
"Kamu sudah siap?"
Marvin mengetuk pintu kamar Serena. Lalu pintu kamar tersebut terbuka, dan Serena telah tampil cantik. Sejenak, Marvin hanya bisa mematung. Ia terkesima dengan penampilan Serena.
"Pak Bos?"
"Ya," Marvin yang bengong baru tersadar.
"Aku takut, bagaimana ini?" Serena memegang tangan Marvin, dan benar saja, tangan Serena terasa dingin.
"Tunggu, kenapa roknya memakai yang ini? Saya tidak suka. Ini sedikit menerawang." Marvin mendorong kembali Serena ke dalam kamarnya.
"Menerawang dari mananya Pak Bos? Ini sudah panjang dan tebal."
"Ganti! Pokoknya harus ganti! Serena, papa saya itu tampan, gagah dan masih terlihat muda, dia adalah saya versi sugar daddynya. Dia masih cocok-cocok saja kalaupun disandingkan sama kamu." Sambil melepas rok yang digunakan oleh Serena.
"Hei! Pak Bos! Aku bisa membuka rokku sendiri!" teriak Serena.
"Sudahlah, jangan banyak protes! Lagi pula, saya sudah lihat semuanya. Tidak perlu malu." Lalu Marvin mengambil rok lain untuk digunakan oleh Serena.
"Hihihi. Apa Anda cemburu?" duga Serena.
"Cemburu? Emm, tidak! Masa ya saya cemburu dengan papaku sendiri?!" elaknya.
"Aku kira Anda cemburu," Serena cemberut.
"Tunggu, bibir kamu juga terlalu merah."
"Oya? Ya sudah, mau aku bersihkan dulu." Serena hendak mengambil tissue namun Marvin mencegahnya.
"Biar saya yang bersihkan," katanya.
Serena mengira Marvin akan mengambil tissue basah, namun ternyata, pria itu malah menangkup wajah Serena dan membersihkan bibir Serena dengan bibirnya.
"Hmphh ...." Terjadilah adegan itu.
"Pak Bos!" Serena kesal, dan pipinya merona.
"Nah, seperti ini saja." Marvin hanya mengulum senyum. Sekarang, jadi bibirnya yang merah.
"Anda yakin mau menemui papa Anda dengan bibir seperti itu?" Serena menatap bibir Marvin.
"Oiya ya." Sekarang pipi Marvin yang merona. Ia lantas membersihkan bibirnya dengan tissue basah.
Setelah penampilan Serena sesuai dengan keinginannya, Marvin menuntun Serena untuk menemui papanya.
"Aku takut Pak Bos."
"Santai saja, bersikaplah seolah aku dan kamu belum akrab. Oiya, jangan sampai mengatakan sama papaku kalau kita sudah pernah kontak fisik."
"Ya iyalah, masa aku bilang kalau Anda suka jadi bayi besarku? Aku juga malu tahu!" sentak Serena.
"Hahaha. Ya bagus. Itu memang rahasia kita. Jangan sampai ada yang tahu," bisik Marvin.
Serena benar-benar gugup. Ini pertama kalinya ia akan bertemu Bos Besar. Jantungnya berdebar-debar.
__ADS_1
Bagaimana kalau aku disiksa? Batinnya menebak-nebak.
"Pak Bos, tunggu." Serena menghentikan langkahnya.
"Kenapa?"
"A-aku gugup. Aku harus ke kamar mandi dulu. Tiba-tiba saja mau buang air kecil."
"Oh ya ampun. Baiklah, saya tunggu di sini." Serena sepertinya stress.
Stress memang bisa memengaruhi sistem pencernaan dan sistem perkemihan. Dimana orang yang sedang stress atau tertekan biasanya akan lebih sering buang air kecil atau merasa mulas. Marvin menunggu Serena dan terlihat gelisah. Ia khawatir papanya menyakiti Serena.
Beberapa menit kemudian, Serena kembali dan terus menunduk. Wajahnya sampai berkeringat karena ketakutan.
"Tenang saja. Papa saya tidak akan memakan kamu."
"Takuuut, aku harus bagaimana? Apa pura-pura tertindas saja?"
"Ya sudah, terserah kamu. Cepat!" Ia segera menarik tangan Serena.
...***...
Saat Serena dan Marvin tiba, papa Jacob sedang menikmati potongan buah mangga yang baru saja dihidangkan oleh Indri ke ruangan tersebut.
"Papa," panggil Marvin.
Sementara Serena, gadis itu saat ini berada di belakang tubuh Marvin. Sedang menunduk dan merematkan jemarinya.
"Di mana dia?" tanya pak Jacob sambil memerhatikan jemari kaki lain yang berada di sela-sela kaki Marvin. Jemari kaki Serena yang tidak beralas kaki itu, terlihat sedang begerak-gerak.
"A-ampun, Bos Besar, ampun."
Serena langsung bersimpuh dan terpuruk di lantai. Marvin pun sampai terkejut dan terheran-heran. Ia menggeserkan badannya dan menatap Serena.
Pak Jacob pun menatap gadis itu. Sejenak, ia merasakan jika dadanya sakit dan terhenyak. Kenapa demikian? Sebab, bahasa tubuh dan penampilan Serena sekilas terlihat mirip dengan Miranda, putri bungsunya yang bernasib malang.
"Perlihatkan wajahmu pada papa saya gadis --- bodoh!" Sentak Marvin. Akhirnya ia pun mengikuti permainan Serena demi mengelabui papanya.
"Huuu. A-ampun Pak Bos, a-aku tidak berani menatap papa Anda. A-aku takut, karisma dan wibawa papa Anda terlalu kuat, a-aku tidak sanggup memperlihatkan diri," ratapnya.
