
"Serena tunggu," Marvin mengejarnya hingga ke dalam kamar.
Serena naik ke tempat tidur dan mengurung tubuhnya dengan selimut hingga tidak terlihat sedikitpun. Marvin naik ke tempat tidur dan memeluknya.
"Kenapa, hmm?" tanya Marvin.
"Tidak apa-apa!" sentaknya.
"Serena." Marvin menarik selimutnya.
"Kenapa menyusulku?" Serena memalingkan wajah.
"Saya tidak tenang dengan sikap kamu. Kita makan lagi yuk!" ajaknya.
"Tidak mau!"
"Serena, setiap orang pasti memiliki masalahnya masing-masing, begitupun dengan saya dan kamu. Tatapi tidak semua orang bisa mengatasi masalahnya dengan baik. 'Nah, itu terjadi pada saya Serena. Saya tidak bisa mengatasi masalah saya." Marvin malah curhat.
"Sumber masalah Anda itu, aku 'kan?" tuduhhya.
"Terlepas dari keberadaan kamu, saya memang memiliki banyak persoalan dengan Papa saya. Sedari dulu, saya memang sering menentangnya."
"Terus kenapa juga Anda harus putus dengan Nona Clara? Masalahnya pasti akan tambah runyam Pak Bos! Harusnya, Anda menyimpanku di suatu tempat dan menikah dengan Nona Clara," ujarnya dalam keadaan membelakangi Marvin.
"Serena. Bisakah kamu memahami perasaan saya sedikit saja?" Marvin memeluknya kian erat.
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena Anda juga tidak bisa memahami perasaanku," tandasnya.
"Serena, maaf jika kamu merasa kalau saya tidak memahami kamu. Jujur, saya merasa kesulitan untuk memahami kamu." Sekarang sengaja menarik bahu Serena agar bisa menghadap ke arahnya.
"Itu hanya alasan Anda saja! Memahami wanita itu tidak sesulit yang Anda bayangkan. Trik untuk memahami wanita adalah mengesampingkan asumsi Anda dan memahaminya sebagai individu terpisah. Entah wanita itu adalah kenalan, anggota keluarga, ataupun pasangan, jika Pak Bos meluangkan waktu untuk berbicara dengannya dan benar-benar mendengarkan isi hatinya, Pak Bos akan segera memiliki gambaran lebih jelas tentang siapa dirinya," jelas Serena.
"Kan ini saya sedang bicara sama kamu. Ya, 'kan? Tapi pembiracaan ini tidak serta-merta membuat saya bisa langsung memahami kamu. Saya hanya memahami bahasa tubuh kamu," kata Marvin sambil mengusap lembut bibir Serena.
"Jangan sentuh! Anda bilang tidak akan ada kontak fisik lagi, 'kan?!" Menepis tangan Marvin.
"Ucapan saya semalam hanya bercanda Serena. Jadi, saya akan tetap menjadi bayi besar kamu." Sambil mengulum senyum.
"Dasar laki-laki! Laki-laki memang egois! Pantas 'lah Nona Clara marah sama Anda!"
Sebenarnya, Serena ingin jawaban tegas dari Marvin. Ia ingin mengetahui alasan pasti dan jelas kenapa Marvin memutuskan Clara. Apakah karena sudah bosan? Atau, ia memilih putus lantaran keberadaan dirinya?
"Sekarang, saya jadi bisa menyimpulkan," sahut Marvin.
"Menyimpulkan? Menyimpulkan apa?"
"Emm, kesimpulan saya, cara memahami wanita adalah dengan tidak berusaha untuk memahaminya. Karena semakin saya berusaha untuk memahaminya, saya akan semakin kebingungan," jelasnya.
"Jadi, karena Anda kebingungan makanya mengakhiri hubungan dengan Nona Clara?"
"Kenapa kamu ingin tahu? Hubungan saya dan Clara sudah berakhir dan tidak untuk dibahas lagi. Alasan saya mengakhirinya karena dia sudah tidak memercayaiku lagi. Lagi pula, saya sudah bosan, saya mau suasana baru dengan wanita yang baru."
