ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
BUDAK


__ADS_3

"Huuu, jika boleh memilih, aku juga tidak mau jadi anaknya bandar judi." Serena masih memeluk lututnya dan terisak-isak.


"Mama, kamu baik-baik saja, 'kan? Apa keputusanku menjadi budaknya sudah tepat?" Serena meragu.


"Bodo amat 'lah! Untuk saat ini, aku memang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan si buaya itu!" Sekarang, Marvin memiliki julukan baru, 'buaya.'


Serena mengusap airmatanya. Seperti biasa, ia bersikap sok tegar. Padahal, batinnya rapuh. Lalu seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan memasuki kamarnya.


"Si-siapa ya?" tanya Serena.


"Halo, Nona Serena. Aku Indri, mulai hari ini akan menjadi pelayan Anda," jelasnya.


"Apa Anda disuruh si buaya? Eh, emm maksudku apa Anda orang suruhannya Pak Bos?"


"Ya, Nona." Indri sedikit terkejut saat Serena menyebut kata 'buaya.'


"Apa kamu bisa dipercaya? Kalau tidak tulus dan mau menjadi penjilat, lebih baik jangan menjadi pelayanku," tolak Serena.


Indri mematung sejenak, benar kata Pak Bos, yang akan dilayaninya adalah gadis yang sedikit unik dan aneh. Saran Marvin untuk Indri adalah, "Kamu harus banyak bersabar."


Apa ini alasannya? Pikir Indri. Ia menatap Serena sambil tersenyum. Lalu mendekat untuk menyalaminya. Tidak disangka, walaupun kalimat Serena ketus, gadis itu tetap mencium tangan Indri dan membuat Indri kaget.


"Tidak perlu kaget. Kamu terlihat lebih tua. Wajar kalau aku cium tangan," ketus Serena. Ia belum bersikap baik pada Indri lantaran belum mengetahui kebaikannya.


"Aku tidak kaget."


"Aku harus memanggil apa?" tanya Serena.


"Indri saja."


"Baiklah," sahut Serena. Lalu ia merebahkan diri lagi. Lanjut memikirkan si buaya yang membawa pistol.


"Oiya Nona, kata Pak Bos, aku juga harus menjaga adik Anda. Apa mereka ada di sini?"


"Adik-adikku sedang tidur di kamar tamu. Yang laki-laki namanya Rio, yang perempuan Via," jelas Serena.


"Boleh aku melihatnya?"


"Silahkan."


Indri berlalu.


"Dia sok-sok-an memberiku seorang pelayan. Hmm, tujuannya apa ya?" Serena menautkan alisnya. Ia khawatir Marvin memiliki sebuah rencana.


...***...


'Bugh.'


Sebuah tendangan kuat kembali mendarat di pelipis pak Wandira. Pria itu tampak mengenaskan. Wajah gagahnya nyaris tidak bisa dikenali lantaran membengkak dan lebam-lebam.


"Cukup! Jangan siksa suamiku lagi!" teriak bu Putri. Mata wanita itu tampak sembab.


"Cepat jawab Wandira! Apa motif kamu memperkenalkan putri kamu pada putranya Bos Besar, hahh?!" Pria tinggi besar yang memakai masker itu kembali beteriak untuk meminta pengakuan pak Wandira.


"Aku sudah katakan kalau aku melakukannya karena tidak memiliki apa-apa lagi!"


"Bohong! Kamu sengaja 'kan memanfaatkan kecantikan putri kamu untuk mendapatkan belas kasih Pak Bos?!" bentaknya.


"Aku tidak memiliki motif lain!" tegas pak Wandira. Saat pria itu mengatakan tidak, maka ia pantang mengatakan ya.


"Kurang ajar!"


'PLAK.'


Kembali ditampar hingga si raja judi tersungkur dan darah segar mengucur dari hidungnya. Ia tidak bisa melawan karena kedua tangannya terikat.


"Cukup! Hentikan!" teriak bu Putri. Wajah wanita itu terlihat semakin memucat dan berkeringat.


"Awhh, to-tolong lepaskan istriku. Ha-hari ini, dia ada jadwal cuci darah," jelas pak Wandira. Ia ternyata masih memedulikan kesehatan istrinya.


"Kamu pikir kami akan peduli! Hahaha." Mereka malah terbahak-bahak.


Gigi pak Wandira gemeretak. Ia memerhatikan satu-persatu wajah para penculiknya. Lalu ia yakin bahwa dirinya pernah melihat mereka di suatu tempat. Tapi, di mana ya?


