
Tiba di sekolah, Serena langsung ke kantin. Ia tidak memedulikan tatapan heran teman-temannya. Ia juga pura-pura tidak mendengar kata-kata hinaan yang dilontarkan untuknya. Terlebih tatapan para siswa yang memandangnya dengan tatapan jahil.
"Hai Eren, sekarang sepertinya kamu mudah kugapai, mau jadi pacarku?" Siswa itu mengikuti Serena sampai ke kantin.
"Eren? Katanya kamu sudah putus ya sama Leon? Boleh 'kah aku menggantikan posisi Leon?" Ada satu siswa lagi yang mendekat.
Setelahnya, beberapa orang siswa mendatangi dan mengikuti Serena.
"Cih, lihat 'deh! Padahal dia sudah miskin! Tapi para lelaki tetap saja mengaguminya! Sebal!" Kerumunan siswi saling berbisik.
"Ya wajarlah mereka begitu. Dulu 'kan semua siswa tidak punya kesempatan mendekati Erena karena dia selalu dikawal," timpal yang lain.
"Aku berharapnya dia dikucilkan! Ya percuma dong jadinya kalau kayak begini," omel yang lainnya lagi.
"Hei, kalian bagaimana 'sih? Siswa pria ya jelas 'lah tidak akan mengucilkan si Erena, dia 'kan cantik, seksi pula."
"Renata! Kamu ada di pihak mana 'sih?" Yang mengatakan Serena cantik dan seksi dirundung temannya.
"Maaf, maaf. Tapi faktanya begitu, 'kan?"
"Haish, Renata! Kamu mau temanan sama si Eren? Ya sudah sana! Aku doakan biar kamu ketularan bangkrut kayak si Eren." Ternyata di sekolahnya Serena memiliki dua nama panggilan. Eren dan Erena.
"Ssst, hei kalian, sini-sini." Seseorang datang.
"Meyla? Ada apa? Ganggu saja, 'deh. Kamu sudah tahu belum si Eren sudah masuk sekolah lagi?"
"Ya ampun, cepat kumpulkan uang kalian," pinta Meyla.
"Uang? Untuk apa? Kamu kebiasaan 'deh malak kita? Aku jadi tidak yakin kalau kamu anak konglomerat," rutuk temannya pada Meyla.
"Ya sudah kalau kalian tidak mau tahu informasinya. Aku memang anak konglomerat, buktinya aku bisa sekolah di sini," ucap Meyla sambil berlalu.
"Hei, Meyla! Info apa 'sih? Awas ya kalau infonya tidak penting." Mereka mengikuti Meyla.
"Ya sudah, beri aku uang! Hahaha. Seikhlasnya saja."
"Ya sudah 'deh. Yuk teman-teman kumpulkan. Dasar Meyla si preman sekolah."
"Hahaha." Meyla bahagia karena uang jajannya jadi bertambah.
"Nih, tapi PR matematika kerjakan ya!"
"Gampang! Tapi untuk matematika ada tarif baru lagi."
"Haish, terserah kamu 'deh, Meyla! Cepat katakan! Ada info apa?" Mereka mengerumuni Meyla.
"Begini, tapi ingat ya, ini rahasia kita-kita saja."
"Ya, ya, cepat bicara sebelum kita masuk kelas."
"Coba kalian pikir kenapa si Eren masih bisa sekolah di sini? Ssstt, itu karena dia jadi simpanan pria tajir," bisik Meyla.
"Hahh? Apa kamu serius? Bukan karena ada kebijakan dari pihak sekolah?"
"Bukan, quota untuk jalur prestasi 'kan sudah penuh."
"Ck, ck, ck. Masuk akal. Dengan body sebagus dan secantik itu, Erena pasti bisa dengan mudah mendapatkan sugar daddy." Lagi, Renata memuji Serena.
"Renata!" Langsung dibentak teman-temannya.
"Ada info valid lagi," lanjut Meyla.
"Apa lagi?"
"Tambah lagi dong uangnya."
"Meyla! Gila kamu ya!" Walaupun marah, mereka tetap memberi uang tambahan pada Meyla.
"Begini, si Eren sengaja dijual sama papanya pada pria tajir itu."
"Wah! Kamu serius?!"
"Aku serius."
"Apa kamu tahu prianya siapa? Apa prianya tua? Kalau tua, Erena kasihan sekali. Kalau muda, tampan dan kaya-raya, berarti Erena beruntung," oceh Renata.
"Renata!" Ia kembali disentak teman-temannya.
"Untuk prianya, aku juga tidak tahu."