"A-apa?! Apa wanita baru itu, aku?! Apa itu artinya aku adalah wanita perusak hubungan Anda dan Nona Clara?!" Serena menggebu-gebu. Ia sampai duduk sambil melipat tangannya.
"Ya, bisa dikatakan begitu. Kamu memang perusak." Sudah tahu Serena marah, tapi Marvin malah merebahkan kepalanya di pangkuan Serena.
"Pak Bos! Awas! Enak saja Anda mengatakan kalau aku perusak! Yang ada, Anda 'lah yang merusakku!" sentak Serena. Ia berusaha memindahkan kepala Marvin dari pangkuannya namun pria itu malah memeluknya.
"Maksud saya, kamu suka merusak pikiran jernihku. Apa kamu tahu? Gara-gara kamu, saya jadi suka memikirkan hal-hal yang tidak baik."
"Maksudnya?"
"Bisa tidak kalau kamu tidak marah-marah dan bertanya lagi? Saya mau tidur di sini. Untuk persiapan menghadapi Papa, saya harus punya banyak energi."
Marvin mulai memejamkan matanya. Sejatinya, ia memang sedang memikirkan cara terbaik untuk memberi alasan pada papanya mengenai kedekatannya dengan Serena. Marvin sebenarnya tidak tidur. Ia hanya sedang merenung sambil merasakan hangatnya pangkuan Serena.
Serena terdiam. Ia akhirnya membiarkan Marvin tidur di pangkuannya. Lalu Serena bersandar pada sandaran tempat tidur agar punggungnya tidak pegal.
Lima belas menitpun berlalu begitu saja, dan posisi Marvin belum berubah. Serena memiringkan kepala untuk melihat wajah Marvin. Mata Marvin masih terpejam, dan Serena berpikir jika pria itu sudah benar-benar tidur.
Perlahan, tangan Serena begerak dan terangkat ke sana. Ke kepala Marvin. Lalu dengan perlahan jua, ia membelai rambut yang kemilau itu dengan lembut dan seolah menyiratkan jika Serena sangat menyayangi pemilik rambut itu.
Lama membelai rambut Marvin, mata Serena tiba-tiba berkaca-kaca. Ia segera mengusap airmatanya yang nyaris menetes itu agar tidak membasahi pipi Marvin. Kemudian kembali membelai dan menelisik rambut Marvin hingga iapun terkantuk-kantuk.
Lalu Serena tidak bisa menahan kantuknya dan kepalanya oleng. Sebelum kepalanya terjatuh, Marvin dengan sigap menahannya. Serena tidak pernah berubah. Selalu menjadi orang pertama yang tertidur. Marvin lantas merebahkannya, menyelimutinya, dan memeluknya.
Jika kita mencintai dua orang dalam waktu yang sama, maka pilihlah orang kedua karena jika kita benar-benar mencintai orang yang pertama, maka kita tidak mungkin jatuh cinta pada orang kedua. Apakah keadaan tersebut yang saat ini sedang dialami oleh Marvin?
...***...
_______
"Apa?! Kepala Dewan Penasihat mau ke sini?!"
Suasana di Royak Bank jadi menegang. Sebab, kedatangan Kepala Dewan Penasihat benar-benar di luar agenda. Seluruh staff di bagian front office tampak berbaris rapi untuk menyambut kedatangan Kepala Dewan Penasihat yang tidak lain adalah Bos Besar alias papa Jacob.
Petugas keamanan segera mengamankan lokasi dan situasi.
Siha. Wanita itu sepertinya menjadi orang satu-satunya yang paling kalang kabut. Bagaimana tidak, saat Kepala Dewan Penasihat akan datang, CEO Royal Bank malah tidak ada di tempat. Marvin bahkan baru mengabari tidak akan masuk kerja beberapa menit yang lalu dan hingga saat ini, surat cuti Marvin belum selesai diproses.
"Ya ampun, bagaimana ini?"
