
Marvin. Ia meninju bantal di kamarnya berulang kali. Sedang meluapkan emosi yang tidak bisa tersalurkan. Sambil mengatur napas, ia membuka jendela kamarnya. Ia berharap angin di malam ini bisa menenangkan batinnya.
Dari sini, ia bisa melihat titik-titik cahaya yang berasal dari lampu jalanan dan rumah warga yang berada di lereng bukit. Hembusan angin menerpa wajah tampannya.
Dari sini, ia juga bisa melihat sisi kolam renang. Hanya saja, tidak terlihat seluruhnya karena terhalang pepohonan dan gazebo. Matanya mengerjap saat melihat sebuah sandal mengambang di permukaan kolam.
"Serena?"
Ya, ia tahu jika itu adalah sandal milik Serena. Seolah ada dorongan gaib, Marvin spontanitas membalikkan tubuhnya dan berlari ke sana.
...***...
"Serena!" panggilnya setelah ia berada di area kolam renang.
Marvin terkejut karena tidak mendapati keberadaan Serena. Matanya aktif mencari. Lalu ia melihat sandal yang satunya lagi berada di sana. Tepatnya di tengah kolam. Bersamaan dengan itu, Marvinpun melihat sosok yang dicarinya.
"Serena!" teriaknya.
Ia melompat ke kolam dan berusaha meraih tubuh Serena. Karena panik, Marvin harus berusaha keras. Ini tidak mudah karena kondisi kolam yang dalam dan terasa dingin, ditambah dengan keadaan Serena yang tidak sadarkan, diri, membuat upaya penyelamatan ini menjadi sangat sulit.
Setelah berhasil meraih tubuh Serena, Marvin membawanya ke sisi kolam dengan susah-payah. Ia bahkan nyaris tenggelam karena kolam yang dingin membuat kakinya kram dan tidak bisa berenang dengan maksimal.
Ia mendorong tubuh tidak berdaya itu untuk diletakkan di sisi kolam. Napas Marvin memburu. Pria itu tampak kelelahan dan panik.
"Serena! Hhh! Serena!"
Ia mengguncang tubuh Serena untuk menyadarkannya. Namun tidak ada respon. Dengan gerakan cepat, Marvin merobek baju Serena dan mendapati jika perut Serena telah mengembung.
"Serena!"
Ia melakukan upaya pertolongan pertama pada pasien tenggelam. Ia memberikan tekanan di bagian dada sebanyak dua kali, mengecek responnya, dan memberikan napas buatan.
"Ayolah Serena! Bangun Serena! Jangan mati!"
Lalu memiringkan tubuh Serena sambil menepuk punggungnya dan berharap agar air kolam segera keluar dari tubuh Serena.
"Serena!"
Marvin mengulang upaya penyelamatan. Kali ini dengan tekanan yang lebih kuat. Lalu saat bibirnya kembali memberikan napas buatan pada Serena, bibir gadis itu mengeluarkan air. Ada harapan. Marvin melanjutkan usahanya. Ia memiringkan tubuh Serena dan melepas baju bagian atasnya secara keseluruhan.
Saat diterlentangkan kembali, hidung Serena mengeluakan air. Marvin menekan kembali bagian dadanya dan memberi napas buatan beberapa kali.
"Uhhuk." Berhasil.
Serena batuk-batuk dan memuntahkan air kolam. Marvin memeluknya sambil terus menepuk punggung Serena. Ia juga memosisikan tubuh Serena seperti bersujud dan menekan di bagian perutnya untuk mempercepat pengeluaran air.
__ADS_1
"Serena."
Saat direbahkan di pangkuannya, Serena telah bernapas namun belum membuka matanya. Wajah dan bibirnya yang tadi pucat, kini memerah kembali.
"Kenapa kamu melakukan tindakan bodoh itu?! Nyawa bukan untuk main-main, Serena!"
Sambil memeluknya, Marvin memarahinya. Lalu ia memboyong Serena ke kamarnya. Yaitu, ke kamar yang ditempati Serena.
...***...
Tiba di kamar, Marvin sibuk mengambil oksigen dorong yang ternyata tersedia di vila tersebut. Di kamar itu, Marvin tak sungkan membuka dan mengganti baju basahnya. Lantas naik ke tempat tidur untuk mengganti baju Serena.
Setelah mengatur napas dan menenangkan diri, ia mulai melucuti seluruh penutup yang menempel di tubuh di Serena. Segera ditutupi dengan selimut setelah memandanginya beberapa saat.
Lalu membuka koper Serena untuk mencari baju ganti sambil memegang dadanya. Ada yang bergemuruh di dadanya, dan ada yang bereaksi di bagian lain tubuhnya.
