ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
MENCERCA KAIN


__ADS_3

"Akkhh! Serena!" Marvin beteriak lagi.


"Makanya, sudah dong dipijatnya! Aku pegal tahu! Lagi pula, aku ini pasien, Pak Bos!" sentak Serena. Ia baru saja mencabut kembali bulu dada Marvin karena kesal.


"Mana ada budak melawan tuannya. Ya sudah, sekarang pijat punggung saya." Marvin menelungkupkan punggungnya.


"Baik," jawab Serena.


Namun, gadis itu selalu punya siasat. Saat Marvin berbalik, ia segera menekan bel untuk memanggil suster.


"Kenapa kamu panggil suster?" Marvin jadi sibuk memakai bajunya.


"Auuh ..., sa-sakit Pak Bos, bekas operasinya sakit sekali," Serena meringis. Padahal ia tidak merasakan sakit sedikitpun.


"Oya?!" Marvin cemas. Iapun menekan bel untuk yang kedua kalinya.


Tidak menunggu waktu lama, suster dan dokter tiba di ruangan. Marvin sudah memakai kembali bajunya dan berlagak seperti kakaknya Serena.


"Ada yang bisa kami bantu?"


"Adik saya kesakitan, Dok. Cepat periksa," kata Marvin.


"Baik, akan kami periksa. Tapi karena pusat sakitnya ada di titik inti tubuh, Kakak boleh pergi," usir dokter pada Marvin.


"Pergi katamu?! Saya 'kan ---. Baik, saya pergi."


Pria itu nyaris melakukan kesalahan dan mengatakan jika ia adalah suaminya Serena. Marvin segera berlalu dan beranjak ke ruang tamu. Jarak ruang tamu yang dekat dengan tempat tidur pasien, membuat Marvin bisa mendengar percakapan antara dokter, suster dan Serena.


"Harus ya diperiksanya pakai senter?!" teriak Serena.


"Harus Nona."


Marvin tersenyum mendengar percakapan tersebut.


"Aaa, sebentar, Sus! Aku malu!"


"Tenang saja Nona, kami akan menjaga privasi Anda."


Marvin terus menguping.


"Benar ya Sus, Dok. Kalian harus menjaga privasiku."


"Ya, Nona. Hanya kami dan suami Anda yang boleh melihatnya," goda suster.


"Jangan membahas masalah suami di hadapanku!"


"Emm, maaf ya Nona. Kami hanya berguyon," jelas suster. Sementara dokter, saat ini tengah memeriksa dengan seksama.


"Tidak ada masalah 'kok Nona, semuanya baik-baik saja. Intinya, mahkota Anda kembali virgin. Kasus ini bisa dikatakan sebagai berkah di balik musibah," ujar dokter sambil tersenyum saat melihat pipi Serena merona.


"Syukurlah kalau tidak ada masalah. Kalian boleh pergi."


"Baik Nona. Oiya, besok Anda sudah diperbolehkan pulang," lanjut dokter.


Mendengar kabar itu, Serena bahagia. Pun dengan pria yang duduk di ruang tamu. Marvin tersenyum. Ia turut senang atas kepulihan Serena. Setelah suster dan dokter pergi, Serena mengurung dirinya dengan selimut.


"Saya tidak akan ganggu kamu. Hanya ingin tidur di sini." Marvin merebahkan dirinya di sofa yang jaraknya dekat dengan tempat tidur Serena.


"Bagus," gumam Serena.


"Maksud kamu?" tanya Marvin.


"Pak Bos! Bisa tidak Anda tak menggangguku?! Lihat! Ini sudah jam setengah tiga pagi tahu!" sentak Serena.


"Ya ampun, siapa yang ganggu kamu? Yang teriak-teriak siapa? Kamu, 'kan?"


"Aku juga tidak akan bangun kalau Anda tidak meminta dipijat! Ya, aku memang budak Anda! Tapi tolong lihat situasi dong, Pak Bos! Kalaupun Anda mau dipijat, kenapa tidak meminta dipijat sama Nona Clara saja? Atau datang saja ke panti pijat!" ocehnya.


"Clara? Apa hubungannya dengan Clara?" Marvin malah balik bertanya.


"Dia 'kan kekasih Anda!" ketusnya sambil memunggungi Marvin dan memejamkan mata.


"Oiya, bicara soal Clara, tadi ... kami baru selesai berkencan," terang Marvin.


Mata Serena yang tadinya sudah terpejam, langsung terbuka kembali saat Marvin menjelakan tentang kencannya.


"Mau Anda berkencan dengan siapapun, aku tidak peduli!" tegas Serena.


"Harusnya kamu peduli," sambil menatap punggung Serena.


