ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
DIKURUNG


__ADS_3

Jantung Serena berdebar, baru kali ini ia bersentuhan dengan pria dengan jarak sedekat ini. Ya, ia memang memiliki kekasih, namun papanya selalu mengawasi. Intinya, Serena pacaran di bawah pengawasan.


Sementara Marvin spontan membelalak karena ia tidak sengaja melihat sesuatu yang tercetak indah di balik baju Serena yang basah kuyup. Serena menyadari tatapan Marvin, dan 'PLAK.' Ia menampar Marvin dengan kekuatan penuh.


"Kamu! Berani sekali kamu menampar saya!" Marvin mengekang tangan Serena yang baru saja menampar pipinya yang berharga.


"Lepas! Auh, sakit tahu! Aku menampar Pak Bos karena Pak Bos melihat ---."


"Saya tidak melihat apapun!" sela Marvin. Ia mengelak tuduhan Serena.


"Bohong! Aku melihat dengan jelas Pak Bos! Mataku belum rabun!" teriak Serena.


Ia bangun dan memeluk tubuhnya. Bermaksud menghalangi sesuatu dari pandangan Marvin. Setelah menyadari air keran milik Marvin bisa diminum, Serena meminum air keran dan mendapatkan kembali kekuatannya. Air keran itu berhasil menyembuhkan rasa laparnya. Walaupun faktanya perutnya masih terasa melilit dan lapar.


"Jangan asal tuduh!" sangkal Marvin. Lalu melemparkan handuk pada Serena.


"Aku tidak asal menuduh! Aku punya bukti!"


"Sudahlah! Jangan bahas lagi! Keringkan tubuhmu dan cepat keluar!" usir Marvin dan iapun mengambil handuk lalu masuk ke bagian kamar mandi yang tertutup kaca.


Marvin telah membuka bajunya yang basah. Ia menggunakan handuk. Terpampanglah sudah tubuhnya yang sempurna. Ia melenggang keluar dari ruangan itu sambil mengeringkan rambutnya. Kakinya mematung kala melihat pemandangan di depannya. Gadis itu benar-benar membuat amarahnya memuncak.


"Serena!"


Serena yang sedang mengeringkan rambutnya terlonjak kaget.


"Ya, Pak Bos."


"Siapa yang membolehkan kamu menggunakan pengering rambut? Siapa juga yang menyuruh kamu menggunakan handuk seperti itu?"


Untuk yang kesekian kalinya, Marvin harus memalingkan wajah. Saat Marvin di ruangan khusus, Serena ternyata membuka bajunya. Saat ini, gadis itu hanya menggunakan handuk pemberian Marvin.


"Maaf Pak Bos, aku membukanya karena kedinginan. Aku tidak memiliki maksud lain. Aku tahu diri dan sadar diri." Serena memunguti baju basahnya.


Marvin terdiam. Mana boleh gadis itu keluar dari kamarnya dalam keadaan seperti itu.


"Tunggu di sini," katanya.


Ia berlalu meninggalkan Serena. Beberapa saat kemudian Marvin datang lagi dan memberikan tas kecil pada Serena. Tas itu berisi seragam pelayan, perlengkapn mandi, dan sepasang dalaman milik Serena. Entah siapa yang mengambilkan barang-barang tersebut dari kamar Serena.


"Terima kasih," ucap Serena.


"Tidak perlu beterima kasih. Cepat mandi dan pergi."


"Aku boleh mandi di kamar Pak Bos?"


"Tentu saja tidak boleh! Saya hanya tidak mau keadaan kamu yang basah kuyup membuat para pelayan curiga!"


'Brak.'


Marvin pergi sambil menutup pintu dengan kencang hingga Serena tersentak kaget. Saat Serena keluar dari kamar mandi dan ingin meninggalkan kamar, Marvin memanggilnya.


"Duduk dulu sebentar, saya mau bicara."


"Baik Pak Bos." Serena patuh.


