
Marvin dan Serena sudah berada di dalam mobil. Mereka baru saja keluar dari sebuah rumah sakit. Tentu saja untuk mengontrol kondisi Serena. Marvin membawa Serena ke rumah sakit dan mendampingi adiknya. Ya, pada dokter, Marvin mengatakan jika Serena adalah adiknya.
"Suaminya tidak ikut?"
"Tidak, Dok. Mereka sudah bercerai. Adikku sekarang menjanda."
Itu yang dikatakan Marvin pada dokter. Hal itu membuat mata Serena mendelik dan kesal pada Marvin. Kekesalan gadis itu bahkan belum sembuh hingga saat ini. Terbukti, bibir merah alaminya masih mengerucut dan terus memalingkan wajah.
Sedangkan Marvin, malah senyum-senyum. Pria itu sedang mengingat kembali penjelasan dokter sesaat setelah dokter tersebut memeriksa Serena.
"Kondisi Adik Anda sudah pulih dan baik-baik saja. Intinya, adik Anda bisa dikatakan telah kembali menjadi seorang gadis." Dokter tersebut menjelaskan sambil mengulum senyum.
"Mau mampir dulu ke kafe?" tawar Marvin sambil melirik pada Serena.
"Tidak mau! Tidak lapar!"
"Masih marah?"
"Iya! Aku tidak suka Anda menyebutku sebagai janda!"
"Ya ampun, saya hanya bercanda. Jangan marah lagi. Oke?"
Lalu Marvin menepikan mobilnya di sebuah kafe yang terlihat sepi dari pengunjung. Pikirnya, jika kondisinya sepi, ia berharap tidak akan ada pengunjung yang mengenalinya.
"Aku tidak lapar."
Gadis itu masih marah. Sebenarnya, Serena tidak marah karena dikatai sebagai janda. Namun, ia kecewa karena Marvin menolak permintaannya untuk bertemu dengan mama dan adik-adiknya.
"Demi keselamatan kamu dan keluarga kamu, lebih baik jangan menemui mereka," jelas Marvin pada saat itu.
"Turun!"
Marvin jadi tidak sabaran. Ia membuka pintu mobil dan menarik tangan Serena. Ia tahu jika Serena belum sarapan banyak. Marvin khawatir Serena sakit perut.
"Pak Bos! Lepas!"
"Serena! Saya tidak suka dibantah!" Menarik Serena ke dalam kafe.
...***...
Setelah berada di kafe, Serena akhirnya mengalah. Ia tidak mungkin marah-marah pada Marvin di dalam kafe. Ia pun patuh mengikuti langkah Marvin ke area privat.
"Mau pesan apa?"
Tiba di area privat yang berbentuk ruangan kecil, Marvin segera menyodorkan daftar menu pada Serena.
"Anda saja yang makan. Aku belum lapar."
"Ya sudah, apa kamu mau pesan es krim?"
"Apa Anda menganggapku sebagai bocah?!"
"Tidak juga 'sih. Maaf. Terus mau apa dong?"
Marvin jadi serba salah.
Ia kemudian menghela napasnya. Sedang mengumpulkan kesabaran. Pikir Marvin, harusnya Serenalah yang dibuat pusing oleh sikapnya. Namun faktanya, malah sebaliknya. Teori yang mengatakan 'Orang yang memiliki hutang biasanya lebih galak dari yang menghutangi,' perlahan masuk logika juga.
"Tidak mau apa-apa!" tandas Serena.
"Baiklah. Berarti, kamu hanya menemani saya makan."
"Terserah!" timpal Serena.
"Permisi."
Seorang pelayan menghampiri. Lalu ia termangu saat kebetulan bersitatap dengan Marvin. Entah karena mengenali Marvin, atau mungkin saja lantaran terksima melihat ketampanan Marvin.
"Kenapa tatapannya begitu? Ada yang salah dengan suamiku?!" sentak Serena pada pelayan tersebut.
"Maaf."
Pelayan wanita itu langsung menunduk. Marvin bengong. Ia kaget dengan ucapan Serena. Benar-benar tidak menyangka jika Serena akan berkata demikian.
"Saya pesan ini, ini, dan ini," ucap Marvin dengan nada cepat.
"Ba-baik."
Pelayan muda tersebut mengangguk dan segera bergegas.
"Kenapa kamu bicara sembarangan tentang hubungan kita? Serena, apa kamu lupa dengan surat perjanjiannya?" tanya Marvin.
"Ya, aku lupa!" tegas Serena sembari begeser dan menjauh dari Marvin.