Lutut Siha sampai gemetaran. Ia sedang mondar-mandir di ruang kerja Marvin sambil berusaha menghubungi Marvin. Sayangnya, ponsel Marvin malah tidak aktif.
"Pak Hugo, bagaimana ini?"
Kebetulan Hugo datang dan memberikan berkas yang kemarin sudah ditanda tangan oleh Marvin.
"Aduh Bu Siha, aku tidak tahu. Aku tidak mau ikut campur, tugasku hari ini hanya memeriksa dan mengantarkan berkas," jawabnya sambil berlalu dengan tergesa-gesa.
"Pak Hugo! Setidaknya Anda membantuku menghubungi Pak Bos." Siha menahan Hugo di ambang pintu.
"Bu Siha, sudahlah, Ibu tenang saja. Katakan saja yang sejujurnya kalau Pak Bos sedang cuti. Mudah bukan?"
"Tapi Pak Hugo, surat cutinya juga belum selesai diproses. Apa Pak Bos sibuk kalinya mau mempersiapkan pesta pernikahan? Sebab, beliau baru mengabariku untuk mengurus surat cutinya beberapa menit yang lalu. Harusnya 'kan tidak mendadak seperti ini," sesal Siha sambil mendudukkan diri di kursi dan memijat keningnya.
"Kita lihat saja akan seperti apa jadinya. Pada dasarnya mereka tetaplah ayah dan anak, 'kan?" Hugo berlalu. Siha terduduk lemas. Siha resah dan gelisah. Ia berharap hari ini akan segera berkakhir.
'Kriiing.'
__ADS_1
Telepon pararel berdering. Siha segera berlari untuk mengangkatnya.
"Ya halo, dengan Siha, sekretaris CEO Royal Bank, ada yang bisa dibantu?" sapanya dengan ramah.
"Bu Siha, lima menit lagi Bos Besar akan tiba di ruangan CEO. Mohon dipersiapkan ya. Selamat bekerja Bu Siha, semoga sidaknya lancar." Suara di balik telepon pararel.
"Baik," jawab Siha lantang. Padahal, batinnya benar-benar was-was dan takut. Ia pun berbenah kembali dan merapikan berkas-berkas yang sekiranya akan dicek oleh Kepala Dewan Penasihat.
[Lima Menit Kemudian]
Ia membuka pintu karena ada ketukan dari luar. Benar saja, pak Jacob dan dua asistennya telah berada di luar ruangan.
"Selamat datang, silahkan masuk Bos Besar," Siha membungkukkan badannya dan mempersilahkan dengan sopan dan hormat.
"Saya masuk sendiri saja. Kalian tunggu di luar," ucap pak Jacob pada asistennya.
"Baik Bos Besar," mereka berlalu.
"Silahkan duduk Bos Besar," kata Siha sambil menyajikan air hangat dan satu toples kecil kudapan.
"Terima kasih. Di mana Marvin? Saya ke sini sebenarnya bukan untuk sidak. Saya ke sini untuk bertemu Marvin," ungkapnya.
"Ma-maaf Bos Besar, Pak Bosnya kebetulan hari ini sedang cuti."
"Apa?! Cuti?! Mana surat cutinya? Saya mau lihat."
Oh tidaaak. Siha mulai gugup.
"I-ini formulir cutinya Bos Besar, maaf belum sempat diproses karena saya lupa." Siha akhirnya berbohong.
"Maksud kamu?!" Pak Jacob mulai bernada tinggi.
"Saya yang salah Bos Besar. Saya yang salah. Saya lupa."
"Jujur! Apa kamu membohongi saya?!"
"Tidak Bos Besar. Saya tidak membohongi Anda."
"Anak itu mulai kurang ajar! Beraninya dia tidak masuk kerja sembarangan! Pasti sudah mulai terkontamasi oleh gadis itu!" geramnya sambil menyobek surat pengajuan cuti milik Marvin. Siha tidak mengerti dengan ucapan Bos Besar.
