ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
KEMBALI BERMUSLIHAT


__ADS_3

"Apa Pak Bos tidak memercayaiku?"


"Saya percaya. Hanya tidak ingin mempersulit kamu. Tetap di sini. Ini sudah malam. Lihat, hampir jam satu malam. Remaja seusia kamu harus banyak istirahat," ocehnya sambil becermin guna mengecek penampilannya.


"Apa?!"


Serena mendelik. Bisa-bisanya Marvin mengatakan 'harus banyak istirahat.' Padahal, jelas sekali jika tadi Marvin 'lah yang mengganggu istirahatnya.


"Saya pergi dulu." Marvin mengusap kepala Serena sejenak sebelum berlalu.


"Pak Bos, aku ikut." Serena mengejar.


"Tetap di sini. Atau kamu akan saya buat pergi ke rumah sakit dan dioperasi lagi," ancamnya. Itu menyimpulkan jika Marvin benar-benar tidak mengharapkan pertemuan Serena dengan mamanya.


"Apa?! Ya sudah!"


Serena mengalah. Tidak ada gunanya memaksakan diri. Lagi pula, ucapan Marvin ada benarnya. Pertemuannya dengan mama Syakilla berpotensi membuatnya sedih dan terluka.


"Hati-hati," ucap Serena.


Ia bahkan melambaikan tangan saat Marvin menoleh dan menutup pintu. Marvin terdiam sejenak lalu berkata, "Hei, saya hanya pergi sebentar. Lagi pula, saya masih berada di unit ini. Tidak perlu dadah-dadah," protesnya.


Kemudian Serena membalas protesan Marvin dengan melemparkan ciuman dari jarah jauh.


"Oh ya ampun Serena."


Marvin segera menutup pintu. Serena mengulum senyum. Ternyata, membuat Marvin sedikit salah tingkah itu, cukup membuatnya merasa bahagia.


...***...


"Mau minum apa, Nyonya?" tanya Manda.


"Air putih saja," jawabnya. Mata mama Syakilla mengitari. Sedang memerhatikan apartemen putranya yang memang jarang ia kunjungi.


Di belakang Manda, tampak ada tiga pelayan dan Hugo yang terlihat cemas.


"Baik." Lalu Manda memberi isyarat pada salah satu pelayan agar mengambil air.


"Mama." Putra semata wayang tiba jua.


Hugo segera memberi isyarat pada Manda dan pelayan agar segera pergi dari ruangan ini. Merekapun berlalu.


Padahal dalam hatinya, mereka sangat ingin mengetahui situasi yang akan terjadi dari pertemuan Pak Bos dan mamanya. Apa lagi Manda. Ia ingin segera melaporkan hasil penemuannya pada Nona Clara dan mendapatkan bonus. Ia tetap berdiri.


"Kamu juga pergi," bisik Hugo.


Hugo sebenarnya telah mencurigai jika Manda adalah biang kerok dari kejadian ini. Manda melengos tanpa kata-kata. Ia berharap jika Clara akan menepati janjinya. Yaitu, melindunginya dengan cara tidak mengatakan pada siapapun jika ia telah mengkhianati Pak Bos.


"Mama." Marvin mendekat dan meraih tangan mama Syakilla.


Mama Syakilla menatap putra semata wayangnya seraya menghela napas. Jujur, putranya itu lebih tampan dan bersih. Tidak disangka, mama Syakilla tiba-tiba tertunduk dan menangis. Marvin terkejut.


"Mama kenapa?"


Ia pura-pura tidak tahu. Padahal, Marvin yakin jika sikap mamanya itu pasti berhubungan dengan keberadaan Serena.

__ADS_1


"Kamu adalah anak satu-satunya harapan Mama dan Papa. Tapi sikap kamu telah mengecewakan Mama. Padahal, Mama dan Papa sudah membekali kamu dengan agama dan etika. Walaupun Mama dan Papa bukan orang yang taat beribadah, tapi kami masih bisa memilah dan memilih salah dan benar," tegasnya seraya menatap tajam pada Marvin.


"Apa yang Mama tahu? Tolong ceritakan pada Marvin dan tolong jangan menyimpulkan masalah tersebut dari satu sisi saja. Mama juga harus mendengar permasalahannya dari sisi Marvin."