"Tolong jangan berkata sembarangan lagi. Kalau ada wartawan bagaimana? Terus kalau pelayan yang tadi mengenali saya bagaimana? Serena, saya tidak mau menjadi bahan pemberitaan. Saya dan keluarga saya ingin hidup dengan damai dan tenang," jelas Marvin.
Serena terdiam seketika. Ucapan Marvin menyiratkan kalau pria itu benar-benar terganggu dengan ucapannya.
Lantas, sampai kepan pernikahan ini akan disembunyikan? Apa sampai hutang papanya terlunasi? Jika hutang tersebut tidak sempat terbayarkan, apa ia akan menjadi istri sitaan seumur hidupnya?
"Serena, papa saya sudah menyetujui pernikahan kita. Walau ia menyetujuinya karena ingin menggunakan saya untuk balas dendam pada papa kamu, tapi keputusan papa telah membuat saya lega. Serena, apa kamu berpikir jika saya hanya ingin memanfaatkan tubuh kamu?" Sambil meraih tangan Serena.
"Ya," jawab Serena singkat.
"Apa? Dasar gadis bodoh!" Marvin menyentil kening Serena.
"Ahh! Sakit tahu!"
"Silahkan terus beranggapan seperti itu. Saya tak masalah," lanjut Marvin sambil begeser agar ia bisa duduk lebih dekat dengan Serena. Serena mengernyitkan alisnya. Ia sedang berusaha mencerna penjelasan Marvin.
"Pesanan tiba," pelayan lain datang dan membawa pesanan Marvin.
"Terima kasih," sahut Marvin saat pelayan tersebut beranjak.
"Yakin tidak mau makan?" tanyanya pada Serena yang saat ini tengah menatap es krim. Walaupun Serena mengatakan tidak mau es krim, Marvin tetap memesannya.
"Tidak mau!" Masih bersikukuh dengan pendiriannya.
"A-," Marvin mencari cara lain dengan menyodorkan langsung es krim tersebut pada bibir Serena.
"Ti-tidak mau!"
Risiko punya istri bocah, batin Marvin. Kembali tersadar kalau selisih usianya dan Serena adalah sepuluh tahun.
"Tuhan sangat membenci hamba-Nya yang melakukan perbuatan menyia-nyiakan makanan. Karena hal ini sama saja dengan melakukan perbuatan dosa atau maksiat," gumam Marvin. Kali ini mencoba melakukan pendekatan spiritual.
"Perilaku pemborosan itu dikategorikan sebagai kebiasaan dari setan. Siapapun yang melakukan tindakan tercela tersebut maka dapat dikatakan sebagai saudara-saudaranya setan," lanjutnya.
"Siapa juga yang menyuruh Anda memesan banyak?! Bukan aku, 'kan?! Jadi yang saudaranya setan itu, Pak Bos! Bukan aku!" Pastilah Serena tidak mau menjadi bagian dari saudaranya setan. Wajar kalau ia langsung sewot.
"Makanya, bantu saya menghabiskan makanan ini, mau ya? Please ...." Memohon.
"Ya sudah! Aku mau!"
Akhirnya .... Marvin lega, dan langsung tersenyum saat tangan Serena meraih mangkuk yang berisi es krim.
"Nah, begitu dong. Anak baik." Mengusap rambut Serena.
__ADS_1
Lalu iapun mulai menyantap makanannya sambil sesekali melirik pada Serena. Konsentrasi Marvin buyar seketika saat melihat lelehan es krim di ujung bibir Serena.
"Serena, tunggu." Sambil menutup tirai penyekat yang membatasi ruangan tersebut.
"Kenapa?"
"Saya juga mau mencoba es krimnya. Boleh?"
"Silahkan."
"Baiklah."
Saat Serena sibuk mendekatkan mangkuk es krim pada Marvin, Marvin malah menarik bahu Serena dan meraih lelehan es krim di ujung bibir Serena dengan bibirnya.
"Pak Bos!" Serena terkejut. Matanya membulat sempurna.
"Hmphh ...."
Detik berikutnya, gadis itu hanya bisa mematung saat Marvin berulah. Pria itu sedang menghangatkan bibir dan indra pengecap Serena yang saat ini terasa dingin, lembut dan manis. Ya ampun Pak Bos, kalau ada yang mengintip bagaimana? Dasar Marsupilami!
"Cu-cukup ...." Serena tersenggal-sengal. Ia kemudian mendorong dada Marvin dan memukulinya. Pipinya memedarkan rona.
"Hmm, es krimnya nikmat sekali. Itu adalah es ternikmat seumur hidup saya," ocehnya tanpa merasa bersalah.