"Anda sudah memiliki semuanya. Tidak ada yang memedulikan Andapun, hidup Anda akan baik-baik saja," sahut Serena. Matanya kembali dipejamkan.


"Apakah kalau kamu peduli sama saya adalah hal yang salah? Tidak, 'kan?"


"Memang tidak salah. Tapi Anda salah orang. Aku sadar diri Pak Bos. Aku tahu jika hidupku tergantung pada belas-kasih Anda," sahut Serena.


Marvin menghela napas, lalu menatap langit-langit.


"Selamat malam, Serena," katanya. Ia seolah tidak ingin mendengar keluh-kesah Serena.


...***...


Jam berputar, jarum detiknya yang berbunyi tik tik tik mewarnai suasana malam menjelang pagi. Marvin dan Serena saling membelakangi. Ternyata, keduanya sulit tertidur. Entah apa yang mereka pikirkan. Yang jelas, seperti ada dinding pembatas di antara keduanya.


Hingga secara bersamaan dan kebetulan, mereka membalikan badan dan bersitatap. Sejenak, mata keduanya bertemu pandang. Namun mereka tak saling bicara. Anehnya, ada yang mengalir di pelupuk mata Serena. Serena segera mengusapnya.


"Kenapa belum tidur?" Marvin memecah keheningan.


"Anda juga, kenapa belum tidur?"


"Saya 'kan insomnia," jelas Marvin.


"Mau aku bacakan cerita?" tawar Serena.


"Kamu bersedia?"


"Ya," Serena mengangguk.


"Boleh saya tidur di samping kamu?"


"Ya," Serena kembali mengangguk. Lalu ia begeser untuk memberi ruang pada Marvin.


"Jika kamu mau, kamu boleh tidur di lenganku," tawar Marvin. Ia merentangkan tangan kanannya.


"Terima kasih."


Serena merebahkan kepalanya di lengan Marvin. Ya ampun, sikap mereka benar-benar aneh.

__ADS_1


"Mau cerita apa?" Marvin antusias.


"Masih sekitar Putri Eren."


"Hehe, sudah saya duga. Tak masalah, cepat ceritakan."


"Kali ini, akan menceritakan Putri Eren yang tersesat di hutan belantara."


"Lanjut," sela Marvin.


"Di hutan belantara itu, Putri Eren merasa sangat kesulitan. Padahal sebenarnya, ia tersesat di hutan yang subur. Di hadapan Putri Eren ada sumber mata air yang bisa diminun, ia juga diapit oleh pohon mangga yang landai, berbuah matang dan lebat. Tapi ... Putri Eren tidak mau mengambilnya. Padahal ia sangat kelaparan." Serena berhenti sejenak.


"Apa Anda tahu kenapa Putri Eren tidak mau mengambilnya?"


"Mungkin dia putri yang pemalas," jawab Marvin.


"Anda salah. Ia tidak mengambilnya karena Putri Eren sadar jika yang ada di hadapannya itu bukan miliknya. Hoaaam. Aku ngantuk." Selalu seperti itu. Serena yang terlebih dahulu mengantuk.


"Kebiasaan." Marvin mengacak rambut Serena.


Serena sebenarnya belum benar-benar tidur. Ia masih merasakan jika tangan Marvin yang awalnya mengacak-acak rambutnya, berubah menjadi mengelus rambutnya.


Apa maksudnya coba? Dasar buaya. Batin Serena.


Tidak hanya mengelus rambut Serena, Marvinpun membalikan tubuhnya dan menggeser kepala Serena agar lebih dekat ke dadanya.


Dia sedang pura-pura jadi suami sungguhan. Cih, menyebalkan! Adegan saat Marvin mencium bibir Clara, terlintas kembali di kepalanya.


Lalu Serena merasa jika pria itu tidak melakukan apapun. Serena perlahan mengintip. Ya, Marvin sepertinya sudah tidur. Awalnya, Serena hanya ingin memastikan jika Marvin sudah tidur. Namun pada akhirnya, mata gadis itu tidak lepas dari menatap wajah Marvin.


Aku menyukai perangaimu saat sedang tidur. Kamu terlihat seperti orang yang baik dan penyayang.


Ia terus menatap wajah Marvin, dan entah apa motifnya, perlahan, telunjuk tangan Serena menyentuh alis Marvin. Ia seolah tengah menggambar pada alis Marvin. Lalu menyentuh hidung Marvin. Namun, tangannya yang hendak menyentuh bibir Marvin mengambang di udara.


Serena segera menarik tangannya agar menjauh dari wajah Marvin. Di luar dugaan Serena, Marvin tiba-tiba memegang pergelangan tangan Serena dan membuka matanya.


"Saya belum tidur," jelasnya. Tentu saja membuat Serena terperanjat.


"P-Pak Bos?" Serius, Serena gelagapan. Matanya membulat.


