan mengalami kesakitan dan kesedihan sepanjang hidupnya," gumam Marvin seraya melamun. Ia berharap ucapannya dipercaya oleh papanya.


"Hmm." Pak Jacob menautkan alisnya. Sedang memidai ucapan putra semata wayangnya.


"Papa akan pikir-pikir lagi. Untuk selanjutnya, papa akan menseting penculikan pada gadis itu. Dia harus disekap dan ditempatkan di tempat yang menakutkan dan mengerikan."


"A-apa?! Maksud Papa?!" Marvin spontan berdiri. Lalu segera duduk lagi dan menghela napasnya.


"Papa ingin memancing si Wandira dan komplotannya keluar dari persembunyian mereka! Papa harus tahu orang kuat yang berada di belakang dia! Menurut polisi, peluru yang digunakan untuk menghancurkan gembok sel berkaliber tinggi. Itu artinya komplotan mereka sangat kuat!" Pak Jacob mengepalkan tangannya. Marvin terdiam.


"Bagaimana? Kamu setuju, 'kan?"


"Se-setuju. Kapan rencananya?" Marvin terpaksa harus mengikuti permainan papanya.


"Nanti Papa kabari lagi. Papa harus menyeleksi dulu anak buah Papa yang akan terlibat. Tidak bisa sembarangan dan persiapannyapun harus matang karena yang kita hadapi bukan penjahat kelas teri," tegasnya.


"Ke Hutan Alas Rimba."


"A-apa?!"


Untuk yang kedua kalinya Marvin spontan berdiri. HAR (Hutan Alas Rimba) adalah tempat paling mengerikan yang biasa digunakan oleh polisi untuk melakukan eksekusi mati.


"Kenapa?! Kamu tidak setuju?" Pak Jacob menautkan alisnya.


"Se-setuju."


Marvin mengatur napasnya. Ternyata seperti ini rasanya berhadapan dengan seorang mantan mafia. Seperti halnya Serena, jika boleh memilih, Marvinpun tidak ingin memiliki seorang ayah yang di masa lalunya berprofesi sebagai mafia.


"Baik, Papa pergi ya Vin. Masih banyak urusan yang harus Papa selesaikan." Pria itu berlalu. Alisnya kembali mengernyit saat ia melirik pada Marvin yang masih duduk merenung.


"Papa."


Marvin bahkan baru menyadari jika papanya telah meninggalkan ruangan dan ia belum sempat bersalaman. Marvin lantas meraih ponselnya dan berjalan lunglai meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke mobilnya.


...***...


_______


Di dalam mobil, Marvin merenung. Ia bahkan tidak mengacuhkan sapaan Rian yang hari ini bertugas menjadi sopir pribadinya.


"Pak Bos, halo?" Rian kembali menyapa untuk yang ketiga kalinya.


"Ya." Hanya melirik.


"Pak Bos kenapa? Ada yang bisa aku bantu?"


"Tidak apa-apa. Saya baik," jawabnya. Lalu memakai kaca mata hitam dan menatap ke jalanan.


"Tidak biasanya Anda seperti ini. Masalah pak Wandira kabur, harusnya tidak perlu Anda pikirkan lagi karena kasusnya telah ditangani polisi."


Rian mencoba memulai obrolan. Namun bosnya itu tetap merenung dan seolah tidak ingin menanggapi pernyataan Rian. Marvin malah mengambil ponselnya dan menelepom seseorang.


"Halo Indri," katanya. Oh, ternyata menelepon Indri.


"Ya Pak Bos," sahut Indri.


"Bagaimana kabarnya?" Jelas, Marvin pasti menanyakan kabar Serena.


"Pergi ke sekolah, Pak Bos. Katanya kalau di rumah suntuk."


"Apa?! Gadis itu berani membantah saya lagi?!"


Rian menyimak sambil melajukan kemudi dengan kecepatan sedang.


"Pak Bos, Nona Serena memang masanya sekolah. Maaf, tolong jangan terlalu membatasi kebebasannya."


"Apa?! Kamu juga berani membantah saya, Indri?!"


"Ti-tidak Pak Bos. Mana berani aku membantah Anda. Aku hanya mencoba memahami pola pikir remaja seusia Nona. Kebanyakan remaja seusia Nona Serena, rata-rata belum mampu memahami konflik dan masalah yang kompleks. Wajar jika ia mencoba memahami atau melupakannya dengan cara berkumpul dengan sebayanya. Begitu, Pak Bos."


Marvin menghela napas. Penjelasan Indri ada benarnya.


"Baiklah, kamu ada di mana?" Ucapan Indri sedikit memengaruhinya.


"Di vila Pak Bos."


"Kamu sering-sering hubungi Ermi. Katakan pada Ermi kalau dia harus melaporkan kegiatan Serena perjamnya. Kalau bisa pertiga puluh menit."

__ADS_1


Rian yang mendengarkan percakapan Marvin mengulum senyum. Ia yakin jika bosnya murung lantaran memikirkan Serena. Rian pura-pura tidak mendengar saat Marvin mengakhiri panggilan. Namun setelah panggilan berakhir, Marvin kembali Merenung.


...***...


_______


"Bagus-bagus 'kan honey?" tanya Clara.


Sepulang kerja, Marvin menemani Clara untuk fitting baju pengantin di sebuah butik ternama di kota tersebut.