Serena gugup. Ia membalikan badan dan memasukkan banyak es krim ke mulutnya. Kenapa gadis itu gugup? Sebab, Serena sadar diri jika pada saat adegan tadi, ia jelas-jelas meladeni Marvin.
"Ya sudah, makan yang banyak ya gadis baik." Marvin mendekatkan sup dan steak pada Serena sambil menahan tawa.
...***...
Ternyata, Hugo sudah berada di depan kafe untuk menjemput Serena.
"Saya tidak mungkin membawa kamu ke kantor, kamu ke apartemen bersama Hugo ya." Serena mengangguk. Segera masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Hugo tanpa basa-basi lagi.
"Jaga dia baik-baik ya Hugo." Marvin pun masuk ke dalam mobilnya.
"Siap Pak Bos."
"Ya sudah, cepat pergi," titah Marvin. Lalu ia memandangi mobil yang dikemudikan Hugo sampai luput dari pandangannya. Bersamaan dengan itu, ponselnya menyala.
"Ya Indri, ada apa?"
"Pak Bos, bu Putri tadi pagi pamit pergi ke pasar. Tapi hingga saat ini belum pulang. Perlukah aku mencarinya?"
"Apa?! Biasanya suka pulang jam berapa kalau ia ke pasar?"
"Jam delapanan juga biasanya sudah ada di rumah lagi Pak Bos."
"Memangnya Edrick tidak mendampinginya?!" sentak Marvin.
"Ma-maaf pas Bos, tadi pagi, saat Edrick mengantar Rio ke sekolah, bu Putri pergi ke pasar. Hari-hari sebelumnya tidak ada masalah Pak Bos. Jadi aku tidak curiga."
"Kalian ceroboh! Cepat suruh Edrick mencarinya! Kamu tetap di rumah dan menjaga Via! Paham?!"
"Ba-baik Pak Bos, ma-maaf ya Pak Bos."
"Saya baru akan memaafkan kamu dan Edrick kalau bu Putri sudah ditemukan!" tegas Marvin. Lalu mengakhiri panggilan dengan wajah yang memerah.
...***...
_______
Serena telah tiba di apertemen. Para pelayan di sana menatapnya dengan tatapan sinis. Mereka tidak menyangka jika bos mereka rela melepas Nona Clara demi gadis congkak ini.
Apa lagi saat Serena melenggang santai memasuki kamar Marvin. Mata mereka nyaris jatuh dari kelopaknya.
"Jaga sikap kalian!" sentak Hugo. Lalu ia pergi setelah memastikan Serena sudah berada di dalam kamar.
"Cantik juga percuma kalau perilakunya seperti ja-lang," sahut yang lainnya.
"Tunggu, kalian berpikir tidak 'sih? Masa ya Bos Besar membiarkan putra semata wayangnya memelihara ja-lang kecil?" ujar pelayan yang sedari tadi menautkan alisnya.
"Kamu benar. Kalau skandal ini diketahui publik, reputasi keluarga Jacob pasti akan hancur. Pas Bos 'kan terkenal sebagai pria baik-baik."
"Tapi siapa juga yang berani membocorkan ini? Apa di antara kita ada yang berani? Aku 'sih tidak berani. Daripada dipecat, aku pribadi lebih baik merahasiakan masalah ini dari siapapun."
"Ya, aku juga tidak berani."
"Kalian berkumpul di sini?! Bubar-bubar!" Manda tiba. Mereka lantas membubarkan diri.
"Dia sudah berada di apartemen Nona, dia bahkan berada di dalam kamarnya Pak Bos," jelas Manda dengan suara pelan. Ia ternyata sedang melakukan panggilan dengan seseorang dan menggunakan headset.
"Aku akan ke sana," suara di balik headset.
"Baik Nona Clara," sahut Manda. Oh, ia ternyata sedang berkomunikasi dengan Clara Judith.
...***...
Serena. Ia sedang berendam di dalam bathup. Tengah menikmati fasilitas kamar Marvin. Serena berendam sambil membaca buku pelajaran untuk persiapan ujian akhir.
Setelahnya, gadis itu keluar dari kamar mandi dan memilih baju Marvin yang sekiranya bisa ia gunakan. Serena memilih t-shirt lengan pendek berwarna hitam. Lanjut membaca lagi di tempat tidur sambil terkantuk-kantuk. Beberapa menit kemudian, ia pun tertidur dengan buku yang menutupi wajahnya.
...***...
"Jangan Nona, jangan masuk ke dalam," larang Hugo pada Clara yang saat ini telah berada di depan kamar Marvin.