Yang jelas, dari pertanyaan yang dilontarkan, ia sudah bisa menyimpulkan jika para penculiknya adalah orang-orangnya Bos Jacob.


Tunggu saja pembalasanku, Jacob! Akan kupastikan kamu berperang dengan anak kandungmu sendiri! Batin pak Wandira.


Bibirnya yang terluka menyeringai sinis. Iya yakin bisa menang dari Bos Besar Jacob setelah mendapat laporan dari Nunu jika Nunu dan timnya berhasil memasukkan Marvin ke kamar hotel yang di dalamnya ada Serena.


Aku yakin Bos Marvin tidak mungkin mampu menolak pesona putriku. Pada dasarnya, semua laki-laki sama saja. Kecuali aku. Semuanya seperti kucing! Bila disuguhi ikan yang menggiurkan, pasti akan diterkam juga.


"Tolong lepaskan istriku. Dia harus cuci darah. Jika belum cukup, kalian boleh menyiksaku sesuka hati, tapi tolong bebaskan istriku," pintanya.


"Lancang! Dasar sombong! Sekarang katakan! Siapa bandar judi yang membeking kamu?!" Sambil menjambak rambut pak Wandira.


"Tidak ada."


"Jangan bohong Wandira!"


"Kalaupun aku berbohong, yang menanggung dosanya bukan kamu! Tapi aku!" teriak pak Wandira disisa-sisa tenaganya. Seperti itulah kesombongan seorang Wandira.


"Kurang ajar!"


Tentu saja membuat lawannya kian emosi hingga sebuah tendangan mendarat di perutnya dan membuat pria itu melengking kesakitan dan kembali tersungkur tidak berdaya lagi.


"Pap!" teriak bu Putri.


Ia tahu suaminya tidak baik, namun bu Putri rela mempertahankan biduk rumah tangga yang koyak ini demi anak-anaknya. Lagi pula, jikapun ia pergi membawa anak-anaknya, akan kemana 'kah ia pergi? Bu Putri juga khawatir pada keselematan Serena.


...***...


Sementara itu, Marvin yang sudah mendapatkan titik lokasi pak Wandira dan bu Putri disekap, tengah menuju lokasi tersebut.


Ia bukan ingin menentang papanya. Namun, ia berpikir jika papanya telah ikut campur terlalu jauh. Marvin telah berhasil secara mandiri membangun bisnisnya sendiri, dan kerjasamanya dengan Wandira beberapa waktu yang lalupun adalah keputusannya.


Jadi, jikapun ia melakukan sebuah perjanjian dengan Wandira, maka hal itu adalah haknya. Siapapun tidak boleh melarangnya dan ikut campur, sekalipun pihak itu adalah papanya sendiri.


"Biar saya yang atasi. Kalian boleh meninggalkan lokasi." Itu yang dikatakan Marvin pada Hugo melalui ponselnya.


"Tapi Pak Bos, mereka bersenjata. Jumlahnya juga lebih dari satu. Yang sudah aku lihat ada empat orang." Hugo khawatir.


"Saya juga bawa senjata. Sudah 'lah, kalian pergi saja. Saya tidak ingin melibatkan kalian dengan anak buah papa. Mereka itu nekad. Saya tidak mau anak buah papa membahayakan kalian di masa depan," tegas Marvin. Jika nada bicaranya setegas itu, berarti titahnya tidak boleh dibantah.


"Baik Pak Bos." Hugo pasrah.


...***...


Ternyata, lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Marvin baru tiba di sana saat hari mulai gelap. Marvin tidak ingin basa-basi. Ia menabrakan mobilnya pada pagar rumah yang diduga menjadi tempat penyekapan pak Wandira dan bu Putri.


"Hei!"


Seseorang menggebrak pintu mobilnya sambil menodongkan senjata. Marvin memundurkan mobilnya dan menyerang orang tersebut. Ia seolah hendak menabraknya.

__ADS_1


"Ada penyusup!"


Dia lari kocar-kacil dan memberitahu temannya. Lalu seseorang dari dalam menyadari penyerangan itu dan segera meletupkan senjata tepat pada kaca depan kemudi mobil Marvin.


"DOR!"


"Apa?!" Yang meletupkan senjata terbengong-bengong.


"Hahaha." Di dalam mobil Marvin tertawa.


"Bodoh!" ledeknya. Ia merasa puas karena yang diserangnya tidak tahu kalau mobilnya tahan peluru.


Saat Marvin memundurkan kembali mobilnya, lima orang yang baru saja berdatangan dari dalam rumah tersebut segera mundur. Setelah menyadari kaca mobilnya tidak tembus peluru, mereka yakin jika penyerang tersebut bukan orang sembarangan.