"Kenapa? Kamu menyukai wajah saya?"


"A-apa? Biasa saja 'tuh!"


"Terus kenapa kamu pegang-pegang saya?" Marvin mengulum senyum. Tiba-tiba jadi suka saat melihat wajah Serena merona.


"Tidak kenapa-napa dan tidak ada alasan!" teriak Serena. Ia segera menggeser tubuhnya agar menjauh dari Marvin.


"Selamat tidur!" tegasnya sambil membelakangi Marvin.


"Terima kasih," sahut Marvin.


"Terima kasih untuk apa?"


"Rahasia." Marvin kembali memejamkan matanya. Pun dengan Serena. Sepertinya, ia benar-benar tidur.


...***...


Serena. Gadis itu sudah bersiap untuk pulang. Saat ini, ia sedang mengemas barang-barangnya. Namun, ia berkemas seraya menangis. Kenapa demikian? Sebab, saat Serena bangun, ia sudah tidak bisa melihat adiknya lagi. Indripun tidak ada.


Itu pesan dari Marvin. Saat Serena bangun, Marvinpun sudah tidak ada di sampingnya.


"Bisakah aku pulang ke rumahku?"


Serena mengirim pesan balasan.


"Tidak bisa. Kamu harus pulang ke apartemen. Hugo akan menjemput kamu."


"Baik. Tapi aku ingin tahu kabar mama dan papaku." Pesan terkirim.


"Kabar mereka baik-baik saja. Selama kamu mematuhi saya, saya akan menjamin keselamatan mereka."


"Baik."


Pada akhirnya, Serena tetaplah menjadi pihak yang kalah. Lalu gadis itu mengusap airmatanya dan berusaha tersenyum saat ia becermin.


"Semangat Serena!" pekiknya.


"Permisi." Hugo tiba.


"Yuk pergi! Aku sudah tidah betah berada di sini." Sambil memberikan barang-barangnya pada Hugo.


Tidak ada percakapan apapun di antara keduanya. Hugo hanya menyuruh agar Serena hati-hati. Setelahnya, ia tetap bungkam. Baru bicara lagi saat Serena hendak memasuki mobil.


"Hati-hati, Nona."


Ia menghalangi kepala Serena agar tidak terbentur badan mobil.


...***...


"Apa Nona Clara belum kembali ke luar negeri?" tanya Serena setelah mobil yang dikemudikan Hugo melaju di jalan raya.


"Belum Nona."


Mendengar penjelasan Hugo, gadis itu menghela napasnya. Lalu menatap pada jalanan yang tampak sepi. Ia tidak mengatakan sepatah katapun, bahkan sampai mereka tiba di tempat tujuan.


...***...


Tiba di apartemen milik Marvin, Serena tidak menjawab apapun pertanyaan dari para pelayan termasuk pertanyaan dari Manda. Ia tetap berjalan, menunduk, sambil menarik kopernya.


Hingga langkahnya terhenti di hadapan kaki jenjang yang memakai sandal mewah, serta warna kuku kaki yang bercorak pelangi dan bergliter.


"Sudah sembuh?" tanya pemilik kaki tersebut.


"Belum," jawab Serena sembari menghindar.


"Tunggu Serena! Aku belum selesai bicara!" Clara menyusul.


"Ada perlu apa?" Serena menghentikan langkahnya.


"Aku ingin kamu mengelap sandalku," titah Clara. Kejadian itu tentu saja ditonton oleh para pelayan.


Oiya, kenapa pelayan di rumah Marvin sangat banyak? Sebab setiap hari, Marvin menyediakan makanan gratis untuk anak-anak jalanan dan panti sosial. Makanan tersebut dimasak dan didistribusikan sendiri oleh pegawai Marvin.


"Aku tidak ada waktu," ketus Serena sambil melengos.


"Jangan menentangku Serena! Di sini kamu hanya pelayan!" teriak Clara. Ia tak sudi Serena membantahnya.

__ADS_1


"Aku bukan pelayan Anda! Anda salah orang!" Serena tetap melanjutkan langkahnya.


"Serenaaa!" teriak Clara.


Akhirnya, nama Serena kembali menggema dan membuat Manda menggelengkan kepalanya.


"Serenaaa!"


Mandapun beteriak memanggil Serena. Namun gadis itu tetap tidak peduli. Terus melangkah menuju kamarnya. Segera memasuki kamarnya dan mengunci pintu.


...***...


'Brukh.'


Serena menjatuhkan tubuhnya ke kasur dengan posisi tertelungkup. Pundaknya langsung bergerak naik-turun. Seperti biasa, ia hanya tegar saat berhadapan dengan orang-orang yang merundungnya. Di kesendiriannya, Serena bukanlah gadis yang tegar.