"Hugo! Kamu tidak berhak melarangku! Aku hanya ingin bertemu dengan gadis itu! Tidak salah, 'kan?!"
"Nona Clara, tolong pahami posisi Nona. Hubungan Nona dan Pak Bos sudah selesai, bukan? Jadi, Anda tidak berhak datang ke apartemen ini lagi."
"Hugo! Lancang kamu ya!"
'PLAK.' Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Hugo. Hal itu membuat pelayan yang sedang mengintip tersentak kaget.
"Nona, selagi aku masih bersabar, segeralah pergi dari sini. Jika tidak, aku akan menelepon Pak Bos," tegas Hugo sambil mengusap pipinya yang sedikit memerah.
Tiba-tiba, pintu kamar Marvin terbuka. Hugo terkejut. Pun dengan Clara.
"Nona Clara? Apa kabar?" sapa Serena yang menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut.
"Serena! Kamu?!"
Mata Clara melotot karena menyadari jika Serena mengenakan baju milik Marvin. Hugo terdiam sesaat. Ia sedang berada di posisi bingung.
"Nona Clara mau masuk ke kamar, 'kan? Mari," ajak Serena. Gadis itu ternyata telah mendengar percakapan Clara dan Hugo.
"Nona Serena ---."
Hugo belum sempat menjelaskan apapun. Namun tangan Serena telah menarik tangan Clara ke dalam kamar. Manda yang ternyata turut mengintip pun tidak bisa berbuat apa-apa. Pada akhirnya, mereka hanya bisa menatap pintu kamar Marvin yang perlahan tertutup.
Apa di dalam kamar Serena dan Clara akan baku hantam? Entahlah.
Hugo garuk-garuk kepala. Manda segera berlalu. Ia tidak mau menjadi pihak yang disalahkan atas kejadian ini. Padahal, ia adalah tersangka utama yang memberitahu Clara kalau Serena ada di apartemen.
...***...
"Ada perlu apa Nona?" Sambil melepas selimut dan memperlihatkan keseksiannya.
__ADS_1
"Kurang ajar!" Clara ingin menjambak rambut Serena namun tidak berhasil karena Serena menghindarinya.
"Maaf, aku lebih muda. Pak Bos mungkin lebih menyukai gadis muda," ledek Serena.
"Memalukan! Dasar bi-nal kecil! Kamu memang pantas jadi anak bandar judi yang tidak tahu malu!"
"Yang tidak tahu malu itu Anda, Nona Clara. Ck ck ck, Anda berbohong sudah tidur dengan Pak Bos. Padahal belum pernah, 'kan?"
"Apa katamu?! Tutup mulut kamu pe-la-cur!" Meraih vas bunga yang berada di atas nakas dan melemparnya pada Serena. Namun lagi-lagi, Serena behasil menghindar.
"Hahaha. Tidak kena. Pas Bos pernah bersaksi atas nama Tuhan kalau ia tidak pernah tidur dengan wanita manapun kecuali aku!" jelas Serena. Ia sengaja ingin membuat Clara semakin emosi.
"Apa?! Jadi kamu sudah tidur dengan dia?!" Mata Clara membulat. Amarahnya memuncak.
"Sudah, apa Anda mau aku jelaskan kronologis dan sensasinya? Rasanya sangat luar biasa. Semoga bisa mengurangi rasa penasaran Anda," oceh Serena. Ia sendiri sampai kaget dengan ucapan frontal yang terlontar dari bibirnya.
"Apa?! Kamu kurang ajar Serena!" Sekarang meraih tongkat golf milik Marvin dan bersiap menyerang Serena.
"Nona Clara! Cukup!"
Hugo berhasil masuk ke dalam kamar setelah mendapat persetujuan dari Marvin. Ia segera menahan tangan Clara dan menyeretnya keluar kamar. Serena tersenyum puas.
Apa aku jahat? Pikir Serena. Ia kemudian menutup pintu kamar dan melambaikan tangan pada Clara.
"Lepas! Kamu kurang ajar Hugo! Aku akan melaporkan penghinaan ini pada Bos Besar dan Nyonya Killa!" teriak Clara. Nyonya Killa adalah mamanya Marvin. Nama lengkapnya Nyonya Syakilla.
...***...
"Nyonya Killa?" gumam Serena sambil melamun menatap langit-langit kamar.
"Apa Nyonya Killa juga tidak sejahat Bos Besar?" duganya.
"Tapi, bagaimana kalau ia jahat?" Serena berandai-andai.
"Aku tidak peduli. Lebih baik kamu belajar lagi Serena!" sentaknya pada diri sendiri.
