ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
SIBLING GOALS


__ADS_3

Luxury Apartment


Clara. Ia dirundung gelisah. Bagaimana tidak, seharian ini kekasihnya tidak pulang. Padahal, sebentar lagi ia akan kembali lagi ke luar negeri. Malam inipun Marvin tidak pulang. Ia baru saja mendengar penjelasan dari Hugo.


"Hogo!" panggilnya. Mengejar Hugo.


"Ya, Nona."


"Kalau boleh tahu, memangnya Marvin ada keperluan apa? Urusan penting apa? Apa aku boleh tahu?"


"Ma-maaf Nona. Aku juga kurang tahu," jelas Hugo. Tidak mungkin 'kan menjelaskan yang sebenarnya.


"Ish," Clara terlihat kesal. Ia akhirnya melengos dan berlalu dari hadapan Hugo.


Lalu langkah kaki Clara terhenti tepat di depan kamar yang ia ketahui sebagai kamar Serena.


"Tunggu, aku tidak melihat dia pulang sekolah. Apa sekolahnya sampai malam?" gumamnya sambil bertolak pinggang dan menautkan alisnya.


"Aku harus bertanya pada Manda." Segera berlalu ke ruangan yang biasa ditempati Manda.


Tiba di sana, ia langsung menarik tangan Manda dan berbisik.


"Aku mau menanyakan sesuatu."


"Ya, Nona. Ada apa?"


"Apa Serena sudah pulang? Perasaan, aku tidak melihatnya. Apa sekolahnya sampai malam?"


"Oh, kata Hugo, Serena ada acara sekolah."


Kemudian Manda merenung sesaat. Pikirnya, kenapa ia tidak bertanya pada adiknya saja? Jika Serena ada acara sekolah, pun dengan adiknya, 'kan?


"Kenapa?" Clara heran karena Manda melamun.


"Karena ini sudah malam, Nona cepat istirahat ya. Masalah Serena, nanti aku akan mencari informasi dulu dan segera menyampaikannya pada Nona."


"Emm, begitu ya. Baiklah." Clara pun berlalu ke kamarnya. Namun pikirannya tetap terpaut pada Marvin.


...***...


Rumah Sakit Internasional


"Maniak! Marsupilami! Bajingan!" rutuk Serena. Segera memalingkan diri dari menatap wajah Marvin.


Bisa-bisanya aku memerhatikan wajahnya. Dasar gadis labil.


Ia merutuki dirinya sendiri. Lalu kejadian mengerikan itu terlintas di kepalanya. Sekujur tubunya kembali merinding. Darah yang mengotori tubuh dan sprei, memenuhi memorinya.


"Ti-tidak. Ja-jangan," ocehnya sambil memasygul rambutnya.


"Se-Serena?" Marvin terbangun. Ia terkejut melihat Serena menjambak rambutnya sendiri.


"Hei, ke-kenapa? A-apa ada yang membuatmu tidak nyaman? Saya lapor dokter ya." Menatap khawatir pada Serena.


"Aaaa! Kamu! Kamu penyebabnya Marsupilami!" sentak Serena sambil menjambak rambut Marvin. Karena kondisinya berangsur pulih, Serena tentu saja telah mendapatkan kembali sebagian dari kekuatannya.


"A-awh, Serena. Lepas."


Marvin gagal menekan bel karena Serena menjambak rambutnya. Anehnya, Marvin merasa tidak ingin melawan Serena.


"Ini tidak sebanding dengan yang kamu lakukan pada tubuhku bajingaaan! Kamu merusakku keparaaat!" Jambakkannya semakin kuat.


"Sa-saya tahu, tapi itu bukan salah saya, Serena. Lagi pula, semuanya sudah kembali normal. Dokter telah memperbaikinya ke bentuk semula. Kamu tidak perlu khawatir dan tidak perlu menyalahkan saya lagi."


"Apa katamu?!"


'PLAK.'


Lanjut menampar pipi Marvin hingga memerah.