"Yaaah, huuuh." Meyla disoraki.
__ADS_1
...***...
Sementara Serena, gadis itu sedang menikmati sarapannya. Serena dikelilingi pengagumnya. Namun gadis itu tetap tidak acuh. Tetap mengunyah cantik dengan santainya. Selesai sarapan, Serena memilih pergi ke ruang rapat guru untuk menghindari teman-temannya.
Di sini, ia berjongkok di balik pintu ruangan. Lalu memukul dadanya yang terasa sesak. Gadis itu berusaha tidak menangis, tapi ... gagal. Airmatanya jatuh jua. Ia sedih dan merasa dihina dengan cara teman sekolah pria menatapnya.
"Cantik, seksi."
"Eren, ada pertanyaan yang selama ini sangat ingin kami tanyakan."
"Apa dada dan bokongmu dioperasi? Kenapa mantap sekali? Hahaha."
"Ya, hahaha. Apa kami boleh menyentuhnya?"
"Aku berani membayar berapapun untuk sekali sentuhan."
"Hahaha."
"BRENGSEK!" Serena mengepalkan tangannya.
"Huks." Airmatanya bercucuran.
Kalimat yang menurutnya hinaan itu terngiang-ngiang.
"Mama, huuu."
Serena. Ternyata gadis itu hanya terlihat kuat dan tegar saat berhadapan dengan orang lain. Namun dalam kesendiriannya, ia adalah sosok yang rapuh.
Namun, ia tidak bisa terus seperti ini. Kehidupannya harus berlanjut. Ia memiliki mimpi yang harus diwujudkan, memiliki mama dan adik-adik yang teramat disayanginya. Serena berdiri, mengusap airmatanya dan berjalan tegap keluar dari ruang guru dengan langkah percaya diri.
Saat jam pelajaran tiba, ia duduk di kursi miliknya dan fokus pada buku pelajaran. Tidak berinteraksi dengan siapapun kecuali gurunya. Syukurlah, wali keras Serena memahaminya.
"Kamu harus bersyukur karena ada donatur yang bersedia membiayai sekolah kamu," bisik Wali Kelas saat Serena mengumpulkan tugas.
...***...
Gadis itu duduk di halte. Sedang menunggu bus sekolah yang akan mengantarnya pulang. Setidaknya, ia bahagia karena sudah melewati seluruh jam pelajaran.
Kak Leon.
Tiba-tiba memikirkan Leon yang sering menjemputnya. Sebenarnya, Leon tidak pernah memutuskan jalinan cinta mereka. Namun, Serena khawatir jika hubungannya dan Leon dilanjutkan, reputasi ayah Leon yang merupakan seorang politisi akan terdampak akibat putranya berpacaran dengan putri seorang raja judi.
Sebuah mobil tiba-tiba berhernti tepat di hadapan Serena.
"Nona Eren?" Nunu keluar dari mobilnya.
Serena mendekat, ia hendak bersalaman pada Nunu. Gadis itu pada dasarnya memang ramah.
Namun, hal tidak terduga terjadi. Saat tangan Serena terulur, seseorang di dalam mobil Nunu menarik tangan Serena. Belum juga Serena beteriak karena kaget, orang tersebut sudah membekap mulut Serena dengan kain yang rupanya telah dicampur obat bius.
Sebab, gadis itu seketika terkulai lemas dan memejamkan matanya.
"Cepat!" teriak pria yang membekap Serena.
"Baik." Nunu segera menutup pintu mobil dan kembali ke belakang kemudi untuk melajukan mobilnya.
...***...
Mobil yang membawa Serena kini telah berada di jalur bebas hambatan. Sedang menuju ke suatu tempat.
"Cepat suntikkan obatnya selagi Nona Eren masih pingsan!" seru Nunu.
"Baik."
"Hati-hati! Jangan sampai bekas suntikanmu melukai kulit Nona!"
"Siap. Aku mantan dokter. Aku ahli dalam hal ini."
"Bagus, sebentar lagi kita sampai."
Beberapa saat kemudian, mobil tersebut berhenti di sebuah hotel bernama, The Hotel Lindo e Incrível. Sebuah hotel bintang tujuh bertaraf internasional.
Nunu terlihat sibuk menelepon seseorang sebelum mobilnya memasuki lobi hotel.
...***...
"Di sini tempat pertemuannya, Pak Bos." Hugo menyerahkan map pada Marvin. Mereka sedang berada di kantor Marvin.
"Lindo e Incrível? Hmm, sombong sekali mereka sampai mengajak pertemuan di hotel ini."