"Dia pasti komplotan judinya si Wandira!" teriak salah satu dari mereka yang juga ikut berlari menyusul temannya.


Mereka ke dalam dan menyandra bu Putri yang kondisinya terlihat lemah. Sementara pak Wandira, pria itu masih tersungkur di lantai.


"Le-lepas," lirih bu Putri. Ia lemah karena terlambat cuci darah.


Padahal, jika seorang pasien tidak melakukan cuci darah, maka dapat muncul gejala seperti sesak napas, gelisah, penurunan kesadaran, hingga kematian. Semoga bu Putri bisa bertahan.


"Diam kamu!"


Wanita kurus berparas cantik itu diseret keluar. Mereka menggunakan bu Putri sebagai tameng untuk menghadang serangan dari mobil misterius. Kaca mobil yang gelap dari luar, membuat mereka tidak mengenali penyerangnya.


"Cepat keluar dari mobil kamu, pecundang! Kalau tidak, wanita ini akan mati!"


Yang menyeret bu Putri menodongkan moncong pistol tepat pada pelipis bu Putri. Bu Putri hanya bisa berdoa, memejamkan mata dan menangis. Tangannya gemetaran. Ia belum siap mati. Di pikirannya sedang membayangkan wajah tampan dan cantik anak-anaknya yang sangat ia cintai.


Eren, Rio, Via ....


Jika boleh meminta, ia tidak ingin meninggal dulu sebelum melihat putra-putrinya tumbuh dengan baik.


Marvin yang baru saja melepas sabuk pengaman, terdiam sesaat. Ia bisa melihat dengan jelas kondisi memperihatikan wanita itu. Wanita yang telah melahirkan istri sitaannya.


"Tunggu, kenapa dia selemah itu? Apa mereka tega menyiksa wanita yang lemah?! Papa! Kamu keterlaluan!"


Marvin marah. Ia mengira jika papanya sengaja menyuruh anak buahnya untuk menyiksa bu Putri.


"Kurang ajar!"


Marvin keluar dari mobil dan melepas maskernya. Pria yang mengarahkan senjata pada Marvin seketika itu juga terkejut dan menurunkan senjatanya.


"P-Pak Bos?!"


Mereka ternganga. Jelas, mereka pasti tidak akan berani menyakiti putra kebanggan Bos Besar.


"Kalian menyakitinya?! Bukankah dalam peraturan mafia tidak boleh menyakiti wanita?!" teriak Marvin.


"Kami tidak menyakitinya Pak Bos. Wanita ini sedang sakit," jelas pria yang menyeret bu Putri.


Mendengar seseorang mengatakan 'Pak Bos,' bu Putri terkejut dan segera membuka matanya. Ia sebenarnya pernah melihat Marvin, namun lupa lagi dengan sosoknya. Wanita itu menatap Marvin. Pria yang tega menyita putrinya dan menjadikan putrinya sebagai pemuas.


Ya, bu Putri berpikiran seperti itu. Pikirnya, seorang pria berkuasa tiba-tiba menyita seorang gadis, untuk apa lagi jika bukan untuk memuaskan hasratnya. Terlebih bu Putri sadar benar jika putrinya sangat cantik dan memang sedari kecil Serena selalu menjadi incaran rekanan bisnisnya untuk dijodohkan dengan putra atau kerabat mereka.


"Sakit?! Sakit apa?!"


Marvin menatap bu Putri. Bu Putri memalingkan wajah. Walaupun Marvin berparas tampan, ia tetap saja tidak sanggup bersitatap dengan pria yang telah memanfaatkan tubuh putrinya.


"Dia gagal ginjal, Pak Bos. Kata suaminya, hari ini adalah jadwalnya cuci darah."


Seseorang menjelaskan sambil menunduk. Sementara itu, seorang pria terlihat mengendap-endap keluar dari kerumunan agar tidak diketahui oleh Marvin. Setelah berhasil, ia menelepon seseorang dengan nama kontak 'Bos Besar' untuk melaporkan kedatangan Marvin.


"Bos Besar, Putra Anda di sini," jelasnya dengan suara pelan sambil memerhatikan Marvin.


"Tidak perlu memedulikanku," tolak bu Putri.


"Cepat masukan dia ke mobilku!" titah Marvin.


Prioritasnya untuk saat ini adalah menyelamatkan bu Putri.


"Tapi Pak Bos." Mereka saling menatap.


"Cepat! Apa kalian mau mati?!" ancam Marvin sambil mengambil pistolnya.


Lalu pria yang tadi menelepon Bos Besar muncul dan memberi isyarat pada kawanannya untuk mengabulkan kehendak Marvin.


