ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
PELABUHAN CINTA


__ADS_3

...~Saat Ini~...


"Payah! Tidak berguna!"


Betapa terkejutnya pak Jacob setelah mendengar kabar hilangnya Marvin. Ia segera datang ke rumah sakit dan memarahi pengawalnya. Di kamar perawatan, mereka dihajar satu persatu hingga tersungkur di lantai. Salah satunya ada yang terkapar dan mengeluarkan darah dari hidungnya.


Tak satupun dari mereka berani berkata-kata. Hanya pasrah dan membiarkan pak Jacob alias Bos Besar meluapkan amarahnya. Sementara Clara, wanita itu membekap bibirnya di pojok kamar dan gemetaran. Ia sedang berusaha menahan tangis dan ketakutannya. Dengan mata kepala sendiri, Clara melihat dengan jelas betapa garang dan sadisnya pak Jacob memperlakukan para pengawalnya.


"Cari dia sampai ketemu! Jangan berani muncul di hadapan saya kalau kalian belum menemukannya!" teriak pak Jacob dengan raut wajah merah padam dan napas yang berkejaran karena terlampaui emosi.


"Pa-Papa, a-aku yang salah." Clara memberanikan diri bicara sambil bersimpuh.


"Saya tidak mengajak kamu bicara!" sentak pak Jacob dan hal itu benar-benar membuat Clara tersentak kaget.


"P-Pa ..., a-aku minta ma---."


"Diam! Atau kamu pulang saja!" sela pak Jacob tanpa melihat pada Clara sedikitpun.


Clara kembali membekap bibirnya dan menangis tersedu. Lagi, ia menyesali kecerobohannya.


"Saya tidak suka mendengar wanita menangis!" tegas pak Jacob sambil berlalu dan membanting pintu meninggalkan Clara dan anak buahnya yang sedang terkapar.


"Huuuaaa." Clara menangis kencang setelah pak Jacob pergi.


"Jangan menangis Nona, kecuali tangisan Anda bisa membuat Pak Bos kembali," kata salah satu pengawal yang kondisinya tidak terlalu parah.


"Huuu, kenapa kalian tidak menyalahkan aku?" tanya Clara.


"Kami pantang menyalahkan siapapun jika faktanya kami juga lalai. Kami salah karena terlalu percaya pada Nona Clara dan meminum jus pemberian Anda. Harusnya, kami hanya makan dan minum dari makanan yang disediakan Bos Besar," sesalnya.


"Ma-maaf, jusnya memang sudah aku campuri dengan obat tidur. Ini semua gara-gara si Serena! Marvin jadi gila gara-gara bocah itu!" oceh Clara.


"Tidak perlu minta maaf Nona, kecuali dengan maaf Anda Pak Bos bisa ditemukan. Anda juga jangan menyalahkan siapa tadi namanya? Serena?"


"Ya. Serena! Anak pak Wandira si raja judi!" jelas Clara.


"Daripada Nona menangis, lebih baik gunakan otoritas Anda untuk membantu kami menemukan Pak Bos."


"Issh, susah ya bicara sama kalian 'tuh!" Clara akhirnya sadar diri kalau para pengawal itu tidak bisa diajak bicara.


...***...


"Hoek-hoek."

__ADS_1


Marvin muntah-muntah. Ia baru saja keluar dari plastik sampah setelah Rian menemukannya.


"Gila kamu Ian! Kenapa lama sekali?! Saya hampir pingsan berada di kantung sampah! Untung saja ada lubang udaranya! Kalau tidak, saya sudah mati!" rutuk Marvin pada Rian yang saat ini sedang membuka infusnya.


"Sudahlah Pak Bos, yang penting 'kan Pak Bos sudah berhasil kabur. Aku tadi menjelaskan pada para pemulung kalau Anda adalah artis pendatang baru yang sedang syuting film pendek untuk keperluan casting. Pak Bos tidak lihat kalau aku susah payah bawa-bawa kamera sebesar ini ke TPS? Berat tahu. Mana bau sampah pula," sahut Rian.


"Ya sudah! Ayo kita pergi! Mobilmu di mana?" Marvin beranjak dan berjalan meninggalkan area TPS."


"Mobilnya ada di area hijau yang di ujung jalan sana. Yuk kita ke sana Pak Bos."


...***...


~Sesampainya di tempat yang dimaksud~


"Apa?! Kenapa mobil kamu jadi jelek begini?!" Marvin melongo setelah melihat mobil milik Rian. Padahal mobil tersebut tampak bagus, bersih, dan baru.


"Ya ampun Pak Bos, hanya Pak Bos saja yang menilai mobil ini jelek. Ini mobil sejuta konsumen Pak Bos. Cepat masuk!" Rian membuka pintu mobil dan mendorong Marvin ke dalamnya.


"Kemana mobil bagus kamu?"


Marvin masih membahas masalah mobil. Sepertinya, ia baru pertama menaikinya. Sebab mata dan tangannya langsung sibuk melihat-lihat dan memegang-megang interior mobil tersebut.


"Kami sekarang harus berhemat. Maaf ya Pak Bos, sejak aset Anda disita Bos Besar, Anda 'kan belum menggaji kami. Jadi, aku dan Boy menjual mobil pemberian Pak Bos. Di basecamp, kami juga tidak sering foya-foya lagi, sekarang kami masak nasi, membuat dada telur, dan membeli mie instan. Minumnya juga galon isi ulang," jelas Rian.


"Apa?! Ya Tuhan!" Marvin mengerjapkan mata karena tidak percaya.


"Apa?! Kenapa?! 'Kok bisa kalian jadi susah seperti itu?! Memangnya kalian tidak punya tabungan apa?!" Tangannya masih sibuk mengecek interior mobil.