"Ibu mana yang sudi anaknya jadi maniak?!" teriak mama Syakilla. Ingin rasanya menampar putranya. Namun ia pantang ringan-tangan pada putra-putrinya. Hanya bisa mengepalkan tangan dengan tubuh gemetar.


"Maksud Mama apa? Cepat jelaskan!"


"Kamu jangan pura-pura tidak tahu, Vin! Setelah puas dan bosan menikmati tubuh Clara, dengan berani dan sombongnya kamu meninggalkan Clara! Lalu memilih kumpul kebo dengan gadis muda yang jelas-jelas dia adalah putri dari musuh kita!" teriak mama Syakilla dengan teriakan yang lebih keras dari sebelumnya.


"Apa?!"


Marvin terkejut. 'Kok bisa mamanya bicara demikian? Atas dasar apa? Itu berarti, Clara telah memfitnahnya.


"Mama! Demi Tuhan! Saya tidak pernah kumpul kebo dengan siapapun! Apa Clara mengarang cerita?!"


"Marvin! Kamu sudah berani membentak Mama?!"


"Maaf Ma. Tapi apa yang Mama dugakan itu sama sekali tidak benar. Saya memutuskan pisah dengan Clara karena saya dan dia sudah berbeda prinsip. Clara terlalu posesif dan selalu mencurigai saya."


"Jangan membohongi Mama, Marvin! Lalu ini apa?!"


Mama Syakilla mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah vidio pada Marvin. Marvin memerhatikan vidio tersebut dan sangat terkejut.


Vidio ini memperlihatkan adegan yang diduga sengaja diambil oleh Clara menggunakan kamera depan. Terlihat Clara yang hanya menggunakan pakaian dalam sedang memeluknya. Pada saat itu, Marvin terlihat tengah tidur dan tidak memakai baju. Namun tubuh bagian bawah milik Marvin terhalang oleh selimut.


"Tunggu."


Marvin mengernyitkan alisnya. Ia berusaha mengingat kapan dan di mana vidio tersebut direkam.


Itu yang dikatakan Clara pada vidio tersebut sambil meletakkan sebuah alat pengaman di bibirnya. Lalu Clara menunjukkan tanda cinta yang terdapat di lehernya sambil tersenyum.


"Kamu mau mengelak?" tuduh mama Syakilla sembari merebut ponselnya dari tangan Marvin yang hingga saat ini masih berusaha mengingat-ingat.


"Mama, saya ingat. Itu vidio saat saya dan Clara liburan di luar negeri. Kondisi Marvin saat itu baru selesai berenang dan meminum obat tidur. Saya tidak menyangka Clara akan menggunakan vidio itu untuk memengaruhi Mama dan memfitnah Marvin!"


"Lalu alat pengaman itu untuk apa?!"


"Mama, di luar negeri alat tersebut sangat mudah didapatkan. Clara yang memberinya sendiri. Dia memang sering mengajak Marvin melakukan itu, tapi selalu Marvin tolak karena prinsip Marvin hanya boleh melakukan hubungan badan dengan istri sah," tegasnya seraya mengatur napas. Marvin tentu saja jadi kesal dan emosi pada Clara.


"Baik, Mama akan mempertimbangkan pembelaan kamu! Tapi bagaimana dengan gadis itu?! Kamu harus dengar ini!" Lalu mama Syakilla memutar sebuah rekaman suara.


"Apa?! Jadi kamu sudah tidur dengan dia?!" Suara Clara.


"Sudah, apa Anda mau aku jelaskan kronologis dan sensasinya? Rasanya sangat luar biasa. Semoga bisa mengurangi rasa penasaran Anda."


Itu suara Serena. Berarti, Clara sengaja merekam sebagian percakapannya dengan Serena saat mereka berada di kamar Marvin. Marvin termangu.


"Rasanya sangat luar biasa." Ucapan Serena pada bagian itu sedikit membuatnya ingin tertawa.


"Kenapa kamu diam?! Apa itu berarti kalau kamu mengakuinya?! Kamu bahkan menyimpan gadis itu di dalam kamar kamu! Mama sampai berpikir kalau anak Mama sudah tidak waras!"