"Awh," Marvin meringis. Tamparan Serena lumayan juga.


"Rasakan itu Marsupilami! Ya, aku memang sudah dioperasi! Tapi tetap saja kamu sudah menodaiku! Kamu juga hampir membunuhku, Marvin!" teriak Serena sambil menghentak kepala Marvin.


"Saya minta maaf. Saya kira hanya mimpi. Eh, ternyata ---."


"Maaf katamu! Bagaimana rasanya memerkosa gadis belia, hahh?! Kamu puas dan bahagia, 'kan?!" teriak Serena. Ia semakin kesal karena Marvin tidak melawan.


"Rasanya ya nikmat," sahut Marvin spontanitas.


"Apa?! Dasar manusia gila!" Kembali meraih rambut Marvin dan dijambak lagi.


"Tadi kamu nanya, 'kan? Saya hanya menjawab pertanyaan kamu," elak Marvin. Ia memegang pergelangan tangan Serena. Namun tetap membiarkan gadis itu menjambak rambutnya.


"Ya, aku memang nanya! Tapi apa Anda tidak malu menjawab begitu?!"


Serena melepaskan jambakannya. Lalu memalingkan wajah dan membelakangi Marvin.


"Malu? Saya bicara jujur. Untuk apa harus malu?" Sambil naik ke tempat tidur pasien dan merebahkan diri di samping Serena. Merasakan tempat tidurnya begerak, Serena berbalik badan.


"K-kamu? Kenapa naik kesini?! Pergi!" usirnya.


"Kamu juga saat itu men-de-sah-de-sah, 'kan? Jadi jelas, saya tidak memerkosa kamu."

__ADS_1


"Apa?! Siapa yang men-de-sah-de-sah?! Enak saja! Pasti bukan aku! Aku tidak ingat!" elak Serena.


Marvin mengulum senyum, melipat tangan di dada dan memejamkan matanya.


"Di dalam mimpi itu saya masih ingat kalau kamu juga menikmatinya. Masalah perdarahan, itu hanya kecelakaan," lanjut Marvin.


"Apa?! Marvin!" Serena mengepalkan tangan dan mengetuk dahi Marvin dengan buku tangannya.


"Ahh," Marvin hanya bisa mengaduh namun lagi-lagi tidak melawan.


"Rasakan! Aku maunya membuat kamu berdarah-darah! Pergi dari tempat tidurku! Pergi!"


"Saya di sini karena kamu ketakutan kalau tidur sendirin di ranjang rumah sakit. Ya, 'kan? Saya tahu kebiasaan kamu."


Serena yang kembali membelakangi Marvin, terdiam. Apa yang dikatakan Marvin benar adanya. Saat ia sakit dan dirawat, ia selalu ditemani. Ada mama atau papanya yang naik ke tempat tidur.


"Serena," panggil Marvin.


Ia meletakkan tangan untuk bantalan kepalanya, tidur miring menghadap punggung Serena. Apa boleh buat, jadi terbayang punggung menawan bak gitar Spanyol yang dimiliki Serena. Marvin menghela napas. Ia berusaha menolak dari kenyataan tersebut. Ia tidak mau kejadian itu membuatnya terperangkap oleh tipu-daya Wandira si raja judi.


"HZzz ...."


Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara napas Serena. Ternyata benar, gadis itu merasa tenang saat tidurnya ditemani. Sekalipun yang menemaninya adalah Marvin.


"Bodoh, dasar pemalas. Cepat sekali kamu tidur," gumam Marvin sambi begeser lebih dekat ke tubuh Serena. Lalu dengan perlahan, tangannya membelai rambut panjang Serena.


"Saya biasa melakukan ini pada adik saya."


Serena tidak mengindahkan. Ya, gadis itu memang sudah tidur. Berulang kali mengusap rambut Serena, membuat Marvin mengantuk. Mata Marvin mulai terpejam. Tangan Marvin terhenti tepat di bahu Serena. Keduanyapun terlelap. Saat perawat mengecek cairan, mereka berpikir jika keduanya adalah kakak beradik yang rukun. Sibling goals.