"Uang tabungan kami hampir habis untuk membeli privat villa yang Anda mau Pak Bos," jawab Rian pelan. Ia khawatir ucapannya menyinggung Marvin. Mendengar penjelasan tersebut, Marvin menghelas napas dan mengusap bahu Rian.


"Maaf, semua ini gara-gara saya. Setelah semuanya selesai dan aset saya kembali, saya akan mengembalikan dan memberi bonus. Tolong bersabar ya."


"Baik Pak Bos. Anda sangat baik dan royal. Di saat Anda sedang dalam masalah seperti ini, kami tidak akan meninggalkan Anda. Anda pernah mengatakan kalau kita adalah teman, dan teman sejati adalah teman yang selalu ada di saat suka maupun duka."


"Ya, kalian adalah tema saya. Terima kasih Rian. Kamu bisa puitis juga ternyata ya," puji Marvin sambil tersenyum. Melihat Marvin tersenyum, Rianpun tersenyum.


"Serena, i'm coming," gumam Marvin.


Ia menjadikan telapak tangannya sebagai bantalan sambil memerhatikan pemandangan alam yang dilintasi. Wajah tampak bahagia karena merasa telah berhasil melewati dua misi. Yaitu, misi bebas dari kurungan, dan misi membawa Serena ke tempat rahasia.


"Perjalanannya masih jauh Pak Bos, Anda tidur saja. Kalau sudah sampai, akan aku bangunkan."


...***...

__ADS_1


...~Pulau Kecil~...


Jemari lentiknya sedang memainkan pasir putih yang menghampar. Di dekatnya tampak sebuah wadah berisi kerang-kerang kecil dengan berbagai warna dan bentuk. Ia menggunakan dres bermotif bunga yang tampak longgar. Rambutnya dibiarkan tergerai. Ia tidak beralas kaki, dan pasir putih mengotori kaki indahnya.


Tidak jauh dari tempatnya berada, ada bangunan unik bertingkat. Bangunan itu adalah sebuah villa. Villa tersebut sangat privat karena berada di pulai terpencil. Ada beberapa bangunan yang sama dengan jarak yang berjauhan antara bangunan satu dengan yang lainnya.


Siapakah pemilik jemari lentik yang sedang bermain pasir itu?


Tepat sekali. Dia adalah Serena.


Ini adalah hari ke lima ia berada di tempat ini. Awalnya, Serena merasa kesepian, namun hari ini, ia mulai terbiasa. Yang ia tahu, ini adalah tempat teraman yang disediakan Marvin untuknya.


Serena sama sekali tidak tahu jika hari ini ... pria yang dirindukannya itu akan tiba. Serena bahkan tidak menyadari jika pia itu telah berada di dekatnya. Ya, Marvin sudah tiba dan saat ini sedang berdiri sekitar lima meter dari Serena.


Marvin menatap Serena dengan tatapan mendalam. Ia menggigit bibirnya karena suasana hatinya tiba-tiba sendu. Mata pria itu berkaca-kaca. Melihat sosok Serena yang masih belia, ia jadi merasa bersalah karena telah menyita dan menghamilinya. Namun ia tidak merasa bersalah dengan perasaan cintanya.


"Se-Serena," panggilnya pelan seraya mendekat.


Tangan Serena yang sedang bermain pasir berhenti sejenak. Ia mendengar panggilan tersebut namun segera menggelengkan kepalanya dan kembali memainkan pasir. Serena berpikir jika apa yang didengarnya adalah ilusi yang diakibatkan dari kerinduannya pada Marvin.


"Putri Eren."


Anehnya, suara ilusi tersebut terasa semakin dekat dan nyata. Iapun menoleh ke asal suara karena merasa penasaran. Lalu ....


Serena terpaku dan mematung. Bibirnya terasa kaku, dan lidahnya seolah kelu. Posisi tubuhnya yang awalnya jongkok, kini menjadi bersimpuh.


"Serena ...."


Serena bahkan belum bisa berkata-kata saat Marvin bersimpuh dan merangkul tubuhya.


"Serena," Marvin mendekapnya erat.


Tersadar jika ini bukanlah mimpi. Serena mulai terisak. Tangannya perlahan membalas dekapan Marvin, dan tangisnya mulai terdengar jelas.


"Saya akan memperjuangkan cinta kita. Kalau saja boleh, rasanya saya ingin mati dan pergi bersama kamu. Jika saya tidak ada di dunia ini, mama dan papa pasti akan menyesal dan tidak bisa menyakiti saya lagi," lirih Marvin.


Ucapan Marvin membuat tangis Serena semakin keras. Faktanya, Serena juga terluka dan sempat ingin mengakhiri hidupnya. Namun ia sadar jika kematian bukanlah akhir dari segalanya.


Serena kemudian menangkup pipi Marvin dan memadangi wajahnya. Dari tangan Marvin yang dipenuhi luka, dan tubuh Marvin yang agak kurus, ia menyimpulkan jika Marvin telah melewati masa-masa sulit.


"Pak Bos," bibirnya gemetar saat menyebut nama tersebut. Nama yang dulu terasa aneh di telinganya.


"Ya Serena saya di sini. Saya tidak akan pergi meninggalkan kamu lagi. Saya akan di sisi kamu ... selamanya." Sambil membalas tatapan dan menyeka lembut air mata yang membasahi pipi Serena.

__ADS_1


Lalu Marvin menarik tangan Serena untuk berdiri dan merekapun kembali berpelukan disaksikan oleh deburan ombak dan semilir angin darat yang menerpa pasir. Di ufuk barat, cakrawala mulai menjingga. Sesaat lagi, sang mentari akan berlabuh dan alam akan menyambut sang malam.


...~Next~...


__ADS_2