"Begini, saya terpaksa menikahi kamu karena tidak cara lain. Awalnya, saya ingin tetap memenjarakan papa kamu. Tapi karena papa kamu pernah sedikit berjasa pada perusahaan saya di masa lalu, sayapun bersedia membantunya. Dia mengatakan jika kamu adalah harta sekaligus aset termahalnya. Saya kira papa kamu akan memberikan aset dalam arti yang sesungguhnya. Tapi ternyata aset yang dimaksudnya adalah kamu." Marvin bicara tanpa menoleh pada Serena.


"Aku mengerti," sahut Serena.


"Apa kamu punya keahlian?"


"Aku bisa berenang, aku bisa memanah, aku bisa berkuda," jawab Serena.


"Maksud saya keahlian yang bisa digunakan saat kamu saya pekerjakan di apartemen ini."


"Oh, aku bisa ---."


Serena menautkan alisnya. Ia bingung mau menjawab apa karena memang tidak memiliki keahlian apapun dalam hal pekerjaan rumah. Ia bahkan tidak bisa mengupas salak dan mengupas buah-buah lain kecuali pisang.


"Apa kamu bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga?


"Emm, tidak bisa Pak Bos, tapi aku bisa naik turun tangga dengan cepat. Karena aku memiliki keahlian dalam hal berlari. Aku pernah juara sprint. Aku sprinter. Hebat bukan?"


Serena membanggakan dirinya sendiri. Marvin menghalangi wajahnya dengan buku setelah mendengar penjelasan Serena. Ternyata, pria itu sedang menahan senyum. Karena ia tiba-tiba merasa jika Serena sedikit lucu.


"Bodoh," kata Marvin saat menarik kembali buku yang menghalangi wajahnya.


"Aku tidak bodoh Pak Bos! Aku selalu masuk masuk lima besar! Enak saja bilang aku bodoh!" Serena sewot. Ia tidak terima dikatai bodoh.

__ADS_1


"Keahlianmu tidak berguna di apartemen ini. Karena sekarang kamu sudah miskin, kamu harusnya mulai belajar mandiri. Kamu harus bisa mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Saya rasa orang tuamu terlalu memanjakan kamu. Emm, orang tua saya kaya-raya, tapi mereka tidak memanjakan saya. Sejak kecil, saya sudah diajari pekerjaan sehari-hari. Kalaupun saya laki-laki saya tetap bisa mencuci piring, mencuci, memasak, dan lain-lain," jelas Marvin.


"Waw. Amazing." Serena sampai bertepuk tangan karena tidak menyangka jika seorang Marvin Mahesa Jacob bisa melakukan banyak hal.


"Saya tidak butuh pujian dari kamu. Berhenti tepuk tangan."


"Aku tidak memuji," elak Serena.


"Pokoknya, kamu harus belajar melakukan pekerjaan sehari-hari. Manda akan membimbing kamu."


"Pak Bos, menurutku, jika memang Anda ingin menjadikanku sebagai aset, maka Anda harus memperlakukanku sebagai aset yang bisa digunakan untuk lebih memajukan perusahaan Anda di masa mendatang."


"Maksud kamu?"


Sebenarnya, Marvin sudah mengerti arah pembicaraan Serena. Tapi, ia ingin mendengarkan argumentasi gadis itu.


"Izinkan aku tetap sekolah di sekolah sebelumnya. Enam bulan lagi aku lulus, Pak Bos. Masa ya aku harus putus sekolah?"


"Kamu bisa mengikuti ujian kesetaraan," sela Marvin.


"Tidak Pak Bos, aku tidak mau ujian kesetaraan. Bayangkan, aku sudah capek-capek sekolah dan papaku mati-matian membiayai sekolahku. Masa ya aku harus berhenti? Padahal 'kan sebentar lagi aku mau lulus. Tolong izinkan aku tetap sekolah." Serena kembali memohon. Ia bahkan beranjak dan bersimpuh di dekat kaki Marvin.


"Cepat duduk lagi." Marvin mengibaskan tangannya.


"Kalau aku lulus sekolah, aku bisa kuliah, setelah lulus kuliah, aku bisa bekerja di perusahaan Pak Bos tanpa digaji."