Lalu entah pada pukul berapa, Serena tiba-tiba terbangun. Ia terkejut mendapati ia dan Marvin tengah berpelukan.


"A-apa?"


Segera manarik tangannya yang melingkar di pinggang Marvin. Kemudian mengangkat pelan tangan Marvin yang memeluk panggulnya.


"Kenapa coba jadi kayak suami-istri sungguhan?" rutuknya sambil berusaha begeser.


"Ahh," efek anastesi di tubuhnya telah menghilang dan Serena merasa kesakitan.


"Pak Bos," panggilnya.


"Haish, untuk apa aku berlaku sopan sama dia?!"


"Marvin! Bangun! Tolong panggilkan dokter! Aku kesakitan!" teriak Serena. Marvin belum merespon.


"Marviiin!" Faktanya, teriakan Serena tidak berhasil membangunkan Marvin.


"Awas kamu ya! Rasakan ini!" Serena menggigit daun telinga Marvin sampai berbunyi 'Krek.'


"Serena? Kenapa? Ini menyakitkan. Kalau telinga saya putus bagaimana?"


"Sudahlah, jangan pernah mengeluh sakit di hadapanku Bos Marvin! Ingat ya, apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan yang kamu lakukan pada tubuhku!"


"Tapi saya melakukannya dalam pengaruh obat, tidak dalam keadaan sadar seperti kamu." Marvin kesal. Ia turun dari tempat tidur.


"Cepat panggilkan dokter, di sana sakit. Sepertinya harus diberi obat anti nyeri lagi," jelas Serena. Seketika itu juga, Marvin langsung membalikkan badannya.


"Mana yang sakit?" tanyanya.


"Di sana. Ish! Cepat tekan belnya!"


"Apa perlu saya cek dulu? Saya jadi penasaran dengan bentuknya setelah dioperasi." Marvin mendekat.


"Apa?! Marvin! Gila kamu ya! Tidak akan kubiarkan kamu menyentuh tubuhku lagi!" Serena beringsut.


Untungnya, dokter segera tiba dan mengakhiri keributan yang terjadi.


...***...


Pagi harinya, Hugo dan Rian tiba. Mereka membawa pakaian milik Marvin yang akan digunakan untuk ke kantor. Serena sedang berada di kamar mandi didampingi suster.


"Tolong carikan pegawai baru untuk menjaganya," kata Marvin. Saat ini, ia sedang bersiap untuk bekerja.


"Laki-laki atau perempuan, Pak Bos?"


"Ya perempuan, 'lah," sentak Marvin.


"Siap Pak Bos."


"Serena akan dirawat 3 hari lagi. Saya tidak bisa menemaninya selama itu. Emm, saya juga ada agenda dengan Clara," jelas Marvin.


Lalu Serena keluar dari kamar Mandi. Gadis itu berjalan bak pinguin. Hugo si suami palsu segera menghampiri untuk membantu suster menggandeng Serena.


"Biar saya saja." Marvin mendahului. Serena ingin menolak bantuan Marvin. Namun ia malas berdebat lagi.


"Akan ada yang menemani kamu selama saya tidak ada di sini. Untuk sementara waktu, suster yang akan menemani," jelas Marvin. Serena diam saja. Sebanyak apapun ia protes, tetap saja tidak bisa melawan kuasa Marvin.


"Saya kerja dulu," Marvin pamit. Ia menatap Serena yang tengah menunduk. Sementara Rian dan Hugo, sudah berlalu beberapa menit yang lalu.


"Marvin," panggil Serena saat Marvin berada di ambang pintu keluar.


"Ya?" Marvin membalikkan badan.

__ADS_1


"Emm, ka-kapan Anda ke sini lagi?" tanya Serena. Ia berkata demikian setelah berhasil mengumpulkan nyali.


"Apa?" Marvin merenung sejenak. Pikirnya, kenapa Serena bertanya demikian? Bukankah gadis itu membencinya dan tidak mau ditemani olehnya?