"Bagus."


"Kalau yang ini?"


"Bagus juga."


"Yang ini?"


"Itu juga bagus."


"Honey, beri saran dong! Masa semuanya bagus? Yang ini jelek tahu." Clara sedikit sewot.


"Maaf." Marvin berdiri dan menghampiri kekasihnya.


"Ini hanya model percontohan, 'kan? Kamu bisa mengutarakan model yang kamu inginkan langsung pada desainernya." Sambil memeluk Clara dan melihat bayangan mereka pada cermin yang memanjang di dinging butik.


Lalu Marvin buru-buru melepaskan pelukannya karena ia melihat bayangan Serena di cermin tersebut.


"Honey? Kenapa?"


"Ti-tidak apa-apa. Kita temui desainernya saja ya. Saya tidak bisa lama-lama. Emm, ada meeting malam."


"Meeting malam?" Clara seperti tidak percaya.


"Boleh kamu tanyakan saja pada sekretaris saya kalau kamu tidak percaya."


Marvin sedikit tidak nyaman dengan tatapan Clara yang seolah mencurigainya.


"Aku percaya, honey." Clara merangkul Marvin.


...***...


_______


Ternyata benar. Marvin memang ada meeting malam. Namun Marvin yang biasanya aktif memberikan arahan dan ide-ide beriliant, malam ini cenderung menjadi pendiam dan hanya menjadi penyimak.


Ternyata, batinnya risau akan rencana papanya. Ia takut terjadi apa-apa pada Serena. Jikapun itu hanya sebuah skenario, ia khawatir jika skenario itu membahayakan Serena.


"Mohon maaf, saya tidak enak badan. Saya izin pulang," terangnya di saat sekretarisnya masih memaparkan narasi.


"Ba-baik Pak Bos," sahut sekretaris Marvin. Dia adalah seorang wanita seusia Marvin. Namanya Siha.


"Lekas sembuh Pak Bos," sahut yang lain. Mereka berdiri dan menunduk sejenak saat Marvin berlalu.


...***...


"Pak Bos." Di depan ruang meeting, Rian sudah menunggu.


"Mana kunci mobilnya. Saya mau pulang sendiri."


"Anda mau pulang ke mana Pak Bos?"


Rian memberikan kunci sambil mengejar. Namun Marvin tidak menjawab. Langkahnya malah semakin cepat.


"Pak Bos!"


Bahkan sampai di parkiran, Marvin tetap tutup mulut. Rian tidak berani memaksanya. Jadilah membiarkan Marvin pergi walaupun batinnya masih bertanya-tanya.


...***...


_______


Marvin menepikan mobilnya di sebuah rumah. Ini adalah rumah yang paling besar jika dibandingkan dengan rumah di sekitarnya. Rumah ini memiliki kelebihan tanah, jadi terlihat lebih luas. Bahkan, parkirannya bisa menampung tiga buah mobil.


Ya, ini adalah rumah yang saat ini ditinggali oleh Serena, mama, dan adik-adiknya. Marvin ternyata pulang ke rumah Serena.


Marvin memegang ponselnya. Ada perasaan ragu saat ia hendak memberitahu Serena tentang kedatangannya. Apa Serena akan menerimanya? Batin Marvin bimbang.


...***...


Serena. Di kamarnya, ia tampak gelisah. Inginnya tidur bersama mamanya. Namun bu Putri menolak dengan alasan Serena harus menjadi teladan untuk Rio dan Via.


Serena membenamkan wajahnya pada bantal. Lalu meraih ponselnya dan mengamati nama kontak yang tertera di sana.


"Marsupilami."


"Dia sedang apa ya?"


Malah memikirkan pria yang sering menyakiti perasaannya. Namun di satu sisi, Serena berpikir jika pria itu sangat menghormati tubuhnya.


"Dia hanya napsu Serena! Napsu!" teriaknya pada diri sendiri.


Lalu ia beranjak untuk melihat sinar rembulan dari balik tirai kamarnya. Deg, jantungnya bereaksi. Ia melihat sebuah mobil yang ia kenali terparkir di depan rumahnya.


"Pak Bos?"


Serena mematung. Segera menutup tirai, memegang dadanya, dan berharap jika Marvin meneleponnya. Namun, harapan Serena pudar karena saat ia intip, Mobil Marvin berlalu.


Ia menatap layar ponselnya, dan dengan bodohnya masih berharap jika Marvin berubah pikiran dan menghubunginya.


"Haruskah aku meneleponnya?" Serena ragu.


...***...


Setelah menjauh dari rumah Serena, Marvin kembali menepikan mobilnya. Lalu meraih ponselnya dan mulai mengetik.


"Apa kamu sudah tidur?"


"Haish." Dihapus.


"Saya mau menjemput kamu."


"Menjemput?"


Karena merasa aneh dengan kalimatnya, dihapus lagi.


"Bisa keluar sebentar?"


"Ya Tuhan! Kenapa saya jadi bodoh 'sih?!" Jadi kesal sendiri.


Ting, akhirnya ada ide.


"Saya mau ke rumah kamu. Ada yang harus saya berikan pada Rio dan Via. Sebentar lagi sampai." Pesan terkirim.


_____


Ya ampun Pak Bos! Tadi Serena sudah sempat melihat mobil Pak Bos, lho!


Respon Serena bagaimana ya?

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2