Ia pun kembali meraih buku dan lanjut belajar sampai hari menjelang sore. Hanya istirahat sejenak untuk memakan makanan yang diantarkan oleh Hugo ke kamar tersebut.
Ingin rasanya keluar dari kamar ini sambil menunggu kepulangan Marvin. Namun ia malas berdebat dengan Manda dan melihat tatapan sinis dari para pelayan yang tidak menyukainya.
...***...
"Di mana? Belum pulang?" Akhirnya menelepon Marvin.
"Masih di kantor. Kenapa? Apa kamu merindukan saya?"
"Tidak!" elak Serena.
"Hahaha. Saya pulang malam. Kamu tidur duluan saja."
"Malam? Sampai jam berapa?"
"Saya juga tidak tahu. Jangan menunggu saya."
"Aku tidak menunggu Anda! Ya sudah, sekalian saja tidak perlu pulang!" sentak Serena. Lalu mengakhiri panggilan dan melempar ponselnya.
"Haish, aku kenapa? Kenapa jadi begini?" Serena menyadari sikap anehnya.
"Harusnya aku jual mahal, 'kan?" sesalnya.
Sampai di jam sepuluh malam, Marvin belum pulang. Serena tertidur di sofa karena tidak kuasa menahan kantuknya.
...***...
"Ahm ...," gumam Serena karena merasakan sesuatu yang hangat tengah menelusuri tubuhnya. Ia ingin membuka matanya dan melihat apa yang terjadi. Namun matanya enggan terbuka.
"Serena ...," ia mendengar bisikan lembut itu menghampiri telinganya. Matanya yang berat karena kantukpun akhirnya terbuka perlahan.
"Pak Bos ...," lirihnya. Ia melihat sekilas jika pria itu tengah mengungkung tubuhnya.
"Maaf mengganggu tidur kamu. Lanjutkan saja tidurnya," bisik Marvin sembari memeluk Serena dan membuka piyama yang digunakan Serena.
"A-Anda mau apa?" tanya Serena dengan mata yang setengah terpejam.
"Mau memberimu nafkah batin."
"A-apa?" Serena membuka matanya.
"Nikmati saja, saya akan lembut," bisik Marvin di saat Serena masih mematung karena mengumpulkan serpihan ingatannya yang tercecer di alam mimpi.
Serena baru sadar sepenuhnya saat Marvin merengkuhnya. Ia hendak protes, namun bibirnya telah terbungkam. Usaha untuk melepaskan diripun sia-sia. Ia pun pasrah saat pria itu mulai mengekplorasi tubuhnya. Serena membekap bibirnya sendiri agar lenguhan memalukan itu tidak lolos dari bibirnya.
Lalu interkom berbunyi. Marvin terperanjat kaget. Serena pun demikian. Gadis itu segera menutup diri dan meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Siapaaa?!" teriak Marvin sambil bertolak pinggang dan terlihat kesal. Jelas ia marah karena aktivitas mengasyikannya harus terhenti.
"Maaf Pak Bos. A-ada Nyonya Syakilla," jelas Hugo.
"Apa?!" Marvin terpaku. Serena pun bengong.
"Kok bisa mamaku datang ke sini di tengah malam?!"
Ia kembali pada Serena setelah menonaktifkan interkom. Lalu memakai kembali kemejanya dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Pak Bos," Serena menarik ujung kemeja Marvin saat pria itu membalikkan tubuhnya.
"Kamu tetap di sini."
"Pak Bos, aku juga harus bertemu dengan mama Anda."
"Jangan."
"Kenapa?"
"Karena mama saya pasti tidak akan menyukai kamu."
"Tak masalah Pak Bos." Serena keluar dari selimut dan meraih piyamanya.
"Tetap di sini," tegas Marvin.
"Tidak mau!"
"Serena!"
"Aku ingin menemani Anda menemui mama Anda? Apa itu salah? Pak Bos, aku tidak mau mama Anda menyalahkan Anda. Biar aku saja yang menjelaskan semuanya."
"Tapi sekarang bukan waktu yang tepat, Serena."
"Tapi aku juga ingin melindungi Anda, Pak Bos."
"Apa?! Melindungi saya?" Nyali gadis itu benar-benar besar.
_______
Apakah Nyonya Syakilla bisa menerima Serena?
...~Next~...
__ADS_1
_______
Salam rindu 🥰, dan salam peluk dari jauh 😍. nyai baru selesai ujian. Maaf baru sempat mengintai, tapi tidak bisa rutin karena berbagai alasan di real life. Semoga bisa memaklumi dan tidak sampai melupakan nyai. Terima kasih 🙏🙏🙏.