"Kamu juga sudah berani membohongi saya! Kalau anak saya salah, kamu tidak boleh membelanya! Marvin cuti mendadak, 'kan?!" Entah dari mana Bos Besar tahu masalah itu. Siha akhirnya hanya bisa bungkam dan menunduk.
"Kalau kamu membela dia lagi untuk sesuatu yang salah dan menyalahi aturan! Saya pastikan kamu tidak akan bekerja di sini lagi! Ingat! Ini peringatan pertama dan terakhir! Dalam kamus saya, hanya ada satu kali peringatan! Paham?!"
"Ba-baik Bos Besar, saya minta maaf. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Siha terus menunduk dan tidak berani mengangkat kepala lagi. Lalu Bos Besar mengecek beberapa berkas namun tidak memberikan komentar apapun.
"Lanjutkan pekerjanmu! Saya permisi!" katanya setelah mengecek berkas terakhir.
"Baik, terima kasih Bos Besar."
Siha merasa lega karena tekanan batin ini akan segera berakhir, dan ia benar-benar lega saat Bos Besar telah meninggalkan ruangannya. Ia merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kantor sambil tersenyum.
...***...
Sementara pak Jacob, sepulangnya dari kantor Marvin, ia dan dua asistenya langsung meluncur ke vila. Sepanjang perjalanan, ia terus bermuram durja karena merasa dipermainkan oleh anak semata wayangnya. Bayangkan, dari semalam hingga saat ini, Marvin menonaktifkan ponselnya.
"Awas kamu ya! Dasar anak durhaka!" makinya.
...***...
_______
Sementara di vila, petugas yang ditugaskan untuk bersih-bersih vila, baru saja menyelesaikan kekacauan yang diakibatkan oleh Serena. Mereka sedang beristirahat sejenak sambil menikmati kudapan. Baru kali ini mereka mendapati kondisi dapur yang semacam itu.
"Sudah selesai ya? Hahaha. Terima kasih ya," ucap Indri dan ikut bergabung bersama mereka.
"Waduh Bu Indri, kami shock. Siapa 'sih pelakunya? 'Kok bisa-bisanya ya?" Mereka dan Indri ternyata sudah saling mengenal.
"Kami baru bisa menghilangkan bau anyir telur dan licinnya minyak goreng setelah 14 kali mengepel," ujar yang lainnya.
"Hahaha." Mereka akhirnya tertawa bersama.
"Tapi 'kan bayarannya jadi tiga kali lipat. Berkah bukan?" sahut Indri.
"Ya Bu. Kami hanya penasaran dan heran saja sama pelakunya."
"Kalau pelakunya aku, aku pasti sudah dipecat," kata Indri.
"Memangnya siapa pelakunya? Kami penasaran," bisik salah satu dari mereka.
"Kalau kalian melihatnya, kalian juga pasti tidak tega memarahinya. Dia perpaduan antara cantik, lucu dan seksi," oceh Indri dengan suara pelan.
"Wah, Nona Clara 'kah?"
"Ssstt, jangan berisik. Takut ketahuan Pak Bos. Pelakunya bukan Nona Clara."
"Bukan Nona Clara? Siapa?"
"Ssstt, rahasia. Kalian tidak perlu tahu. Ya sudah, pekerjaannya sudah selesai, 'kan? Kalian boleh pergi. Sisa kudapannya silahkan dibawa saja semuanya."
"Baiklah, terima kasih Bu Indri. Sampaikan salam dan terima kasih kami pada Pak Bos." Mereka bersiap undur diri.
"Baik, nanti aku sampaikan." Indri mengantar mereka sampai ke depan gerbang.
...***...
Sedangkan di bagian lain vila, tepatnya di kamar Serena, pasangan yang tengah menjalankan hubungan unik itu tampaknya sedang melakukan aktivitas rahasia di balik selimut. Selimut itu begerak-gerak dan menunjukkan jika di dalamnya sedang terjadi sesuatu.
"Beteriak saja, kamar ini ada peredam suaranya." Itu suara Marvin.
"A-Anda gila! P-Papa Anda mau datang ke sini, 'kan? Ta-tapi kenapa malah main-main seperti ini? A---. Cu-cukup ...." Itu suara Serena.
