ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
INTRIK


__ADS_3

"A-Anda tampan," puji Serena saat ia melepaskan jalinan itu. Marvin mengatur napas, masih merasa heran dengan perubahan sikap yang terjadi pada Serena.


"Jika ini untuk menggoda saya, kamu harus berpikir dua kali. Saya bukan orang yang mudah tergoda," elak Marvin seraya menahan tangan Serena agar tidak semena-mena. Ia ternyata bukan tipe pria yang mudah dirayu.


"Aku juga mau menikmati tubuh Anda, Pak Bos. Tidak boleh? Kalau Anda saja bisa menyentuh tubuhku sesuka hati, kenapa aku tidak bisa? Anda tidak adil!" gerutu Serena. Ia cemberut dan segera membelakangi Marvin.


"Kamu hanya boleh menyentuh saya saat saya menyuruh kamu dan saya sendiri yang menginginkannya. Mengerti?" Ternyata, Marvin juga bukan tipe pria yang mudah diperdaya.


"Baik, aku mengerti!" sentak Serena.


Padahal, tadi saat mereka berbagi napas, jelas sekali jika pria itu adalah pihak yang pertama kali menuntut dan menyerang Serena. Langkah Serena untuk menaklukan Marvin sepertinya tidak mudah. Apa yang harus kulakukan? Pikir Serena. Jadi bingung harus melakukan apa agar Marvin tidak menolaknya.


"Aku gerah. Aku mau buka baju," katanya. Ide buruk memang. Ya, buruk. Sebab jelas-jelas AC di ruangan terasa dingin sekali. Ia melucuti piyamanya.


"Ya ampun, apa kamu sudah gila? Cepat pakai lagi!"


"Ya, aku memang sudah gila Pak Bos." Dengan menganggap Serena gila, Marvin bisa jadi akan melepaskannya bukan?


"Cepat pakai lagi, Serena!"


Marvin bangun dan mengambil baju Serena. Jujur, pria ini sebenarnya sangat tertarik dengan keindahan dan keseksian yang terpampang nyata di depan matanya. Namun Marvin memiliki alasan untuk tidak melakukannya.


"Tidak mau! Aku mau tetap seperti ini!" Yang tersisa hanya underware.


"Ya sudah, terserah kamu!" Marvin menarik selimut dan membelakangi Serena agar tidak bisa melihat penampakan yang menggiurkan itu.


"Selamat tidur." Serena masuk ke dalam selimut Marvin, lalu memeluk punggung pria itu.


"Kenapa kamu jadi begini?" tanyanya sembari mengelus kaki Serena.


"Selama bersama Anda, aku mau jadi istri yang baik." Gadis itu mengidu aroma tubuh Marvin. Ia menciumi tengkuk Marvin berulang kali.


"Oiya, sebentar lagi, saya dan Clara mau menikah."


"Aku sudah tahu," sahut Serena.


"Kamu sudah tahu?" Marvin membalikan badannya. Sekarang sudah berhadapan dengan sosok yang sebenarnya sangat menggiurkan.


"Aku pernah tidak sengaja mendengar percakapan Pak Bos. Saat itu, Anda sedang menelepon papa Anda."


"Kamu menguping? Dasar kucing." Marvin menyentil kening Serena.


"Kalau Anda sudah menikah, apa Anda akan melepaskanku?" tanyanya sambil membuka satu-persatu kancing piyama milik Marvin.


"Tergantung dengan isi hati saya, dan saya belum bisa memastikan isi hati saya akan seperti apa ke depannya." Ia membiarkan Serena membuka piyamanya.


"Apa itu artinya Anda akan melakukan poligami?" Sambil mengusap perut Marvin yang pejal dan kokoh.


"Bisa ya bisa tidak."


Jawaban Marvin benar-benar ambigu, dan Serena tidak peduli. Gadis itu memang telah putus asa. Ia berpikir akan mengikuti takdir hidupnya seperti air mengalir. Lalu dengan percaya diri, ia mengurung tubuh Marvin.


"Cepat ajarkan caranya, Pak Bos," pintanya.


"Kamu benar-benar Kucing Nakal!" Marvin menarik Serena dan membalikkan posisi.


"Apa Anda mau melihatnya? Akan kuizinkan," bisik Serena sambil menggigit bibir dan melengkingkan tubuhnya. Gadis itu benar 'nakal.'


"A-apa? Kamu rupanya ingin mencari masalah ya Serena." Napas Marvin memburu. Ia boleh saja mampu menahan godaan. Tapi tidak dengan tubuhnya.


"Aku bukan mencari masalah Pak Bos. Aku sedang mencari kesenangan." Ia melingkarkan tangan di leher Marvin.


"Baiklah, jika yang kamu cari adalah kesenangan, akan saya berikan."


"Apa itu artinya Anda sudah tergoda?"

__ADS_1


"Tergoda? Tidak! Saya hanya ingin memberimu kesenangan," kilahnya.