"Sekolah kamu mahal. Kalau kamu tetap sekolah, hutang papamu jadi bertambah."


"Apa perlu aku memberikan keperawananku pada Pak Bos?" Kalimat itu spontan tercetus. Serena sendiri sampai kaget. Apa lagi Marvin.


"Apa katamu?!"


"Ya, 'kan? Di novel-novel seperti itu. Lagi pula, sekarang jamannya sugar daddy. Pak Bos bisa menjadi sugar daddyku." Karena terlanjur malu. Sekalian saja Serena bicara seperti itu.


"Cukup Serena! Kamu pikir saya laki-laki macam apa, hahh? Saya pria baik-baik! Saya beragama, bermoral, dan berakhlak! Jika saya mau, saya bisa mengambil kesucian kamu kapan saja! Bukankah kamu adalah istri saya?!" sentak Marvin.


"Ma-maaf Pak Bos. A-aku bicara seperti itu karena tidak mau putus sekolah. Huuu, ma-maaf Pak Bos." Sekarang menggunakan akting menangis untuk menarik simpati Marvin.


"Jangan cengeng! Baiklah, akan saya pikirkan lagi. Sekarang, cepat pergi dari kamar saya, dan jangan sampai ketahuan siapapun."


"Huks, ba-baik Pak Bos. Terima kasih. Oiya, siapa yang mengambil baju gantiku? Bukankah orang itu akan curiga? Karena tidak mungkin Pak Bos yang mengambil bajuku." Sambil mengusap air mata palsunya.


"Kamu tidak perlu tahu siapa yang mengambilnya. Tidak penting." Marvin beranjak dan membuka pintu kamarnya.


"Jangan. Cepat keluar selagi saya mematikan koneksi CCTV," usir Marvin. Ia mendorong bahu Serena agar keluar dari kamarnya.


"Dasar pelit!" rutuk Serena. Ia keluar dari kamar Marvin sembari menyikut bahu Marvin.


"Kamu!" Marvin ingin menuding kepala Serena, namun gadis itu sudah terlanjur berlalu dari hadapannya.


Semoga tidak ada yang curiga, harap Marvin. Lalu ia kembali ke kamar mandi untuk mengambil sesuatu.


"Serenaaa!"


Pria itu kembali beteriak. Ya, Marvin histeris karena melihat pakaian Serena bececeran di kamar mandinya. Tapi jika ia memanggil pelayan untuk merapikannya, maka pelayan tersebut akan curiga. Dengan terpaksa, ia merapikan pakaian Serena sambil memalingkan wajah saat meraih pakaian dalam Serena.


"Ya ampun Serena!"


Usut punya usut, yang mengambil baju ganti Serena ternyata bukan pelayan. Jika bukan pelayan, berarti .... Kira-kira, siapa ya?


...***...


"Dari mana saja kamu, hahh?" Manda menjambak rambut Serena yang hendak masuk ke kamarnya.


"Lepas! Berani sekali kamu menjambak rambutku!" Serena menghempas tangan Manda.


"Kurang ajar! Kamu masih tidak sopan sama aku?! Pelayaaan!" Manda meminta bantuan yang lainnya.


"Ya Bu Manda, ada apa? Serena?" Mereka berdatangan dan segera mengelilingi Serena.


"Cepat pegang tangannya! Aku ingin memberinya pelajaran agar dia tidak sombong lagi!" titah Manda.


"Hei! Kalian mau apa?! Pengecut kamu Manda! Beraninya keroyokan!" Serena meronta-ronta. Namun ia kalah jumlah.


'Plak.'


Setelah dipegangi beberapa orang, Manda akhirnya berhasil menampar Serena.


"Ahh!" rintih Serena. Pipinya yang mulus itu sampai memerah.

__ADS_1


"Cepat minta maaf! Panggil aku Bu Manda!"


"Tidak mau! Mana bisa aku hormat sama orang yang kasar!"


"Kurang ajar!".


'Plak.'