"Biar rileks," sahut Marvin.
"Cu-cukup Pak Bos. Cu-cukup .... A-aku ---."
Suara serena terdengar gemetar, seperti kelelahan, dan tidak berdaya. Namun Marvin tidak mengindahkan ratapan Serena. Padahal, gadis itu sudah beteriak-teriak tidak jelas.
Apa yang terjadi? Andai selimut itu tidak menghalangi, semuanya pasti terlihat.
Di lantai, terlihat baju Marvin dan pakaian Serena tergeletak sembarangan.
__ADS_1
'Tok tok tok.'
Pintu kamar diketuk dari luar. Lalu interkomnya berbunyi.
"Pak Bos, Bos Besar sudah tiba," lapor Indri.
"Apa?!"
Marvin terkejut. Lalu tangannya keluar dari balik selimut untuk mengambil handuk yang terletak di sisi tempat tidur. Sementara Serena, saat selimut itu terbuka sebagian, gadis itu sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Daun telinganya memerah, dan terdapat tiga tanda merah di leher jenjangnya.
"Harusnya Anda mengajariku memasak. Bukannya malah mengajariku berbuat mesum," oceh Serena dalam keadaan masih menutup wajahnya.
"Ini bukan mesum, saya menyebutnya sebagai rekreasi tipis-tipis," sahut Marvin seraya keluar dari selimut, senyum-senyum, dan telah menggunakan handuk. Sementara tubuh bagian atasnya, masih polos.
...***...
"Di mana dia, Indri?!" sentak pak Jacob yang kesal karena putranya itu tega membiarkannya lama menunggu.
"Sudah aku panggil Bos Besar. Pak Bos sedang siap-siap," jelas Indri.
"Kamu dan dia sama saja! Sama-sama mengkhianatiku," tuduhnya pada Indri. Daripada banyak berkomentar, Indri lebih memilih mengupas buah mangga yang merupakan buah kesukaan Bos Besar.
"Kurang ajar memang kamu, Marvin!" Kembali menggerutu sambil menusuk kuat-kuat potongan buah mangga yang dihidangkan oleh Indri.
Walaupun kesal pada Marvin, namun pak Jacob tidak berani melabrak Marvin ke dalam kamarnya. Ini vila pribadi milik putranya, dan pak Jacob tetap memegang prinsip jadi tamu yang baik sekalipun itu di vila milik putra kandungnya sendiri.
"Selamat datang Papa." Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang jua. Marvin sudah rapi dan wangi. Rambutnya tampak masih basah.
"Lama sekali!" ujar pak Jacob saat Marvin menyalaminya.
"Kita bicara di dalam yuk, Pa," ajak Marvin.
"Baik."
Pak Jacob berdiri dan mengikuti Marvin. Sementara Indri dan dua asisten pak Jacob tetap di ruang tamu.
...***...
"Silahkan duduk, Pa." Marvin mengajak papanya duduk.
"Di mana gadis itu?" tanya pak Jacob sembari menyingsingkan lengan bajunya.
"Ada di kamar," jawab Marvin santai.
"Kok bisa kamu memilih dia daripada Clara?!" Pak Jacob sudah mulai tegas.
"Saya sudah bosan. Mau hal yang baru, mau yang lebih muda dan lebih segar," ungkapnya.
"Apa?! Clara juga masih muda, Vin. Dia baru 24 tahun, sedang kualiah S2, cantik, anak orang kaya-raya dan terhormat! Apa lagi yang kamu cari?! Kalau kamu membatalkan pernikahan dengan Clara, kita akan kehilangan banyak kesempatan dan peluang bisnis!"
"Yang kita bahas pernikahan Pa. Bukan kerja sama bisnis. Saya tidak mau pernikahan saya diprovokasi oleh hal apapun. Pernikahan itu sakral dan suci. Saya tidak mau main-main dengan pernikahan," tegas Marvin.
"Biak! Tapi kenapa harus dengan gadis itu?! Kenapaaa?!" teriak pak Jacob. Ia sampai berdiri demi menegaskan kemarahannya.