Ia menarik sesuatu yang melekat pada pada tubuh Serena. Serena terhenyak. Gadis itu yang memulainya, namun ia sendiri yang kelimpungan. Apa lagi saat Marvin melepas penghalang lain dari tubunya. Serena benar-benar shock, bibirnya ternganga lantaran kaget. Harusnya, ia menguatkan mental dulu sebelum benar-benar menjadi gadis 'nakal' untuk Marvin.


Marvin tetaplah Marvin. Seorang manusia biasa pada umumnya yang tentu saja menyukai keindahan dan kemolekan. Ia menatap nanar pada Serena yang mematung. Lantas merenggut kembali bibir ranum milik Serena seraya memejamkan matanya. Serenapun demikian. Ia memejamkan mata dan pasrah. Perlahan menyambut permainan Marvin dan terseok-seok ke dalamnya.


Serena bahkan tidak lagi berusaha menyembunyikan lenguhan kala Marvin mengeksplorasi tubuhnya. Ini adalah sebuah keputusasaan dari seorang Serena. Ia benar-benar membiarkan Marvin menjamahnya.


"Tu-tunggu, bu-bukankah ini belum tiga minggu?" Serena ragu, ia beringsut dan menutup diri. Wajah cantiknya memucat.


"Saya tahu batasannya. Saya tidak akan melukainya," bisik Marvin. Ia mencium kening Serena yang mulai bekeringat.


"Ta-takut ...," lirih Serena.


"Jangan takut, pejamkan matamu, dan saya akan memberikan kesenangan yang kamu inginkan," jelasnya.


Serena mengangguk lemah. Selanjutnya, gadis itu hanya bisa menutup wajahnya karena teramat malu. Sangat-sangat malu hingga sekujur tubuhnya seolah memerah. Keputusasaan Serena membawanya pada sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Gadis itu baru menyadari jika di dunia ini ada kesenangan yang bisa didapatkan dengan cara memalukan seperti ini. Di balik kelukaan yang meyelimuti batinnya, ternyata ... tubuhnya bisa digunakan untuk menghibur dirinya sendiri.


Hingga di suatu ketika, Serena beteriak panjang, menggelinjang, gemetaran, dan memohon pada Marvin untuk membebaskan tubuhnya. Lalu air mata gadis itu meleleh saat Marvin melepasnya. Ia merasa jika jiwa dan tubuhnya benar-benar hina dan menjijikkan.


"Bagaimana?" bisik Marvin.


Wajah dan telinga pria itu merona. Ia berulang kali menghela napas untuk menenangkan diri. Marvin seolah baru saja melewati masa-masa sulit yang membuatnya terkesima dan shock berat. Seakan baru saja menyaksikan penampakan istimewa yang teramat menakjubkan.


"A-aku tidak tahu."


Gadis itu gugup luar biasa. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dengan tangan gemetaran. Segera mengurung dirinya dan bersembunyi. Hingga saat ini, jantung Serena masih berdegup kencang.


"Jangan tidur dulu, kamu juga harus memberikan kesenangan pada saya." Marvin menarik selimut Serena.


"A-aku tidak mau. Aku belum cukup umur. A-aku lelah," tolak Serena. Serius, karena ulah Marvin, pikirannya jadi terkontaminasi dan tidak bisa lagi berpikir jernih. Malu? Ya, tentu saja.


"Melayani saya adalah kewajiban kamu."


Ia memeluk Serena dan menciumi punggungnya. Serena merenung sejenak. Tekadnya memang untuk meluluhkan Marvin. Selagi ada kesempatan, kenapa ia tidak mempergunakannya?


"Boleh, nanti Indri yang bertugas antar-jemput sekolah kamu." Sebelum Serena memintanya, Marvin memang berencana akan mengembalikan Serena pada keluarganya.


"Terima kasih."


Serena bahagia. Setidaknya, dengan kembali bersama mama dan adik-adiknya, separuh penderitaannya akan berakhir. Ya, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada berkumpul dengan orang-orang terkasih.


"Pak Bos."


"Ke-kenapa?" Tatapan Marvin telah berubah menjadi sendu. Sepertinya, tubuhnya telah siap dan tidak sabar untuk mendapat belaian dari Kucing Nakalnya.


...***...


Marvin menatap lekat pada Serena yang masih terlelap. Lucunya, gadis ini ternyata sudah mandi. Marvin masih bisa mencium aroma sabun yang menguar dari tubuhnya.


"Nakal," gumam Marvin sambil mengulum senyum.


Ia membayangkan kembali kejadian beberapa jam yang lalu. Marvin juga sudah mandi, ia bahkan telah siap dengan setelan kantornya. Marvin berencana akan berangkat ke kantor tanpa membangunkan Serena. Namun, ia telah menelepon Indri untuk menjemput Serena.


Saat Marvin hendak beranjak, ponselnya berbunyi. Ia berpikir itu panggilan dari Indri. Faktanya, itu dari polisi.


"Halo."


"Lapor Pak Bos, pak Wandira kabur dari sel."


"Apa?! Kenapa bisa?!"


"Kami yakin pak Wandira tidak sendiri. Gembok sel ditembak, dan lima orang petugas lapas terluka," lapornya.


"Apa?! Kurang ajar! Wandiraaa!" geram Marvin. Ia tidak menyadari jika Serena sudah bangun. Serena terkejut saat nama papanya disebut oleh Marvin dengan cara seperti itu.