"Cepat!" teriak Marvin.


"Ba-baik, Pak Bos."


Bu Putripun dibopong menuju mobil Marvin. Lalu Marvin mengeluarkan koper dari mobilnya dan melempar koper tersebut ke hadapan anak buah papanya. Kunci koper terbuka dan menaburkan uang.


"Itu uang makan untuk kalian! Tapi tolong sisakan nyawanya si raja judi! Silahkan menyiksa dia! Tapi jangan sampai dia mati!" titah Marvin setelah bu Putri berada di dalam mobilnya.


Lalu ia melajukan mobilnya dan pergi di saat para penculik itu masih menatap uang yang berhamburan. Tapi, melihat uang sebanyak itu, siapa 'sih yang tidak tergiur?


"Kekayaan kita akan bertambah kalau kita mempunyai dua bos. Bos Besar dan Pak Bos," ujar salah satu pria sambil memunguti uang.


"Hei! Bagi rata!" teriak yang lainnya. Jadilah mereka saling berebut.


"Dasar pria-pria bodoh!" Marvin yang melihat mereka dari balik sepion, tersenyum sinis.


Bu Putri diam saja. Ia bingung harus berkata apa. Hanya bisa menatap pundak Marvin dengan tatapan penuh kebencian.


"Kita ke rumah sakit, tidak perlu khawatir," kata Marvin. Ia canggung harus bicara apa dengan bu Putri.


"A-apa Eren baik-baik saja?"


Bu Putri seolah tidak memedulikan kondisinya. Ia lebih memilih menanyakan kondisi Serena daripada menanggapi pertanyaan Marvin.


"Serena baik-baik saja," jawab Marvin.


"Tolong jangan membawaku ke rumah sakit. Aku harus pulang. Anak-anakku yang lain ada di kontrakan. Mereka pasti ketakutan," pinta bu Putri.


"Rio dan Via ada di tempat aman. Saya sudah membawanya."


"Apa?!" Bu Putri menatap tidak percaya.


"Mereka ada bersama Serena," lanjut Marvin. Bu Putri semakin terkejut.


"Tolong jangan ambil anak-anakku lagi. Apa Anda belum merasa cukup dengan menyita Eren?"


Pertanyaan bu Putri membuat Marvin tersenyum kecil.


"Saya hanya berniat menyelamatkan mereka dan mempertemukan mereka dengan Serena. Tenang saja, yang ada di surat pernjanjian jual beli hanya ada nama Alsava Serena," jelas Marvin. Ia tahu jika bu Putri tidak menyukainya.


"Boleh aku bertemu dengan Eren?"


"Tidak." Sudah diduga, jawaban Marvin akan seperti itu.


"Kenapa? Sebentar saja," pintanya lagi.

__ADS_1


"Anda harus cuci darah dulu," tegas Marvin.


"Anda tidak berbohong 'kan kalau Rio dan Via ada bersama Eren?"


"Saya tidak suka berbohong."


"Aku ingin menemui mereka."


"Saya juga tidak suka dibantah."


Marvin melajukan laju kemudi setelah ia memberikan bantal pada bu Putri agar wanita itu bisa bersandar dengan nyaman.


Bu Putri bungkam. Ia tidak berani protes lagi dan membiarkan Marvin membawanya ke rumah sakit yang entahlah rumah sakit apa.


...***...


Tiba di rumah sakit, Marvin turun dari mobil dan bicara dengan dua orang pria. Lalu datang seorang perempuan berseragam dokter. Dokter itu kemudian dipersilahkan Marvin untuk memeriksa bu Putri. Lalu beberapa orang suster tiba membawa brankar. Bu Putri pasrah saat ia dibopong ke atas brankar dan dibawa ke IGD. Setelah berada di IGD, bu Putri tidak lagi melihat Marvin.


...***...


Serena. Gadis itu gelisah, gundah-gulana. Berulang kali melihat jam dinding rumah sakit dan menghela napasnya.


"Cepat istirahat, Nona. Ini sudah malam," bujuk Indri.


"Kamu temani adikku saja. Aku belum bisa tenang sebelum ada kabar dari Pak Bos," jelas Serena.


"Pak Bos pasti baik-baik saja, 'kok, Nona."


"Bukan dia yang aku khawatirkan!" sentak Serena. Ia kesal karena Indri sok tahu.


"Hehehe. Maaf Nona."


"Sana temani adikku!" usir Serena.


"Kenapa dia tidak mengabari 'sih?! Sebal!" gerutu Serena setelah Indri pergi.


"Aaarrggh!"