"Apa Anda akan datang Pak Bos? Atau mau diwakili sekretaris saja?"
__ADS_1
"Emm, saya akan datang sendiri."
"Baik, Pak Bos. Mereka memang klien eksekutif. Masa ya Pak Bos tidak datang. Mereka bahkan meminta Pak Bos datang sendiri."
"Datang sendiri? Siapa takut? Jam berapa pertemuannya?"
"Jam delapan malam Pak Bos."
"Baik, kamu siapkan mobilnya."
"Baik."
"Oiya Hugo, tunggu."
"Ya Pak Bos."
"Bagaimana kabarnya?"
"Kata Wali Kelas, Nona Eren tadi sudah menunggu bus sekolah. Anda tidak perlu khawatir."
"Khawatir katamu? Hahaha, siapa yang khawatir, saya merasa biasa saja."
...***...
The Hotel Lindo e Incrível
"A-awh ...."
Serena membuka matanya. Ia mengedarkan pandangan dengan tatapan linglung. Lalu duduk perlahan sambil memegang kepalanya yang terasa pusing. Ia sedang mengingat kembali kejadian yang telah dilaluinya.
Setelah mengingatnya, Serena memerhatikan sekitaran. Ia berada di sebuah kamar hotel yang begitu megah bernuansa putih.
"Kenapa aku dibawa ke sini? Nunuuu! Nunuuu!" teriaknya sambil berusaha membuka pintu. Sia-sia. Pintu hotel itu terkunci.
"Apa?!" Serena terkejut saat ia melewati cermin dan mendapati dirinya telah berganti busana.
"Si-siapa yang melakukannya? Kenapa aku memakai baju seperti ini?" Terkejut luar biasa karena ia hanya memakai lingerie.
Dalam keadaan panik, Serena berusaha mencari seragam sekolahnya. Namun tidak ditemukan. Di kamar ini bahkan tidak ada handuk. Serena semakin panik. Apa lagi saat menyadari jika di kamar itu tidak ada telepon pararel. Hanya tersisa kabel sambungannya yang seolah sengaja diputus.
"Ti-tidak, Mama ... apa yang harus kulakukan?"
Tubuhnya gemetar ketakutan. Lalu terlonjak kaget saat mendengar pintu kamar terbuka. Gadis itu segera bersembunyi di balik sofa sambil memeluk tubuhnya yang nyaris polos.
"Bugh." Ia mendengar sesuatu terjatuh ke lantai. Serena menunduk, jantungnya berdegup.
"BRUK." Terdengar pintu kamar hotel tertutup.
Serena menahan napasnya untuk mendengar sesuatu. Hasilnya ... sepi. Ia tidak mendengar apapun. Sambil mengatur napasnya, Serena mencoba mengintip melalui bawah sofa. Ia tertelungkup perlahan dan mulai mengintip.
DEG.
Jantungnya seakan dihantam gada. Serena melihat ada seorang pria yang tersungkur di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri.
DEG.
Degupan selanjutnya semakin kuat. Kenapa demikian? Sebab Serena mengenali sosok pria yang tersungkur itu. Siapakah sosok itu?
DEG.
Ia merangkak perlahan untuk memastikan. Lalu menutup mulutnya dan membelakan mata.
"P-Pak Bos?" Matanya membulat sempurna.
"Ti-tidak mungkin," lirihnya. Ingin mengingkari yang dilihatnya.
"Tunggu, a-aku kenapa?" Terkejut karena ia merasakan tubuhnya berdesir dan panas.
"A-aku harus minum, ke-kenapa panas sekali?" Ia hendak merangkak untuk pergi ke sana. Ke kulkas.
Grep. Namun pergelangan kakinya ada yang memegang.
"Le-lepas," seru Serena. Napasnya mulai tersenggal.
Saat menoleh, ia melihat wajah Marvin berkeringat dan memerah. Tak hanya itu Marvin juga melenguh-lenguh seperti sedang kesakitan. Serena berusaha melepaskan cengkraman Marvin, namun saat ia melihat wajah Marvin, ia merasa jika wajah itu sangat tampan. Hidung Marvin yang mancung, bibirnya yang merah alami, dan dada Marvin yang bidang itu, spontan membuat Serena menelan salivanya.
"A-aku ke-kenapa?" Ia bertanya pada diri sendiri dan kembali merangkak.
Namun, bukannya merangkak untuk menjauhi Marvin, Serena malah merangkak untuk naik ke atas tubuh Marvin.
_____
__ADS_1
Serena, Marvin, semoga kalian baik-baik saja.
...~Next~...