__ADS_1


"Ada masalah apa?" tanya Serena.


"Papa kamu kabur dari penjara! Dasar tidak tahu malu! Dia membohongi saya!" Marvin menghempas ponselnya ke tempat tidur. Serena tertunduk. Tidak bisa protes karena papanya memang berada di pihak yang salah.


"Dia mengatakan sudah tidak berkomplot dengan jaringan judi lagi! Tapi apa buktinya?! Dia bisa kabur dan melukai penjaga! Itu berarti papa kamu tidak bertindak sendiri!" Marvin mengepalkan tangannya dan terlihat emosi. Serena diam seribu bahasa dan tangannya meremat pada sprei.


"Ini gara-gara saya yang terlalu bodoh! Saya tidak percaya ucapan papa saya dan membiarkan dia dihukum ringan! Arrrggh!" teriaknya. Marvin melempar bantal dan guling ke lantai hingga berantakan. Serena ketakutan, ia tidak tahu harus berbuat apa.


"P-Pak Bos," gumamnya.


"Diam kamu!" bentak Marvin, dan bentakan itu entah kenapa membuat dada Serena tiba-tiba sakit. Itu karena sikap Marvin berubah total. Kelembutan pria itu telah sirna dalam sekejap. Kepala gadis itu kian menunduk, dagu Seren sampai menempel di dadanya.


"Harusnya saya tidak pernah mengenal dia! Dan juga tidak pernah mengenal kamu, Serena!" teriaknya.


'Tes,' ada yang menetes di pipi Serena. Ia buru-buru mengusapnya agar tidak diketahui oleh Marvin. Jika kejadiannya seperti ini, skenarionya untuk mendapatkan hati Marvin pasti akan gagal.


Padahal semalam, ia telah memenuhi permintaan Marvin dan membantu pria itu melepaskan hasratnya. Semalam, ia telah menjadi budak **** untuk Marvin dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Pak Bos? Jika aku benar-benar tidak berguna, tolong lepaskan aku, Pak Bos," pintanya.


"Apa?!" Marvin semakin marah. Ia mendekat dan mencengkram dagu Serena.


"Papa dan anak sama saja! Kamu juga ingin kabur dari sisi saya Serena?! Silahkan Serena! Silahkan!" teriak Marvin.


Lalu ia beranjak ke pintu kamar hotel dan membukanya.


"Silahkan! Apa kamu juga berani kabur dari saya?! Silahkan! Pintunya sudah terbuka lebar!" usirnya.


"Baik! Apa Anda berpikir aku tidak berani?! Anda salah, Pak Bos!" teriak Serena. Lalu ia berdiri dan segera memakai sepatunya. Marvin mengatur napasnya, pikirannya kalut.


"Terima kasih untuk semuanya! Aku pergi!" tandas Serena.


"Silahkan!" sahut Marvin yang saat ini sedang memasygul rambutnya.


"Ba-baik, terima kasih juga untuk yang semalam!" Serena berlari ke pintu keluar sambil menangis.


"Serena!" Marvin terkejut karena Serena benar-benar pergi.


"Serena! Tunggu!" Mengejar Serena.


'Brak.' Serena berhasil menutup pintu hotel saat Marvin nyaris mendapatkannya. Marvin panik seketika.


"Serena! Arrrggh!" Marvin terburu-buru. Ia mengejar Serena tanpa alas kaki.


"Serena! Serena!" teriaknya. Ia tidak memedulikan tamu hotel yang memandangnya keheranan.


"Serena! Jangan pergi Serena!"


Matanya mencari-cari dan merasa yakin jika Serena masih berada di sekitarannya. Ternyata, Marvin tidak benar-banar ingin mengusir Serena. Buktinya, ia mengejar dan mencari Serena.


Serena. Ya, gadis itu masih berada dekat Marvin. Ia sedang bersembunyi di balik pot bunga. Berjongkok dan menahan tangisnya.


"Serena!"


Ia melihat Marvin menjauh, pria itu mungkin mengira jika dirinya sudah tidak berada di area ini. Setelah Marvin tidak dilihatnya, Serena berdiri. Ia melanjutkan langkah dan bingung hendak ke mana. Ia tidak memegang uang dan ponselnya. Gadis itu berjalan gontai dan kebingungan. Lalu ia masuk ke dalam lift sambil terus menunduk. Baru mengangkat kepalanya saat menyadari telah menabrak dada seseorang.


"Maaf," katanya. Lalu ia terbelalak saat mengetahui identitas orang yang ditabraknya.


"Serena?!" Orang yang ditabraknyapun terkejut maksimal. Ia segera menarik Serena dan mendekapnya.


"Se-Serena."


Karena dinding liftnya terbuat dari kaca yang transfaran, dari arah ini, mata Serena bisa melihat jika di bawah sana Marvin masih mencarinya. Serena menyembunyikan wajahnya di dada seseorang yang menemukannya. Ia juga melihat Marvin berbincang dengan petugas keamanan.


_______

__ADS_1


Siapakah sosok yang menemukan Serena?


...~Next~...


__ADS_2