Serena kembali ditampar. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya hingga bibirnya pecah dan berdarah. Air mata Serena meleleh, namun ia tidak menyerah. Sikapnya pada Manda tetap garang.


"Cepat minta maaf gadis bodoh! Jangan mentang-mentang merasa cantik kamu jadi sombong!"


"K-kamu yang seharusnya minta maaf. Kamu 'kan yang terlebih dahulu menjambakku?!" Serena merasa jika Mandalah yang pertama kali cari masalah.


"Serena! Cepat seret dia ke kamarnya! Kunci kamarnya dan jangan diberi makan!" teriak Manda.


"Lepas! Hei Manda! Silahkan aku kamu kurung! Tapi tolong beri aku makanan! Aku belum makan seharian!" pinta Serena.


"Terserah kamu! Aku akan memberimu makan setelah kamu memohon dan meminta maaf! Cepat bawa dia!" teriak Manda sambil menunjuk-nunjuk.


"Masuk kamu!" Serena didorong ke kamarnya oleh beberapa orang.


"Hei, jangan dikunci! Aku mau makan! Atau setidaknya tolong beri aku minum!" serunya.


"Hahaha. Rasakan akibat kesombonganmu!"


Mereka puas melihat penderitaan Serena. Serena tersungkur ke lantai. Tangisnya kali ini bukan lagi akting. Ia benar-benar menangis karena sedih.


"Mama ... Papa ... Rio, Via .... Kakak kelaparan," keluhnya.


"Huuu."


Ia mengecek ke kamar mandi dan berharap jika air kerannya bisa diminum. Tapi, keran air yang berada di kamar ini sangat berbeda dengan keran air yang berada di kamar Marvin.


...***...


Malampun menjelang, waktu menunjukkan pukul delapan malam waktu setempat. Ini adalah jam di mana Marvin akan tiba di meja makan untuk meminum susu hangat dan memakan buah-buahan segar.


"Silahkan Pak Bos."


Mereka mempersilahkan. Manda ada di barisan paling depan dan menebar senyumnya. Marvin duduk di kursinya. Lalu matanya menyelidik satu-persatu pelayan yang berbaris.


Dimana dia? Ternyata, ia mencari keberadaan Serena.


"Manda," panggilnya.


"Ya, Pak Bos."


"Kemana pelayan baru itu? Apa yang sudah dia kerjakan? Sudah bisa apa dia?"


Deg, Manda terkejut. Yang lain menunduk bingung. Manda belum mengecek Serena. Gadis itu masih terkurung di kamarnya dan belum di beri makan-minum.


"Manda."


"Y-ya Pak Bos."


"Sejak kapan kamu mulai terlambat menjawab pertanyaan saya?!"


"Ma-maaf Pak Bos. Serena sedang istirahat. Aku menyuruhnya istirahat karena dia terlihat kelelahan." Tidak ada jawaban lain kecuali berbohong.


"Benarkah?" Marvin curiga dengan sikap Manda yang gelagapan.


"Ya Pak Bos."


"Saya mau melihatnya, cepat bangunkan dan suruh dia menghadap saya," titahnya.


"A-apa?!"


Manda kian panik. Tidak biasanya Pak Bos Marvin menyuruh pelayan menemuinya saat ia sedang menikmati hidangan malam.


"Ba-baik Pak Bos. Ratih, cepat bangunkan Serena dan ajak kemari."


"Ba-baik, ta-tapi Bu Manda ---."


"Ratih." Manda mendelik pada Ratih.


Sikap Ratih sangat aneh. Marvin beranjak dan mengatakan, " Apa gadis itu malas-malasan? Di mana kamarnya? Saya harus melihatnya secara langsung."


"A-apa?!" Panik. Para pelayan panik. Begitupun dengan Manda. Tangan mereka spontan gemetaran.

__ADS_1


Sementara Marvin telah melangkah cepat dengan kaki panjangnya menuju kamar Serena. Seperti apakah kondisi Serena saat ini? Apa gadis itu benar-benar sedang istirahat?


...~Next~...


__ADS_2