"Oh ya ampun! Sial! Dasar pria!"
Marvin memarahi dirinya sendiri. Kembali menenangkan dirinya agar hasrat tak pantas itu tidak semakin menggebu.
"Apa ini?"
Ia menautkan alisnya saat melihat dua baju tidur bermotif sama namun dengan ukuran berbeda. Karena penasaran, ia membukanya dan segera menyadari jika itu adalah baju tidur untuk pasangan muda.
Ia berpikir Serena membelinya untuk Leon. Dugaan tersebut membuat Marvin inisiatif membuang baju tersebut ke tempat sampah.
Imannya akan kembali diuji. Ia harus siap mental untuk memakaikan baju pada Serena. Faktanya, Marvin tidak bisa. Baru juga membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh Serena, tubuhnya sudah kembali ke posisi siaga tempur.
"Arrhh! Sial!" rutuknya. Akhirnya memutuskan tidak memakaikan baju pada Serena. Ia membiarkan Serena dalam keadaan polos dan hanya ditutupi oleh selimut.
Lanjut bergegas ke dapur untuk membuat susu hangat.
Saat kembali ke kamar, Serena telah sadar sepenuhnya. Gadis itu tengah terisak-isak.
"Minum dulu ya." Marvin mendekat.
"Ti-tidak," jawabnya.
"Saya sudah susah-susah menolong dan membuatkan minuman ini untuk kamu! Cepat minum!" paksanya.
"Ke-kenapa Anda menolongku? Ha-harusnya, Anda membiarkan aku mati. Huks."
"Serena! Kamu itu harta sitaan saya! Sudah seharusnya 'kan saya menjaga harta sitaan? Cepat minum! Saya tidak suka dibantah!" Kembali menyodori minuman tersebut pada Serena. Tidak ada pilihan lain, Serenapun patuh.
"S-siapa yang membuka bajuku?" Serena baru menyadarinya.
__ADS_1
"Saya."
"A-apa?"
"Tidak perlu dipikirkan. Niat saya hanya menolong. Lagi pula, kata dokter, tubuh kamu baru bisa digunakan lagi setelah tiga minggu pasca operasi."
"A-apa? Anda tidak berniat mengambil kembali kesucianku, 'kan? Kalaupun dalam perjanjian itu Anda berhak memilki tubuhku, tapi tolong dibatasi. Anda tidak boleh menodaiku."
"Hahaha. Jika saya mau, maka saya akan melakukannya. Apa kamu masih ingat dengan mantan asisten kamu yang bernama Nunu?"
"Nunu?" Serena terkejut.
"Dia sudah saya tangkap dan menjelaskan semuanya. Kejadian pada malam itu, sesuai dugaan saya ternyata dalangnya adalah papa kamu! Kata Nunu, papa kamu mengharapkan keturunan dari saya berkembang di rahim kamu. Ingat, itu tidak mungkin terjadi! Saya tidak mungkin menyemai benih di rahim kamu!" tegasnya. Lalu pria itu merebahkan dirinya di samping Serena.
"Jika Anda tidak menginginkannya! Tolong jangan menodaiku!" teriak Serena.
"Kamu istri saya. Jadi tidak ada lagi istilah saya menodai kamu. Kapanpun saya mau. Saya boleh mengambilnya."
"A-Anda kejam!"
"Jika saya kejam, saya sudah membunuh kamu. Oiya, jangan pernah menggunakan uang saya untuk kepentingan yang lain! Bajunya sudah saya buang ke tempat sampah!" Sambil membelakangi Serena.
"Maksud Anda?"
"Kamu membeli baju tidur pasangan untuk si Lion 'kan?"
"Apa? Emm ...." Serena terdiam.
"Kalau perlu, besok baju itu akan saya bakar!"
"Ba-baju itu bukan untuk kak Leon."
"Kalau bukan untuk dia, untuk siapa lagi?! Apa kamu punya banyak kekasih selain dia?!" Marvin kembali emosi.
Sekarang, ia membalikkan tubuhnya dan menghadap pada Serena yang posisinya masih terlentang.
"Baju itu bukan untuk kak Leon, aku juga tidak memiliki kekasih yang lain selain kak Leon. A-aku membeli baju itu u-untuk ... su-suamiku," jelasnya. Lalu membelakangi Marvin dan menangis perlahan. Serena dilema dengan perasaannya.
Marvin terdiam sejenak.
Suamiku? Berarti baju itu untuk ... saya?
Batin Marvin bergejolak. Ia menatap punggung polos yang membelakanginya itu dengan perasaan tidak karuan. Lalu tangannya perlahan menyingkap selimut yang menutupi punggung Serena hingga punggung indah itu, nyaris terlihat seluruhnya.
...~Next~...
__ADS_1