Marvin sampai mengerjapkan matanya karena berpikir jika akting Serena terlalu berlebihan. Sementara pak Jacob, pria itu masih terdiam dan menatap Serena tanpa berkedip.
"Serena! Jangan membantah!" teriak Marvin. Jujur, ia sebenarnya sedang menahan tawa.
"Huuu, huks, tolong jangan siksa aku Bos Besar, su-sudah cukup putramu saja yang selalu menyiksaku. Huuks, tiap hari tiap malam aku selalu dihukum untuk membersihkan vila ini."
APA?! Batin Marvin ingin memberontak.
"Huks, putra Anda sangat kejam. Dia bahkan pernah menyuruhku menguras air kolam menggunkan gayung. Huuu. Tapi ... akan aku terima semua siksa dan hinaan ini demi menebus kesalahan papaku."
Serena becerita sambil terus menunduk dan terisak-isak. Serena bahkan sengaja mencubit kuat-kuat tangannya sendiri agar ia kesakitan dan mengeluarkan air mata.
SERENAAA! Saya tidak sekejam itu! Saya memanjakan kamu, Serena! Justru kamulah yang merepotkan saya!
Batin Marvin meronta-ronta ingin memarahi Serena. Setelah sandiwara ini usai, ia berjanji akan menghukum gadis itu sampai lemas dan menangis. Kalau perlu, ia akan membuatnya kehilangan mahkota untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Benarkah putraku sekejam itu?" Pak Jacob baru bersuara.
"Ya, Bos Besar, dia sering menyakitiku. Aku pernah putus asa sampai ingin bunuh diri, tapi dia menolongku dan berkata, 'Kalau kamu mati! Saya tidak bisa menyiksa kamu lagi!' Huuu, nasibku malang sekali. Ini gara-gara papaku. Huuu," ratapnya.
Serena bahkan sampai berakting semidu-midu. Marvin sampai geleng-geleng kepala. Akting Serena sungguh luar biasa, dan ia yakin jika tipu dayanya kali ini akan berhasil.
"Kamu memang pantas disiksa!"
Disiksa di atas kasur. Lanjut Marvin dalam batinnya seraya menjambak rambut Serena. Namun tentu saja dengan jambakan pelan, tapi seolah terlihat kasar dari sisi pak Jacob.
"Ahh! Sa-sakit Pak Bos, sa-sakit!" keluh Serena.
Kepalanya menengadah, hingga tampaklah wajah nan jelita itu oleh pak Jacob. Mata gadis itu berurai air mata. Marvin sampai kaget dan nyaris lupa kalau ia dan Serena sedang menjalankan tipu daya. Hampir saja Marvin memeluk Serena dan menciumnya karena tidak tega melihat tangisannya.
Deg, jantung pak Jacob berdegup. Wajah putri musuh bebuyutannya itu ternyata memang sedikit mirip dengan Miranda.
Lalu timbullah kerinduan pada mendiang putrinya, dan perasaan rindu itu langsung memunculkan kebencian pada Serena. Pak Jacob mengepalkan tangannya, giginya gemeretak, napasnya memburu, dan matanya memerah.
Di satu sisi, ia sangat membenci gadis itu, namun di sisi lain, wajah Serena bisa mengobati kerinduannya pada Miranda. Seperti halnya Marvin saat bertemu Serena untuk pertama kalinya, pak Jacob pun hanya bisa mematung dan dilema. Di sisi lain ingin menyiksanya, tapi di lain sisi ingin memeluknya.
Namun pak Jacob bukan 'lah Marvin. Ia telah malang-melintang di dunia mafia selama puluhan tahun. Baginya, musuh tetaplah musuh. Semakin lemah ia di hadapan musuhnya, itu berarti ia telah kalah.
"Berdiri!" sentaknya pada Serena.
"Ba-baik," Serena berdiri dengan kaki gemetaran.
"Silahkan balik badan dan pergi! Saya jijik melihat wajah kamu!" sentaknya lagi sambil memalingkan wajah.
Pak Jacob tidak mau berlama-lama menatap Serena karena khawatir batinnya akan luluh dan gagal melakukan balas dendam pada pak Wandira.
"Ba-baik Bos Besar."
Serena membalikkan badan dan pergi. Marvin menghela napas. Ada perasaan lega karena papanya tidak menyakiti Serena.
"Papa lihat 'kan? Dia sangat menggemaskan!" Upss, Marvin salah bicara.
"Maksud Marvin sangat menyebalkan!" Langsung diralat. Untung saja pak Jacob sedang tidak fokus.
"Kamu harus menyiksa dia lebih dari itu, Vin! Jangan tertipu oleh wajah polosnya!"
"Siap Papa. Maka dari itu, pernikahan saya dan gadis itu harus dipercepat! Aku sudah tidak sabar ingin menyiksanya sampai dia gila dan putus asa!"
Padahal dalam hatinya Marvin berkata, "Ingin segera menikmati tubuhnya siang dan malam."
"Papa setuju. Kamu atur saja!" tandasnya dan kembali menyantap potongan buah mangga untuk menenangkan perasaannya karena wajah Serena terbayang lagi.
Bibir Marvin menyeringai. Baru kali ini ia merasa bersalah karena telah menipu papanya.
Maafkan Marvin, Papa. Marvin akan bertanggung jawab dengan keputusan Marvin. Jikapun suatu saat Papa mengetahui kebohongan Marvin, Marvin sudah siap menanggung semua risikonya.
_______
Serena oh Serena. Aktingmu memang hebat.
...~Next~...
__ADS_1