"Papa tenang saja. Saya dengan dia tidak serius 'kok. Setelah saya puas, dia akan saya buang."
"Apa?!" Pak Jacob terkejut.
"Ya. Saya akan melaksanakan perintah Papa. Papa bilang saya harus membunuh dia dengan perlahan-lahan, 'kan?"
"Benar, Papa mau anak itu tersiksa dan si Wandira merasakan sakit yang luar biasa sebagaimana dulu Papa merasakan sakit karena kehilangan Miranda dan kalah di Pengadilan!"
"Saya akan mencampakkan dia, Pa. Setelah saya mendapatkannya, saya akan membuangnya."
"Kamu serius?! Tunggu, apa kamu sudah menidurinya?!"
"Belum, Pa. 'Nah, itu dia masalahnya Pa. Saya tidak mungkin meniduri wanita yang bukan hak saya. Bagaimana menurut Papa? Di satu sisi, saya ingin mencampakkan dia, tapi di sisi lain, saya tidak mau melanggar norma agama dan susila. Kalau Marvin melakukannya, bukankah Papa juga akan menanggung akibatnya?" Sambil menautkan alisnya.
Sepertinya, Marvin memang sedang menyusun sebuah rencana untuk memperdaya pak Jacob.
"Maksud kamu?!"
"Kalau Marvin memerkosanya, lalu dia melapor ke polisi, citra baik Papa juga akan tercoreng. Di hadapan Tuhan, Papa juga akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan Marvin."
"Apa katamu?! Enak saja! Jadi kamu yang e-nak-e-nak Papa yang menanggung dosanya begitu?!"
"Ya, kurang lebihnya seperti itu, Pa."
"Hmm." Pa Jacob merenung sejenak.
"Bagaimana kalau Marvin menikahi dia, Pa?"
"Apa katamu?! Papa tidak sudi berbesan dengan musuh! Wandira itu bandar judi! Kamu mau diciduk polisi dan ikut terseret dengan kasus judinya?! Tidak bisa! Sampai matipun Papa tidak rela tujuh turunan anak Papa atau keluarga Papa terikat hubungan pernikahan dengan keluarganya si Wandira raja judi!"
"Terus bagaimana caranya Marvin mencampakkan dia, Pa? Apa lakukan sekarang saja tanpa ikatan pernikahan?"
"Ya jangan 'lah!" sentaknya sambil memukul kuat bahu putranya.
"Papa cepat cari ide."
Saat pak Jacob merenung, Marvin memalingkan wajah sejenak dan seperti sedang menahan tawa.
"Begini, kamu nikah di bawah tangan saja."
Yes! Batin Marvin.
"Apa?!" Marvin pura-pura kaget. Padahal batinnya riang-gembira. Memang itu yang ia inginkan.
"Ya, kamu nikahi dia, ancam dia untuk merahasikan pernikahan ini, dan setelah kamu berhasil merusaknya, kamu ceraikan dan campakkan! Tapi ingat satu hal! Jangan sampai kamu menghamili dia. Kalau dia hamil, Papa yakin kamu akan diperalat oleh si Wandira. Dia itu 'kan licik dan serakah!" tandasnya.
"Baik, Pa."
"Tapi apa kamu yakin tidak akan jatuh cinta pada dia?! Sebab yang Papa dengar, gadis itu cantik dan seksi."
"Emm, yakin Pa. Menurut Marvin, dia biasa saja 'kok, Pa."
"Baik, berarti kita telah sepakat. Sekarang, Papa mau bertemu dengan dia. Cepat bawa dia ke hadapan Papa!"
"Baik, Papa tunggu sebentar ya." Marvin beranjak.
Pak Jacob merenung. Apa keputusannya sudah tepat? Ia tiba-tiba merasa ragu. Apa balas dendam ini harus dengan cara menikahkan putranya dengan putri musuh bebuyutannya?
_______
__ADS_1
Apa Marvin berhasil memperdaya papanya?
...~Next~...