Lantas mama Syakilla mengusap airmatanya yang tidak henti mengalir lantaran ulah putra kesayangannya teramat sangat memalukan dan melukai perasaannya sebagai seorang ibu yang telah melahirkannya dengan susah-payah dan bertaruh nyawa.


"Mama." Marvin bersimpuh, kemudian merangkul pangkuan mama Syakilla.

__ADS_1


"Demi Tuhan, Marvin tidak pernah tidur dengan Clara. Ya, tanda merah di leher Clara memang ulah Marvin. Tapi sungguh hanya sampai di lehernya Ma. Lalu untuk gadis itu ...."


Marvin menjeda kalimatnya dan menengadahkan wajah menatap mama Syakilla. Ia ingin menunjukkan jika dirinya sedang tidak berbohong. Untuk sementara waktu, mama Syakilla terdiam. Pikirnya, tidak ada salahnya jika ia memberi kesempatan pada Marvin untuk menjelaskan detailnya.


"Ehm ..., nama gadis itu Serena. Ya, dia adalah putri sulungnya Wandira. Marvin memang sudah menidurinya Ma, ta ---."


"Apa katamu?! Jadi kamu benar-benar kumpul kebo?!" selanya sambil mendorong bahu Marvin dari pangkuannya.


"Mama, Marvin belum selesai bicara. Marvin melakukan itu karena Marvin mengikuti kehendak Papa."


Ya ampun Marvin, pria itu seolah tengah mengadu-domba kedua orangtuanya.


"Ma-maksud kamu?!"


"Papa menyuruh Marvin menikahinya, menidurinya, dan mencampakkannya. Jadi, Papa sengaja menggunakan Marvin untuk balas dendam," jelasnya. Kembali melakukan tipu-muslihat seperti halnya yang ia lakukan pada Bos Besar.


"A-apa?! Jadi kamu dan gadis itu sudah menikah?!"


"Sudah Ma, Mama tenang saja, saya dan dia hanya menikah di bawah tangan." Marvin berharap jika penjelasannya ini dapat meredam emosi mamanya.


"Apa kamu yakin setelah menidurinya akan mencampakkannya?! Kalau dia hamil dan meminta pertanggungjawaban kamu, bagaimana?! Karena sampai kapanpun Mama tidak mau memiliki hubungan dengan garis keturunan dari Wandira si raja judi!"


Tidak yakin, jawab Marvin dalam hati.


"Okelah kamu tidak jadi menikah dengan Clara, tapi Mama bisa mencarikan kamu gadis yang layak, sepadan dengan keluarga kita, dan berasal dari keluarga yang rekam jejaknya baik-baik!" tegasnya.


"Mama sudah tahu 'kan seberapa besar hutangnya Wandira pada Royal Bank?"


"Ya, Mama tahu."


"Gadis itu adalah satu-satunya barang hidup dan begerak yang dijaminkan oleh Wandira. Jadi, sudah sepatutnya Mama juga menyamakan persepsi dengan Papa. Mama harus mendukung Marvin agar bisa membalas dendam. Gadis itu harus selalu berada di sisi Marvin agar bisa dijadikan sebagai tameng mana kala Wandira dan antek-anteknya kembali memiliki kekuatan untuk menyerang kita," jelasnya panjang lebar.


Mama Syakilla menghela napas. Jadi timbul rasa penasaran pada gadis tersebut.


"Kamu rela mengorbankan keperjakaan kamu demi sebuah dendam?" tanyanya. Mama Syakilla merasa heran dengan keputusan putranya.


"Ya."


"Hmm, ini seperti kisah novel. Apa kamu yakin tidak akan jatuh cinta pada gadis itu? Setahu Mama, selera kamu sangat tinggi. Apa gadis itu sangat cantik?" telisiknya.


"Cantik itu relatif, Ma."


"Mama ingin bertemu dengan gadis itu. Cepat bawa dia ke hadapan Mama."


"Baik."


Marvin bersemangat dan berharap jika tipu muslihatnya kali ini akan membuahkan hasil dan sesuai harapan.


_______


Bagaimana respon mama Syakilla pada Serena?


...~Next~...


_______

__ADS_1


Mohon maaf kurang panjang. nyai mengintainya terburu-buru. Mohon maklum, dan terima kasih karena masih sudi berkunjung ke rumah nyai.


__ADS_2