"Ma-maksudku, kapan Anda ke sini lagi karena aku mau memakan sesuatu," ralat Serena.


"Oh, mau apa? Biar saya beri tahu pada Hugo. Saya banyak acara," jawab Marvin pelan. Lalu membalikkan badan dan pergi.


"Apa Anda ada acara bersama Nona Clara?" Marvin menghentikan langkah sejenak.


"Ya," jawabnya, dan pria itu benar-benar pergi.


Serena. Ia melamun. Pikirnya, kenapa juga ia mengharapkan pria itu menemaninya? Toh, di mata Marvin, ia tidak lebih dari barang sitaan yang bisa dibuang kapan saja.


"Saatnya minum obat," seorang suster memasuki ruangan.


"Bukan obat tablet 'kan, Sus?"


"Bukan, Nona. Semua obat berbentuk sirup. Sesuai pesanan kakak Anda."


"Apa?" Dari mana dia tahu kalau aku tidak bisa minum obat tablet?


"Kakaknya Nona Serena kayaknya ganteng banget ya. Sayangnya pakai masker terus," lanjut suster muda itu sambil senyum-senyum.


"Tidak, Sus. Dia tidak ganteng, dia manusia terjelek yang pernah kukenal."


"Hha?" Suster melongo.


"Hahaha," Serena tertawa.


"Hahaha." Suster pun tertawa.


"Apa kakak Anda sudah punya kekasih?"


"Kekasih? Dia malah sudah menikah, Sus."


"Apa?! Yah, tidak ada harapan lagi dong," keluh suster.


...***...


Royal Bank


"Rara?"


Marvin kaget karena Clara menyusul ke kantornya.


"Honey, 'kok kamu kayak tidak suka, 'sih aku datang? Dua malam kamu tidak pulang. Rindu honey. Oiya tangan kamu kenapa?" Clara langsung memeluk Marvin. Ia bahkan naik ke pangkuan Marvin dan menciumi leher Marvin.


"Ehm, saya banyak urusan, baby. Tangan saya baik-baik saja. Kemarin ada sedikit masalah dengan klien." Sambil mengelus Clara yang bajunya terbuka di bagian punggung.


"Honey." Clara tidak sabaran. Ia menangkup pipi Marvin dan segera memejamkan matanya. Wajahnya dimajukan.


'Cup.' Marvin mengecup bibir Clara. Lalu mengecup keningnya.


"Saya minta maaf karena sudah membuatmu menunggu."


"Honey, apa masih sariawan, kenapa kita tidak melakukan kiss seperti biasanya?"


"Ini di kantor baby. Tidak pantas kalau kita mesum di sini."


"Apa kita ke hotel saja?"


"Kita belanja saja. Saya akan membelikan apapun yang kamu mau."


"Wah, apa aku boleh beli tas buaya albino?"


"Boleh," jawab Marvin.


"Terima kasih honey." Lalu mengecup leher Marvin hingga meninggalkan jejak.


"Baiklah, aku mau pulang dulu. Nanti jemput aku ya honey."


"Siap," sahut Marvin.


...***...


Pada siang harinya, selesai rapat, Marvin menerima panggilan dari Edrick.


"Pak Bos, bagaimana ini? Anak buah papa Anda menculik pak Wandira! Tidak hanya pak Wandira, bu Putri juga dibawa."


"Apa katamu?!"


"Ya Pak Bos."


"Bagaimana dengan adik-adiknya Serena?!" Marvin gusar dan terlihat gelisah.


"Aku tidak tahu Pak Bos."


"Mau papa apa, 'sih?! Kenapa dia ikut campur?!" Kamu pantau terus! Pastikan tidak terjadi apapun pada mereka! Terutama pada bu Putri!"


"Baik Pas Bos."


Panggilan berakhir. Marvin mengepalkan tangan dan melonggarkan dasinya. Pikirnya, papanya akan mempersulit keadaan. Ia harus segera melakukan sesuatu.

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2