Ia menangis hingga spreinya basah. Lalu tiba-tiba teringat kejadian memilukan saat ia dinodai. Jantungnya lantas berdegup secara tiba-tiba. Ia ingat benar jika Marvin menumpahkan seluruhnya. Serena mengusap perutnya. Ia berharap Marvin menyadarinya dan telah melakukan sesuatu untuk membuatnya tidak hamil.


Karena penasaran, Serena memberanikan diri menelepon Marvin. Di dering kedua langsung diterima.


"Ada apa? Sudah di apartemen, 'kan?" Suara Marvin.


"Aku ingin menanyakan sesuatu," Serena to the point.


"Kenapa? Kebetulan, saya lagi senggang"


"Anda sudah menodaiku, Anda sudah menyiram rahimku. Apa Anda ingat?"


"Saya tidak mungkin melupakan kejadian itu, Serena."


"Ehm," Serena ragu harus memulainya dari mana.


"Kenapa?"


"A-apa Anda sudah melakukan sesuatu untuk membuatku tidak hamil?"


"Apa?! Hahaha." Marvin malah terbahak.


"Apa ada yang lucu?! Kenapa Anda tertawa?!"


"Saya jadi membayangkan kamu hamil. Hahaha. Maaf."


"Pak Bos! Aku serius, kalau aku hamil bagaimana?! Apa Anda akan tanggung jawab?!"


"Baiklah, saya juga akan bicara serius. Kamu tidak akan hamil. Saya sudah menyuruh Hugo agar bicara pada dokter untuk memberimu obat peluluh."


"Syukurlah. Kalau boleh tahu, apa alasannya?" tanya Serena."


"Saya tidak bisa menjelaskan detailnya. Intinya, saya tidak ingin memiliki ikatan darah dengan raja judi. Darah daging saya harus bersih dan berasal dari keturunan yang baik-baik."


Tangan Serena gemetar. Alasan Marvin membuat gadis itu mengatupkan bibirnya. Tiba-tiba, ia merasa ada sesuatu yang menoreh lubuk hatinya. Perasaan apa ini? Gadis itu tidak memahaminya.


"Serena? Halo."


"Apa Anda menilai jika aku gadis yang kotor?"


"Maksud kamu?"


"Maaf, aku salah bicara." Serena mengakhiri pangilan.


"Huuu."


Tangis Serena kembali terdengar. Tapi, ia sendiri tidak tahu alasannya menangis untuk apa.


"Apa di dalam aliran darahku sudah dipenuhi dengan uang hasil judi? Apa aku sangat kotor?" gumamnya. Ternyata, perkataan Marvin menorehkan luka di hati Serena.


"Aku membencimu Marvin! Kamu jahat!"


'PRAK!'


Serena melempar ponsel jadul pemberian Marvin hingga berantakan. Tak hanya merusak ponsel, gadis itu juga mengambil gunting dan merusak sprei sambil menangis dan memaki Marvin. Lalu menikam bantal dan guling hingga busa di dalamnya berhamburan. Lanjut menggunting tirai hingga sebagiannya menjadi cerca.


Puas memberantakan kamar, Serena ke kamar mandi dan menumpahkan semua sabun, shampo dan pasta gigi. Kondisi kamar Serena benar-benar berantakan.


"Semua gara-gara Papa!" teriaknya.


Ia melempar cermin yang ada di kamar mandi dengan gayung. Kemudian mengguyur kepalanya dengan air keran yang dikucurkan tanpa melepas bajunya.


"Huks. Apa karena papaku jahat kamu boleh meremehkanku?! Apa kamu merasa sangat suci?! Bukankah papa kamu juga seorang mafia?! Dasar manusia sombong!" teriaknya seraya terisak-isak.


...***...


Marvin. Pria itu sedang kesal.


"Kenapa HP-nya mati?"


Ia sudah berkali-kali menelepon Serena, namun ponsel Serena tidak aktif.


"Hugo! Cepat kamu cek kamar Serena! Tapi jangan mengecek sendirian!" Akhirnya menelepon Hugo.


"Baik, memangnya kenapa, Pak Bos?"


"HP-nya tidak diaktifkan."


"Nona Serena mungkin sedang tidur Pak Bos."


"Tidur? Saya tidak yakin. Cek sekarang ya."


"Baik Pak Bos."


"Hugo."


"Ya Pak Bos."


"Saya berubah pikiran. Kamu cepat bawa Serena ke vila pribadiku, dan rahasiakan ini dari siapapun. Termasuk dari Clara."


"Ke vila?"


"Jangan bertanya apapun. Kamu lakukan saja. Ini urusan pribadi saya dengan Serena."


"Baik Pak Bos."


_______


Untuk apa Marvin membawa Serena ke vila pribadinya?


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2