Serena ingin segera mengetahui kabar mama dan papanya. Sudah berulang kali ia menghubungi Marvin, namun pria itu selalu mengabaikan panggilannya.


Pada pukul 01.00 waktu setempat, Serena sudah tidak bisa lagi menahan kantuknya. Walaupun hatinya gundah, matanya terpejam jua. Saat Serena terlelap, pukul 02.00, seseorang masuk ke kamar perawatan dan menghampirinya.


Tidak hanya menghampiri Serena, sosok itu juga naik ke tempat tidur milik Serena.


"Selamat malam budakku," gumamnya. Ya, dia Marvin Mahesa Jacob.


Setelah memastikan bu Putri telah mendapat penanganan medis, pria itu lanjut berkencan dengan kekasihnya sampai jam sepuluh malam. Lalu kembali ke tempat penyekapan untuk memastikan jika pak Wandira tidak kehilangan nyawanya. Dari tempat penyekapan, ia pulang ke apartemen untuk mandi dan istirahat.


Kenapa pria itu tidak menginap saja di apartemennya? Entahlah.


"P-Pak Bos?"


Indri terkejut melihat Marvin naik ke tempat tidur pasien dan saat ini tengah memandangi wajah Serena.


"Ssstt," kata Marvin.


Indri membekap bibirnya, ia sudah berjanji tidak akan mencari tahu tentang hubungan Pak Bos dan Nona Serena.


"Aku akan kembali lagi ke kamar anak-anak." Indri berlalu cepat.


"Serena," panggil Marvin. Ia mencubit pelan pipi Serena.


"Auh," gadis itu membuka matanya.


"Kamu?!" Serena terkejut. Matanya membulat.


"Saya mau dipijat, saya lelah. Hari ini saya sangat sibuk," keluh Marvin.


"Apa katamu?! Anda tidak waras ya?! Hei, aku pasien, enak saja Anda menyuruhku memijat! Di jam sepagi ini pula!" Serena geram dengan permintaan Marvin yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


"Jangan membantah, kamu sendiri yang menawarkan diri jadi budak saya." Marvin serius dengan titahnya. Ia membuka bajunya dan menelungkupkan tubuhnya di samping Serena. Serena melongo.


"Ya, aku memang bersedia jadi budak Anda! Ta-tapi ---."


"Cepat," Marvin menarik tangan Serena dan diletakkan ke punggungnya.


"Pak Bos! Aku bukan tukang pijat!"


"Jangan membantah! Mau memijat saya, atau saya yang memijat kamu."


"A-apa?!"


"Cepat!"


"Aku tidak bisa memijat. Begini saja, Anda jelaskan dulu kabar mama dan papaku. Baru aku pijat," tawar Serena.


"Pijat dulu, nanti baru saya jelaskan."


"Jangan memaksaku Pak Bos! Serius, aku tidak bisa memijat!"


"Baik, begini saja." Marvin duduk.


"Cepat buka baju kamu," lanjutnya.


"A-apa?!" Serena memeluk tubuhnya.


"Kamu bilang tidak bisa memijat, 'kan? 'Nah, supaya kamu bisa, saya akan beri contoh dulu dengan cara memijat tubuh kamu."


"Apa?! Anda gila ya?!"


"Iya. Eh, maksudnya ya tidak 'lah! Saya tidak gila Serena!" elak Marvin.


"Ba-baiklah, akan kucoba memijat Anda." Serena akhirnya mengalah.


"Nah, begitu dong." Marvin berbaring.


"Kenapa jadi terlentang. Anda mau dipijat di punggung, 'kan?"


"Kalau saya terlentang, berarti saya mau dipijat di daerah dada, perut dan sekitarnya."


Marvin menarik tangan Serena. Kali ini diletakkan di dadanya yang bidang, dan ditumbuhi bulu-bulu halus. Mata Serena mengerjap.


"Anda pikir aku tidak berani apa?!" Serena mulai memijat alakadarnya, sebisanya. Padahal, benar-benar batinnya gugup. Ia gelisah melihat tubuh Marvin yang berdamage.


Marvin mengambil bantal dan menghalangi wajahnya. Ternyata, pria itu sedang menyembunyikan senyumannya dari Serena.


"Sudah belum? Pegal tahu!" keluh Serena.


"Sampai saya tidur, baru boleh selesai."


"Apa?! Anda keterlaluan!"


"Akkhh! Serena!" teriak Marvin.

__ADS_1


"Maaf, tidak sengaja." Serena menahan tawa. Puas rasanya berhasil mencabut bulu dada milik Marvin.


...~Next~...


__ADS_2